melintas batas
Archive for September, 2008
Wengi, Sitaresmi dan Kartika
Sep 17th
Bathara Kala berjalan tenang. Selalu begitu dari tahun berganti tahun, hari berganti hari. Kita mengenalnya sebagai waktu sekarang ini. Rahina dan Wengi datang silih berganti, memberikan terang saat bekerja, membawa malam saat beristirahat.
Sang Hyang Re, Radite mengutuki hari dengan panasnya. Memuaikan ubun-ubun menjadi uap ide dan pikiran. Menguarkan bau tubuh, keringat dan lembab. Membacai setiap makhluk yang ikhlas yang bersyukur bagaimanapun susahnya hidup. Menelikung mereka yang lelah menggumuli berkas, yang berkeringat kehausan. Madah syukur berkelindan di antara umpatan, keluh kesah. Warna-warni siang.
Sang Sitaresmi setia muncul seperti melayang-layang di permukaan Gagana. Kartika menemani, berkelap-kelip tenang. Jumantara adalah kanvasnya, menjadi latar belakang biru gelap, pekat. Mendung Jaladara bergerak perlahan-lahan. Menyembunyikan bulan atau menjadi latar depan gemintang. Tak hirau semua itu, selimut melindungi dari dingin. Jaket kumal ketat dipakai peronda di gardu yang bau. Suara dengkur bersicepat dengan lenguhan, gelinjang dan keriat keriut ranjang tua. Bebunyian malam.
“Nanti sore, masak apa enaknya, ya?†Seorang ibu bertanya pada putra kecilnya selepas dhuhur.
“Rendang daging, ya, Bu, enak sekali sepertinya.†Begitu saja, lepas, tanpa beban anak itu menjawab.
Ibu yang sama kemudian melirik sediaan di dapur. Hampir kosong, sekerat daging sisa kemarin tak ada artinya untuk keluarga muda itu.
“Jangan lupa, Bu, es degan karena siang ini begitu terik.†Sang kakak yang baru pulang dari sekolah memberikan usul sembari mengelap keringat di dahinya.
Dompet diambil; membuka dan melihat isinya. Tinggal dua lembar sepuluh ribuan yang tersisa. Diputarnya otak, malah berpusaran. Teringat hutang di warung belum dibayar; tukang sayur tiap pagi cemberut memasang muka masam.
Menjelang Ashar, suami pulang. Berkeringat; debu menempel di keliman pakaian, lelah menggurati wajahnya. Ibu menyambut dengan senyuman; dibawakannya tas kerja penuh dengan berkas yang nanti malam harus diselesaikan dan esok pagi dikumpulkan.
“Ayah, bagaimana baju baruku? Sudah dapatkah?†Si kecil merengek; manja.
“Kalau sepatuku, Yah?†Kakaknya tak mau kalah, ikut menyibukkannya.
“Bu… Anakmu nih.†Berteriak tak sabar; sambil melepas sepatunya dengan sebal. Membuang kaus kaki; melepas baju luar, hanya berkaus rebahan, tak lama mendengkur.
Adzan magrib berkumandang. Waktu berbuka tiba. Di atas meja makan, tak ada rendang daging tak ada es degan. Tiga gelas air putih bersanding dengan semangkuk sup miskin daging, hanya banyak air, kobis dan wortel. Secobek sambal berisi cabai merah dan bawang ditambahi garam melengkapi menu buka puasa.
Protes si kecil bertalu-talu seperti bedug yang dipukul penanda waktu buka. Cemberut; sebentar kemudian menangis sangat keras. Si sulung bersungut-sungut memakan menu yang ada namun tambah nasi sampai dua kali. Ibu tersenyum. Tak berapa lama, kedua anaknya berebutan tempe goreng irisan terakhir. Ayah tertawa; kecut.
