Di Balik Bayang

Share in top social networks, email, translate, and more!

Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas.

Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila adalah gadis di balik bayang-bayang. Dan ini kisahnya:

Hujan bukan lagi gerimis, lebat boleh dibilang begitu. Dua gadis kecil itu masih juga bermain dengan penuh tawa senang. Mereka tak sadar bahwa di balik pintu dapur yang terbuka seorang Ibu mengawasi dengan cemas.

“Ila, cepat ke mari, nak. Hujan, nanti kamu sakit.”

“Bentar, ma, Ila masih ingin bermain bersama kakak.”

Tak sabar, diambillah sebuah payung oleh Ibu itu. Dengan menarik daster biru mudanya sampai ke lutut, dihampirinya kedua gadis kecil itu.

“Ayo, Ila, nanti kamu terkena flu, sudah cepat atau nanti mama adukan ke papa.”

“Tetapi, ma…. “

Tak kuasa Ila untuk sekedar menolak perintah itu. Sebelah tangannya digandeng oleh mamanya dan diseret ke kamar mandi, kemudian dimandikan dengan air hangat. Adapun kakaknya, masih juga belum beranjak dari tengah taman bermain lumpur; bermandikan air hujan, basah.

Ila telah hangat kini. Minyak kayu putih dioleskan ke sekujur tubuhnya; sweater tebal membungkus erat tubuh bagian atasnya. Adapun pada kakinya, sebuah selimut kembang-kembang melindungi dengan sempurna. Dia duduk di ranjangnya, sesekali bersin dan melalui jendela dia bisa melihat kakaknya masih juga bermain hujan. Iri, entah kenapa rasa iri itu menyeruak begitu perlahan.

Sesekali bersin terdengar dari mulut Ila; hidungnya pun mendadak mampet dan pusing tak lupa hinggap di kepalanya. Begitu berat. Masih ditambah dengan iri yang mengusik-usik hatinya. Tak salah kiranya bila menyebut Ila begitu tersiksa dengan semua keadaan itu.

“Kamu ngga papa, Ila?”

Sebuah suara berat dan berwibawa: ayah Ila. Beliau masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegap, tenang. Semakin mendekati ranjang di mana Ila terduduk pucat. Sebelah tangannya terangsur ke pelipis Ila. Disibakkan poninya dengan jemari tangan yang kukuh itu; menggunakan punggung tangannya papa Ila mencoba mengukur, mengira-ira suhu tubuh Ila.

“Kamu demam, nak. Itulah akibatnya bila berhujan-hujanan. Papa kan sudah selalu bilang.”

Ila masih terdiam seribu bahasa. Dilayangkan pandangannya kembali ke kakaknya yang masih bermain hujan. Tangan ayahnya sudah tidak berada di pelipisnya, tetapi rasanya masih ada di sana. Wibawanya begitu kuat dan tak mungkin bisa dilawan olehnya yang mungil.

Dunia bagi Ila, menyempit. Dia hidup di bawah ketiak ayah dan ibunya. Hari-harinya adalah menelusuri jejak kakaknya, di balik bayangannya. Meski tak pernah bisa, tak juga bisa dia meniru, mendapatkan apa yang kakaknya dapatkan.

Ila begitu murung bila mengingat semua itu. kebebasannya terpasung di bawah kendali ayah dan ibunya. Kebebasan yang dengan sangat bertolak belakang bisa didapatkan kakaknya dengan mudah.

“Papa, kenapa Ila tak boleh bermain hujan seperti kakak?”

“Karena kamu mudah sakit, Ila, begitu mudah sakit.”

“Tetapi, Pa….”

“Sudahlah, Ila, jangan membantah terus, kasihan mama bila harus repot merawatmu.”

Bila sudah begitu, Ila kemudian terdiam. Tak ada lagi kata yang terucap. Semua yang ingin keluar dari mulutnya tertelan kembali. Begitu banyak yang ingin diucapkannya, tetapi kemudian hanya helaan nafas yang tertahan untuk menyembunyikan sedu sedan.

Menurut Ila, apa yang dilakukan oleh ayah ibunya adalah tidak adil. Kakaknya bebas melakukan segala hal. Tetapi Ila? Selalu dan terus diawasi, dipantau di bawah lirikan tajam mata ayah dan ibunya. Bukan kondisi yang menyenangkan, tak juga bisa dikatakan membahagiakan. Meski di sudut hatinya pun dia tahu, orang tuanya melakukan itu semua demi dirinya jua. Tubuhnya yang rapuh, rentan terhadap penyakit.

Apakah kemudian Ila bersalah menjadi rapuh? Bila ternyata kedua orang tuanya tidak pernah memberikan sebuah ruang untuknya. Ruang di mana dia bisa belajar menjadi kuat, tidak rentan; kokoh tak mudah patah menajadi serpihan.

Tak bisa dikatakan salah pula kedua orang tuanya. Rasa kasih dan sayang telah mendorong beliau berdua untuk menjaga Ila lebih dari seharusnya. Siapa tahu, mereka ingin agar anaknya tak mudah terserang flu dan demam.

