Hati, Rindu Hati

“Kerinduan itu begitu menyesakkan, ya, Ra?”

“Memangnya kamu rindu pada siapa, Bi?”

“Tentu saja padamu, pada siapa lagi?” Aku mulai bersungut-sungut.

“Ah, masa?” Kemanjaanmu lagi yang selalu membuatku gemas.

“Apa kamu tak rindu padaku?”

“Biasa aja, tuh!”

Enak sekali kamu berkata begitu. Memang kerinduan menjadi biasa bagi dua orang kekasih yang terpisah. Rentangan jarak dan waktu tempuh menjadi jembatan yang memisahkan kita. Banyak sudah ditulis kisah tentang kerinduan yang mendera dua orang kekasih. Sedari pungguk yang merindukan bulan, Romeo kepada Juliet, pun Laila kepada Majnun.

Apa yang berbahaya dari pada kerinduan adalah sebentuk lingkaran. Lingkaran rasa, bila aku boleh menyebutnya begitu. Rindu itu sendiri, kangen, kebahagiaan mengingatnya, curiga, khawatir. Dan tahukah, kau kawan? Atau, ah, mungkin tak perlu aku memberitahumu, tetapi tentu kau pun telah tahu. Semua itu tidak enak rasanya. Namun di sisi lain, itu membuat kita hidup, semua rasa itu. Membiarkan kita tetap berharap pada suatu pertemuan. Tentu dengna catatan, bahwa percaya masih ada di sana, terjaga, dijaga.

“Bi, menurutmu, apakah kita akan bisa melaluinya?”

“Err…kalau menurutmu?”

“Aku sedang bertanya padamu, Bi, bukan sebaliknya.”

“Menurutku, kita bisa melaluinya.”

“Kamu yakin?”

“Aku yakin, asal kita berdua bersama-sama berusaha.”

Ara kemudian terdiam, seperti menerawang. Barangkali dia teringat hari kemarin yang kami lalui bersama. Hampir setiap hari kami bersama. Tidak selalu indah memang kebersamaan kami, pertengkaran pun kerap kali menyapa. Saat itu tiba, aku merasa menjadi anak kecil yang tidak dewasa. Sedikit kesalahan kecil darinya sudah cukup membuatku naik darah. Salah ucap sedikit dariku telah mampu mebuatnya meninggikan nada suaranya. Aneh, pada saat bersama itu, rupanya kami malah harus belajar bersabar.

Tidak sia-sia rupanya pelajaran itu. Sabar kini menjadi modal kami, sabar untuk bertemu, sabar menunggunya terbangun di pagi hari dan kemudian percakapan telepon yang panjang. Sejujurnya, tidak terlalu berhasil juga. Terkadang curiga masih ada, khawatir dan semuanya terasa begitu berlebihan. Saat seperti ini, sabar saja tidak cukup, sedikit amarah tentu juga ada, tetapi untuk suatu alasan yang berbeda.

Sebelumnya sudah kukatakan, semuanya menjadi berlebihan porsinya. Khawatir dan curiga akan menyeruak bila sebuah pesan singkat tidak segera mendapatkan balasan. Rasanya seperti didiamkan, diabaikan dan ingin membecinya karena itu. Namun berhasilkah? Nyatanya tidak pernah berhasil karena rindu pula yang mengakibatkan rasa sayang menjadi berlipat ganda dan perhatian seperti luapan air bah, bahkan untuk hal kecil yang semula–saat bersama–justru sering diabaikan.

Aku teringat Poppi Sjahrir yang harus berpisah dengan Suttan Sjahrir. Tugas-tugas negara telah memaksa Sjahrir untuk tetap berada di tanah air. Sementara itu pada saat yang sama, Poppi harus bersekolah di luar negeri. Karenanya, mereka terpisah dua tahun lamanya. Poppi mengenangkan perpisahan itu dan berkata, “Barangkali perpisahan itu perlu, untuk melihat keseriusan niat kami untuk menikah.”

“Apakah perpisahan ini perlu, Ra, untuk kita?”

Aku tak pernah melontarkan pertanyaan itu padamu, hingga aku membaca tentang Poppi dan Sjahrir itu dari sebuah majalah yang kubeli atas saran seorang sahabat. Bila aku boleh jujur, tentu aku memilih untuk tidak perlu berpisah denganmu. Barangtentu, kamu pun memiliki pendapat yang sama. Bersamamu setiap waktu tentu lebih menyenangkan meski pertengkaran-pertengkaran kecil acap terjadi. Namun aku tenang, karena aku tahu kamu masih di sana selalu bersamaku. Pun kamu takkan bimbang, karena tahu aku di sisimu, yah…meski aku juga tahu, terkadang kamu terganggu dengan bau ketiakku yang “˜wangi”, hahaha….

“Hidup adalah kesunyian masing-masing.” Kata sebuah sajak Chairil Anwar. Aku kurang tahu, apakah boleh dalam hidup kita memilih, membuat pilihan? Ataukah kita hanya wayang yang sedang dimainkan oleh dalang? Menjalankan peran, menurut kepada skenario? Kamu pun tahu, serangkaian kegagalan pernah menimpaku, juga kamu. Kemudian aku belajar, di balik kegagalan-kegagalanku telah disiapkan sesuatu yang terbaik untukku. Aku kemudian mempercayainya. Bahwa yang terbaik, tak pernah ada jalan pintas ke sana. Selalu ada aral melintang, tembok tebal menghadang, jalan memutar dan tibalah kita di sana. Tentu, lagi-lagi dengan kesadaran yang sudah terlambat. Namun, aku tidak sedang membicarakan kegagalan, maaf bila itu membuatmu bosan. Aku hanya ingin berkata soal lakon, peran yang harus kita mainkan, abai pada perlu dan tidak perlu menurut ukuran kita.

