Home » kamar hati

Hati, Pelabuhan Pencari

22 September 2008 241 views 36 Comments

Kemarin kamu bertanya tentang hatiku, Bi. Kamu bilang “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?” Aku masih ingat betul pertanyaanmu itu. Kini, aku dirundung bimbang.

Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?

Sudah lama, Bi. Lama sekali hatiku ini membuka diri untukmu. Sebagai wanita tentu ada batas di mana aku tidak mungkin melanggarnya. Budaya kita tidak mengijinkanku untuk meminangmu. Aku tak punya kuasa untuk sekedar memilih; mengungkapkan rasaku padamu.

Aku telah kebal dengan semua sakit. Merindumu tanpa tahu bagaimana mengungkapkannya, Bi. Kerinduan ini menyenangkan, tetapi juga menyedihkan di saat yang sama. Aku mengeja malam-malamku sendiri, di sini tanpamu.

Kangen; salahkah, Bi, bila aku kangen padamu? Sekadar sms akan kukirimkan, “Sedang apa, Bi?” Hanya itu yang bisa kuketikkan. Aku bahkan berharap pun tidak agar kau tahu tentang kerinduan ini. Aku senang bila kamu membalas, “Lagi ngumpul, Ra, bareng anak-anak.” Ahh, lagi-lagi anak-anak.

Kurasa kamu memang kekanakan. Bermain-main bersama temanmu, selalu itu yang kamu lakukan. Tetapi aku mengerti, Bi. Kamu pembosan, sangat pembosan. Bersama mereka kamu menemukan duniamu sendiri. Tetapi, bagaimana denganku, Bi, bila duniaku adalah kamu?

Huff… duniaku? Yang benar saja. Tidakkah aku terlalu berlebihan? Tetapi, Bi, aku senang saat kamu datang satu malam. Sekedar mampir di tengah hujan. Kamu bilang akan ngumpul bareng anak-anak tetapi hujan dan kebetulan melintasi rumahku.

Aku merasa beranda menjadi lengkap, Bi. Kamu tidak lama di sana menunggu hujan. Tetapi bila kamu tahu, aku masih di sana selepas kamu pamit. Di beranda, lebih lama lagi menikmati setiap bau tanah yang bercampur-campur dengan aromamu.

Bercampur; rasaku bercampur, kamu tentu tidak tahu itu semua. Aku senang ketika kamu hendak memelukku saat itu, Bi. Iseng kamu berkata, “Brrr, dingin… bolehkah aku memelukmu, Ra?”

Entah dari mana kegilaan itu bermula. Aku luruh di pelukanmu; menghangati tubuhmu. Tetapi tahukah, aku berdebar lebih cepat, Bi. Kebat-kebit antara panas dan dingin berganti-ganti yang kurasakan.

Perlahan sekali rasa itu menghambur di tengah-tengah kita. Mungkin lebih tepat di tengah hatiku. Aku merasa tenang; damai dan nyaman dalam pelukanmu. Semenjak saat itu, aku selalu memintamu memelukku. Tatkala dingin cuaca yang sebenarnya karena dinginnya hatiku.

Sampai sekarang aku masih tidak mengerti, Bi. Yah, aku tahu bahwa kamu selalu mudah bosan. Tetapi, itu tidak terjadi ketika kamu memelukku. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi, Bi? Aku ingin tahu alasannya, berharap tahu meski tidak pernah menjadi tahu. Aku terlalu malu untuk menanyakannya. Di sisi lain, aku tidak ingin mengganggumu. Bahkan aku takut mengganggumu.

Kamu sedikit lain saat memelukku; berbeda. Semoga aku tidak terlalu percaya diri. Tetapi benarkah apa yang kurasa ini? Aku merasa kamu begitu rapuh meski kekar lenganmu melingkari erat pingganggku. Sendu, kulihat begitu dari pancaran wajahmu. Sejuta sayang yang tertahan di sana kutemukan. Rasa yang tertahan; diendapkan seperti menemu muara. Aku ingin menampungnya; menerimanya dengan sepenuh hati, tentu di samudera hatiku.

Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?

Semenjak lama kamu adalah pencari. Entah apa yang dicari. Kamu akrab dengan gemintang yang menunjukimu jalan yang seolah-olah harus kamu tempuh. Melayari samudera hati ke hati, begitu banyak hati. Terkadang kamu singgah di salah satu pelabuhan tetapi jarang lama tinggal. Entah apa yang dicari, meski sejak lama aku tahu kamu adalah pencari.

Aku khawatir sebuah hati takkan cukup untukmu. Aku takut sebuah hati akan lebih membuatmu bosan dari yang sudah-sudah. Aku tidak ingin mengekangmu; membelenggumu dengan dingin dan kosong di hatiku.

Tetapi, dingin itu, Bi, dingin itu. Mungkinkah kamu akan bisa menghangatkannya? Kekosongan itu, Bi, kekosongan itu. Mungkinkah kamu akan bisa mengisinya?

Mungkin dengan menghangatkannya; mengisinya kamu tidak akan bosan nantinya. Kamu bisa memeluknya dengan segala rapuh dan sendu. Kamu bisa menyentuh sudut-sudut yang kosong; belum terisi dengan hadirmu di sana. Apakah aku terlalu berharap?

Bolehkah juga aku berharap menemanimu mencari? Aku tidak akan membelenggumu dengan lagunaku yang tenang. Di mana ikan berenang tenang dan jelas terlihat kerang. Aku ingin mendampingimu berlayar; mencari. Biarlah aku basah dalam keringat di terik bersamamu. Ijinkan aku menikmati badai selama denganmu.

Bi, andai kamu tahu. Ketakutanku akan hatiku yang sepertinya tidak akan pernah cukup untukmu. Kegelisahanku yang khawatir akan membuatmu bosan dengan hatiku. Jadi, apakah aku harus menjawab, “Ya” Atas pertanyaanmu, “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?”

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

RSS feed | Trackback URI

36 Comments »

Comment by ngodod
2008-09-22 19:42:31

makin hari makin sentimentil dan makin terasah nyerpennya…
hajar terus paman….

Comment by goop
2008-09-26 09:50:01

nuwun, Kang….
mohon dukungannya :P

 
 
Comment by Ikkyu_san
2008-09-22 20:12:28

huuuuuuuuuu….. romantis sekali.
dan sesaat mengingatkanku pada seseorang yang pembosan dan pencari. Dan aku rasa aku tidak bisa seperti Ra, menunggu saja.
hebat uncle.

Comment by goop
2008-09-26 09:52:21

lantas, apa yang akan dilakukan, bu? :D

 
 
Comment by Indah Sitepu
2008-09-22 21:21:43

pamanku memang romantis habiiess

lanjut paman….!!!!!! hhehehehhe :P

Comment by goop
2008-09-26 09:57:50

hahaha….
terima kasih

 
 
Comment by Jumawa
2008-09-23 00:48:13

Merasa dingin juga paman?

Makasih korek apinya, walaupun bukan api unggun. Tapi seenggaknya bukan saya satu satunya yang kedinginan, dan itu lumayan menghangatkan :roll:

mengira ngira apa yang dia pikirkan kadang sedikit menghibur kan paman? *nawarin kopi*

*digetok karena curcol*

Comment by goop
2008-09-26 10:06:32

walah…
malah curcol,
eh, tapi aku tak begitu mengerti apa maksudnmu itu :D

 
 
Comment by itikkecil
2008-09-23 09:31:52

berada di pelukannya saya merasa seperti pulang…..

kadang-kadang orang tidak sadar kalau ia sudah menemukan pelabuhannya, sampai akhirnya ia meninggalkan pelabuhan itu dan tak tahu jalan untuk kembali lagi.

