“Ohm, terima kasih, ya. Di antara ke lima anak Ibu, Ohm, yang paling mengerti Ibu.â€
Begitulah pesan singkat yang diterima hape saya dari putri Ibu kos yang tinggal nun di Bali sana. Putra dan putri Ibu kos memang sebenarnya hanya empat orang saja. Namun, setelah saya tinggal di sana hampir dua tahun lamanya akhirnya pengakuan itu tiba juga.
Bukan kos-kosan, saya harus mengakui kos saya di Klaten itu begitu. Bagaimana tidak? Bila di sana saya tinggal sendiri tanpa memiliki teman kos. Sehari-hari saya hanya bergaul dengan Ibu dan Bapak yang pensiunan dan lebih sering di rumah dari pada bepergian. Tidak sepanjang hari memang saya berada di kosan. Hanya bila senja menjelang sampai dengan mentari beranjak naik saya akan berkeliaran dari kamar ke kamar mandi, kembali ke kamar.
Putra dan putri yang berjumlah empat orang itu, semuanya telah berkeluarga dan masing-masing menempati rumahnya sendiri. Sebagai anak kos tunggal di situ, saya benar-benar memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Tidak banyak sebenarnya fasilitas yang tersedia karena memang keluarga Ibu dan Bapak sungguh bersahaja.
Meski begitu, segelas teh hangat di kala pagi dan bila malam menjelang leluasa bisa saya bikin. Air panas selalu tersedia di dalam termos. Tak perlu permisi saya mengambilnya. Hal yang sama juga saya lakukan bila ingin meminum air putih penawar haus. Semua tersaji dalam teko-teko plastik berukuran besar yang selalu siap di dapur.
Di masa-masa awal, tentu saja canggung itu ada. Selalu berhati-hati dalam bertindak dan sebisa mungkin tidak menimbulkan masalah. Tetapi, barangkali usia telah mendewasakan Bapak dan Ibu berdua. Beliau tidak pernah mengekang saya; tahu betul apa kemauan anak muda. Akhirnya segan muncul di dada dan sebisa mungkin menjaga kepercayaan yang diberikan.
Tidak banyak yang saya haturkan untuk beliau berdua kecuali beberapa bingkisan kecil dari rumah di kampung titipan Ibu. Terkadang, bila sehabis rapat masih ada hidangan dalam kotak tersisa, saya akan membawanya pulang, sekadar berbagi, tetapi akhirnya masuk pula ke perut saya.
Bila bulan puasa tiba, begitu sukar mencari makanan untuk sahur di kota kecil seperti Klaten. Akhirnya, Ibu pun harus saya bikin repot dengan menyiapkan segala hidangan alakadarnya. Tentu tidak mudah mengingat selera saya yang agak aneh dan terbiasa dengan warung makan. Berhati-hati Ibu akan menanyakan, “Mas, nanti malam menunya apa, ya?†Tanpa dosa saya akan berkata, “Terserah Ibu mawon, saya manut.â€
Menjengkelkan, bukan? Tidak semua makanan bisa saya makan. Bukannya pilih-pilih atau tidak doyan, tetapi sungguh saya tidak suka. Sudah begitu, saat ditanya menu saya bingung bagaimana menjawabnya. Kurang ajarkah, saya? Ya, begitu barangkali jawaban yang pas.
Dua kali lebaran saya lewatkan di sana. Memang pada saat hari H dan beberapa hari setelahnya saya berada di rumah di kampung. Namun, bila hari kerja akan dimulai, saya akan kembali ke kosan diawali dengan sungkem kepada Bapak dan Ibu kos. Ah iya, sebelum pulang kampung menjelang hari raya, biasanya saya akan sibuk menyiapkan bingkisan untuk Bapak kos. Sebenarnya ingin juga memberikan sesuatu kepada Ibu, namun terus terang selalu kesulitan memilih apa yang pas. Bila baju, saya tidak tahu ukurannya. Mukena, sajadah sudah sangat banyak di almari dekat tempat sholat itu. Adapun bingkisan untuk Bapak, mudah sekali karena tubuh beliau hampir sama dengan saya, jadi tidak terlalu menyulitkan saat penentuan ukuran.
Lebaran kemarin saya pun mencoba untuk menghaturkan sekadar bingkisan kepada Ibu. Saya teringat adik yang selalu mendapat bingkisan dari sekolah tempatnya mengajar. Rupa-rupa bingkisan itu: minyak goreng, sirup, sabun mandi dan cuci, gula, teh dan beberapa barang kebutuhan lainnya. Ide itu, mentah-mentah saya tiru, belanjalah saya di supermarket dan membeli semua kebutuhan itu.
Sesampainya di kos, saya haturkan begitu saja tanpa membungkusnya dengan bungkusan parcel sekadar agar nampak lebih indah. Ibu pun mengucapkan terima kasih sekadarnya, tak berlebihan dan tak lupa tersenyum.
Hal yang saya tidak pernah tahu adalah: beliau menceritakan apa yang saya lakukan kepada mbak kos –putri satu-satunya Ibu—yang tinggal di Bali itu. Cerita Ibu tersebut, berbuah pesan singkat di awal tulisan ini. Aneh… saya tidak pernah menyangka akan menerima pesan seperti itu. Bagi saya, apa yang saya lakukan adalah hal yang biasa dan tidak pantas disebut, apalagi dibanggakan.
Saat membaca pesan tersebut ada perasaan haru yang menyeruak perlahan-lahan. Pada kata ‘di antara ke lima anak Ibu, Ohm yang paling mengerti Ibu’. Saat itu, saya merasa dianggap sebagai saudara. Ke lima, justru memberikan arti melengkapi yang empat.
