batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Hati, Buka Buku

Thursday, 30 October 2008 pukul 8:59 WIB 44 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

Sahabatku pernah berkata, “Kehidupan seperti membuka halaman demi halaman sebuah buku.” Kita tidak akan pernah mengerti sebuah halaman sampai selesai membacanya. Apa kisah yang ada di dalamnya; cerita seperti apa yang mungkin tersaji, dari halaman-halaman itulah semua bisa didapatkan, dimengerti.

Aku merangkai kisahku sejak lama. Dalam tiap halaman bisa kamu temukan semua kisah itu, tetapi mungkin juga tidak. Barangkali saat itu, ketika kamu menemui sebuah gambaran yang buram, samar atau kusembunyikan. Di bukumu, aku pun menemukan beragam kisah yang sudah kau rangkai sejak lama. Tidak semua halaman dapat kumengerti, maka akan kutanyakan kepadamu apa makna gambar yang buram, tulisan yang centang perenang dan berpusaran. Tak semua juga akan kumengerti. Mungkin halaman-halaman itu kau sembunyikan; sobek dari kesatuan buku.

Aku tidak akan bertanya tentang rahasiamu bila itu memang menjadi rahasiamu. Pun aku tidak akan bercerita tentang rahasiaku bila kamu bertanya. Rahasia akan melindungi kita, sayang. Biarlah lembaran yang gelap itu tetap menjadi gelap. Masa lalu mungkin akan kita tilik di tengah-tengah hening ketika kita merinduinya untuk satu saat yang penat. Tak apa, bukan kesalahan bila kamu dan aku membuka lembaran yang telah lewat. Sekedar untuk mengenangkannya.

Seperti kata Gibran, “Dari masa lalu, dua buah cawan kita dapatkan. Sebuah cawan tentang kesedihan yang kita minum saat gembira agar kita tidak terlalu bergembira dan sebuah cawan kegembiraan yang kita minum saat kita sedih agar tidak terlalu bersedih.” Pun dengan membacai ulang semua kisah yang lewat, kita mungkin bisa belajar dari sana. Tidak terperosok pada lubang yang sama.

Tetapi baiklah, kita tidak akan berbicara tentang masa lalu. Saat ini kita juga sedang menulis cerita. Masa depan belum lagi ditulis. Halaman itu masih kosong, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada halaman-halaman itu. Sebuah kejutan macam apa yang akan menunggu di sana? Baiknya kita tunggu sampai halaman itu habis kita baca.

Mungkin kau masih ingat saat bersama kita membaca ‘Bumi Manusia’ di dalamnya ada sebuah pesan Jean Marais kepada Minke, kira-kira begini, “Cinta itu, Minke, terlalu indah untuk bisa didapatkan dalam hidup kita yang singkat ini.”

Aku tak mengerti berapa lama kita akan terus bernafas. Pada titik mana detak jantung ini akan istirahat tak jua ‘ku punya jawabnya. Karena itu, kuminta kau sudi menemaniku di sini sebentar, lebih singkat dari hidup yang sudah singkat itu. Maukah kamu?

“Untuk apa aku di situ menemanimu?”

Merangkai kisah kita. Begitu aku akan menjawabnya. Benar memang aku sudah memiliki buku yang tak juga akan habis bila kutuliskan semua ceritaku. Pun kisahmu barangkali akan memenuhi bukumu yang tiap hari akan terus kau tulis. Pada titik ini sebenarnya aku bingung, untuk apa aku memintamu di sini menemaniku menuliskan kisah, toh aku sudah memiliki cerita juga kamu.

Tetapi, Ra, dalam lembaran-lembaran yang kutulis banyak tanya. Sebentuk harap: tentang hati yang merindu. Menanti jawaban*. Aku tak mengerti bagaimana rupa bukumu. Sudahkah lengkap semua tanda baca kau pakai; apakah kau juga punya tanda tanya? Sebentuk mimpi: tentang hari yang indah berpelangi.