Sepulang dari Tarawih di musholla tepi desa. Keluarga itu berkumpul lagi di depan televisi berukuran kecil yang suaranya sumbang. Acara kompetisi dangdut yang tidak jelas menjadi hiburan. Si kecil mulai mengantuk di pangkuan Ayahnya. Kakaknya membolak-balik buku kumal mengerjakan PR dari sekolah. Ibu kadang bersenandung mengikuti lagu sambil melipat pakaian.
“Bu, perlukah kita mudik tahun ini?†Hati-hati, Ayah memulai obrolan.
“Sesuai rencana, Yah, tahun kemarin, kan, sudah tidak mudik.†Ibu menjawab dengan nada khawatir.
“Tapi aku belum dapat THR, Bu, bagaimana pinjaman dari Haji Karta? Sudahkah kau mendapatkannya?†Penuh harapan terkandung dalam pertanyaan Ayah.
Setelah menghela nafas panjang, “Belum, Yah, Ibu tidak enak, sudah terlalu banyak hutang kita kepada beliau.â€
“Ongkos mudik, oleh-oleh untuk keluarga di kampung, pakaian anak-anak, makin banyak saja kebutuhan kita, ya, Bu?†Seperti mengabsen, dengan berat semua itu disebutkan.
“Pikirkan satu demi satu, Yah, Insya’ Allah, nanti juga terpenuhi semua.†Kemudian Ibu kembali bersenandung melantunkan “Duh Engkang†sebuah tembang manis dari Itje Trisnawati.
Ayah mengambil tas kerjanya, mengeluarkan berkas-berkas yang harus dikerjakan dan mulai diam; serius menekuri setiap lembarannya. Si kecil telah nyaman bergelung di balik selimut. Ibu memeluk sang kakak yang masih tidur-tidur ayam. Lama-lama Ibu ikut tertidur. Dalam tidurnya, bermimpi: seorang Apsari menunggang Baruna turun ke Bantala. Satu yang tidak lazim adalah sebelah sayapnya patah. Entah, pertanda apa lagi kah, ini?
Tengah malam telah dilampaui saat sebuah tangan usil menelusup di balik daster. Meraba-raba ke sana ke mari. Mulai dari usapan lembut sampai remasan agak kasar. Saat Ibu tersadar dan membuka mata.
“Satu ronde, ya, Bu, sebelum sahur.â€
Walah….!!!
__
Koleksi kata:
Kala : Waktu
Rahina : Siang
Wengi : Malam
Sang Hyang Re, Radite : Matahari
Sitaresmi : Bulan
Gagana : Langit
Kartika : Bintang
Jumantara : Langit
Jaladara : Awan Mendung
Apsari : Bidadari
Baruna : Angin
Bantala : Bumi
Tebak-tebakan
Sep 12th
“Bi, kalau aku jadi jalan, kamu jadi apa?â€
“Jadi yang lewat, dong.â€
“Wahh, curang, enak di kamu ngga enak di aku, lama-lama bisa gepeng aku, Bi.â€
“Hihi….â€
“Kalau aku jadi bunga, Bi?â€
“Tentu, jadi kumbangnya. ‘Kan kuhisap seluruh sari madumu.â€
“Kalau sarinya habis?â€
“Ya… pindah.â€
“Ah, ngga setia kalau gitu, kamu pergi begitu saja meninggalkanku menjadi layu?â€
“Kira-kira, adakah pilihan lainnya?â€
“Emmm, kalau aku perangko, Bi, kamu amplopnya ya, jadi kita nempel terus.â€
“Kalau nanti amplopnya lecek, gimana? Kamu sih enak, ada yang koleksi para filatelis itu. Lah aku?â€
“Ya, kamu dibuang di tempat sampah, hihi.â€
“Nah, sekarang siapa yang curang?â€
“Ahh, ga asyik tebak-tebakan sama kamu, Bi.â€
“Yeee, gantian dong.â€
“Boleh.â€
“Bila kamu menjadi bunga pudak, aku akan merupakan tulisan atas daunnya.†*
“Itu bukan tebak-tebakan, masa sudah dijawab sendiri? Lagi pula aku tidak mengerti, apa maksudnya?â€
“Hahaha….â€
“Bi, jelasin.â€
