Bagaimana Jakarta menyambut Anda?

Pagi itu, terminal Lebak Bulus belum sepenuhnya terbangun ketika aku tiba di sana. Kumandang adzan; bus satu demi satu memasuki terminal. Dan penumpang, bergegas turun dari bus masing-masing. Ketergesaan terpampang jelas di sana, entah apa yang dikejar. Sebentuk khawatir nampak di wajah seorang gadis yang tangannya gemetar memegang dan terus memencet tombol-tombol, mengamati layar hape di tangannya. Barangtentu dia sedang menunggu seseorang, pikirku.

Kandung kemih yang telah penuh akibat terus-menerus terpapar udara dingin di dalam bus ber-AC yang kutumpangi memaksaku mencari toilet. Sekeras mungkin kuredam keinginanku untuk memutar-mutar kepalaku, kuhindari celingak-celinguk seperti orang hilang. Jakarta seperti rimba belantara, hati-hati di sana. Begitu pesan yang selalu didengung-dengunkan temanku sebelum aku berangkat kemarin. Kulangkahkan kaki perlahan-lahan, sambil tak lupa melirik di mana gerangan toilet berada.

“WC UMUM” kubaca tulisan itu di sebuah sudut terminal. Dengan mantap, kulangkahkan kaki ke sana. Argh, sampai di sana aku masih harus menunggu, antri. Ternyata yang kebelet tak hanya aku seorang. Buang hajat pun sudah memakai aturan di sini, pranata harus dipatuhi mulai dari urusan pribadi seperti ini, pikirku.

Selepas memenuhi panggilan alam itu, uang seribu perak kemudian kuangsurkan kepada penjaga toilet yang sudah menunggu di depan pintu, berteman pesing, basah dan lembab. Heran juga aku, kenapa dia begitu betah duduk di situ?

Kembali aku melangkah perlahan-lahan sambil mengamati penumpang yang bergegas keluar dari terminal, tukang ojek menawarkan jasa dan sopir taksi menunggu pelanggan sambil bersandar di taksinya. Sebuah masjid yang belum lagi jadi, ke sana tujuanku. Sholat subuh yang sudah lumayan terlambat dan menunggu seorang sahabat akan datang menjemputku di tempat strategis dan mudah dilihat.

Hape yang nyaman meringkuk di kantongku pun kuambil. Melihat kalau-kalau ada pesan yang masuk, ternyata tak ada. Akhirnya kuputuskan untuk mengabari keluarga di rumah bahwa dengan selamat aku sudah sampai di terminal. Saat sibuk menyusun singkatan kata untuk pesan pendek itu, masuklah sebuah pesan lain. Aha, ternyata sobat yang kutunggu-tunggu bertanya: “Sudah sampai mana?” Sengaja aku tidak mengabari beliau, memang. Khawatir kalau selimut masih erat memerangkapnya di dunia mimpi, kasihan bila pulau kapuk yang permai harus ditinggalkan demikian cepat.

Telur dadar, teh manis hangat dan sayur daun ketela menjadi pengisi perutku di pagi itu. Sudah jauh pun aku di sini, namun masakan jenis itu pula yang kupilih. Entah, barangkali lidah, perut dan geligiku lebih mudah mencernanya. Aku harus berhati-hati dengan perutku, bahaya sekali, bukan? Bila tiba-tiba ada sesuatu yang tidak beres dengan perutku di sini. Kuhindari sambal, ahh tidak, aku masih tetap mengambilnya meski sedikit.

Di dalam warung “Sederhana Jogja” itu pula, aku melihat debat kusir antara Saiful Jamil dan Kiki Fatmala yang tak kunjung usai. Meremas dan pantat sepertinya memang jodoh yang pas, bukan? Meremas; diremas-remas, kalau aku jujur kubilang enak, gitu aja kan ngga repot. Hahaha

Sebuah pesan masuk lagi ke hapeku, ternyata sahabatku lagi. Sang Pengendara Badai“sebut saja E”–itu sudah berada di depan terminal, tentu saja lengkap dengan tunggangan kesayangannya, “vitri” yang legendaris. Tak mau mengambil risiko berputar-putar dan tidak bertemu, maka kuminta saja E untuk masuk dengan tak lupa kuberitahukan di mana posisiku. Jabatan tangan erat dilanjutkan dengan obrolan singkat pun terjadi, dilanjutkan dengan berboncengan menuju ke rumah beliau.

