Baru Setahun

Sebuah manggala dari Sumansantaka

  1. Sang dewa yang menguasai papan tulis seorang kawi, dia merupakan hakikat aksara-aksara, awal mula dan tujuan akhir sebuah syair (palambang)—sukarlah mendekati kediamannya yang sekaligus juga seorang pangeran di antara para kawi, yang mempersatukan diri secara rumit dengan dan tinggal tersembunyi di dalam debu sebuah pensil bila itu diruncingkan dengan kuku seorang penyair yang berusaha untuk meraba keindahan. Oleh samadhi terus-menerus ia dapat dihadirkan dalam wujud kebendaan yang fana agar ia sudi turun ke dalam sanjak tertulis ini, bagaikan ke dalam candinya.
  2. Inilah sebabnya kuletakkan tindak kebaktianku pada kakinya, sambil mengharapkan agar dapat menjadi seorang taruna dalam sarekat para kawi. Aku meniarap bagaikan seorang hamba yang hina serta mempersembahkan hormatku. Semoga satu kuntum puisi yang bersemi dari kakawinku berhiaskan keindahan, merupakan persembahan bungaku pada kakinya, karena kini aku sedang mengawali cerita sumanasantaka semoga syair ini diterimanya dengan kemurahan hati.

Kutipan di atas adalah manggala—bait-bait awal dalam sebuah kakawin—di mana, di sana seorang penyair akan menuliskan permohonannya kepada dewa-dewa. Terkadang tidak begitu penting nama dewa disebutkan, justru menjadi penting cara nama itu diserukan dan dari sudut mana didekati. Dewa yang bersangkutan selalu merupakan dewa yang hadir dalam segala sesuatu yang dapat dilukiskan sebagai lango, jadi dewa keindahan dalam arti yang paling luas. Ia terdapat dalam keindahan gunung dan laut, di dalam taman sari dengan pohon dan bunganya, lagipula dalam bulan bila semuanya berbunga, juga dalam keanggunan dan keelokan seorang wanita. Tak perlu dijelaskan, bahwa dewa itu juga bersemayam dalam keluh kesah seorang kekasih dan dalam pelukisan alam, di dalam perasaan yang ditimbulkan oleh keindahan dalam hati seorang kekasih dan seorang penyair. Ia bersemayam dalam segalanya yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan itu, entah itu diucapkan, entah tulisan, maka dari itu, dewa itu juga ada dalam bunyi-bunyian dan kata-kata, dan bahkan dalam alat-alat tulis. Ia dewa papan tulis yang ditulisi dan dewa pensil yang dipakai sebagai alat tulis juga dalam debu yang mengepul bila pensil diruncingkan dan akhirnya turun ke tanah.

Menulis syair merupakan suatu latihan yoga bagi penyair. Ada sebuah kata ‘dewasraya’ yang berarti: minta bantuan seorang dewa. Di sini arti itu pun berubah menjadi ‘mencari kemanunggalan dengan dewa’. Orang yang melakukan yoga, seorang yogi, tahu bahwa sang dewa bersemayam dalam lubuk hati manusia sendiri. Di sanalah pertemuan antara dewa dan manusia terjalin dalam suatu persatuan mesra yang hanya mungkin, karena pada hakikatnya alam ilahi dan alam manusia bersatu. Cita-cita seorang yogi ialah selalu mempersatukan diri dan menyelami Yang Mutlak dalam keadaannya yang transenden lalu menemukan identifikasi total dan kebebasan final, melalui hilangnya seluruh kesadarannya.

Bagi seorang penyair, kemanunggalan dengan dewa keindahan merupakan baik jalan maupun tujuan. Jalan menuju terciptanya sebuah karya yang indah, kakawinnya. Yoga yang diungkapkan dalam bait-bait pembukaan menjadikan penyair mampu mengeluarkan alung lango—tunas-tunas keindahan—karena ia dipersatukan dengan dewa yang merupakan keindahan itu sendiri. Tetapi di lain pihak, yoga juga merupakan tujuan, karena asal ia tekun melakukannya, ia akan mencapai pembebasan akhir (moksa) dalam persatuan itu.

