batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Ombak, Pantai dan Angin

Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB 17 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel.

Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak hanya di stasiun berhentinya. Rasa-rasanya seperti sedang mengulur jarak; memperlambat waktu kedatangan di stasiun tujuan. Saling menunggu untuk lewat di rel yang sama, akibatnya sebuah kereta harus menunggu kereta lain lewat terlebih dahulu barulah bisa berjalan kemudian.

Istimewa sekali malam ini, karena saya terjaga. Biasanya saya pun seperti penumpang lain yang tertidur mendengkur; melewatkan malam, membuang lelah di bangku-bangku berlapis kulit sintesis yang membuat keringat mengalir begitu deras. Pada pemesanan tiket, saya selalu memilih kursi berkode ‘A’ atau ‘D’. Artinya di pinggir, dekat jendela.

Dan di kiri laut; saya baru tahu sekarang, betapa rel ini begitu dekat dengan laut. Buihnya, ombaknya, kesiur angin dan bau garam mampir pula ke dalam kereta. Mengganti sebentar, berganti-ganti dengan bau keringat, daki, dan kaki yang terendam lama di sepatu. Saya tak bosan mengamati ombak yang bergulung-gulung kian ke mari. Saya teringat pada sebuah kisah.

***

“Aku lelah denganmu.” Kata Pantai.

Ombak yang mendengar kata-kata Pantai memberengut tak senang, “Tapi, aku hanya memainkan peran yang harus kujalankan, tak lebih.”

“Wuzzz….” Angin datang, hanya untuk mengganggu cakap-cerita Ombak dan Pantai, tak lebih.

Begitulah, di pesisir yang permai itu: Ombak, Pantai dan Angin merangkai kisah tentang kompromi yang pahit. Memang begitu menarik bila dilihat wisatawan yang datang berkunjung, menikmati pemandangan. Tetapi, tak semua manis itu berasal dari gula, tak juga semua indah itu manis, terkadang pahit.

Pantai menerima semua perlakuan Ombak dengan sepenuh hatinya. Bagi Pantai, hidupnya adalah untuk Ombak. Ombak seringkali mencumbui Pantai dengan elusan-elusan yang lembut, membuih, mengapungkan busa di permukaan Pantai. Namun, tak jarang tubuh Pantai dihempas Ombak yang murka, sebagian tubuhnya terkikis, menjadi serpihan-serpihan yang mengapung sebentar dan kemudian tenggelam.

Ombak dan Pantai seperti bermain-main dengan kasih dan benci. Kata orang memang batasnya tak tebal; setipis kertas. Namun, seperti tak adil apa yang diterima Pantai.

Angin, adalah hulu semua masalah. Gerakannya menyebabkan Ombak terjadi. Hembusannya adalah elusan Ombak di Pantai. Terpaannya, adalah tamparan-tamparan sadis Ombak pada Pantai. Angin seperti orang ketiga yang menjemukan; menyebalkan dan tak tahu diri di saat yang sama.

Ombak, Pantai dan Angin seperti bermain-main dengan elusan dan terpaan. Sebuah wujud kasih dan benci yang kata orang tak tebal batasnya, hanya setipis kertas. Namun, seperti tak adil apa yang diterima Pantai.

“Di sana, nun di ufuk, akan kau lihat tempat-tempat yang indah, Ombak.”

“Lebih indah dari sini?”

“Lebih indah, jauh lebih indah.”

“Kalau begitu, bawalah aku ke sana, Angin.”

Percakapan Ombak dan Angin tak urung sampai juga ke telinga Pantai. Namun, seperti kemarin juga, Pantai hanya terdiam. Pantai selalu percaya kepada Ombak, ada prinsip besar yang sedang ditekan-tekan pada hatinya. Sebuah kompromi, penerimaan yang mendekati batas keragu-raguan.

Betapa tidak? Bila Pantai selalu menerima apa saja yang dilakukan Ombak padanya. Adil dan tidak adil sudah tidak menjadi beban untuk Pantai. Baginya, memberi tubuhnya kepada Ombak, bila itu memang perlu, maka akan diberikan tanpa bertanya. Hatinya, adalah bagian dari tubuhnya, maka direlakan pula hati ini terluka. Luka yang terukir ketika Pantai melihat Ombak mengikuti Angin, dibawa Angin entah ke mana.

Ombak dan Pantai berpisah tanpa lambaian tangan. Sekadar menengok pun tidak. Angin telah mengubah dirinya menjadi iblis dihadapan Pantai, namun dewa dimuka Ombak.