Anehnya, aku juga percaya pada Chairil tentang kesunyian masing-masing. Karena sunyi itu, Ara, juga datang bahkan ketika kita sedang bersama-sama. Kamu tentu tahu benar itu, utamanya saat kamu putus asa memikirkan, bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang kupikirkan. Saat itu kamu akan bertemu kesunyian dan entah sadar atau tidak kamu pun terbawa dalam kesunyianmu sendiri. Mungkin, akan lebih mudah dikatakan begini: kita sendirian awalnya, kemudian bertemu dan setiap pertemuan, akan mensyaratkan adanya perpisahan, entah kapan. Aku lebih mudah mengartikan saat sendiri dulu dan nanti itu sebagai sunyi. Benarkah pengertianku, itu?

Di buku “˜The Kite Runner” yang baru saja selesai kubaca, Amir merasa khawatir saat Baba, ayahnya, pelindung dan mentornya jatuh sakit. “Aku memikirkan berapa besar ruangan yang akan menjadi kosong karena ditinggalkan oleh Baba.” Kata Amir. Terkadang, seperti juga Amir, aku pun berpikir berapa besar ruangan yang akan menjadi kosong apabila kamu tinggalkan. Sementara ketika itu, lebih tepatnya saat ini, hampir semua ruangan sedang penuh akanmu. Aku tidak bisa mengukur hatimu, namun aku sering bertanya-tanya, besarkah ruangan kosong yang akan terbentuk bila aku meninggalkanmu?

Kesunyian yang datang pasca aku mengirimkan pesan singkat dan menunggu balasan darimu. Kesunyian ketika lebih dari tiga jam aku tidak mengetahui di mana keberadaanmu, apa yang sedang kamu lakukan, bersama siapa kamu di sana, sudah cukup membuatku tersiksa. Tolonglah, Ara, tolong jangan kamu tambah semua sunyi itu dengan kekosongan. Jangan, ya, tidak sekarang, aku harap betul.

12 thoughts on “Hati, Rindu Hati

  1. njuk kapan melanjutkan ke jenjang berikutnya neh mas bro?hehehehe

    hihihi, doakan saja nda’ lama lagi, amen

    [Jawab?]

  2. Sudah hampir setahun lebih saya mencintainya dari kejauhan, tidak sampai terpisah lautan memang, tapi tetap saja, pertemuan sebulan sekali itu terasa begitu minim pesan..

    Tapi saya setuju dengan kata-kata nesia, seperti pasir yang ingin kau pertahankan tetap di tanganmu, jangan digenggam, karena justru akan membuatnya berjatuhan dan menghilang. Buka saja genggamanmu, dan lihat, pasirnya tetap di sana, di telapak tanganmu… (kurang lebih seperti itu, tapi entahlah, pas bang toga yang nulis, sepertinya lebih puitis…) :roll:

    err… sepertinya, sukar ya, bang? karena bukankah khawatir dan curiga menjadi berlipat ganda? :lol:

    [Jawab?]

  3. err.. Kalau memang dia untukmu, kenapa pula harus khawatir? Kalau memang kejadian yang tidak diinginkan, ya berarti dia bukan buatmu…

    *ngomong gampang, sendirinya suka (minjem istilahnya Guh) ileran di mata setiap malam…*

    hahaha, sudah kuduga, kau pun pasti mengalami kekhawatiran, kan? err…sedari mula teorinya pun sudah tahu, namun…. ya gitu deh, hehehe…mkasih, bang!

    [Jawab?]

  4. rindu…..
    setuju sama mansup…. cinta itu harusnya membebaskan… dan bukankah dalam cinta itu harusnya ada kepercayaan?
    *dikutip dari salah satu telenovela*

    itu betul, mbak… namun, bingungnya: bagaimana cara membebaskan itu, tanpa kita khawatir? barangtentu jawabnya saling percaya, bukan? namun, tidak bolehkah menjaga dengan tidak membiarkan apa yang mungkin membahayakan, muncul? err, apakah ini mengekang? :roll:

    [Jawab?]

  5. Kalau sudah begini boi, kutip sajalah itu sabda Andrea Hirata

    “Lagi pula, sejak kapan cinta masuk akal?”

    hihihi, memang betul itu si andrea, tetapi lantas….? :roll:

    [Jawab?]

  6. Hi..hi..hi
    Jadi gman paman?
    Mw membebaskan atw mengekang nih?
    Tentukan pilihan..
    *waiting patiently:$*

    barangkali seperti bermain layang-layang, ada kalanya diulur ada masanya ditarik. begitu juga, ada waktunya dibebaskan ada masanya di…, ah bukan dikekang kok, tapi disayang :oops:

    [Jawab?]

  7. Romeo kepada Juliet,oke tapi kalau Laila kepada Majnun ntar dulu masih mikir

    mikir apa lagi, mas? apakah saya salah, ya? :mrgreen:

    [Jawab?]

  8. X: apakah kamu tidak merindukanku?
    Y: aku takut
    X: takut akan apa?
    Y: merindukanmu
    X: mengapa harus takut?
    Y: karena merindukanmu adalah candu yang menjadikanku pemadat.

    ;)

    err… habis mencandumu enak, nah kalau begitu? :P

    [Jawab?]

  9. wah, paman lagi kangen nih, sama kayak saya udah kangen mampir kesini, udah lama gak maen….

    hayuk atuh, silakan main-main :P terima kasih, ya….

    [Jawab?]

  10. ada yang malarindu bin kangen rupanya hehehehe
    sabar iah uncle, dinikmati aja iah rindunya (nah lo)
    iah semoga bisa cepet ketemu dah sama Ara Amien…
    Thankyu uncle

    makasih kembali :)
    emang enak merindu-rindu? :D

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>