Bila menjadi kisah kita, maka tidak bisa aku menuliskannya sendiri, Ara. Kubutuhkan kamu untuk melengkapinya, menjadi aku dan kamu, kita.

“Bi, bila aku sudah di situ membuat cerita denganmu dan menjadi kisah kita. Apakah kemudian kamu tidak akan bertanya-tanya lagi? Benarkah kamu akan menemui semua jawab? Apakah mungkin juga ‘kan kutemui hari berpelangi?”

Tidak, Ra. Sebentuk tanya, berbentuk tanya bahkan masih akan menggodaku. Entahlah, tanda baca itu begitu memesonaku. Pun tak bisa kujanjikan hari berpelangi, semacam tak bisa kuramalkan esok hari hujan akan datang gerimis atau lebat.

Namun denganmu di sini; dekat-lekat. Aku tahu, Ra, bahwa harapan masih ada. Sebuah hati yang tidak lagi merindu. Meski mungkin aku kangen utamanya bila kau jauh.

Saat kau di sini; dekat-lekat. Hujan gerimis; tik-taknya di genting akan menjadi melodi. Sekali saat boleh juga kita bermain hujan; berpelukan saat riciknya membasahi tubuh kita; hati kita. Bila lebat, maka di balik jendela yang mengembun kamu dapat menggoresnya dengan jemarimu dan menggambarkan sebuah tanda hati. Saat itu, biarkan aku memelukmu dari belakang; membauimu, menghangatimu. Tak lupa, bila sekali tempo kita beruntung dan pelangi terlihat selepas hujan kita akan memandangnya.

Selayaknya hujan, Ara, barangkali ada kilat menyambar membiarkan terang meraja begitu singkat. Pula guruh yang menggelegar menyiutkan nyalimu. Aku pun takut bila saat itu tiba, seperti sebuah kenyataan yang dirampas tiba-tiba. Terkenang saat aku kecil sepulang sekolah berhujan-hujanan dan guruh datang. Aku berjongkok di bawah lindungan daun pisang yang tak kuasa menahan titik hujan. Aku takut, nyaliku pun menciut sama denganmu. Barangkali itulah detik di mana kebahagiaan kita terampas, bukankah dapat kita rebut kembali? Tentu… tentu bila kamu bersedia bersamaku memintanya.

Akhirnya, Ra, aku membutuhkanmu dalam hari yang cerah untuk mengisi jiwa yang sepi*. Tatkala berpelangi untuk menggoreskan warnanya sendiri di hati. Saat gerimis untuk menggetarkan nada nadi di dalam dada ini. Pasti juga ketika hujan lebat, di mana kilat dan guntur menyambar; menggemuruh, sekedar berpegangan tangan, menguatkan nyali.

Di sini memang kugunakan Ara. Tetapi bila satu ketika ada yang memanggilmu aunty atau bibi, maka menengoklah, Ra, mereka adalah sahabatku. Dan aku, akan memilih Chinta atau Chien. Entah kenapa.

*) sebuah lagu Padi

**) sebuah lagu Peterpan.

asal gambar

Mereka yang Memakan Sisa-Sisa

Wednesday, 15 October 2008 pukul 17:27 WIB 36 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Langit sebagai atap rumahku Dan bumi sebagai lantainya Hidupku menyusuri jalan, sisa orang yang aku makan

Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu?

Pun dengan hal sederhana seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Saya meski tidak selalu tepat waktu namun syukur setiap hari masih bisa makan. Pakaian saya tidaklah bermerk terkenal, seringkali malah membeli batik dari pengrajinnya di pedalaman kabupaten sana, namun syukurlah setiap hari saya selalu berganti pakaian yang bersih habis dicuci.

Dahulu pernah mengidamkan gaya hidup yang menjadikan langit sebagai atap dan bumi sebagai lantai. Tidak; bukan karena lagu Kak Rhoma saya inginkan hal itu. Tetapi kebebasan yang ditawarkannya demikian menggoda di tengah kungkungan belenggu orang tua pada masa-masa awal remaja. Syukurlah keinginan yang ini hanya bertahan menjadi keinginan tak pernah menjadi kenyataan. Tak terbayangkan betapa mengerikannya diselimuti dingin, berteman kabut bila dini hari tiba di peraduan saya yang kemungkinan akan sangat luas itu. Belum dihitung bagaimana bahaya mengintip di balik setiap lirikan mata. Entah karena beberapa barang yang menempel di badan ataukah karena menaksir diri ini.

