Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas.

Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila adalah gadis di balik bayang-bayang. Dan ini kisahnya:

Hujan bukan lagi gerimis, lebat boleh dibilang begitu. Dua gadis kecil itu masih juga bermain dengan penuh tawa senang. Mereka tak sadar bahwa di balik pintu dapur yang terbuka seorang Ibu mengawasi dengan cemas.

“Ila, cepat ke mari, nak. Hujan, nanti kamu sakit.”

“Bentar, ma, Ila masih ingin bermain bersama kakak.”

Tak sabar, diambillah sebuah payung oleh Ibu itu. Dengan menarik daster biru mudanya sampai ke lutut, dihampirinya kedua gadis kecil itu.

“Ayo, Ila, nanti kamu terkena flu, sudah cepat atau nanti mama adukan ke papa.”

“Tetapi, ma…. “

Tak kuasa Ila untuk sekedar menolak perintah itu. Sebelah tangannya digandeng oleh mamanya dan diseret ke kamar mandi, kemudian dimandikan dengan air hangat. Adapun kakaknya, masih juga belum beranjak dari tengah taman bermain lumpur; bermandikan air hujan, basah.

Ila telah hangat kini. Minyak kayu putih dioleskan ke sekujur tubuhnya; sweater tebal membungkus erat tubuh bagian atasnya. Adapun pada kakinya, sebuah selimut kembang-kembang melindungi dengan sempurna. Dia duduk di ranjangnya, sesekali bersin dan melalui jendela dia bisa melihat kakaknya masih juga bermain hujan. Iri, entah kenapa rasa iri itu menyeruak begitu perlahan.

Sesekali bersin terdengar dari mulut Ila; hidungnya pun mendadak mampet dan pusing tak lupa hinggap di kepalanya. Begitu berat. Masih ditambah dengan iri yang mengusik-usik hatinya. Tak salah kiranya bila menyebut Ila begitu tersiksa dengan semua keadaan itu.

“Kamu ngga papa, Ila?”

Sebuah suara berat dan berwibawa: ayah Ila. Beliau masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegap, tenang. Semakin mendekati ranjang di mana Ila terduduk pucat. Sebelah tangannya terangsur ke pelipis Ila. Disibakkan poninya dengan jemari tangan yang kukuh itu; menggunakan punggung tangannya papa Ila mencoba mengukur, mengira-ira suhu tubuh Ila.

“Kamu demam, nak. Itulah akibatnya bila berhujan-hujanan. Papa kan sudah selalu bilang.”

Ila masih terdiam seribu bahasa. Dilayangkan pandangannya kembali ke kakaknya yang masih bermain hujan. Tangan ayahnya sudah tidak berada di pelipisnya, tetapi rasanya masih ada di sana. Wibawanya begitu kuat dan tak mungkin bisa dilawan olehnya yang mungil.

Dunia bagi Ila, menyempit. Dia hidup di bawah ketiak ayah dan ibunya. Hari-harinya adalah menelusuri jejak kakaknya, di balik bayangannya. Meski tak pernah bisa, tak juga bisa dia meniru, mendapatkan apa yang kakaknya dapatkan.

Ila begitu murung bila mengingat semua itu. kebebasannya terpasung di bawah kendali ayah dan ibunya. Kebebasan yang dengan sangat bertolak belakang bisa didapatkan kakaknya dengan mudah.

“Papa, kenapa Ila tak boleh bermain hujan seperti kakak?”

“Karena kamu mudah sakit, Ila, begitu mudah sakit.”

“Tetapi, Pa….”

“Sudahlah, Ila, jangan membantah terus, kasihan mama bila harus repot merawatmu.”

Bila sudah begitu, Ila kemudian terdiam. Tak ada lagi kata yang terucap. Semua yang ingin keluar dari mulutnya tertelan kembali. Begitu banyak yang ingin diucapkannya, tetapi kemudian hanya helaan nafas yang tertahan untuk menyembunyikan sedu sedan.

Menurut Ila, apa yang dilakukan oleh ayah ibunya adalah tidak adil. Kakaknya bebas melakukan segala hal. Tetapi Ila? Selalu dan terus diawasi, dipantau di bawah lirikan tajam mata ayah dan ibunya. Bukan kondisi yang menyenangkan, tak juga bisa dikatakan membahagiakan. Meski di sudut hatinya pun dia tahu, orang tuanya melakukan itu semua demi dirinya jua. Tubuhnya yang rapuh, rentan terhadap penyakit.

Apakah kemudian Ila bersalah menjadi rapuh? Bila ternyata kedua orang tuanya tidak pernah memberikan sebuah ruang untuknya. Ruang di mana dia bisa belajar menjadi kuat, tidak rentan; kokoh tak mudah patah menajadi serpihan.

Tak bisa dikatakan salah pula kedua orang tuanya. Rasa kasih dan sayang telah mendorong beliau berdua untuk menjaga Ila lebih dari seharusnya. Siapa tahu, mereka ingin agar anaknya tak mudah terserang flu dan demam.

Jembatan pengertian di antara mereka mungkin tidak pernah sempurna dibuat. Ada sebuah jeda seperti elipsis yang masing-masing pihak mesti mengisinya dengan pengertiannya sendiri-sendiri. Sebuah dunia baru terbentuk di dalam diri Ila.

Dunianya sendiri, begitu Ila akan menyebut bagian dari dirinya yang tak akan dibagi kepada siapapun. Entah ada apa di sana hanya dia yang tahu. Dunia di mana dia akan menari, bernyanyi dan bercerita. Jangan mencoba mengganggunya, atau mencoba melihat dunianya yang satu ini. Karena dia menari, bernyanyi dan bercerita di balik bayang.

Hanya, barangkali satu saat matahari akan bergeser dan membuka wilayah gelap itu, seperti apa yang Ila saksikan kini di tembok belakang rumahnya. Aih, di sana ternyata banyak semut berbaris rapi, ada pula sepasang kupu-kupu yang hinggap di bunga. Dan bunga itu, begitu cantik, secantik Ila yang entah kenapa tersenyum.

Bilakah?

asal gambar