melintas batas
Mereka yang Memakan Sisa-Sisa
Langit sebagai atap rumahku Dan bumi sebagai lantainya Hidupku menyusuri jalan, sisa orang yang aku makan
Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu?
Pun dengan hal sederhana seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Saya meski tidak selalu tepat waktu namun syukur setiap hari masih bisa makan. Pakaian saya tidaklah bermerk terkenal, seringkali malah membeli batik dari pengrajinnya di pedalaman kabupaten sana, namun syukurlah setiap hari saya selalu berganti pakaian yang bersih habis dicuci.
Dahulu pernah mengidamkan gaya hidup yang menjadikan langit sebagai atap dan bumi sebagai lantai. Tidak; bukan karena lagu Kak Rhoma saya inginkan hal itu. Tetapi kebebasan yang ditawarkannya demikian menggoda di tengah kungkungan belenggu orang tua pada masa-masa awal remaja. Syukurlah keinginan yang ini hanya bertahan menjadi keinginan tak pernah menjadi kenyataan. Tak terbayangkan betapa mengerikannya diselimuti dingin, berteman kabut bila dini hari tiba di peraduan saya yang kemungkinan akan sangat luas itu. Belum dihitung bagaimana bahaya mengintip di balik setiap lirikan mata. Entah karena beberapa barang yang menempel di badan ataukah karena menaksir diri ini.
Mereka yang hari ini tidak makan seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi barangkali masih mudah ditemukan. Sahabat yang bertelanjang, membugil kedinginan, meringkuk di pojok gang mungkin masih mencoba bertahan di sana. Sebagian mereka lari, menceburkan diri ke sungai menghindari operasi yang dilakukan oleh aparat penertiban.
Mereka yang lari untuk kemudian kembali. Perut mereka tak pernah berhenti berdendang. Gigil tubuh mereka tak bosan diterpa debu jalanan. Akrab kah mereka dengan embun dan kabut? Suara-suara itu.
Lampu bangjo di perempatan menjadi modal sebagian yang lain. Tutup botol di ujung kayu berbentuk mirip penggaris menjadi pelengkap modal. Sumber daya mereka adalah suara yang timbul tenggelam di tengah makian, bebunyian klakson.
Ada pula yang ber-tas-kan karung di punggungnya. Besi melengkung menjadi senjatanya menyusuri jalanan, pekarangan rumah, memunguti plastik, koran, perabotan bekas. Terkadang beberapa yang nakal tak peduli bila perabotan itu masih dipakai, baju di jemuran yang menunggu kering. Mereka gelap mata, kalap. Dilolosnya perlahan-lahan, diambilnya, dimasukkan ke dalam karung. Sebuah pencurian.
Perut berdendang nyaring. Melapar minta makan. Tubuh menggigil sering. Kedinginan minta pakaian. Hujan datang terik meradang. Sebuah hunian menjadi tuntutan.
Tidaklah heran bila kereta yang saya lewati menjelang stasiun itu seperti enggan beranjak. Di kanan kirinya mereka yang terpinggirkan bermukim. Besi-besi pembatas permukiman dan rel malah dijadikan bagian dari dinding rumah. Ada pula yang menyampirkan celana dalam, kutang berenda di batang-batang bergaris biru putih itu. Terpal biru dipasang pula pada besi-besi itu, dengan penyangga direntangkan sampai ke pinggir rel begitu dekat merangkul kereta-kereta yang datang.
Wajah kota ini pada sisi yang sebelah sini bopeng. Seng-seng silang sengkarut di bawah kabel-kabel listrik yang tak kalah semrawut. Ada bekas layangan di kabel dengan benang pendek yang menjuntai berkibaran. Angin membawa aroma selokan yang tak sedap, berpusaran mampir di dapur. Ganti aroma ikan asin sisa kemarin yang digoreng lagi.