Mereka yang hari ini tidak makan seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi barangkali masih mudah ditemukan. Sahabat yang bertelanjang, membugil kedinginan, meringkuk di pojok gang mungkin masih mencoba bertahan di sana. Sebagian mereka lari, menceburkan diri ke sungai menghindari operasi yang dilakukan oleh aparat penertiban.

Mereka yang lari untuk kemudian kembali. Perut mereka tak pernah berhenti berdendang. Gigil tubuh mereka tak bosan diterpa debu jalanan. Akrab kah mereka dengan embun dan kabut? Suara-suara itu.

Lampu bangjo di perempatan menjadi modal sebagian yang lain. Tutup botol di ujung kayu berbentuk mirip penggaris menjadi pelengkap modal. Sumber daya mereka adalah suara yang timbul tenggelam di tengah makian, bebunyian klakson.

Ada pula yang ber-tas-kan karung di punggungnya. Besi melengkung menjadi senjatanya menyusuri jalanan, pekarangan rumah, memunguti plastik, koran, perabotan bekas. Terkadang beberapa yang nakal tak peduli bila perabotan itu masih dipakai, baju di jemuran yang menunggu kering. Mereka gelap mata, kalap. Dilolosnya perlahan-lahan, diambilnya, dimasukkan ke dalam karung. Sebuah pencurian.

Perut berdendang nyaring. Melapar minta makan. Tubuh menggigil sering. Kedinginan minta pakaian. Hujan datang terik meradang. Sebuah hunian menjadi tuntutan.

Tidaklah heran bila kereta yang saya lewati menjelang stasiun itu seperti enggan beranjak. Di kanan kirinya mereka yang terpinggirkan bermukim. Besi-besi pembatas permukiman dan rel malah dijadikan bagian dari dinding rumah. Ada pula yang menyampirkan celana dalam, kutang berenda di batang-batang bergaris biru putih itu. Terpal biru dipasang pula pada besi-besi itu, dengan penyangga direntangkan sampai ke pinggir rel begitu dekat merangkul kereta-kereta yang datang.

Wajah kota ini pada sisi yang sebelah sini bopeng. Seng-seng silang sengkarut di bawah kabel-kabel listrik yang tak kalah semrawut. Ada bekas layangan di kabel dengan benang pendek yang menjuntai berkibaran. Angin membawa aroma selokan yang tak sedap, berpusaran mampir di dapur. Ganti aroma ikan asin sisa kemarin yang digoreng lagi.

Makan, kami ingin sekedar makan. Protein karbohidrat vitamin lemak nabati hewani apa itu? Hanya makan cukup sekedar makan. Susu kopi teh, ah, air putih yang bersih di gelas kotor kami pun cukup.

Penumpang kereta belum lagi bangun dari tidurnya ketika satu per satu dari mereka naik. Botol air mineral yang sudah kosong disambar. Koran bekas alas tidur yang lusuh dikumpulkan. Sebuah sapu menjadi senjata untuk membersihkan kolong kursi tanpa diminta. Akhirnya tanpa diminta pula tangannya menengadah di depan dada mengharapkan receh.

Tak lupa, malamnya ketika kantuk beranjak datang menghampiri mengajak ke alam mimpi suara-suara itu juga terdengar. “Lanting-lanting! Aqua-aqua! Kopi, susu, jahe anget! Popmi-popmi!” Bercampur-campur bersatu diaduk dalam kereta yang pengap itu.

Mereka menumpang dari stasiun ke stasiun. Menjajakan makanan ringan, air mineral bahkan barang kerajinan dari batok kelapa di atas gerbong kereta. Beberapa penjaja buku kumpulan doa juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam hingar bingar malam beranjak pagi.

