Aku tidak akan membuat disclaimer, karena aku tak yakin tulisan ini akan kamu baca. Pede betul sehingga berani-beraninya kubuat disclaimer di sini. Singkatnya begini: aku tidak akan menulis tentang pantat. Meski kau pun tahu sekarang pantatku lebih seksi karena sering dipakai berjalan, jadi mandan lumayan kencang. Ah, kenapa masih memikirkan pantat? Apa kamu sejenis wanita yang gemar pria berdada bidang, perut six pack dan pantat kencang? Kan tidak, to? Kamu pun bukan dari jenis kaum yang suka memutilasi setelah kamu puas dengan pantat, kan? Tunggu, kenapa aku malah sering sekali menulis tentang pantat? Aku kan sudah bilang tidak akan berkisah tentang pantat.

“Uncle, yang baik,” kan kamu mulai protes sekarang, hahahaha….”Sebenarnya, mau menulis tentang apa, sih?”

Trotoar itu, semestinya kan tempat para pejalan kaki untuk berjalan. Nah, di sana seorang pejalan kaki tak perlu khawatir dengan sepeda motor yang pengendaranya meleng. Di trotoar orang bisa berjalan sambil memerhatikan pantat (nah, lagi!) mbak-mbak yang tersembunyi di balik celana jeans ketat, tanpa khawatir terserempet mobil yang bagus, apalagi bajaj. Namun, jangan harap kamu temukan kenyamanan berjalan itu di sini. Ya, karena trotoar juga masalahnya bermula.

Di depan toserba yang ramai itu, secuil trotoar telah menjadi tempat parkir. Di sana berderetlah mobil-mobil mewah berbagai ukuran yang terparkir rapi. Ya, rapi kubilang, tapi di trotoar. Di sana pula, penjual otak-otak, pedagang koran dan majalah menggelar dagangannya. Masih ditambahi pula dengan beberapa tukang parkir yang berseragam biru muda, jumlahnya banyak sekali untuk lahan sesempit itu.

“Bagaimana kalau pagi, Uncle?”

Sama saja, kok. Pernah aku ingin, malah sudah, berjalan-jalan di pagi buta untuk mencari udara yang segar belum kena polusi. Kupikir, pada pagi buta begitu tentulah trotoar belum ramai. Ternyata aku salah, bahkan pada saat seperti itu loper koran banyak sekali sedang mempersiapkan koran-koran yang akan diedarkan di hari itu. Ada juga pelacur yang mengantuk, putus asa menunggu pelanggan sampai pagi menjelang. Semua itu terjadinya, ya, di trotoar.

Pagi beranjak siang, jam-jam pekerja berangkat ke kantor. Sudah berubah pula wajah trotoar. Saat itu, ganti pedagang makanan yang menggelar lapak-lapak dagangannya di trotoar. Ada masakan dan soto madura, bubur ayam, nasi kuning, mie ayam juga sate. Mereka yang hobi kuliner tentulah suka melihat deretan warung aneka rupa itu. Deretan perkantoran tanpa tempat parkir yang memadai, kian menambah parah. Satu jalur mobil terparkir persis di pinggir trotoar tempat di mana lapak-lapak itu berada. Dan itu baru di satu sisi, di sisi lain di sebelah sana, satu jalur pula untuk parkir mobil. Badan jalan yang sempit itu, tinggallah menyisakan sedikit ruas untuk fungsi sebenarnya: lalu lalang kendaraan.

Maaf, sebenarnya tidak tepat betul bila hanya kendaraan yang melintas di jalur yang sempit itu. Selain mobil yang mengantri berjalan pelan-pelan, sepeda motor yang menyelinap, berkelindan di antara mobil-mobil. Banyak juga pedagang yang menjajakan dagangannya dengan gerobak. Mereka berjualan minyak tanah, galon-galon air minum, tukang sayur, penjual air sampai ke penjaja saos dalam botol-botol.

Dan saya, si pejalan kaki ini, turut pula terengah-engah di jalur kecil itu. Itulah kenapa saya menulis tentang pantat (maaf, ini ada lagi). Di sini bila boleh sedikit mendramatisir—ah, tak boleh pun tetap saya tulis—seperti bermain dengan maut. Tak boleh lengah barang sekejap atau kamu akan tersambar sepeda motor yang kencang melaju. Bisa juga terserempet mobil yang berjalan mepet dengan mobil yang terparkir. Kemudian kamu harus pintar menelusup di sesela mobil yang terparkir. Kamu harus lincah memiringkan tubuhmu menghindari spion. Tetapi terkadang, itu semua tidaklah cukup, karena sering ada yang datang dari arah belakangmu tanpa kamu dilengkapi dengan spion untuk melihat ke belakang. Maka, bila ini terjadi, ikhlaskanlah pantatmu. Bagaimana lagi?

Di sebuah kota yang permai, trotoar memang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Nah, ini sudah pas, sudah betul. Eh, ternyata itu belum seberapa, karena di pinggir-pinggirnya masih dilengkapi dengan bangku-bangku untuk pejalan kaki yang capek duduk dan beristirahat. Nikmat sekali bila teringat itu. Sembari mengobrol dan melepaskan lelah, mata dimanjakan dengan pemandangan lalu lintas, gadis yang berdandan akan pergi berbelanja, juga mbak-mbak pegawai bank yang baru saja pulang. Mulut pun boleh bergerak-gerak mengunyah nasi kucing, sate ayam atau sekadar meneguk segelas kopi jahe. Sudah terbayang, kan, nikmatnya? Pendek kata, di sana seluruh anggota tubuh seperti dimanja. Dan di mana pantat? Tenanglah, dia di sana anteng, diam, menjalankan fungsinya untuk duduk tanpa khawatir bangku yang diduduki roboh. Sebentar, ternyata saya lupa, karena di sisi lain kota itu, juga ada trotoar yang digunakan untuk berjualan makanan, bahkan sangat ramai sehingga sekarang.

Lain padang, lain belalang. Lain di sana, lain pula di sini. Sebuah tempat, trotoar juga, sungguh ideal untuk melihat langit yang terbuka tanpa terganggu oleh tembok gedung-gedung. Di sana bisa juga dilihat air mancur yang melingkar di dalam sebuah kolam. Temanku ini bercerita, katanya, “Tunggulah sedikit malam menjadi larut, maka akan kau lihat wajah lain kota ini.” Ingin kubuktikan sebenarnya kebenaran dari kisahnya itu. Namun, entah kapan bisa kulakukan. Karena di sana seperti kuburan—ah, tidak tepat begitu juga—dengan nisan-nisan yang lengang. Kamu bukan tidak boleh duduk di nisan itu, namun berat hati melakukannya karena hormat pada si jasad di dalamnya. Adapun di sudut trotoar itu, kamu bebas duduk tidak perlu berat hati segala. Cukup relakan saja pantatmu itu dari dingin nyaman trotoar yang kamu duduki, berganti dengan pentungan petugas yang sering menertibkan, entah apa yang ditertibkan. Namun sebaiknya, tak usahlah kamu heran, bahwa di sini ada aturan pun hanya untuk urusan mendudukkan pantat. Ah, maaf kata ini muncul lagi, ehtah kali ke berapa.

Mereka yang mengusik-usik trotoar juga: