Dalam film “Kungfu Panda”, air di kolam dalam Istana Giok haruslah tenang agar bisa memantulkan gulungan kitab untuk Pendekar Naga. Sebuah patung naga yang melingkar di atas kolam itu mulutnya mencengkeram erat gulungan kitab. Orang yang datang barangkali akan teralihkan perhatiannya pada kolam yang permai dan memesona ketimbang memerhatikan gulungan kitab yang tersembunyi; digigit oleh mulut naga. Paling jauh, mereka akan kagum pada patung naga bukan pada kitab yang tersembunyi itu. Tatkala riak-riak di air berhenti dan permukaan air begitu tenang barulah bayangan patung naga dan kitab di mulut naga itu terpantul sempurna.

Pada sebuah kolam, ikan-ikan berwarna kuning, putih, hitam, merah dan belang-belang hitam-putih-merah berenang ke sana ke mari. Begitu riang mereka bergerak layaknya siswa sekolah dasar yang mendengar bel istirahat dan bergegaas menuju jajanan favorit masing-masing. Tanpa beban ikan-ikan ini berenang, tak perduli bahwa gerakannya menimbulkan riak di permukaan kolam; kecipaknya memercikkan air membasahi tepian kolam.

“Mereka begitu bebas, ya Paman?”

“Iya.”

“Tidakkah mereka risau pada sesuatu?”

“Misalnya?”

“Pemancing yang memasukkan mata pancing dengan umpan berupa cacing yang gemuk. Si empunya kolam yang berencana menguras kolam dan membersihkannya dengan tak lupa akan menggoreng sebagian di antara mereka.”

“Ah, kamu terlampau serius.”

“Tapi saya penasaran, Paman.”

“Yang pasti, aku tidak mengerti apakah ikan-ikan itu risau atau tidak. Aku kan bukan ikan, hehe.”

“Tapi….”

“Mungkin ini ya. Mungkin mereka senang saat ini, ketika mereka bisa berenang dengan bebas seperti itu. Mereka pun senang ketika ada cacing gemuk masuk ke dalam kolam tanpa tahu bahwa mereka terperdaya. Namun, sepertinya mereka gelisah ketika perlahan-lahan air menyusut dan kolam mengering.”

“Waoww, Paman haibat!!!”

“Hayah….”

“Barangkali mereka itu jiwa-jiwa yang merdeka, ya Paman? Tapi, bagaimana bila air tak ada? Sepertinya mereka terbatas dan tergantung pada hal itu, bukan?”

“Paman setuju dengan pendapatmu itu, mereka memang merdeka namun terbatas pada habitatnya saja. Mereka bebas namun sekaligus tak berdaya bila tidak hidup di tempat yang bukan habitatnya.”

“Tanggung ya, posisi mereka.”

“Siapa bilang?”

“Ya saya, kan saya yang tadi bilang begitu.”

“Sebenarnya, siapa pun seperti itu. Siapa yang tidak? Setiap orang tidak pernah benar-benar merdeka, mereka selalu memiliki batasan-batasan. Permasalahannya, ada yang suka melampaui batasan itu dan menyebabkan masalah lagi kepada orang lain.”

“Kemudian sebaiknya bagaimana, Paman?”

“Jadilah jiwa-jiwa yang tenang.” *

“Itu bagaimana, Paman, Menjadi jiwa yang tenang?”

“Ah, sudah malam, sebaiknya kamu tidur, bukankah besok harus sekolah?”

Sebenarnya, saya tidak mengerti bagaimana jiwa yang tenang itu, Sobat. Dapatkah membantu saya menjelaskannya? Agar, ketika ponakan saya bangun nanti, saya memiliki jawabannya. Terima kasih.

*) QS Al-Fajr 27 (dengan sedikit perubahan)