Beragam cerita sudah pernah didengar Pantai dari wisatawan yang datang, menginjakkan kakinya di sana. Pasangan remaja yang menggambar sebuah hati dan nama-nama mereka di sekelilingnya. Sebuah gambar yang sia-sia, karena sebentar kemudian gelombang datang dan menyapu semua. Pantai selalu mendengar, hikayat tempat-tempat yang jauh. Bahwa di sana, selain keindahan ada juga kesedihan layaknya di sini. Di antara binar gadis-jejaka remaja saat menggambar hati, juga ada kesedihan ketika gambar itu tersapu oleh gelombang. Pantai dalam diamnya belajar, mengetahui bahkan pada cerita di tempat-tempat yang jauh.

Ufuk takkan pernah tergapai, selalu berjarak. Saat mendekati ufuk yang tertinggal hanya jejak-jejak jarak. Adapun ufuk tetap di sana, di kejauhan tanpa pernah sampai. Tamsil yang sesuai untuk apa yang dicari oleh Ombak. Kemudaannya membuatnya terlena pada bujuk-rayu Angin. Disangkanya tempat-tempat yang jauh akan memberikan keindahan dan bahagia. Padahal tak pernah gelombang selalu datang di pesisir. Ada masanya ketika gelombang datang, kemudian tak lama dia pun pergi. Begitu pula kebahagiaan tak pernah abadi.

Kasih, semestinya menjadi dasar atas semua yang dilakukan oleh Pantai. Tak ada kesalahan dalam memberikan kasihnya. Pantai hanya tahu memberi tak pernah meminta kembali. Itulah prinsipnya, itulah dirinya. Namun, Ombak tak juga mengerti. Menuntut pada kasih yang lain, kasih Angin. Kasih yang palsu, berselimut pura-pura; menguarkan aroma bohong yang mengental di udara. Sayang, beribu sayang Ombak tak begitu pintar untuk mengetahui rencana tersembunyi Sang Durjana.

Sampai ketika Ombak sudah mengelilingi semua tempat yang telah ditunjukkan Angin, dia begitu rindu pada Pantai. Pada kasih Pantai yang tulus dan menerima. Menyesal Ombak pada keputusannya dahulu meninggalkan Pantai. Namun, sesal di belakang tiada berguna. Semua telah terlambat bagi Ombak.

Saat tiba, disapanya Pantai; diajak bercakap-cakap. Maksud hati akan menceritakan semua pengalaman yang didapat dari perjalanan panjangnya bersama Angin. Tetapi Pantai telah lelah menunggu Ombak pulang.

Pantai malah terpesona pada Bakau. Kuatnya akar menggenggam tubuh Pantai, menyatukannya tidak memecah dan mengikis seperti Ombak. Wajarlah bila Pantai lebih mengikhlaskan tubuhnya kepada Bakau untuk dihisap, diikat dijadikan habitat tempat tumbuh.

Sebenarnya, Pantai tak hanya berkawan dengan Bakau ketika itu. Karena semua penantian adalah wujud Pantai. Diterimanya segala benda, segala makhluk. Termasuk juga kura-kura. Termasuk juga sembab mata istri dan raungan tangis anak; istri dan anak nelayan yang menunggu pulang. Pantai kemudian lambang penerimaan dan penantian abadi.

Tak percuma Ombak mengarungi jarak yang panjang mencoba menggapai ufuk kebahagiaan yang tak kunjung sampai. Ternyata bisa juga dia akhirnya belajar pada Pantai. Meski tak bersatu lagi dengan Pantai, entah nanti, namun Ombak belajar bagaimana memberi seperti Pantai.

Di tubuhnya, kini ikan-ikan diberi kebebasan untuk berenang dan tumbuh. Begitulah cara Ombak memberi kepada sekitarnya. Adapun Angin? Tak jua bosan mengganggu Ombak, namun dia berpadu bersama Ombak sebagai nafas bagi ikan-ikan.

***

Saya kurang tahu, bagaimana kisah itu berakhir. Benarkah Bakau dan Pantai bersama untuk melindungi kehidupan yang lebih luas di belakang pesisir di daratan sana? Ataukah Ombak dan Angin mesra bersama-sama membesarkan ikan-ikan?

Ini tentang kompromi yang tidak selalu manis, seperti saya tulis di bagian awal. Bagaimana semestinya kompromi dilakukan, diwujudkan dalam tindakan? Sudilah kiranya membagi bila sobat semua punya jawabannya. Karena waktu itu, saya sedang tidak bisa berkompromi dengan perut saya yang melapar, membayangkan ikan, digoreng atau dibakar dengan sambal terasi segar dan lalapan, hmmm…. Keinginan makan yang tidak pada waktunya ini memang merepotkan.

