Pada batas sebuah negeri, di dusun yang sepi. Janda Mardi hidup bersama dengan dua putrinya. Bukanlah hal yang mudah menjadi ayah sekaligus ibu.
Marni, si sulung pintar bersolek. Betah sekali bila sudah berada di depan cermin. Lain lagi adiknya, Marti. Yang satu ini, begitu pintar bergaul, banyak teman dimiliki. Akhirnya, tinggallah Janda Mardi bersendiri, malam-malam sepi. Terkadang, menangis tanpa suara di biliknya.
Benaknya melayang pada Marni yang siang tadi meminta uang untuk bedak dan gincu. Pikirannya berlarian mengingat si Marti yang begini larut masih juga belum pulang.
“Mas, maafkan aku tak bisa menjaga amanah yang kau titipkan padaku. Marahkah kau padaku, mas?â€
Janda Mardi teringat pada suaminya yang telah berpulang beberapa tahun lalu. Memang tak pernah suaminya berpesan macam-macam saat kepergiannya. Pergi begitu saja laiknya tiap pagi dia berangkat bekerja.
Masih terbayang dengan jelas bagian belakang gerobak suaminya yang ditarik perlahan. Punggung Mardi yang melengkung, kaosnya yang kumal dan berlubang. Bahkan, jamur kadas dan panu yang hampir merata di lehernya juga tak ketinggalan terpampang.
“Mak…mak…!!â€
Teriakan Marti yang cempreng membuyarkan lamunan Janda Mardi. Tergopoh, menyingkap tirai biliknya, berjalan tergesa, terantuk bangku panjang –perabot satu-satunya di ruang tamu- barulah sampai di pintu. Bau minuman keras menguar dari mulut Marti. Sesosok pemuda berjaket kulit dengan sorot mata menyeramkan berdiri di belakang Marti.
Setengah menarik lengan Marti, Janda Mardi segera menutup pintu. Si lelaki sangar ternyata bodoh, baru sadar bila dia tidak dapat pintu. Menggelosor begitu saja di teras rumah, kemudian mendengkur seperti lenguhan kerbau.
Janda Mardi baru saja keluar dari kamar Marni dan Marti. Dielusnya dada sambil menahan nafas. Untaian istighfar dan do’a dipanjatkan. Belum lama, ketika kegaduhan itu terdengar.
Marni berteriak nyaring karena Marti menyenggolnya. Masker di wajah yang begitu telaten dioleskan terkelupas karena ketidaksengajaan Marti. Mabuk, Marti lupa di mana dipannya seharusnya berada. Asal saja dia berbaring dan terjadilah kesalahan konyol yang menimbulkan perang mulut di tengah malam.
“Sabar…sabar….â€
Hanya itu yang keluar sebagai gumaman dari mulut Janda Mardi. Terhuyung dia kembali ke biliknya, kantuk mulai menyerang. Sementara di benaknya, tak berhenti syaraf-syaraf di sana masih juga bekerja.
Koh A Ciang membatalkan pesanan kue yang sedianya akan digunakan untuk arisan sore nanti. Padahal adonan sudah siap, tepung sudah dibeli, gula, bumbu dan lainnya. Bayangan kerugian, kemudian begitu jelas terbayang di depan mata.
Perlahan, mata Janda Mardi terpejam juga saking lelahnya. Dalam tidurnya, ia bermimpi. Mardi pulang dengan gerobaknya. Punggungnya masih melengkung, kaosnya pun masih kumal dan berlubang-lubang. Bahkan, jamur di lehernya tak jua hilang. Namun Mardi tersenyum, lebar. Senyum yang biasa terpampang juga di bawah kumisnya yang semrawut. Biasa terlihat saat Mardi pulang bekerja, meski entah senyuman paling manis atau umpatan dari istrinya yang menunggu di pintu.
Bila Mardi saja selalu bisa tersenyum bagaimanapun keadaannya, maka kenapa Janda Mardi tidak? Sekali ini, dia tidur dengan tersenyum. Ah, meski senyum yang mungkin tidak disadarinya, yang penting dia tersenyum.



senyum memang obat paling ampuh. salut untuk orang yang masih bisa tersenyum, bahkan ketika sedang berduka
[Jawab?]
goop menjawab:
iya, mereka itu hebat, ya?
[Jawab?]
senyum itu ibadah kang tapi kalau senyum kebanyakan itu bisa aneh
[Jawab?]
goop menjawab:
aneh apa gila hahaha
[Jawab?]
kenapa takut menghadapi hari esok yang tidak pasti?
tersenyum sajalah
[Jawab?]
goop menjawab:
betul, mbak
jangan khawatir akan hari esok
dan mari tersenyum
[Jawab?]
senyum jandanya si dewi persik ada nggak ??
[Jawab?]
goop menjawab:
banyak, kan di film-film atau pementasannya?
namun, entah kenapa saya kurang suka
[Jawab?]
senyum dan senyum terus apalagi kalo pake pepsoden tambah cling
byme salam kenal
tengok juga http://webyme.co.cc
[Jawab?]
goop menjawab:
hehehe, tak pakai pun asal senyum sudah bikin cling kok
makasih, mas, salam kenal kembali
[Jawab?]
hmmm dalam banget kisahnya…ada lanjutannya gak nih?
bagi mereka, ketika semua harus dihitung dengan rupiah, bisa tersenyum sudah sangat mahal harganya…
[Jawab?]
goop menjawab:
duh, belum tahu, mbak, ada lanjutannya atau tidak
terima kasih apresiasinya, ya
[Jawab?]
pfiuh!
hidup memang seringkali tak mudah.
[Jawab?]
goop menjawab:
betul itu, mas
makanya tersenyum yuk, agar lebih mudah, barangkali hehehe
[Jawab?]
Keep smilin
tapi kalo ada yang senyam senyum nyebahi kok pengen ngeplak ya..
[Jawab?]
goop menjawab:
yowis, to, dikeplak sahaja
[Jawab?]
senyum itu, tulus atau tidak, selalu bikin adem ati, pak.
apalagi senyum yang datang dar istri sendiri
[Jawab?]
goop menjawab:
hihihi
selamat mas, saya pun sudah ingin menikmati senyum istri saya sendiri
[Jawab?]
salah baca, tak kirain “senyum janda mandi”
[Jawab?]
goop menjawab:
hahaha
kira-kira gimana kalau janda mandi?
[Jawab?]
satu sisi kehidupan.
lagi !
[Jawab?]
goop menjawab:
iya, mas…
sekadar tersenyum hihihi
[Jawab?]
kehidupan ini bagaimana kita melihatnya, dengan kacamata ataukah mikroskop…?
[Jawab?]