Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari Air Conditioner (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju.
Office Boy kantor, pasti sudah datang lebih awal daripada saya. Entah, jam berapa mereka tiba di kantor tak pernah saya tahu. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menginap karena enggan berangkat pagi dan ogah menghadapi macet yang menggila di kota ini. Bersejatakan tongkat dengan salah satu ujungnya di genggaman, sementara ujung yang lain memiliki semacam penahan untuk menempatkan kain pel mereka telah berkarya. Digerakkannya kain pel itu ke kanan dan ke kiri, menyusuri pola-pola keramik, merata ke seluruh ruangan. Dan saya, apa yang saya lakukan? dan baca selengkapnya…
“Aa…, Au…, Ai…, Ao…, Ui…, Eo…, Ia…, Oe…, Iu…, Oa….”
Apa yang bisa diterjemahkan dari gabungan vokal-vokal itu? Hanya meraba, mengira-ira yang kamu bisa.
“Rrrr…, Mmm…, Zzz…, Brr….”
Barangkali kamu bisa menerka apa maksud deretan konsonan itu. Tapi, benarkah terkaanmu?
“Ya, Ok.”
Nah, bagaimana sekarang? Ketika konsonan dan vokal terangkai, bersatu. Apakah sudah lega?
Ternyata, tidak berubah dari dulu, “Pertemuan konsonan dan vokal adalah muara kerinduan.”
Berbagi
Sebuah manggala dari Sumansantaka
- Sang dewa yang menguasai papan tulis seorang kawi, dia merupakan hakikat aksara-aksara, awal mula dan tujuan akhir sebuah syair (palambang)—sukarlah mendekati kediamannya yang sekaligus juga seorang pangeran di antara para kawi, yang mempersatukan diri secara rumit dengan dan tinggal tersembunyi di dalam debu sebuah pensil bila itu diruncingkan dengan kuku seorang penyair yang berusaha untuk meraba keindahan. Oleh samadhi terus-menerus ia dapat dihadirkan dalam wujud kebendaan yang fana agar ia sudi turun ke dalam sanjak tertulis ini, bagaikan ke dalam candinya.
- Inilah sebabnya kuletakkan tindak kebaktianku pada kakinya, sambil mengharapkan agar dapat menjadi seorang taruna dalam sarekat para kawi. Aku meniarap bagaikan seorang hamba yang hina serta mempersembahkan hormatku. Semoga satu kuntum puisi yang bersemi dari kakawinku berhiaskan keindahan, merupakan persembahan bungaku pada kakinya, karena kini aku sedang mengawali cerita sumanasantaka semoga syair ini diterimanya dengan kemurahan hati. dan baca selengkapnya…
Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.
Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.
Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus kamu isi sendiri.
Berbagi
Aku tidak akan membuat disclaimer, karena aku tak yakin tulisan ini akan kamu baca. Pede betul sehingga berani-beraninya kubuat disclaimer di sini. Singkatnya begini: aku tidak akan menulis tentang pantat. Meski kau pun tahu sekarang pantatku lebih seksi karena sering dipakai berjalan, jadi mandan lumayan kencang. Ah, kenapa masih memikirkan pantat? Apa kamu sejenis wanita yang gemar pria berdada bidang, perut six pack dan pantat kencang? Kan tidak, to? Kamu pun bukan dari jenis kaum yang suka memutilasi setelah kamu puas dengan pantat, kan? Tunggu, dan baca selengkapnya…
“Setiap manusia kurang lebih adalah saingan. Kita lebih senang memberi tahu dunia jika kita berada di atas orang lain, sepenuhnya dan dalam segalanya.” (Albert Einstein)
Hari-hari yang lembab baru saja terasa. Penanda datangnya musim penghujan itu masih ditambah dengan hujan rintik, sampai dengan sedang. Rerumputan di halaman menggeliat senang, segar karena siraman hujan. Debu enggan lagi terbang, kini basah menguarkan aromanya: harum tanah ke segala penjuru. Tunggulah beberapa hari lagi, dan baca selengkapnya…