Perasaan dianggap, diuwongke –dimanusiakan—ternyata memberi nilai yang penting. Di sana kemudian saya merasa bukan hanya sebagai anak kos. Meski pengakuan dari Mbak kos itu tidak diikuti oleh pengakuan secara langsung dari Mas-mas yang lain, pun Ibu dan Bapak namun itu saja sudah cukup. Menjadi bagian dari sebuah keluarga di sana begitu membanggakan sekaligus mengharukan untuk saya pribadi. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupa. Bahwa mengakui, menganggap penting, menghargai kehadiran masih dibutuhkan.
Selalu, di tempat yang asing; jauh dari orang-orang terdekat dan terkasih mudah sekali membuat; mengundang haru. Penerimaan dengan tangan dan hati terbuka, meski tentu saja melalui proses yang berliku akan membuahkan senyum. Akhirnya, jangan heran bila sebuah pesan singkat bisa mendatangkan cairan bening; tipis di mata, isak tertahan dan helaan nafas panjang. Saat itu, mungkin ketika sisi-sisi paling lembut di kedalaman dada sana terusik.
Selamat menikmati hari-hari di sana Bapak dan Ibu, mungkin sekarang lebih tenang karena tiada saya yang tiap malam pulang terlambat membuka rolling dorr. Selamat beribadah dengan tenang tanpa saya ganggu dengan suara-suara dari televisi atau winamp yang dimainkan. Berdua saja di hari tua, semoga saya juga bisa mencapai kebahagiaan di usia senja seperti apa yang sehari-hari saya saksikan dari Anda berdua. Terima kasih untuk semuanya, termasuk pesan-pesan yang semoga tak lekang dimakan waktu.
saya anak keempat!
trus skarang tinggal di mana?
[Jawab?]
goop menjawab:
saya anak pertama!
sekarang di semarang, ohm
[Jawab?]
Lho? Sudah enak kok ditinggal?
[Jawab?]
goop menjawab:
enggak ditinggal lah, sekali waktu juga akan ditengok kok
[Jawab?]
trenyuh (cozy)
[Jawab?]
goop menjawab:
[Jawab?]
owf…kenangan yang indah kang….
hiks….
[Jawab?]
goop menjawab:
terima kasih, mas.
[Jawab?]
Duh, pakde..
Saya jadi kangen orang tua saya..
[Jawab?]
goop menjawab:
selamat deh
[Jawab?]
Yuk ikutan Lomba Blog, Hadiah total 10jt + handphone+ internet speedy. lihat info di http://www.audiochute.com
[Jawab?]
goop menjawab:
makasih mas, infonya
[Jawab?]
ini yg namanya kekeluargaan, beda dengan keluarga
[Jawab?]
goop menjawab:
di mana bedanya, mas?
[Jawab?]
hmm..
kadang anak merasa tak tega…
begitu juga orang tua..
sabar kawan..
[Jawab?]
goop menjawab:
baiklah
[Jawab?]
balinya dimana sih?
[Jawab?]
goop menjawab:
haduh, saya pun tidak hapal, mas
maafkan
[Jawab?]
memang begitu, jauh dari orang tua, lalu ada orang yang nganggep kita kayak keluarga..rasanya indah
[Jawab?]
goop menjawab:
yupe, begitulah kira-kira, mbak
terima kasih
[Jawab?]
Kadang-kadang perhatian sederhana seperti itu memang berarti paman….
[Jawab?]
goop menjawab:
perhatian tidak selalu berasal dari hal yang besar, bukan?
[Jawab?]
bahagia sekali punya banyak sodara ya….ga akan kesepian.
saya anak ketujuh, dan ada harapan-harapan yang disimpan di pundak saya juga oleh keluarga. moga saya bisa membuat mereka semua bahagia, itu saja.
[Jawab?]
goop menjawab:
amien, teh….
semoga
[Jawab?]
trus skrg udah pindah ke mana nih om???
di jkt-kah??
[Jawab?]
goop menjawab:
di semarang dt
mau loenpia? hihihi
[Jawab?]
wuih….
betapa menyenangkannya punya orang tua angkat….
gimana de… udah diterima dimana?
salam hangat dari klaten
dan juga ditunggu parcelnya…..
[Jawab?]
goop menjawab:
parcel opo, pak? hahaha
masih belum keterima di mana-mana
masih berusaha begitu, hihi
mohon doanya dan salam pula untuk semua teman di Klaten
[Jawab?]
saya anak ke empat dari ibu bapak saya
^_^
btw uncle sekarang di mana?
[Jawab?]
goop menjawab:
anak ke empat, mirip ohm edy domz
saya di semarang, mbak
mau ke sini?
[Jawab?]
kapan nang klaten le….
ditunggu mangan-mangane je….
[Jawab?]
goop menjawab:
nah kuwi, pak
sik lagi muter-muter pelatihan terus
nantilah diatur hihihi
[Jawab?]
iya, bentar lagi kalo bersama aunty-nya sudah tidak ada anak kelima… hahahaha… beli buku apa aja di kwitang oom? ditunggu yah undangannya.. hahahahaha
[Jawab?]
goop menjawab:
kenapa tidak ada anak ke lima?
buku yang kucari tak ada pun di sana gita, sepertinya memang harus bersamamu
semoga undagannya tidak lama lagi, amien!
[Jawab?]
sepertinya orang2 disini semakin pandai bikin blog, ahah… sedangkan saia makin males bikin gara2 susah akses… hehe, wah ibarat jodoh buku itu hehehe, gampang2 susah… kekekekeke traktiran lah mas dewanto 4 the PJ … hehehe
[Jawab?]
goop menjawab:
siap….
meski ngga di blog, kan menulis bisa di manapun
ditunggu, yak!
[Jawab?]
hiks, hiks…
[Jawab?]
goop menjawab:
ngopo to kowe, dab?
[Jawab?]