“Setiap manusia kurang lebih adalah saingan. Kita lebih senang memberi tahu dunia jika kita berada di atas orang lain, sepenuhnya dan dalam segalanya.” (Albert Einstein)

Hari-hari yang lembab baru saja terasa. Penanda datangnya musim penghujan itu masih ditambah dengan hujan rintik, sampai dengan sedang. Rerumputan di halaman menggeliat senang, segar karena siraman hujan. Debu enggan lagi terbang, kini basah menguarkan aromanya: harum tanah ke segala penjuru. Tunggulah beberapa hari lagi, maka jangan heran bila rerumputan kian nampak hijau dari yang semula meranggas. Jangan juga risau bila tanah menjadi gembur dan becek karena air hujan. Hari-hari kemarin, kamu terganggu dengan debu yang menempel di mana-mana. Sekarang, kamu disibukkan dengan tanah berlumpur yang menempel di sepatumu enggan pergi. Menempel terus di sana hingga jejak-jejakmu bisa jelas kamu lihat di lantai yang sudah dengan susah payah kamu pel saban hari.

Gangguan itu, ternyata belum seberapa. Karena selepas Magrib menjelang Isya, kamu akan mendapatkan kawan lain, tidak cuma satu, namun banyak. Laron-Laron akan datang tanpa diundang, tertarik oleh cahaya lampu yang menggantung di tengah ruang tamumu. Tidak hanya itu, ketika kamu menikmati makan malam bersama adik dan orang tuamu sembari melihat televisi, mereka tidak ketinggalan pula akan ikut bergabung.

Aneh sekali solah tingkah mereka itu. Berbondong mereka akan merubung lampu. Terbang di sekitarnya berputar-putar, saling bertabrakan. Suhu lampu yang panas tak jarang juga memanggang mereka. Tubuhnya yang gosong akan menempel di lampu, mengotori permukaannya. Mereka yang bertabrakan, yang terbang berputar-putar satu per satu akan kehilangan sayapnya. Jatuh berderap di lantai, kemudian mereka melata, berjalan hilir mudik melintasi lantai. Terkadang di sudut, melipir, menyusuri batas antara lantai dan tembok. Tak jarang pula, kaki yang tidak bermata akan menginjaknya. Mereka terinjak, gepeng dan cairan tubuhnya keluar. Ihh, menjijikkan sekali.

Dahulu, seorang sufi, Rumi, mengabadikan peristiwa matinya Laron dengan indah. Waktu itu belum ada lampu, kan kau tahu? Rumi menyebutnya pelita. Sebuah dian dengan sumbu tempat nyala api dan wadah minyak sebgai bahan bakarnya. Saat api menjilat-jilat itulah, Laron datang mendekat karena terpesona oleh cahaya yang diakibatkan. Laron tak sadar, alpa bahwa jilatan api bisa menghanguskan tubuhnya. Memang begitu pula yang terjadi kemudian. Laron mati bukan terinjak, tidak mengeluarkan cairan, Laron hangus dengan bunyi kemeripik dan bau yang menyengat.

Seorang sufi kemudian adalah Laron, yang terpesona oleh cahaya Ilahi. Cahaya itu begitu memesona, sehingga Sang Sufi ingin bersatu dengannya. Tidak…bukan hanya mendekatinya, namun bila boleh ingin lebur, menyatu dalam cahaya itu. Bukan jadi soal bila penyatuan itu mensyaratkan kematiannya. Bagi mereka, itu adalah harga yang harus dibayar guna melihat, bersatu dengan keindahan yang Maha Indah.

Kamu kurang tahu kemudian, apakah di antara sufi itu itu juga berlomba-lomba untuk bersatu dengan cahaya? Sepanjang yang kamu tahu, mereka menari, berputar-putar dalam gerak yang rancak bernama ‘sama’ ditingkahi oleh puji-pujian kepada Tuhan. Bukanlah salah bila kemudian kamu menyimpulkan mereka tidak berlomba, namun masing-masing saling mendukung mencapai ekstase untuk bersatu dengan Tuhan. Jelas sekali terlihat di matamu, mereka tidak sama dengan Laron.