Istirahat tak pernah menjadi beban pikiran. Asal bisa berbaring di peron stasiun pada bangku-bangkunya. Di lantai beralaskan koran atau kardus bekas, berselimut sarung dekil. Mereka bau, stasiun bau, toilet bau. Bau mereka adalah perjuangan untuk makan, demi pakaian dan tempat berteduh dari hujan.

Mereka yang hidup dari sisa-sisa, beralaskan bumi dan beratapkan langit. Mereka kaya usaha namun miskin hasil. Mereka yang perutnya berdendang nyaring, melapar minta makan. Tubuhnya menggigil sering dan kedinginan minta pakaian. Bila hujan datang terik meradang, diidamkan sebuah hunian yang menjadi tuntutan. Mereka di sana tidak jauh, dekat dengan kita.

Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu? Kelak biarlah menjadi kelak, bahkan mungkin berani bermimpi akan lama dipikir dulu. Sebuah masa yang tidak panjang, seumur perut yang minta diisi itulah yang dipikirkan.

asal gambar

Sungkem

Wednesday, 8 October 2008 pukul 18:02 WIB 20 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Selalu dalam Idul Fitri sungkem saya lakukan kepada kedua orang tua, sesepuh pinisepuh, tetangga dan kerabat di kampung. Rumah nenek dan cerita-cerita dari sana pun menyeruak perlahan.

Haru, kadar haru dari tahun ke tahun berganti, berubah. Satu waktu saya pernah berkaca-kaca setelah bersimpuh kepada Bapak dan terutama Ibu. Segala salah, harapan maaf menemu pelabuhannya, dilarung dalam hari itu, pada menit dan detik ketika saya bersimpuh.

Kemarin, cerita berganti lagi. Bersimpuh begitu biasa tak ada yang istimewa. Kekanakan di antara kami malah mengemuka. Berebutan kamar mandi, mandi bergiliran. Mematut diri berlama-lama di depan cermin, mencoba baju baru. Cermin yang satu itu pun harus menderita. Kami berdesakan, dorong-dorongan di depannya. Syukur tak sampai menyenggol, pabila pecah, kami jualah yang akan celaka.

Makan pagi setelah sebulan tidak melakukannya juga menyita waktu tersendiri. Suapan perlahan, kunyahan lambat-lambat dan menikmati setiap butiran yang melewati kerongkongan. Rasa, barangkali adalah ketika makanan masuk ke mulut, melewati lidah dan melampaui kerongkongan. Setelahnya, entahlah kecuali ketika kita bertemu lagi esok hari dalam bentuk lain saat kita jongkok.

Pendek kata, persiapan di pagi lebaran itu lebih menyita waktu dari tahun kemarin. Tamu, tetangga sudah berdatangan, sementara kami anak-anak belum lagi sungkem kepada kedua orang tua. Haru, dibentuk oleh satu di antaranya suasana. Saat saya sungkem, ruang tamu sudah ramai dengan tetamu; ada malu, sedikit tergesa dan haru pamit enggan tinggal. Jadilah saya sungkem sekedar sungkem, bersimpuh, mengatakan sepatah dua kata sekedar formalitas.

Berkeliling tetangga satu kampung menjadi ritual setelahnya. Orang-orang tua akan berdiam di rumah. Mereka yang muda datang, sungkem pun dilakukan di masing-masing rumah. Di jalan antara rumah-rumah itu yang muda saling bertemu, gelak tawa, candaan lama mengudara.

Teman satu angkatan dulu di kala SD, seteru abadi sepak bola di sawah pinggir desa bertemu lagi. Bersua dalam tawa; berjabat tangan erat dan lama. Sebuah kisah cinta masa kanak tak ketinggalan ikut menggoreskan cerita. Sekadar cinta kebantinan yang tidak terungkap dan sengaja dipendam bersemi lagi. Terasa hangat.