Di dalam tubuh manusia, terdapat tempat berbentuk mirip padma, yang merupakan tempat kediaman atau tahta para dewa. Dari sana seorang dewa dapat dipantulkan ke dalam benda di luar tubuh manusia; benda itu dinamakan yantra. Yantra itu, merupakan alat sebagai obyek untuk memusatkan panca indera dan batinnya, tetapi sekaligus juga dapat menerima turunnya dewa.

Yantra-yantra dijumpai dalam semua bentuk yoga, juga dipakai oleh penyair. Apa yang dilakukan oleh penyair dan bersifat sastra ialah syair itu sendiri; kata-kata dan bunyi-bunyian mengejawantahkan keindahan agar dapat menerima kedatangan sang dewa dan merupakan obyek konsentrasi. Dengan menciptakan sebuah syair atau menikmatinya setelah selesai, maka seseorang dapat terangkat ke dalam keadaan ekstatis yang bersifat lango atau pengalaman estetis. Saat ini terjadi, seseorang dapat merasakan tercapainya kemanunggalan mistik dengan sang dewa yang menyebabkan seluruh kesadaran berangsur-angsur lalu lenyap.

Syair kemudian adalah puspanjali—persembahan bunga—merupakan sebuah yantra. Syair sebagai wadah bagi dewa keindahan, ia dihimbau agar turun ke dalam wadah itu dan bersemayam di sana bagaikan dalam candinya. Syair itu, membantu sang kawi untuk mencapai tujuan yoga, yaitu kemanunggalan dengan istadewatanya—dewa pujaan masing-masing penyair. Namun perlu dicatat, kemanunggalan itu hanya bersifat sementara dan berlangsung selama ekstase keindahan itu dirasakan. Namun dengan demikian, penyair juga mempersiapkan kemanunggalan dengan dewa yang disebut kalepasan atau pembebasan, inilah pembebasan definitif dari segala jerat yang menahan manusia dari dunia ini, serta pembebasan pula dari lingkaran kelahiran ulang. Bagi penyair, pembebasan berarti diserapnya secara total oleh dewa keindahan lewat kemanunggalan tersebut, ‘kembali sekali dan untuk selamanya ke tempat kediaman sang dewa asmara’, pulangnya sang penyair kepada Yang Mutlak setelah dibebaskan dari segala cacat dan segala sesuatu yang tidak sempurna. Semua teks yang mengungkapkan harapan agar syair itu juga dapat merupakan suatu silunglung bagi penyair, yaitu sesuatu yang menyertainya dan memberi kekuatan kepadanya sambil menopangnya dalam perjalanan terakhir. Dari sana ia tak dapat kembali, karena diri pribadi yang terbatas itu terserap oleh dan manunggal dengan Yang Mutlak.

***

Semua yang tertulis di atas dirangkum dan ditera ulang dari buku ‘Kalangwan-sastra jawa selayang pandang’. Menulis sebuah karya sastra pada masa itu menjadi lebih dari sekadar hasil tulisan. Syair sebagai karya yang dihasilkan menjadi media pemujaan dan sarana pembebasan jiwa.

Setahun sudah blog ini, beberapa tulisan sudah terpampang di sini. Tidaklah banyak memang karena ditulis berdasarkan luangnya waktu dan mampirnya ide yang tidak dapat ditunggu dengan pasti kapan datangnya. Tak ada target apa pun selain sekadar sebagai wahana untuk belajar menulis. Di samping itu, meminjam istilah seorang master, di sini adalah tempat untuk memakamkan ingatan. Kurang tahu apa persisnya beliau menggunakan atau mengistilahkan begitu. Barangkali karena terkadang ingatan mengkhianati, maka perlu kiranya untuk menziarahi suatu masa dalam perjalanan ini untuk mengenangnya, mempelajarinya, memetik pengalaman darinya. Benarkah begitu, mas?

Tidak pula di sini saya memuja dewa. Benar mungkin saya terkadang menggunakannya untuk memuja dia yang bersinggasana di hati yang demikian rupik dengan semak hati. Mendiami sebuah sudutnya menjadi taman hati, menutup lubang di hati dan bercengkerama di sana terkadang saja. Seperti dalam ‘Burung-Burung Manyar’ apa yang dibilang Mayor Verbruggen kepada Teto, “Saya tahu bahwa kaumenderita. Dan setiap lelaki yang menderita, persetan kau, mesti lari ke si wanita, ngga usah bohong!” Seperti juga Teto yang tidak sanggup berbohong kepada Mayor Verbrunggen, maka saya pun tak bisa bohong. Satu ketika ada jejaring lembut yang bergetar-getar di kedalaman sana, penanda derita rindu dan kemudian akan berlari menuju ke arahnya. Saat yang lain, ada pula yang mengusik-usik namun tiada berhubungan dengan romantisme. Ketidakadilan, ketimpangan, catatan perjalanan sehari-hari, maka di sinilah semua menemui muara.

Saya ingin betul agar tulisan saya tidak rumit, berat dan bertele-tele. Namun, barangkali saya kurang berhasil. Nampaknya saya masih suka berputar-putar tidak jelas pada lingkar diri, memberati sesuatu yang sebenarnya ringan atau mendekorasi kata dengan ornamen aksara yang tidak perlu. Saya kurang tahu bagaimana mengubahnya, dan yang lebih penting: apakah perlu saya mengubahnya?

Para master itu memperbincangkan hal yang sama sewaktu saya bertanya bagaimana cara menulis yang baik. Pertama: jangan risau dengan EYD, karena lama-kelamaan EYD itu akan ‘lahir’ sendiri. Ke dua: Tuliskan saja apa yang ingin kau tulis, jangan terlampau khawatir mengenai hasilnya nanti. Dan ke tiga: biarkan pembaca yang menilai.

Akhirnya, saya tidak ingin menanyakan penilaian Anda terhadap apa yang tersaji di sini. Namun, bila Anda berkenan, barang satu atau dua patah kata silakan Anda terakan di kolom komentar. Tak lupa, terima kasih sebanyak-banyaknya saya ucapkan kepada Anda yang sudah menyantumkan blog ini dalam google reader Anda. Atau pun siapa saja Anda yang tidak sengaja tersesat di sini, terima kasih banyak. Anda yang telah membuat saya terus dan terus belajar, salah satu alasan juga di balik setiap tulisan baru. Entah, adakah manfaat yang Anda dapat dari sini? Jikalau tiada, maka maafkanlah saya, itu saja.

Tidak lupa, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Gunawan Rudy atas bantuannya mempercantik tampilan di sini.

10 thoughts on “Baru Setahun

  1. Saya ingin betul agar tulisan saya tidak rumit, berat dan bertele-tele. Namun, barangkali saya kurang berhasil.

    kalau bisa rumit knp hrs tdk rumit? :P

    hihihi, iya sih, namun kalau bisa ngga rumit kenapa harus rumit? *lirik yang pada pening di koment-koment lain :P *

    [Jawab?]

  2. Ah hei, desain ini belom selesai. Masih membenahi sana-sini. :P

    Benar-benar susah bikin yan namanya “benar-benar simpel” itu…

    hayah, kan cuma tinggal mengecilkan ukuran huruf katanya? :P

    [Jawab?]

  3. udah (ato baru?) setahun, jangan buru-buru ditinggalin :P

    baru setahun, makanya ngga akan ditinggalin hehe

    [Jawab?]

  4. btw, themenya bagus, bener-bener sederhana
    tapi coba minta sama goen supaya ditambahin gravatar biar ada sedikit hiasan :lol: biar sedikit merepotkan gpp tho?

    itu tidak merepotkan untuk goen, :D malah dia senang. cuma saya yang tidak mau ada gambar, dan goen tidak senang karena itu malah sukar menurutnya membuat yang simple namun menarik itu sukar, hahahaha… saya memang merepotkan kayaknya :mrgreen:

    [Jawab?]

  5. baru setahun, tapi pencapaianmu sudah mendebarkan sangat, goop.

    hayah, becanda, ya? :D

    terima kasih banyak, mas dan mohon bimbingannya, yak :mrgreen:

    [Jawab?]

  6. Pingback: batas ruang » Tentang Baru (Sebuah Posting Tertunda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>