Jembatan pengertian di antara mereka mungkin tidak pernah sempurna dibuat. Ada sebuah jeda seperti elipsis yang masing-masing pihak mesti mengisinya dengan pengertiannya sendiri-sendiri. Sebuah dunia baru terbentuk di dalam diri Ila.

Dunianya sendiri, begitu Ila akan menyebut bagian dari dirinya yang tak akan dibagi kepada siapapun. Entah ada apa di sana hanya dia yang tahu. Dunia di mana dia akan menari, bernyanyi dan bercerita. Jangan mencoba mengganggunya, atau mencoba melihat dunianya yang satu ini. Karena dia menari, bernyanyi dan bercerita di balik bayang.

Hanya, barangkali satu saat matahari akan bergeser dan membuka wilayah gelap itu, seperti apa yang Ila saksikan kini di tembok belakang rumahnya. Aih, di sana ternyata banyak semut berbaris rapi, ada pula sepasang kupu-kupu yang hinggap di bunga. Dan bunga itu, begitu cantik, secantik Ila yang entah kenapa tersenyum.

Bilakah?

asal gambar

33 thoughts on “Di Balik Bayang”

  1. wogh, ternyata tidak mudah menulis kembali setelah sekian lama, rasanya ada yang kurang, utamanya bila menuliskan kisah orang lain seperti ini. *dipentung karena curhat!*

    untuk dia, semoga saya tidak sok tahu. maaf bila tidak sesuai dan berkenan dengan keinginanmu.

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    nah, makanya sering-sering atuh di-update :mrgreen:

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    yayyyyy, hatrikkk -halah!-

    [Jawab?]

  2. Wuih … pagi kali pun postingnya.

    Hm… ketika pintu argumentasi telah ditutup bagi Ila, kesendirian menjadi teman sejati?

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    semua orang bukankah berteman sejati dengan kesendirian?
    seperti pagi ketika di amsterdam sana dirimu menulis, mas hehehe
    ah, akhirnya tak ada yang kesepian karena sesama mereka yang kesepian saling berteman (dari film P.S. I Love You) :D
    terima kasih, mas, sukses di sana

    [Jawab?]

  3. Tidaaaaakkkkk,ceritanya ko jadi sedih banget gitu, sobat?
    Btw,ko kamu tau ada yang ujan2an itu sih?emang aku pernah cerita ya??
    *mengingat2*
    Ps. Thx udah bikin cry in the mornin :cry:

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    haduh, tuh kan, maafkan bila saya salah menerjemahkannya. bukan hal yang mudah menjenguk ke dalaman hatimu sana. apa yang tertulis hanyalah kebetulah semata, sebuah metafora yang entah kenapa kamu pernah mengalaminya, betul?
    menangislah bila itu membuatmu tersenyum kemudian. tetap semangat, yak! :mrgreen:

    [Jawab?]

  4. kapan ya saya dibikinin cerpen
    *towel-towel uncle*
    Ah, orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya,walaupun mungkin harus memasung kebebasan si anak

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    eh, cerpen tentang apa, mbak :D
    oke, pandangan mbak ira tentang orang tua yang peduli kepada anaknya.

    [Jawab?]

  5. Makanya pakde.. kalau punya anak ntar jangan over protektif begitu…

    “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu, mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri” – Kahlil Gibran

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    wah iya, bro benar sekali. biarkan mereka tumbuh sesuai dengan zamannya, bukan :D
    terima kasih

    [Jawab?]

  6. kembali menulis juga nih paman… :)

    btw ada award tuh buat paman, silahkan diambil di blogku yahhh ^_^

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    iya nih, mbak :D kangen pun sudah lama tak menulis
    oya, untuk awardnya maaf ya saya saya tidak biasa mengerjakan PR maklumlah pemalas hihihi

    [Jawab?]

  7. Uncle ni bikin gw kepikiran lagi pertanyaan habis gw baca buku-nya Sally Nicholls yang judulnya Ways to Live Forever.
    Kenapa sih…. anak kecil dibikin sakit?

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    gimana buku itu, dan?
    mungkin orang tua merasa, hal itu yang terbaik untuk anak itu. sayang merasa berbeda dengan kenyataan, bukan? :D

    [Jawab?]

  8. bilakah? bilakah keluar dari balik bayang? phew, tough q.

    titip salam buat ila! you cannot fight against ego and win, you can only change your level of conciousness.

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    terima kasih, barangkali Ila akan mengerti :D

    [Jawab?]

  9. Wah, pujangga satu ini mulai beraksi kembali. Saya masih tetap gak mudeng sama postingannya, hehe

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    wahaha….
    terima kasih pak yahya, sudah berkenan mampir.
    hanya tulisan biasa, kok pak.
    makanya jangan terlalu teknik atuhh :P

    [Jawab?]

  10. susah memang untuk sekedar mengerti dunia anak-anak, om
    ah lama tak berkunjung kesini, saya :)

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    padahal semua dari kita juga mengalaminya ya, Bang :D
    aneh memang :P
    terima kasih sudah bersedia mampir lagi :D

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>