“Panjang penjelasannya, nanti kamu bosan.â€
“Ayolah.â€
“Gampangnya, aku menjadi pena dan kamu kertas putih yang akan kutulisi. Ngerti?â€
“Ngga… hehe.â€
“Jaman dahulu, Ra….â€
“Yaaa, mulai deh dia mendongeng.â€
“Ini mau penjelasan, ngga?â€
“Iya… iya… maaf.â€
“Saat itu, belum ada alat tulis seperti pena dan kertas yang kita kenal sekarang, Ra. Para sastrawan menggunakan tanah dan karas untuk menuliskan karyanya.â€
“Tanah… karas… aku tidak mengerti.â€
“Tanah adalah alat yang dipakai untuk menulis, sementara karas ialah bahan yang ditulisi.†**
“Terus, apa hubungannya dengan kita?â€
“Jelas ada. Bila tanah digunakan untuk menggores karas. Lama kelamaan akan semakin berkurang, tak jarang patah. Mirip seperti pensil di saat sekarang ini.â€
“Apa yang terjadi pada karas, kemudian?â€
“Di tubuhnya, terdapat goresan-goresan, Ra, seperti luka. Tapi, di sanalah semua karya sastra tertera, ditatah begitu hati-hati sampai sebuah karya tercipta, dapat dibaca.â€
“Aih, hebat ya.â€
“Emang sudah mengerti?â€
“Sudah. Kerelaan hati tanah untuk berkurang, patah. Kesediaan karas untuk tergores, luka. Ya, kan?â€
“Kamu pintar juga, Ra.â€
“Hihihi….â€
—
Pustaka:
Zoetmulder, P.J., “Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandangâ€, Penerbit Djambatan., 1985.
*) Halaman: 162
**)) Halaman: 154
Keterangan:
Bunga Pudak atau daun Pandan, biasa digunakan oleh penyair untuk menuliskan kisah asmara. Caranya dengan menggoreskan sesuatu –benda runcing- di atasnya, kemudian akan menghitam dan bisa dibaca.
Bersama Binatang
Sep 10th
Banyak sekali hewan yang hidup bersama saya. Agaknya, saya harus merevisi tentang ke-sendiri-an saya.
Semut berukuran kecil dan lembut biasa berarak, berbaris rapi di lantai dan tembok. Mereka seperti dikomando; menyerbu, bila ada sisa teh hangat di gelas yang lupa diminum.
Gelas akan riuh, hiruk pikuk dengan pergerakan semut-semut di dalamnya. Hasil akhirnya, permukaan gelas yang bersih, licin dan kering karena ulah semut itu.
Beberapa semut ada pula yang tidak beruntung lantaran bila saatnya tiba gelas dicuci, ada yang turut tercuci. Kasihan sekali mereka: terapung-apung, gelagepan dan hanyut. Barangkali kemudian mereka akan mati bercampur bersama sabun dan air limbah.
Semut yang besar dan berwarna merah lain lagi tempatnya mangkal. Di sekitar tempat sampah, pada pegangannya mereka wara-wiri. Menyulitkan sekali bila tiba saatnya sampah harus dibuang. Bentuknya yang besar, merah, membuat seram. Terkadang merambat di tangan; dikibaskan sebal, kemudian mati terinjak.
Bila ternyata masih ada yang menempel di tempat sampah, maka akan terbawa ke tempat penampungan. Entah apa yang terjadi di sana, apakah ikut terbawa truk ke tempat pembuangan akhir, ataukah terbakar bersama sampah lain saat ada penduduk yang rajin membakar sampah?
Satu lagi yang kerap bernasib malang adalah kecoa. Entah di mana tinggalnya binatang coklat kehitaman ini. Tiba-tiba saja sering terbang dan hinggap di tubuh. “Tass!†jentikan kuat jari mengusirnya jauh; terpental, menabrak tembok, menggelepar.