Berliku jalan yang mesti ditempuh dengan “vitri”. Sebuah tanjakan hampir sembilan puluh derajat dan panjang menjadi santapannya, pun turunan yang menukik hingga berujung pada sebuah sungai dengan jembatan yang konon sering banjir. Sebuah rumah bercat putih dengan pagarnya yang juga putih menyambut kami. E pun bergegas masuk ke dalam, bila saja aku tidak salah, tepatlah kiranya kucurigai beliau sedang sakit perut. Di sini, aku menumpang mandi di kamar mandinya yang biru dan bersih. Segar sekali rasanya, meski entah kenapa selepas mandi pun tubuh kembali berkeringat. “Memang di sini sedang agak panas beberapa hari ini,” kata E. Mengertilah aku sekarang, mengapa keringat begitu mudah mengucur.

Sebuah restoran cepat saji di Bintaro menjadi tujuan selanjutnya. Ayam yang berselimut tepung dan minyak begitu banyak menempel kusantap perlahan-lahan. Di antaranya ada kuminum pula softdrink, kugigit-gigit kecil nuggets dan kentang goreng. Selepas makan, berbatang-batang rokok hinggap di bibir sambil menemani obrolan kami. Sayang, di sana aku salah posisi duduk. E bercerita, konon banyak “tombo ngantuk” yang berseliweran di belakangku dan duduk di ruang utama. Aku sendiri, duduk menghadapi E, tenang-tenang mengobrol dan makan.

Tiga jam di Bintaro itu pun mulai terasa membosankan. Waktu yang kian beranjak siang memaksa kami untuk kembali bergerak, mulai merapat ke target utama di Jakarta Pusat. Di sana akan kucari kos teman lain lagi dan tempatku menumpang sementara aku belum memiliki tempat tinggal di sini. Perjalanan ini melalui tempat-tempat baru buatku. Tak lelah, E menerangkan setiap kenampakan. Mulai dari Tanah Kusir yang berisi ribuan makam nan rapi, lokasi kedai wetiga, hingga akhirnya terdampar di belakang Blok M Plaza. Lagi-lagi di sini berhenti, makanlah tentu saja alasannya. Kini giliran E yang menyantap ayam goreng berbumbu kecap dengan sambal terasi.

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke daerah Jakarta Pusat. Jalan-jalan yang lapang dan lebar dengan cepat dilintasi, sementara di atas sana: awan-awan mendung menggelayut nampak sudah bosan menggantung dan akan segera menumpahkan airnya. Gawat! Petualangan–bila boleh disebut begitu–masih belum selesai. Teman yang akan dituju ternyata belum berada di tempat. Jadilah bersama dengan E menghabiskan waktu lebih lama lagi. Saat itu, dalam hati berdoa dengan khusyuk agar orientasi masing-masing dari kami tidak berubah hanya karena terlalu sering bersama. Untunglah, bibi nun di sana dan ehem–maaf mungkin namanya belum boleh disebut–cukup mampu mengalihkan perhatian agar tetap normal dengan komunikasi intens melalui pertolongan pesan singkat.

Aku mulai malas menulis–halah!–yah pokoknya begitu. Akhirnya, kutemukan juga kos temanku itu dan di sinilah aku berpisah dengan E. Terima kasih banyak kepada Sang Pengendara Badai atas pertolongannya seharian kemarin itu. Kapan-kapan lagi, yak? :mrgreen:

Pernah beberapa kali aku ke kota ini disambut oleh permukiman kumuh, pasar yang mepet rel dan kebisingan stasiun. Meski di sana kutemukan juga sebuah sudut di depan toilet di mana aku bisa merenung-renung mendengarkan adzan, membaui pesing dan menunggu kereta yang akan membawaku ke kota asal.

Satu ketika aku terdampar di sebuah taman. Di sana aku berkenalan dengan seorang pemain biola–violinis–yang sedang berlatih dengan penuh penjiwaan. Aku hanyut dalam ketenangan nada-nada yang mengalun dari biola, pun kicau merpati dan desau angin yang berhembus di taman itu. Terkejut pula kudengar cerita darinya, karena dengan biolanya dia bisa hidup dengan mengamen dari bus ke bus; dari hajatan ke hajatan. Bersama biola pula terkadang dia bermalam di kolong jembatan dan hanya pulang ke rumah ketika dirasa pakaiannya sudah terasa gatal.

Di sebuah siang yang terik, pernah pula tersesat di belantara Pulo Gadung. Di sana, bukan tiket yang kutemui. Segerombolan calo, preman dan pegawai–yang maaf lebih mementingkan uang seribu dari pada tugasnya–sukses membuatku memberikan catatan buruk untuk daerah ini. Sebuah pengalaman yang kiranya layak sebagai catatan, bahwa kota ini tidak hanya tersenyum, namun terkadang wajah angkernya pun cukup membuat bulu kuduk merinding.

Ah-ya, ada yang lupa, banjir pun menyambutku di hari pertama itu, hahahaha….Parah!!!

Masih ingatkah, Anda, Bagaimana Jakarta menyambut Anda?