Makan, kami ingin sekedar makan. Protein karbohidrat vitamin lemak nabati hewani apa itu? Hanya makan cukup sekedar makan. Susu kopi teh, ah, air putih yang bersih di gelas kotor kami pun cukup.
Penumpang kereta belum lagi bangun dari tidurnya ketika satu per satu dari mereka naik. Botol air mineral yang sudah kosong disambar. Koran bekas alas tidur yang lusuh dikumpulkan. Sebuah sapu menjadi senjata untuk membersihkan kolong kursi tanpa diminta. Akhirnya tanpa diminta pula tangannya menengadah di depan dada mengharapkan receh.
Tak lupa, malamnya ketika kantuk beranjak datang menghampiri mengajak ke alam mimpi suara-suara itu juga terdengar. “Lanting-lanting! Aqua-aqua! Kopi, susu, jahe anget! Popmi-popmi!†Bercampur-campur bersatu diaduk dalam kereta yang pengap itu.
Mereka menumpang dari stasiun ke stasiun. Menjajakan makanan ringan, air mineral bahkan barang kerajinan dari batok kelapa di atas gerbong kereta. Beberapa penjaja buku kumpulan doa juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam hingar bingar malam beranjak pagi.
Istirahat tak pernah menjadi beban pikiran. Asal bisa berbaring di peron stasiun pada bangku-bangkunya. Di lantai beralaskan koran atau kardus bekas, berselimut sarung dekil. Mereka bau, stasiun bau, toilet bau. Bau mereka adalah perjuangan untuk makan, demi pakaian dan tempat berteduh dari hujan.
Mereka yang hidup dari sisa-sisa, beralaskan bumi dan beratapkan langit. Mereka kaya usaha namun miskin hasil. Mereka yang perutnya berdendang nyaring, melapar minta makan. Tubuhnya menggigil sering dan kedinginan minta pakaian. Bila hujan datang terik meradang, diidamkan sebuah hunian yang menjadi tuntutan. Mereka di sana tidak jauh, dekat dengan kita.
Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu? Kelak biarlah menjadi kelak, bahkan mungkin berani bermimpi akan lama dipikir dulu. Sebuah masa yang tidak panjang, seumur perut yang minta diisi itulah yang dipikirkan.
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 15/10/2008 at 17:27, and is filed under pintu jiwa. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |



about 1 year ago
kemiskinan di mana-mana, miskin harta dan miskin moral. semoga tidak berlangsung lama
about 1 year ago
Semoga pemerintah bisa memegang amanat UUD 1945
about 1 year ago
mari tanamkan budaya berbagi..
about 1 year ago
amen to that
about 1 year ago
amen juga, semoga bro, semoga.
about 1 year ago
mariiii
about 1 year ago
sayangnya banyak orang-orang yang mengaku “miskin”
about 1 year ago
eh…
mengaku tapi tidak benar-benar, ya mbak?
about 1 year ago
tapi salut sama orang-orang yang “miskin” harta namun nggak miskin jiwa… mereka masih mau bertahan untuk hidup. Daripada yang miskin “jiwa”nya… bisa jadi mati segan hidup tak mau :p
about 1 year ago
seperti kucing kah??
about 1 year ago
pasti sedih bgt y paman wkt ngliat mrk…aq miris wkt liat brita ratusan rumah d taman x bmw digusur paksa karena mau dbikin fasilitas olahraga dan taman…aq g tau dr sudut pandang hukum,ekonomi ato orng2 tpelajar itu benar/ga..tp mnurut sudut pandang aq yg bodoh ini..itu keterlaluan…saat kmiskinan merajalela..ratusan nyawa jd smakin miskin krn khilangan tempat berteduh dr panas dan hujan…hanya u/ sebuah “fasilitas olahraga”
about 1 year ago
hem…kemiskinan selalu hadir dalam masyarakat….siapa yang harus mengentaskan??
about 1 year ago
kita bisa meributkan tentang hari esok, mungkin perkara seminggu lagi, sebulan lagi atau setahun lagi… sesuatu yang belum tentu terjadi.