Satu saat akan mondar-mandir tanpa rasa bersalah di lantai. Entah karena tidak menemukan sasaran berupa bola, atau sebab lain. Kaki saya suka usil, menendang, menginjak kecoa yang malang itu. “Kress!†gepenglah kecoa itu.
Aneh memang binatang satu ini. Tempat tinggalnya suka tidak terduga. Di kamar mandi dia akan ngumpet di tempat sabun; di belakang gantungan baju dari kayu. Mungkin karena kaget: kecoa terjatuh, bersamaan dengan saya mengguyurkan air ke tubuh.
Kecoa itu berada pada posisi terbalik. Kakinya yang berpasang-pasang bergerak kebingungan di udara. Berusaha keras dia mengembalikan posisi tubuhnya ke posisi awal dan kemudian bisa berlari.
Saya memang memperhatikan, tapi tak berusaha untuk sekedar menolong. Masih asyik mandi, mengguyurkan air. Akhirnya, kecoa tenggelam bersama dengan air sisa ke saluran pembuangan, hanyut, mati.
Beruntunglah cicak yang berada jauh dari saya. Saya tidak mengerti kisahnya, kecuali yang dulu menempel di tembok menjadi bangkai. Entah apa yang terjadi pada cicak, mungkinkah sebuah akhir yang tragis sama seperti binatang lainnya?
Saya bukanlah pembunuh, ataukah iya? Mungkin semua binatang: semut kecil, semut merah, kecoa, memang telah sampai pada titimangsa hidupnya. Menghadapi kematian. Barangkali saya hanyalah perantara, melalui air sabun melalui guyuran air melalui sampah yang terbakar. Tetapi mengapa, saya bahkan sedikit terharu pun tidak? Tak merasa bersalah? Apakah ini -lagi-lagi- sebuah kewajaran? Tertawa, jumawa di atas kematian di tengah penderitaan bersama dengan seringai malaikat pencabut nyawa.
Pantai Kerang dan Karang
Sep 5th
“Ke pantai lagi?”
“Iya, yukk.”
Kamu mengerjapkan matamu; manja. Apa sih menariknya, pantai? Dalam hati aku bertanya-tanya. Kali ini, pagi belum lagi terang. Kamu sudah merengek-rengek mirip anak kecil menginginkan mainan. Aku tidak sedungu kerbau, tapi bila kamu sudah memintaku apa yang tidak untukmu?
Kemarin dulu kamu minta diantar ke pantai. Terkadang atau sering kali aku tak memahamimu. Di pantai kamu hanya diam melihat cakrawala menelan mentari yang lelah menyepuh laut dengan warna jelaga. Hebatkah semua itu?
“Bi, kita cari yang banyak nelayan pulang melaut, ya.”
“Oke.”
“Abi kenapa, marahkah?”
“Marah, kenapa harus marah?”
“Oh, ya sudah.”
Kira-kira apa yang paling pas untuk memberimu pelajaran? Sebuah jitakan, tonjokan di lengan atau pelukan. Eh, pelukan? Enak saja, kamu pasti akan kegirangan. Tidak saat ini, mungkin. Sudahlah, kudiamkan saja barangkali.
Brrr dingin sekali pagi ini. Kamu tidak mengeluh, padahal biasanya bila dingin seperti ini kamu akan begitu cerewet: “Peluk aku, Bi.”
Bergetar seluruh tubuhmu menahan dingin. Berulang kali kamu betulkan jaketmu; melipat lenganmu di depan dada. Sampai di sebuah gundukan pasir kamu berhenti. Kamu duduk begitu saja, memeluk lutut. Sesekali melirik ke arahku; takut-takut dan khawatir.
Apa pula yang kulakukan ini? Berdiri mematung seolah tak hirau akan hadirmu di sana. Melawan angin laut yang dingin dan basah; diam dan berlagak tak butuh. Padahal, seandainya kamu bergumam: “Ke sini, Bi, mendekatlah padaku.” Tentu aku akan salah menerjemahkannya sebagai: “Ke sini, Bi, peluk aku.”
