“Kerinduan itu begitu menyesakkan, ya, Ra?”
“Memangnya kamu rindu pada siapa, Bi?”
“Tentu saja padamu, pada siapa lagi?” Aku mulai bersungut-sungut.
“Ah, masa?” Kemanjaanmu lagi yang selalu membuatku gemas.
“Apa kamu tak rindu padaku?” dan baca selengkapnya…
Bangunan peninggalan kolonial itu menyeramkan. Begitu kesan yang saya tangkap pertama kali ketika baru saja memasuki gerbangnya. Pepohonan yang besar, halaman yang luas, seakan mengantarkan ke dunia lain. dan baca selengkapnya…
Bagaimana Jakarta menyambut Anda?
Pagi itu, terminal Lebak Bulus belum sepenuhnya terbangun ketika aku tiba di sana. Kumandang adzan; bus satu demi satu memasuki terminal. Dan penumpang, bergegas turun dari bus masing-masing. Ketergesaan terpampang jelas di sana, entah apa yang dikejar. Sebentuk khawatir nampak di wajah seorang gadis yang tangannya gemetar memegang dan terus memencet tombol-tombol, mengamati layar hape di tangannya. Barangtentu dia sedang menunggu seseorang, pikirku. dan baca selengkapnya…
Dalam film “Kungfu Panda”, air di kolam dalam Istana Giok haruslah tenang agar bisa memantulkan gulungan kitab untuk Pendekar Naga. Sebuah patung naga yang melingkar di atas kolam itu mulutnya mencengkeram erat gulungan kitab. Orang yang datang barangkali akan teralihkan perhatiannya pada kolam yang permai dan memesona ketimbang memerhatikan gulungan kitab yang tersembunyi; digigit oleh mulut naga. Paling jauh, mereka akan kagum pada patung naga bukan pada kitab yang tersembunyi itu. Tatkala riak-riak di air berhenti dan permukaan air begitu tenang barulah bayangan patung naga dan kitab di mulut naga itu terpantul sempurna.
dan baca selengkapnya…