“FOTO KAWAN†tercetak dalam baliho, ditemani oleh sebuah merk peralatan memotret produksi Negeri Sakura. Baliho yang terpasang di depan sebuah rumah sederhana itu cukup menjadi penanda bahwa di sana wajah-wajah diabadikan; tubuh-tubuh dibekukan di dalam kertas-kertas foto.
Adapun rumah itu sederhana saja bentuknya. Pintu tak begitu tinggi, dengan undakan dari lantai keramik di bawahnya. Sebuah jendela dengan kaca buram menyembunyikan beragam aktivitas yang terjadi di dalam rumah itu.
Masuk ke dalam, beberapa penjaga toko tanpa seragam akan melayani pembeli. Begitu bersahaja tanpa penyambutan yang berlebihan, bahkan sekadar senyum pun tidak. Semua dilakukan begitu profesional, ditanya apa keperluannya, dilayani dan uang pun kemudian berpindah tepat di depan meja kasir.
Dia yang ingin berfoto, maka akan dipersilakan untuk masuk ke bagian dalam di mana di sana terdapat studio foto sederhana dengan segudang peralatan. Dua buah bilik kecil, dilengkapi dengan cermin, sisir dan sebotol air adalah tujuan pertama mereka yang ingin difoto agar penampilannya sedikit rapi. Perjalanan yang jauh, debu, hujan mungkin, atau udara yang berpolusi, oiya penggunaan helm, tentu akan merusak tatanan rambut. Dua bilik ini, kemudian seperti tempat penyucian diri sebelum ritual selanjutnya: difoto, akan dilakukan.
Setelah rapi, baju dirasa pas di badan dan tidak ada kancing yang salah masuk lubang, melangkahlah keluar mereka yang akan difoto dengan percaya diri, ataukah justru sedikit grogi?
Tak heran sebenarnya, bila rasa tidak percaya diri itu juga mengusik. Bagaimana tidak? Bila dalam studio yang sederhana itu, peralatan yang ada begitu lengkap. Bacground foto aneka warna yang bisa dinaik-turunkan secara elektrik sudah menunggu. Dua buah payung sebagai reflektor cahaya, disangga dengan kuat oleh kaki tiga yang kokoh. Mobil-mobilan, bangku aneka rupa juga perangkat-perangkat lain yang sepertinya terserak sedikit tak rapi dalam studio tak berapa luas itu. Tak lupa, jas-jas usang, baju hem warna-warni dan dasi yang berdebu juga ada tergantung di dinding. Semua peralatan itu di sana bukan tanpa maksud, hampir semua bertujuan sama: membantu sang juru foto dalam pekerjaannya untuk menghasilkan gambar yang terbaik bagi para pelanggan. Semua itu tak sia-sia.
Bagi saya, aktor utama bukanlah mereka yang akan difoto, melainkan sang juru foto. Seorang keturunan China sudah tak muda lagi, barangkali sudah mendekati usia 60 tahun. Berjalan dengan tak lagi tegap, juga langkah kecil-kecil yang sedikit lambat. Pengalamannya sudah bertahun-tahun nampaknya dalam bidang ini. Peralatan foto analognya sudah terlihat begitu tua, kini ada juga sebuah kamera digital yang digunakan mengikuti perkembangan zaman.
Dia akan menunggu dengan sabar sampai sang “pasien†selesai berdandan. Ditanya foto macam apa yang dikehendaki, background seperti apa yang diinginkan, analogkah, digitalkah? Setelah semua jelas barulah sang “pasien†ditempatkan di bidang foto. Arahan akan diberikan, sebuah pas foto hanya akan mengambil gambar separo badan saja. “Pasien†akan duduk di kursi, sang juru foto akan menghampiri, membenarkan lipatan baju yang tak rapi, menatanya menjadi presisi, ditariknya ujung baju bagian bawah, sedikit ditarik di bagian bahu, kerah ditarik-tarik dan setelah dirasa cukup, dengan anggun dihampiri kameranya.