Hahaha, jumawa meraja di dadaku. Kemarahan dungu yang pintar kumainkan membuatmu percaya. Membuta kamu berpikir aku benar-benar marah; terpaksa mengantarmu di dingin pagi ini. Ya ya ya, aku menyerah. Mengendapkan egoku dan duduk di sampingmu.
Tapi, hey! Belum lagi aku duduk. Sebuah tiang layar timbul tenggelam di batas kaki langit. Mula-mula ujung tertinggi tiang yang kelihatan. Perlahan-lahan, badan perahu pun nampak, tak begitu besar, masih terombang-ambing. Bersamaan dengan jilatan ombak yang membuih di pantai, nelayan itu satu per satu turun dan menarik perahu ke bibir pantai.
“Ra, mereka sudah sampai, tidakkah kamu ingin melihatnya?”
“Tidak, duduklah di sini, Bi.”
Kamu menepuk-nepuk pasir di samping tempatmu duduk. Bersungut-sungut aku pun mengikuti perintahmu. Apa lagi ini? Bukankah kamu tadi memintaku ke pantai yang banyak nelayan pulang melaut? Aku menduga karena kamu ingin melihat kesibukan mereka.
“Lihatlah mereka, Bi, bukankah mereka selalu pulang?”
Aku masih diam; dalam hati aku membatin: “Ya, iyalah ini kan rumah mereka.”
“Tak inginkah kamu memiliki sebuah pelabuhan, Bi, pelabuhan di mana kamu akan berlabuh, di mana kamu akan pulang?”
“Buat apa? Aku sudah punya rumah, yah, meski itu rumah Bapak dan Ibu.”
“Hihihi, bukan itu, Bi.”
“Lantas?”
“Sebuah hati, Bi, hati tempatmu akan pulang, melabuhkan semua rasamu itu.”
“Nggg.”
Rasaku, rasaku yang mana? Aku benci bila kamu sudah berteka-teki seperti ini. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang kamu bicarakan. Tetapi, tentu saja aku tidak akan mengakuinya, aku justru berlagak mengerti. Tidak membantah tidak menjawab, hanya diam. Terima kasih ya, Ra, karena kamu tidak pernah memaksaku menjawab semua pertanyaanmu. Kamu malah menyandarkan kepalamu di bahuku, membuatku tenang; gamang.
“Kamu pasti belum pernah mendengar hikayat kerang*, ya kan, Bi? Ahh, padahal Sukab sudah menceritakannya dengan indah.”
“Apa hubungannya?”
“Entahlah”
“Logh?!”
“Nelayan itu, Bi, selalu pulang. Memanfaatkan rasi bintang menunjukkan jalan pulang. Terkadang hujan badai menghadang. Tetapi, sebisa mungkin mereka pulang.”
“Hmmm”
“Anak istri mereka ada di rumah; harap-harap cemas menunggu mereka datang. Sebuah pertemuan yang menggembirakan. Hulu semua kebahagiaan, menjalin renda-renda kehidupan. Apalah letih, yang ditukar senyuman? Apalah buih, yang diganti kecupan? “
“Yah, aku sedikit mengerti,Ra.”
“Tak inginkah kamu sebuah tempat pulang, Bi? Menjadi seperti kerang yang berubah karang. Pula kerang yang digoreng menjadi sari-sari kehidupan. Bila kamu pulang, mungkin kamu bisa menjadi karang pelindung bisa menjadi sari-sari kehidupan.”
“Tetapi ke mana, Ra? Bagaimana hatimu? Bolehkah aku pulang ke sana?”
“Hihihi”
Aku benci lagi bila kamu tertawa menggoda. Tetapi aku senang bila kamu meninggalkan kecupan lembut di pipiku sebelum kemudian berlari.
___
*) Bacalah sekelumit hikayat kerang di sini

