melintas batas
Archive for December, 2008
Ombak, Pantai dan Angin
Dec 25th
Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel.
Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak hanya di stasiun berhentinya. Rasa-rasanya seperti sedang mengulur jarak; memperlambat waktu kedatangan di stasiun tujuan. Saling menunggu untuk lewat di rel yang sama, akibatnya sebuah kereta harus menunggu More >
Bilakah Jiwa, Merdeka
Dec 20th
Penghujung warsa dalam muram durja
Pelengkap penderita perjalanan jiwa
Pada tanah tak bertuan menengadah
Berlutut di tengah mengangsurkan lelah
Di ujung tahun tersenyum gembira
Bertukar dendang rancak rebana
Sauh ditarik kekang kuda dihela
Lengan disingsingkan More >
Senyum Janda Mardi
Dec 11th
Pada batas sebuah negeri, di dusun yang sepi. Janda Mardi hidup bersama dengan dua putrinya. Bukanlah hal yang mudah menjadi ayah sekaligus ibu.
Marni, si sulung pintar bersolek. Betah sekali bila sudah berada di depan cermin. Lain lagi adiknya, Marti. Yang satu ini, begitu pintar bergaul, banyak teman dimiliki. Akhirnya, tinggallah Janda Mardi bersendiri, malam-malam sepi. Terkadang, menangis tanpa suara di biliknya.
Benaknya melayang pada Marni yang siang tadi meminta uang untuk bedak dan gincu. Pikirannya berlarian mengingat si Marti yang begini larut masih juga belum pulang. More >
Ketika Menunggu
Dec 9th
