Hati, Pelabuhan Pencari
Kemarin kamu bertanya tentang hatiku, Bi. Kamu bilang “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?” Aku masih ingat betul pertanyaanmu itu. Kini, aku dirundung bimbang.
Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?
Sudah lama, Bi. Lama sekali hatiku ini membuka diri untukmu. Sebagai wanita tentu ada batas di mana aku tidak mungkin melanggarnya. Budaya kita tidak mengijinkanku untuk meminangmu. Aku tak punya kuasa untuk sekedar memilih; mengungkapkan rasaku padamu.
Aku telah kebal dengan semua sakit. Merindumu tanpa tahu bagaimana mengungkapkannya, Bi. Kerinduan ini menyenangkan, tetapi juga menyedihkan di saat yang sama. Aku mengeja malam-malamku sendiri, di sini tanpamu.
Kangen; salahkah, Bi, bila aku kangen padamu? Sekadar sms akan kukirimkan, “Sedang apa, Bi?” Hanya itu yang bisa kuketikkan. Aku bahkan berharap pun tidak agar kau tahu tentang kerinduan ini. Aku senang bila kamu membalas, “Lagi ngumpul, Ra, bareng anak-anak.” Ahh, lagi-lagi anak-anak.
Kurasa kamu memang kekanakan. Bermain-main bersama temanmu, selalu itu yang kamu lakukan. Tetapi aku mengerti, Bi. Kamu pembosan, sangat pembosan. Bersama mereka kamu menemukan duniamu sendiri. Tetapi, bagaimana denganku, Bi, bila duniaku adalah kamu?
Huff… duniaku? Yang benar saja. Tidakkah aku terlalu berlebihan? Tetapi, Bi, aku senang saat kamu datang satu malam. Sekedar mampir di tengah hujan. Kamu bilang akan ngumpul bareng anak-anak tetapi hujan dan kebetulan melintasi rumahku.
Aku merasa beranda menjadi lengkap, Bi. Kamu tidak lama di sana menunggu hujan. Tetapi bila kamu tahu, aku masih di sana selepas kamu pamit. Di beranda, lebih lama lagi menikmati setiap bau tanah yang bercampur-campur dengan aromamu.
Bercampur; rasaku bercampur, kamu tentu tidak tahu itu semua. Aku senang ketika kamu hendak memelukku saat itu, Bi. Iseng kamu berkata, “Brrr, dingin… bolehkah aku memelukmu, Ra?”
Entah dari mana kegilaan itu bermula. Aku luruh di pelukanmu; menghangati tubuhmu. Tetapi tahukah, aku berdebar lebih cepat, Bi. Kebat-kebit antara panas dan dingin berganti-ganti yang kurasakan.
Perlahan sekali rasa itu menghambur di tengah-tengah kita. Mungkin lebih tepat di tengah hatiku. Aku merasa tenang; damai dan nyaman dalam pelukanmu. Semenjak saat itu, aku selalu memintamu memelukku. Tatkala dingin cuaca yang sebenarnya karena dinginnya hatiku.
Sampai sekarang aku masih tidak mengerti, Bi. Yah, aku tahu bahwa kamu selalu mudah bosan. Tetapi, itu tidak terjadi ketika kamu memelukku. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi, Bi? Aku ingin tahu alasannya, berharap tahu meski tidak pernah menjadi tahu. Aku terlalu malu untuk menanyakannya. Di sisi lain, aku tidak ingin mengganggumu. Bahkan aku takut mengganggumu.
Kamu sedikit lain saat memelukku; berbeda. Semoga aku tidak terlalu percaya diri. Tetapi benarkah apa yang kurasa ini? Aku merasa kamu begitu rapuh meski kekar lenganmu melingkari erat pingganggku. Sendu, kulihat begitu dari pancaran wajahmu. Sejuta sayang yang tertahan di sana kutemukan. Rasa yang tertahan; diendapkan seperti menemu muara. Aku ingin menampungnya; menerimanya dengan sepenuh hati, tentu di samudera hatiku.
Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?
Semenjak lama kamu adalah pencari. Entah apa yang dicari. Kamu akrab dengan gemintang yang menunjukimu jalan yang seolah-olah harus kamu tempuh. Melayari samudera hati ke hati, begitu banyak hati. Terkadang kamu singgah di salah satu pelabuhan tetapi jarang lama tinggal. Entah apa yang dicari, meski sejak lama aku tahu kamu adalah pencari.
Aku khawatir sebuah hati takkan cukup untukmu. Aku takut sebuah hati akan lebih membuatmu bosan dari yang sudah-sudah. Aku tidak ingin mengekangmu; membelenggumu dengan dingin dan kosong di hatiku.
Tetapi, dingin itu, Bi, dingin itu. Mungkinkah kamu akan bisa menghangatkannya? Kekosongan itu, Bi, kekosongan itu. Mungkinkah kamu akan bisa mengisinya?