Padahal masih banyak di luar sana yang hanya mampu “meributkan” satu hari, yaitu apa yang akan mereka makan hari ini.
about 1 year ago
ikut dukung blog action day
about 1 year ago
mati segan hidup tak mau? berarti setengah-setengah, yak
about 1 year ago
mungkin, mas
sangat disayangkan, bukan?
about 1 year ago
mungkin bagi sebagian orang yang lain hal itu bukan sekedar “hanya” bro
about 1 year ago
siapa yak? saya pun bertanya-tanya, mas
about 1 year ago
apakah hari ini sudah sarapan, mbak?
about 1 year ago
GOOD
about 1 year ago
mengaku miskin seperti dikatakan itikkecil itu memang blangsak…
orang yang mengaku miskin tetap punya TV-motor-kulkas yang tersembunyi dalam “gubuk boongan”…
about 1 year ago
hmm,,,,,,
*merenung lagi*
about 1 year ago
Merdesa = Hidup Layak
about 1 year ago
siapa yang salah ???
siapa yang bertanggung jawab ???
jawabannya adalah seperti yg dikatakan Umar bin Khatab ;
“Andai seekor onta jatuh terperosok ke lubang di negeri nun jauh disana, maka Umar-lah yang akan ditanya nanti di akhirat, kenapa tidak di buatkan jalan yg baik buat si onta itu ??”
Sebegitunya seorang Umar, hanya seekor onta ?? apalagi manusia2 diatas.
tapi setidaknya kita juga bisa berperan aktif dlm hal ini.
about 1 year ago
Pa khabar mas Goop ? sehat2 ?
btw, blognya kok lemot yah ketika buka ?? padahal blog2 lain lancar2 aja tuh….:)
about 1 year ago
duh, ada pula kamuflase macam itu, ya bro? hiks
about 1 year ago
*ikutan di samping jendral*
about 1 year ago
semoga, mas
mereka menemui ‘mimpinya’
about 1 year ago
wah, saya baru tahu kisah itu, mas
hehe *ditabok*
makasih tambahan ceritanya, semoga kelak nantinya akan ada yang sadar dan kemudian bisa bertanggung jawab
about 1 year ago
alhamd, kabar baik mas
lemot? haduh, masak sih? di sini baik-baik saja.
mungkin koneksinya barangkali
about 1 year ago
Rasa tak pernah bohong sahabat, saat kita merasa diri sendiri tiada berduit, pergilah berjalan di sela-sela trotoar atau dibawah jalan diatas awan, lihatlah selagi bisa dan jangan pedulikan cacing perutmu, yakinlah tak sekedipan mata kau akan terkenyangkan dengan pesona yang tak akan kau lupakan sepanjang umurmu …
Lama tiada mampir, akhirnya kudapatkan lagi link mu sobat
about 1 year ago
terkenyangkan dengan pesona yang takkan kulupakan. sebuah ironi yang cantik
terima kasih, sobat. semoga besok tak lupa untuk sekedar singgah.
btw, bagaimana episode cintamu? hehehe
about 1 year ago
Masih penuh keraguan diantara keyakinan, entahlah yang mana yang benar? Apa keyakinan lebih dahulu ataukah keraguan yang akhirnya akan memakan sisa-sisa pemikiran dalam episode cinta kali ini *halah*
Ku tambahkan di google readerku sekarang ah, yang kemarin salah memasukkan, malah yang di masukkan itu yang wordpress sih
…
Tulisanmu, makin matang aja
about 1 year ago
eh keraguan dan keyakinan? jangan ragu-ragu bila sudah yakin, dan jangan yakin bila masih ragu-ragu hehehe
maaf malah mbulet-mbulet
about 1 year ago
salut buat orang yang peduli ma kehidupan orang sekitar.
about 1 year ago
yupe, makasih