Comment by goop
2008-09-26 10:11:25

hiks….
seringkali itu memang terjadi, mbak
tetapi, bagaimana orang tahu bila telah sampai pelabuhannya? :roll:

 
 
Comment by darnia
2008-09-23 11:49:46

*hiks*… kalo baca tulisan oom goop, kayaknya gampang banget untuk mencintai dan dicintai. Kalopun ada ganjelan, datengnya dari luar.. bukan dari hubungan itu sendiri…

iri… sama Abi dan Ara *hiks*
masih lanjut baca kok, oom ;)

Comment by goop
2008-09-26 10:25:22

makasih, darnia…
ditunggu komentnnya yak :D

 
 
Comment by zen
2008-09-24 09:21:22

aku lbh suka pulang ke hatiku sendiri.

:P

Comment by goop
2008-09-26 10:28:29

yo kono, mas…
ati-ati yo, hihihi

 
 
Comment by funkshit
2008-09-24 14:03:36

bajinguk .. .
*sorry miki goop.. numpang misuh saja.. karena saya lagi pengin misuh .. dan itu salah postingan ini

Comment by goop
2008-09-26 10:40:36

wooo pengalaman pribadi kok menyalahkan postingan, hihihi

 
 
Comment by amru
2008-09-24 15:13:22

hmmm memang… kerenlah…
manteep pa lagi berpadu dengan musik romance yang kudengar serasa keju meleleh di atas roti bakar…

Comment by goop
2008-09-26 10:43:50

makasih :mrgreen:

 
 
Comment by aku
2008-09-25 09:46:04

mmmmm…nice story,,,,
benarkah itu cerita kita?????
kok kayae lebayyyyyyyyy,,,,,,,,,,,,,
kikikikiki….
gak romantis banget….

Comment by goop
2008-09-26 10:52:28

dasar kamunya tuh yang ga romantis :D

 
 
Comment by Nugraha Fadhil
2008-09-25 10:01:49

Wah cerita yang bagus Om,
eh ini cuma cerpen ya?

Comment by goop
2008-09-26 11:13:40

kalau menurutmu, dhil? :D

 
 
Comment by duniafannie
2008-09-26 04:53:33

Waw. dalem yakz.
is this a true story?
^ah mau tau aja. ;)

Comment by goop
2008-09-26 11:16:58

hehehe, ini bisa apa saja, mbak :mrgreen:

 
 
Comment by senimanpeta
2008-09-26 04:59:05

wah uncle goop makin dalam menjelajah batas ruang. Ngomong2 siapa gerangan jati diri tokoh cerita itu..???, someone supesialkah….?

Comment by goop
2008-09-26 11:30:20

ah… ada dehhh :oops:

 
 
Comment by AngelNdutz
2008-09-26 09:45:40

paman….jujur Ndutz nangis bacanya :( gak tau kenapa terasa terbawa gituh :(

Comment by goop
2008-09-26 11:36:55

kok bisa nDutz? hehehe
jangan lama-lama ntar jelek :D

 
 
Comment by lisa
2008-09-27 20:25:03

ooo..so cwiitt..
mestinya si ara tu bilang aja sama si abi biar dia ga tersiksa batin gitu, kan abi udah menunjukkan “tanda2″ cinta sama ara :D
*emosi sesama wanita, hihi..*

ayo paman lanjutannya, aku tungguin loh… :)

Comment by goop
2008-10-08 13:03:42

nungguin apa?
masak iya nungguin aku bilang “itu” ? :D

 
 
Comment by danisdad
2008-10-07 10:27:13

kok kalimat-kalimatnya banyak yang mirip eni ero ya…
hehehe…

Comment by goop
2008-10-08 13:05:28

wogh, saya belum pernah baca mbak errow itu :P
makasih mas

 
 
Comment by Nisa
2008-10-14 20:44:50

Somebody wants U,
Somebody needs U,
Somebody dreams about U every single night,
Somebody hopes that one day you will see,
That somebody’s Ara.

^_^

Comment by goop
2008-10-15 10:31:16

waoww! hehehe
really? :mrgreen:

 
 
Comment by aditya sani
2008-10-16 19:00:52

bagaimana caranya menyesapi relung-relung feminisme yang lembut seperti itu? aku sudah terlalu kasar untuk merasuki dan berekstase dalam kelembutan.

salut buat ente bung..

 
Comment by goop
2008-10-17 13:44:49

nuwun, kawan….
cobalah sesekali hihihi

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post