Tamsil tentang Laron ternyata masih juga kamu temukan hari-hari ini, bukan? Sama persis dengan Laron, kemunculannya juga seperti menjadi penanda datangnya sebuah musim. Kamu tentu tahu musim apa itu.

Saat musim itu tiba, kamu tidak melihat kesegaran rerumputan yang menghijau. Bulu-bulu hidungmu tidak tergelitik oleh aroma tanah yang basah selepas hujan pertama. Musim ini tiba, dengan terganggunya pandanganmu ketika tembok di sudut gang tempat kamu biasa menunggu kekasihmu sudah kotor. Di sana menempel wajah-wajah seperti badut yang tidak kamu kenal. Semua nampak rapi, namun aku tahu betul, bagimu mereka seperti gelitikan di perutmu yang membuat kamu tertawa. Bukan tawa geli tentu, tak juga bahak gembira. Namun senyum miris lebih ke arah cibiran, kurasa.

Manakala kamu menengadah, kawan. Bukankah kamu akan meliat berbagai macam warna di sana? Ya, pada bendera-bendera itu. Aku hampir-hampir dapat memastikan kamu akan merasa sangat-sangat terganggu. Karena bendera itu, akan mengganggu hobimu memandang langit. Pada pelangi yang amat jarang kamu lihat. Pada semburat jingga di langit fajar yang cerah keperakan. Pada lembayung senja yang berubah-ubah warnanya. Hamparan awan dan bentuk-bentuk uniknya. Pergantiannya dari segi ketebalan dan warna. Aku tahu kamu senang memerhatikan gemawan tipis, putih bersih mirip bulu domba di langit yang begitu tinggi, sampai dengan awan tebal, rendah, kelabu pembawa hujan. Kamu pun pusing, bukan? Karena di tiap bendera akan kamu temukan simbol-simbol yang tak terpermanai bagimu. Padahal konon, hatta kisah berwarta masing-masing simbol itu berarti sebuah pesan yang mulia. Bahkan, begitu mulia seperti layang-layang yang muluk dhuwur, terbang tinggi, sangat tinggi untuk kemudian putus terbawa angin. Itu pula yang bisa kamu cium dengan hidungmu yang peka aroma tanah basah selepas hujan. Kemudian kamu tidak suka, mengernyit, ingin sekali menutup hidungmu karena apa yang kamu cium hanyalah aroma tipu daya, janji-janji palsu. Aku pun bersyukur kemudian karena hidungmu: begitu peka pada aroma tanah yang basah selepas hujan. Aku percaya kamu tak akan terperdaya.

Iseng-iseng kamu teringat para darwish, para sufi, para Laron yang terbang berputar-putar di sekeliling lampu. Kamu melihat badut. Kamu teringat Laron. Melihat Laron, teringat badut. Batinmu mereka mulai nampak mirip, antara badut dan Laron, bukan para darwish, bukan para sufi.

Saat Laron berputar mengelilingi lampu, mengitari pelita, melirik-lirik dian. Badut-badut yang rapi itu pun begitu, bukan? Mereka juga mengepakkan sayap jas, dasi dan senyumnya untuk terbang di sekitar kursi, mengitari orang-orang yang katanya rakyat, melirik-lirik penuh hasrat pada kekuasaan.

Harapanku padamu adalah: agar kamu tidak kaget saat masanya tiba. Kan kamu tahu kalau di antara manusia adalah saingan. Jangan heran makanya bila setiap mereka ingin berada di atas yang lain, seperti juga kata Einstein, kau ingat, kan? Aku khawatir manakala masa itu tiba akan membuatmu takut. Bagaimana tidak, bila di antara mereka saling sikut, saling tonjok, saling merontokkan sayap persis seperti Laron. Agar kamu tidak kaget, maka siap-siaplah dari sekarang. Boleh kamu siapkan masker, pengharum ruangan semprot atau yang digantung di kipas angin, sekadar jarimu juga kurasa cukup untuk menutup hidungmu. Aku hanya khawatir mereka yang sayapnya rontok, yang terjatuh berderap dan kemudian terinjak akan gepeng dan cairan keluar dari tubuhnya. Ah, pasti menjijikkan dan bau!