17 komentar »

  1. [...] See the rest here: Ombak, Pantai dan Angin [...]

  2. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    Jumawa berkata...

    mau bilang laper kok panjang banget paman :lol: sayah yang sudah terhanyut membaca kata demi kata kebanting di paragraf terakhir. rel semarang sih memang kalo ujan dan banjir keretanya ndak berani lewat. kelelep air asyin~
    *itu setingnya di semarang bukan si? o_O*

    kompromi? nyang penting positip tingking bukan ya?

    itu di sebelum semarang, entah di mana, pokoknya mah di pinggir pantai :mrgreen:
    apakah cukup hanya positif thingking? karena bagaimana ketika itu justru dimanfaatkan?
    kepercayaan yang dikhianati?
    :cry:

  3. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    Zam berkata...

    Aku selalu suka pantai berpasir, ombak berdebur, dan anginnya yg mendesir..

    sama kalau begitu sinuhun *toss* :D

  4. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    regsa berkata...

    saya juga temannya pantai seperti bakau juga kura-kura :)

    hehehe, apa sahaja cerita pantai kalau memang mas regsa temannya, hayo? :lol:

  5. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    Goen berkata...

    Apakah cerita ini akan tetap sama jika saat itu pak calon menejer ini pakai kereta kelas ekonomi? :P

    ya tetap sama, kan bikinnya bukan di kereta :lol:

  6. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    khofia berkata...

    masing-masing dari kita hanya menjalankan peran masing-masing, sesuai dengan plot yang sudah diatur. sesekali bolehlah kita berimprovisasi, asal jangan merusak alur yang sudah ditentukan. begitulah kira-kira, paklik.
    btw, kapan kah itu sampeyan numpak senja semarang?

    sering saya naik senja semarang :mrgreen: saking seringnya sampai lupa. btw, terima kasih komentarnya, brotha :D

  7. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    aditya sani berkata...

    yuk kita ke pantai sadranan yuk om..:) aseli..pantai itu bikin hati luruh dan larut bersama air garam..

    sadranan mana to, bro? :roll:

  8. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    aziz berkata...

    wah, jadi pengen maen ke pantai nih….. terbuai sama judul postingan dari uncle….

    mau menggambar hati bersama kekasihmu, ya? hehehe

  9. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    Indah Sitepu berkata...

    ke pantai, berteriak sekuat tenaga, melepas semua sesak di dada…..

    bila macam sinetron, masih ditambah melempar sebuah batu ke tengah samudera :mrgreen:

  10. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    nico berkata...

    goop, aku mbaca di kos aja berasa banget. apalagi kalo mbaca ini di pantai! woorgh!

    *masang tenda di pantai, gelar tiker dan nyalain api unggun*

    berasa apanya, bro? :mrgreen:
    *ikut masang tenda, duduk di tiker, nikmatin api unggun* :lol:

  11. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    githa devie berkata...

    sama seperti kisah manusia pada dasarnya…. hhhhh, iya kenapa diri ini kadang seperti pantai yah? tulus mencintai tapi tak berbalas cinta… ah hidup bikin aQ binun…. kadang

    pegangan atuh, kalau bingung :P
    apa sih git, yang bikin bingung? sini-sini, cerita sama, paman, hehehe

  12. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    AngelNdutz berkata...

    semuanya bisa diset…tergantung dari pak sutradara….semua bisa diatur kecuali takdir :P

    sutradaranya di mana, ya, Ndutz duduknya :mrgreen:

  13. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    okta sihotang berkata...
  14. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    itikkecil berkata...

    kompromi… itu yang sulit, melepaskan sedikit ego untuk kebaikan bersama :D

    benarkah hanya sedikit ego? bagaimana jikalau berulang dan berulang terus? kemudian ego habis?
    btw, bisa ngga habis? :mrgreen:

  15. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    starone solo berkata...

    numpang promo lomba blog
    http://staronesolo.blogspot.com/

    yupe, silakan dan terima kasih :D

  16. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    neng fey berkata...

    apa ini? knapa tampilannya jadi begini? apa dah pindah tak bilang2??

    bukan apa-apa, kan hanya berganti theme sahaja, tak jua ke mana-mana kok…hehe

  17. Pada Thursday, 25 December 2008 pukul 23:21 WIB,
    escoret berkata...

    woghhhh…gambarnya mantabbsss..

    eh,jik ning smrng..???

    jah… mana ada gambar?
    wis ra ning semarang, ohm, per januari nganggur….hoho

RSS komentar untuk tulisan ini URI Lacak balik

Tinggalkan Komentar