Sobat yang dulu ingusnya berleleran di hidungnya kini sibuk mengelap ingus di hidung anaknya yang balita. Gadis kecil manis yang dulu biasa mandi besama di kali sedang mengandung; menjadi gendut, namun entah kenapa malah terlihat cantik. Cerita berganti episode, pelaku memainkan lakon yang berbeda. Mereka orang yang “itu” juga meski mengabarkan kisah yang bukan lagi “itu”.

Dulu saya akan berbagi cerita tentang film kartun kemarin sore dengan mereka di tengah guru mengajar kata menggabung kalimat. Saat itu rautan pensil bercermin akan ditaruh; diselipkan di tali sepatu dan ditelusupkan di bawah rok merah SD teman sekelas yang sedang berjalan. Waktu itu, pulang mengaji di musholla saat senja beberapa teman akan menghilang berpasang-pasangan entah ke mana.

Kini teman saya disibukkan dengan bermacam hal. Sebagian masih suka begadang membanting kartu berteman berbatang rokok dan bergelas kopi. Ada yang mengutuki siang dan mendendam malam atau menikmati waktu berjalan dengan menganggur. Keluarga kecil baru saja terbentuk dan sepertinya bulan madu tak kunjung selesai membawa kemesraan ke mana saja. Dua atau tiga orang anak usia balita mewarnai hari sebagian di antara sahabat. Celoteh, tawa dan tangis anak-anak mereka membawa tawa juga sedih di wajah orang tua.

Rumah kakek minus nenek yang telah tiada adalah saksi kemanjaan. Sebuah liburan yang pasti menyenangkan hampir selalu dihabiskan di sana. Tak perlu belajar, tak ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok hari. Saat pamit diselipkan selalu lembaran-lembaran rupiah tak berapa banyak, namun cukup mengembangkan tawa dan cahaya binar di wajah. Bila rumah orang tua seperti penjara karena disiplin ketat yang coba diterapkan, maka rumah kakek adalah tempat melarikan diri sekedar pelesir sebentar.

Kini tidak lagi menyenangkan berbincang dengan kakek, paklik dan bulik. Rasanya kok tidak nyambung saat memperbincangkan apapun. Saya tidak mungkin berbicara tentang blog sementara kakek sibuk dengan urusan tanaman tembakau, bulik dengan urusan susu anaknya yang makin mahal dan baju barunya yang ternoda terkena tumpahan opor. Akhirnya, sibuk sendirilah saya mendengarkan semua suara mereka. Bebunyian itu, sibuk keluar masuk telinga.

Meski begitu, selalu ada kerinduan saat saya kembali ke sana. Selain kemanjaan dan kelonggaran yang berlimpah ruah didapat. Cerita mendiang nenek tentang burung pembawa kabar kematian masih jelas teringat di benak. Hikayat seorang pemuda yang digoda wanita jelmaan ular dan bisa menang dengan membaca ‘ayat kursi’ masih suka membikin takjub. Kakek lain lagi, dunia pesantren dengan puasa; laku dan kejadian-kejadian ajaib di sana juga mewarnai kisah. Pak Lik mengenalkan khasanah musik melalui raungan gitar personel ‘Metallica’, ‘Sepultura’, ‘Iron Maiden’ dan kawan-kawannya. Bu Lik membagi rahasia tentang cintanya yang disembunyikan dari kakek dan nenek.

Dalam sehari itu, berawal dari sungkem waktu kembali ke masa lalu. Saya setuju dengan Sapardi bahwa mudik tidak berhubungan dengan tempat namun asal muasal, puak dan berkumpulnya balung pisah. Tapi beberapa hal di masa lalu menyeruak karena berawal dari tempat seperti rumah kakek saya itu.

Dalam sehari itu, berawal dari sungkem kembali teringat kata Goenawan Muhammad, “… nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang hangat, sayu, berarti—seperti cinta lama….” Pun kata Aulia Muhammad, “seperti juga kenangan, adalah temali yang menjaraki harapan dan kenyataan, juga masa silam.“ Masa lalu memang tempat terjauh yang bisa dikunjungi seperti kata Ghazali tetapi bukan berarti tidak mungkin kita menyambanginya sesekali, meski mungkin hanya sekali.

asal gambar