Selalu dalam Idul Fitri sungkem saya lakukan kepada kedua orang tua, sesepuh pinisepuh, tetangga dan kerabat di kampung. Rumah nenek dan cerita-cerita dari sana pun menyeruak perlahan.

Haru, kadar haru dari tahun ke tahun berganti, berubah. Satu waktu saya pernah berkaca-kaca setelah bersimpuh kepada Bapak dan terutama Ibu. Segala salah, harapan maaf menemu pelabuhannya, dilarung dalam hari itu, pada menit dan detik ketika saya bersimpuh.

Kemarin, cerita berganti lagi. Bersimpuh begitu biasa tak ada yang istimewa. Kekanakan di antara kami malah mengemuka. Berebutan kamar mandi, mandi bergiliran. Mematut diri berlama-lama di depan cermin, mencoba baju baru. Cermin yang satu itu pun harus menderita. Kami berdesakan, dorong-dorongan di depannya. Syukur tak sampai menyenggol, pabila pecah, kami jualah yang akan celaka.

Makan pagi setelah sebulan tidak melakukannya juga menyita waktu tersendiri. Suapan perlahan, kunyahan lambat-lambat dan menikmati setiap butiran yang melewati kerongkongan. Rasa, barangkali adalah ketika makanan masuk ke mulut, melewati lidah dan melampaui kerongkongan. Setelahnya, entahlah kecuali ketika kita bertemu lagi esok hari dalam bentuk lain saat kita jongkok.

Pendek kata, persiapan di pagi lebaran itu lebih menyita waktu dari tahun kemarin. Tamu, tetangga sudah berdatangan, sementara kami anak-anak belum lagi sungkem kepada kedua orang tua. Haru, dibentuk oleh satu di antaranya suasana. Saat saya sungkem, ruang tamu sudah ramai dengan tetamu; ada malu, sedikit tergesa dan haru pamit enggan tinggal. Jadilah saya sungkem sekedar sungkem, bersimpuh, mengatakan sepatah dua kata sekedar formalitas.

Berkeliling tetangga satu kampung menjadi ritual setelahnya. Orang-orang tua akan berdiam di rumah. Mereka yang muda datang, sungkem pun dilakukan di masing-masing rumah. Di jalan antara rumah-rumah itu yang muda saling bertemu, gelak tawa, candaan lama mengudara.

Teman satu angkatan dulu di kala SD, seteru abadi sepak bola di sawah pinggir desa bertemu lagi. Bersua dalam tawa; berjabat tangan erat dan lama. Sebuah kisah cinta masa kanak tak ketinggalan ikut menggoreskan cerita. Sekadar cinta kebantinan yang tidak terungkap dan sengaja dipendam bersemi lagi. Terasa hangat.

Sobat yang dulu ingusnya berleleran di hidungnya kini sibuk mengelap ingus di hidung anaknya yang balita. Gadis kecil manis yang dulu biasa mandi besama di kali sedang mengandung; menjadi gendut, namun entah kenapa malah terlihat cantik. Cerita berganti episode, pelaku memainkan lakon yang berbeda. Mereka orang yang “itu” juga meski mengabarkan kisah yang bukan lagi “itu”.

Dulu saya akan berbagi cerita tentang film kartun kemarin sore dengan mereka di tengah guru mengajar kata menggabung kalimat. Saat itu rautan pensil bercermin akan ditaruh; diselipkan di tali sepatu dan ditelusupkan di bawah rok merah SD teman sekelas yang sedang berjalan. Waktu itu, pulang mengaji di musholla saat senja beberapa teman akan menghilang berpasang-pasangan entah ke mana.

Kini teman saya disibukkan dengan bermacam hal. Sebagian masih suka begadang membanting kartu berteman berbatang rokok dan bergelas kopi. Ada yang mengutuki siang dan mendendam malam atau menikmati waktu berjalan dengan menganggur. Keluarga kecil baru saja terbentuk dan sepertinya bulan madu tak kunjung selesai membawa kemesraan ke mana saja. Dua atau tiga orang anak usia balita mewarnai hari sebagian di antara sahabat. Celoteh, tawa dan tangis anak-anak mereka membawa tawa juga sedih di wajah orang tua.

Rumah kakek minus nenek yang telah tiada adalah saksi kemanjaan. Sebuah liburan yang pasti menyenangkan hampir selalu dihabiskan di sana. Tak perlu belajar, tak ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok hari. Saat pamit diselipkan selalu lembaran-lembaran rupiah tak berapa banyak, namun cukup mengembangkan tawa dan cahaya binar di wajah. Bila rumah orang tua seperti penjara karena disiplin ketat yang coba diterapkan, maka rumah kakek adalah tempat melarikan diri sekedar pelesir sebentar.

Kini tidak lagi menyenangkan berbincang dengan kakek, paklik dan bulik. Rasanya kok tidak nyambung saat memperbincangkan apapun. Saya tidak mungkin berbicara tentang blog sementara kakek sibuk dengan urusan tanaman tembakau, bulik dengan urusan susu anaknya yang makin mahal dan baju barunya yang ternoda terkena tumpahan opor. Akhirnya, sibuk sendirilah saya mendengarkan semua suara mereka. Bebunyian itu, sibuk keluar masuk telinga.

Meski begitu, selalu ada kerinduan saat saya kembali ke sana. Selain kemanjaan dan kelonggaran yang berlimpah ruah didapat. Cerita mendiang nenek tentang burung pembawa kabar kematian masih jelas teringat di benak. Hikayat seorang pemuda yang digoda wanita jelmaan ular dan bisa menang dengan membaca ‘ayat kursi’ masih suka membikin takjub. Kakek lain lagi, dunia pesantren dengan puasa; laku dan kejadian-kejadian ajaib di sana juga mewarnai kisah. Pak Lik mengenalkan khasanah musik melalui raungan gitar personel ‘Metallica’, ‘Sepultura’, ‘Iron Maiden’ dan kawan-kawannya. Bu Lik membagi rahasia tentang cintanya yang disembunyikan dari kakek dan nenek.

Dalam sehari itu, berawal dari sungkem waktu kembali ke masa lalu. Saya setuju dengan Sapardi bahwa mudik tidak berhubungan dengan tempat namun asal muasal, puak dan berkumpulnya balung pisah. Tapi beberapa hal di masa lalu menyeruak karena berawal dari tempat seperti rumah kakek saya itu.

Dalam sehari itu, berawal dari sungkem kembali teringat kata Goenawan Muhammad, “… nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang hangat, sayu, berarti—seperti cinta lama….” Pun kata Aulia Muhammad, “seperti juga kenangan, adalah temali yang menjaraki harapan dan kenyataan, juga masa silam.“ Masa lalu memang tempat terjauh yang bisa dikunjungi seperti kata Ghazali tetapi bukan berarti tidak mungkin kita menyambanginya sesekali, meski mungkin hanya sekali.

asal gambar