Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari Air Conditioner (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju.
Office Boy kantor, pasti sudah datang lebih awal daripada saya. Entah, jam berapa mereka tiba di kantor tak pernah saya tahu. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menginap karena enggan berangkat pagi dan ogah menghadapi macet yang menggila di kota ini. Bersejatakan tongkat dengan salah satu ujungnya di genggaman, sementara ujung yang lain memiliki semacam penahan untuk menempatkan kain pel mereka telah berkarya. Digerakkannya kain pel itu ke kanan dan ke kiri, menyusuri pola-pola keramik, merata ke seluruh ruangan. Dan saya, apa yang saya lakukan?
Hahaha, memalukan. Pertama: saya tiba lebih siang dari mereka, berkeringat, terengah-engah dan bisa bersantai menikmati hembusan udara dingin AC. Kedua: tanpa permisi saya akan menginjak lantai yang baru saja mereka pel dan masih basah. Teringat saya pada seseorang yang akan naik pitam bila dia sedang mengepel kemudian ada orang yang menginjak-injak lantai yang basah itu. Namun, teman-teman yang mengepel di kantor itu tidak marah, meski pernah juga seorang di antara mereka melirik ke arah saya. Duhh…tidak enak banget rasanya.
Selepas menginjak-injak lantai yang masih basah itu, saya pun kemudian menanti di depan lift. Tidak selalu sendirian saya dalam menunggu, terkadang bersama beberapa orang yang juga tergesa-gesa. Bila boleh memilih, tentu saya akan memilih sendirian saja, karena berbanyak orang itu tidak aman. Bobot yang melebihi kuota, menyebabkan lampu peringatan menyala dan lift ogah beranjak. Diem aja kayak patung. Bahkan, pintunya pun enggan untuk sekadar menutup. Akhirnya, harus ada yang mengalah dan keluar dari lift. Ketiban sampur, begitu orang jawa bilang jika mendapatkan tugas yang tidak semestinya dilakukan. Ya, sayalah yang biasanya mengalah dan keluar. Alasannya: karena saya masih baru, paling muda pula—halah—maka mesti tahu dirilah sedikit, kan?
Setelah keluar dari lift, persis di depannya ada tangga. Inilah yang biasanya saya pilih untuk membawa saya naik ke atas ke tempat di mana saya akan menaruh pantat saya. Keringat yang tadi saja belum kering, masih ditambah pula dengan naik tangga sebanyak duapuluh enam kali empat—maaf saya malas menghitung. Hasilnya, sesampainya di atas saya terengah-engah namun keringat tidak membanjir karena udara di dalam kantor itu sudah terpengaruh oleh AC.
Lain waktu, bila kebetulan saya memiliki kesempatan untuk menunggu di depan lift seorang diri, senang sekali rasanya. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi saat menunggu itu: menemukan lift pas berada di lantai satu kemudian tinggal menekan tombol dan masuk ke dalam lift. Atau, menemukan lift di lantai yang berbeda dan termangu melihat angka-angka yang berpendar berganti-ganti di atas pintu lift seiring dengan pergerakan lift.
Tahukah kawan, rasanya seperti menunggu sebuah kesempatan yang datang. Dan saat lift terbuka, adalah kejutan. Bagaimana tidak bila kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam lift. Bisa saja seorang rekan kerja wanita yang kita taksir kebetulan saat itu berada di dalamnya, begitu pintu membuka, maka jangan lepaskan kesempatan untuk menatapnya, menelusuri gerai rambut basahnya atau mencium aroma parfumnya yang segar. Namun paling penting, jangan lupa senyuman ringan dan sapaan, “Selamat pagi.”
Hati-hati juga bila saat yang lain, bos Anda yang berada di dalamnya. Ketahuan deh kalau Anda berangkat lebih siang darinya, bukan hal yang penting, namun tetap saja tidak nyaman, bukan? Apalagi, bila saat itu ada deadline yang belum Anda selesaikan. Ah, seperti tertangkap basah. Apa iya mau berlagak tidak melihat, kan tidak mungkin, to? Ya, paling mudah tetap tersenyum ringan dan jangan lupa juga salam selamat paginya. Perkara tatapannya tetap galak dan tidak bersahabat atau Anda ditanyai macam-macam, waduh, maaf saya tidak punya saran bagaimana baiknya, hehehe.
Masuk ke dalam lift yang kosong selalu saya idam-idamkan. Bukan, tidak untuk menggunakannya sebagai tempat berpagutan singkat dengan kekasih meskipun kadang saya membayangkannya. Menguasai lift untuk diri sendiri bukanlah kesempatan yang sering ditemukan. Di dalamnya, kita bisa melakukan apa saja, mau nungging, gerak badan, petantang-petenteng boleh saja, kan? Tidak ada seorang pun yang akan melarang. Hanya, perlu diingat sewaktu-waktu pintu lift bisa membuka karena ada yang akan naik juga di suatu lantai atau kita telah sampai di tempat tujuan. Jadi, ya sebaiknya biasa saja di dalam lift, tidak usah bergaya macam-macam apalagi norak.