Entah kenapa dalam waktu-waktu ini, sebuah sekolah masih mensyaratkan siwanya untuk menyertakan negatif film untuk foto ijazah. Sebagai konsekuensinya, kamera analog yang dipilih. Kamera ini, sudah terpasang mantap di kaki tiga persis di depan sang “pasienâ€.
Melalui lubang bidik, diintipnya sebentar “pasienâ€-nya itu. Hanya sebentar, kemudian mengamati secara langsung dan mulailah tangannya bergerak-gerak mengarahkan sambil mulutnya memberi perintah, “Ke kiri sedikit, ah… terlalu ke kanan, nah… nah… ke kiri… ke kiri… nunduk… nunduk… badan tegap… bahu turun….†Membingunkan bukan, perintahnya?
Tak jarang seorang “pasien†akan frustasi, apalagi bila dia seorang anak kecil. Anehnya, juru foto itu tak pernah lelah memberikan instruksinya. Perintah yang sama, arah-arah kanan-kiri, posisi kepala mendongak dan menunduk, posisi tubuh tegap dan letak bahu, semuanya. Apa yang dilakukannya seperti hiruk-pikuk, begitu ramai dan bersemangat.
Kemudian pada sebuah detik yang singkat di tengah hiruk-pikuk itu, jemarinya yang sudah terlatih akan menekan tombol shutter dengan cepat. Blazt!! Seperti kilat, cahaya berkeredap di tengah studio, “pasien†yang belum hilang kebingungannya karena mendengarkan instruksi tergeragap. Namun kemudian kelegaan tampak di wajahnya. Sebuah ritual yang menegangkan telah selesai walau hasilnya tak dapat langsung dilihat. Seminggu lagi atau beberapa hari kemudian bergantung ramai dan tidaknya pelanggan barulah hasilnya bisa diketahui. Kamrea dibereskan, baju-baju ditanggalkan.
Urusan berpindah kembali ke bagian depan toko. Nota pemesanan akan diberikan dan di sana tercantum kapan tanggal pengambilan dan ongkos yang dibutuhkan. Besoknya pada tanggal pengambilan, dapat dilihat wajah-wajah sumringah memerhatikan fotonya sendiri, jarang sekali yang merasa kecewa dengan hasil foto di sana. Saat itu begitu aneh manusia, bukankah setiap hari juga bercermin? Namun kenapa pada saat melihat wajahnya tercetak di kertaas foto masih juga senyum-senyum sendiri? Ah, narsis!
Saya suka foto…
difoto maupun memfoto…
dan bagi saya narsis itu wajib.
*kangen paman goop*
[Jawab?]
wah…td itu Pertamaxx ya?
ya sudah kl gt ini keduaxx
*lama nga nyampah disini*
[Jawab?]
makanya aku lebih seneng jadi pemegang kamera, dari pada di depan kamera. sama halnya jadi wartawan lebih enak dari pada ditanya
[Jawab?]
hihihi jadi terkenang masa lalu sewaktu blom ada foto digital, ribet sekali untuk mendapatkan beberapa lembar pasfoto hitam putih itu
[Jawab?]
kan kalo di cermin bisa berubah ubah om, kalo di kertas kan diem..
eh.. nggak nyambung ya
[Jawab?]
Kmaren waktu nganterin tata,ko juga tersenyum bangga meliat hasilny,padhl bukan yg difoto..
Hmmm..
[Jawab?]
saya suka memfoto, sekaligus nggak bisa lihat orang mau foto saya,langsung eksis dengan gaya yang kecentilan… hahaha memang, seseorang itu harus narsis, biar eksis di masyarakat… hehe
[Jawab?]
yang saya sebal adalah kalau foto digital kemudian dikoreksi sedemikian rupa sehingga hampir tidak mirip aslinya… saya mau bekas jerawat saya juga kelihatan…
[Jawab?]
ntar kita poto2 deh…
[Jawab?]
narsis boleh dong…
[Jawab?]