Mungkin dengan menghangatkannya; mengisinya kamu tidak akan bosan nantinya. Kamu bisa memeluknya dengan segala rapuh dan sendu. Kamu bisa menyentuh sudut-sudut yang kosong; belum terisi dengan hadirmu di sana. Apakah aku terlalu berharap?
Bolehkah juga aku berharap menemanimu mencari? Aku tidak akan membelenggumu dengan lagunaku yang tenang. Di mana ikan berenang tenang dan jelas terlihat kerang. Aku ingin mendampingimu berlayar; mencari. Biarlah aku basah dalam keringat di terik bersamamu. Ijinkan aku menikmati badai selama denganmu.
Bi, andai kamu tahu. Ketakutanku akan hatiku yang sepertinya tidak akan pernah cukup untukmu. Kegelisahanku yang khawatir akan membuatmu bosan dengan hatiku. Jadi, apakah aku harus menjawab, “Ya” Atas pertanyaanmu, “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?”










makin hari makin sentimentil dan makin terasah nyerpennya…
hajar terus paman….
nuwun, Kang….
mohon dukungannya
huuuuuuuuuu….. romantis sekali.
dan sesaat mengingatkanku pada seseorang yang pembosan dan pencari. Dan aku rasa aku tidak bisa seperti Ra, menunggu saja.
hebat uncle.
lantas, apa yang akan dilakukan, bu?
pamanku memang romantis habiiess
lanjut paman….!!!!!! hhehehehhe
hahaha….
terima kasih
Merasa dingin juga paman?
Makasih korek apinya, walaupun bukan api unggun. Tapi seenggaknya bukan saya satu satunya yang kedinginan, dan itu lumayan menghangatkan
mengira ngira apa yang dia pikirkan kadang sedikit menghibur kan paman? *nawarin kopi*
*digetok karena curcol*
walah…
malah curcol,
eh, tapi aku tak begitu mengerti apa maksudnmu itu
berada di pelukannya saya merasa seperti pulang…..
kadang-kadang orang tidak sadar kalau ia sudah menemukan pelabuhannya, sampai akhirnya ia meninggalkan pelabuhan itu dan tak tahu jalan untuk kembali lagi.
hiks….
seringkali itu memang terjadi, mbak
tetapi, bagaimana orang tahu bila telah sampai pelabuhannya?
*hiks*… kalo baca tulisan oom goop, kayaknya gampang banget untuk mencintai dan dicintai. Kalopun ada ganjelan, datengnya dari luar.. bukan dari hubungan itu sendiri…
iri… sama Abi dan Ara *hiks*
masih lanjut baca kok, oom
makasih, darnia…
ditunggu komentnnya yak
aku lbh suka pulang ke hatiku sendiri.
yo kono, mas…
ati-ati yo, hihihi
bajinguk .. .
*sorry miki goop.. numpang misuh saja.. karena saya lagi pengin misuh .. dan itu salah postingan ini
wooo pengalaman pribadi kok menyalahkan postingan, hihihi
hmmm memang… kerenlah…
manteep pa lagi berpadu dengan musik romance yang kudengar serasa keju meleleh di atas roti bakar…
makasih
mmmmm…nice story,,,,
benarkah itu cerita kita?????
kok kayae lebayyyyyyyyy,,,,,,,,,,,,,
kikikikiki….
gak romantis banget….
dasar kamunya tuh yang ga romantis
Wah cerita yang bagus Om,
eh ini cuma cerpen ya?
kalau menurutmu, dhil?
Waw. dalem yakz.
is this a true story?
^ah mau tau aja.
hehehe, ini bisa apa saja, mbak
wah uncle goop makin dalam menjelajah batas ruang. Ngomong2 siapa gerangan jati diri tokoh cerita itu..???, someone supesialkah….?
ah… ada dehhh
paman….jujur Ndutz nangis bacanya
gak tau kenapa terasa terbawa gituh 
kok bisa nDutz? hehehe
jangan lama-lama ntar jelek
ooo..so cwiitt..
mestinya si ara tu bilang aja sama si abi biar dia ga tersiksa batin gitu, kan abi udah menunjukkan “tanda2″ cinta sama ara
*emosi sesama wanita, hihi..*
ayo paman lanjutannya, aku tungguin loh…
nungguin apa?
masak iya nungguin aku bilang “itu” ?
kok kalimat-kalimatnya banyak yang mirip eni ero ya…
hehehe…
wogh, saya belum pernah baca mbak errow itu
makasih mas
Somebody wants U,
Somebody needs U,
Somebody dreams about U every single night,
Somebody hopes that one day you will see,
That somebody’s Ara.
^_^
waoww! hehehe
really?
bagaimana caranya menyesapi relung-relung feminisme yang lembut seperti itu? aku sudah terlalu kasar untuk merasuki dan berekstase dalam kelembutan.
salut buat ente bung..
nuwun, kawan….
cobalah sesekali hihihi