Memencet tombol lantai dan tombol menutup pintu kemudian adalah ritual yang biasa dialami para pengguna lift. Di tombol-tombol itulah rahasianya, bukan? Karena sebuah sentuhan ringan, nyala lampu di balik simbol angka penanda lantai tujuan telah bisa membawa kita ke tempat yang akan kita tuju. Enak sekali, tinggal berdiri diam kalau sedang sendiri atau menungging, jungkir balik boleh saja. Adapun bila bersama orang lain, paling-paling kita akan terhenti-henti di lantai tempat di mana teman itu turun. Bisa juga kita mengobrolkan sesuatu yang ringan selama di dalam lift.
Bagi saya, sesampainya di lantai tujuan adalah kelegaan. Begitu pintu membuka, sebuah kejutan lagi. Apakah akan kita temukan kekosongan lantai yang lengang atau kerumunan orang-orang yang gelisah menunggu lift datang.
Lift kemudian hanya menjadi kendaraan untuk mengantarkan kita ke tempat tujuan. Tidak lebih dari itu. Namun, perlu menjadi catatan kiranya. Apa yang bisa dipetik dari kesibukan yang diam saat menunggu? Juga setiap kejutan yang kita temukan saat pintu lift membuka dan akan kita masuki, pun ketika pintu membuka saat kita sampai di lantai yang dituju. Pula jangan lupa, ihwal kelegaan di bagian akhir? Bila boleh saya mengumpamakannya dengan sebuah kesempatan, apakah saya salah? Selanjutnya, barangkali lift adalah sebuah kesempatan yang instan untuk mencapai tujuan. Lift di lain sisi juga sebuah shortcut untuk menggapai tujuan. Tidak adakah usaha? Hmm, baca lagi deh dari atas, hahaha….



haaagag….nice!
[Jawab?]
ketemu bos masih biasa, yang bikin gelisah adalah berdua aja di dalam lift dengan gadis cantik dan seksi….sensasi tiada tara hahaha
[Jawab?]
Saya mau bikin pengakuan dosa…
Saya pernah kentut di lift
Terimakasih…
*lari nahan malu*
[Jawab?]
saya blm pernah naik lift sendirian. pasti menarik terkurung di dalam kotak kecil pengap sendirian. he2.
salam kenal
[Jawab?]
Salam kenal
[Jawab?]
hehehe … mas goop kok jadi membayangkan yang ndak-ndak sih? hehe …. tapi bayangannya perlu lebih diliarkan, mas goop. bayangkan sajak naik lift sendirian hingga ke lantai 100, lalu saat di lantai 25 ada cewek yang masuk berduaan, wakaka … dijamin deh, pasti mintanya mau naik ke lif 200-an, wakaka ….
[Jawab?]
he… lift itu apa ya???
maaf wong katro nggak pernah tau yang gituan…
[Jawab?]
hehehe
rebutan AC neh
[Jawab?]
lift???
makanan apa tuh ya????
[Jawab?]
*pemuja lift*
Bayangin aja kl hrs naik tangga ke lantai 10.
untung ada lift.
hehehe….
[Jawab?]
Salam kenal, Om Goop. Membuka silaturahmi aja di dunia ngeblog nie. Makasih, Om.
[Jawab?]
kenapa menjadi “gila” harus menunggu lift kosong, goop?
[Jawab?]
numpang lewat lift nya…salam kenal…
[Jawab?]
pake tangga aj biar sehatt
[Jawab?]
Apakabar paman…
saya sudah lama sekali ndak merasakan nikmatnya naik lift. Kantor saya terlalu kecil untuk mengadakan lift, jadi setiap hari berolahraga saja naik ke lantai 4 lewat tangga..
berarti sampeyan beruntung paman, kerja di tempat yg menyediakan lift
[Jawab?]
oohhh… jadi dirimu sudah punya kecengan baru di kantormu?
[Jawab?]
[...] ini adalah kebalikan dari lift yang tempo hari saya tulis. Jadi, bila Anda sudah bisa menerka-terka apa yang akan saya tulis ya [...]
Saya Juga Mau Bikin Pengakuan Dosa
Saya Pernah nggak kebagian lift untuk turun dari sebuah gedung bertingkat di Jakarta. Karena saya disoraki teman yang kebagian lift dan saya juga malu tidak dapat kebagian lift tsb maka saya berlari turun dengan mencet tiap tombol turun di setiap lantai yang saya tuju. Alhasil saya lebih cepat mencapai “finish” di basement. Saya puas meski terengah engah.
[Jawab?]