Toko, Obat dan Pil
Wajah-wajah penuh harap di sebuah toko. Pegawai sibuk ke sana ke mari memenuhi pesanan; mengambilkan obat yang dikehendaki oleh pelanggan. Bos perempuan yang bertubuh gempal; berkoyo di dahinya sibuk menghitung harga obat, menerima uang, mengangsurkan kembalian dan memasukkannya baik-baik ke dalam laci.
Sebuah toko obat menjelang buka puasa. Setiap pelanggan ingin bersicepat dilayani. Menyebutkan nama obat-obatan yang aneh. Sebagian sambil meringis menahan sakit dan secepatnya butuh penawar. Sebagian yang lain diliputi khawatir mengingat si sakit di rumah yang mungkin sedang mengerang-erang.
“Obat diabetes yang mana, Pak?” Tanya pemilik toko; tersenyum.
Sambil mengernyit, seorang pelanggan, bapak-bapak setengah baya menyebutkan merk sebuah obat. Entah merasakan sakit atau memikirkan harga obat yang demikian mahal kernyitan itu harus diartikan. Lagi-lagi pemilik toko tersenyum.
Di rak-rak berbingkai kaca dan trasparan; terlindung di balik kaca berderet berbotol-botol obat dan minyak telon. Dalam kardus-kardus, tablet obat-obatan tersembunyi, satu per satu menunggu disentuh, dipilih-pilih untuk kemudian diambil.
Di sebelah bawah, deretan perlengkapan bayi mulai dari bedak sampai dengan minyak kayu putih. Semakin ke atas kian beragam jenis obat yang ada. Di rak paling atas, jauh dari jangkauan adalah beraneka ragam merk kondom. Kenapa ditaruh di atas?
Seluruh kebutuhan si sakit, sebisa mungkin dipenuhi oleh pemilik toko yang dibantu oleh pelayan-pelayan yang bergerak tangkas. Sakit gatal gara-gara jamur di antara jemari kaki, panu, kadas, kudis, kurap semua ada solusinya. Tetes mata beraneka macam, ada pula tetes hidung, tetes telinga. Pendek kata semua penyakit yang hinggap di tubuh ada penawarnya. Tak hirau di luar pada permukaan kulit atau di dalam tubuh seperti jantung, ginjal dan kadar gula darah. Tidak peduli tubuh itu seorang bayi, anak muda, orang dewasa bahkan lansia berusaha menemui penyembuh di toko ini.
Benarkah penyembuh? Bukankah sakit dan sehat sudah ada yang mengatur? Setidaknya begitu yang saya percayai. Obat hanyalah sekedar perantara, uluran tangan pembawa kasih Tuhan, penanda ikhtiar; usaha si sakit untuk memperoleh kesembuhan. Hasil akhir tak pernah bisa diketahui. Ada garis nasib yang tidak mungkin ditolak.
Akhirnya, sebuah obat murah bisa jadi membawa kesembuhan. Tak jarang bermacam obat dengan harga selangit bahkan tanda membaik pun tidak tercapai. Tetapi harapan, barangkali boleh digantungkan di antara pil-pil yang ada, tablet-tablet penyambung kehidupan, penawar gatal di kulit dan pedas di mata.
Beberapa membawa resep dari dokter. Tulisan cakar ayam yang sukar dibaca menerangkan obat apa yang harus ditebus. Selembar resep mungkin boleh diganti dengan berlembar rupiah. Tetapi penyakit tidak berhubungan dengan harga, bukan?
Penyakit menahun menyebabkan pembeli hapal obat apa saja yang harus dibeli, mereka mengandalkan kekuatan daya pikir, hapalan. Ibu saya lain lagi, beliau menggunakan pengalaman. Obat sakit kepalanya bermerk “A”, tatkala batuk, biasa sembuh bila minum obat “B”. Kemarin, saya membeli obat batuk yang disarankan oleh teman saya seorang dokter. Saat menyerahkan obat itu kepada Ibu beliau bilang, “Ah, kok sing iki, ra biasa aku.”
Berat hati Ibu meminumnya, “Yowis, ra popo etung-etung obate anak lanang.” Saya dan adik-adik harus mengawasi, sedikit memaksa sampai Ibu mau meminumnya. Sekali waktu ingin peduli ternyata sedikit kurang tepat.
Obat seperti jodoh, konon begitu juga dengan dokter. Melalui cek dan ricek, memerlukan waktu sampai dengan ditemukan obat dan dokter yang sesuai yang pas di hati.
Di antara obat dan peminumnya saling memberi, bukan?
Obat berkorban tubuhnya untuk diminum, cairan pindah ke perut, pil-pil melewati tenggorokan, tablet-tablet menyangkut di pangkal lidah. Tetes demi tetes cairan bening membeningkan mata melegakan hidung menjernihkan telinga.
Peminumnya atau bisa juga keluarga peminum tidak hanya berpangku tangan. Ada lembaran-lembaran uang yang menjadi penebus; tiap tetes cairan tiap butiran pil tiap lempengan tablet. Banting tulang dan mandi keringat bukanlah halangan demi kesembuhan dari penyakit; sedikit waktu lebih lama untuk bertahannya nyawa.
Sekali waktu, ada yang bilang, “Sugesti kepada si sakit itu lebih penting, lho.” Senyatanya tidak sepenuhnya salah pernyataan ini. Beberapa teman dokter berkata, “Seorang yang sakit cukup diberikan vitamin dan diberikan sedikit sugesti.” Eh, lah kok besoknya si sakit ini sudah baikan. Apakah khasiat obat ataukah kekuatan sugesti?
Nah, kemudian apa manfaat dari rasa buah-buahan yang ada pada sebuah kondom? Ribet amat, yak? Hehehe.










lebih tepatnya bukan sugesti, tapi efek plasebo. dan secara ilmiah sudah teruji kekuatan plasebo itu. film “The 51st State” dengan bagus menunjukkan bagaimana efek plasebo itu bekerja, bahkan sampai ke level yang mengerikan.
di sisi lain, efek plasebo menunjukkan pada hakikatnya, tubuh manusia mampu mengobati dirinya sendiri.
wah, apakah itu berarti salah mas? kan saya menyebutnya sugesti.
kalau bisa mengobati dirinya sendiri, tidak perlu obat dan dokter?
nyari filmnya, ah
yang pasti manfaat dari rasa buah-buahan yang ada pada sebuah kondom bukanlah sugesti hihihi
lantas, apa domz?
Nah, kemudian apa manfaat dari rasa buah-buahan yang ada pada sebuah kondom?
Variasi om.. Variasi…
variasi untuk apa?
manfaat apa rasa buah buahan ?,..
Ya jelas tanyakan bagi yang menyukai oral sex…( kamu tuh pura pura nggak tahu saja )
iya, mas iman kok tahu sih, kalau saya pura-pura? hihihi
Aneka rasa di kondom itu alternatif pengganti permen karet brader.
apakah keduanya bisa saling menggantikan, kemudian?
busyet endingnya kok mlengse???
emang tulang patah? mlengse
buat diemut ponakan sebelum digunakan….
ebusyettt… macam apa saja?
coba, di luar soal harga, apa bedanya obat generik dg obat non-generik?
opo to mas? material penyusunnya ya?
Wew… Kok jadi ke rasa buah-buahan? Jauh amat yaks? ^ngojek ah^
Kirain mu mbahas gimana caranya bisa dapet jodoh dokter yang pas di hati n_n
^LOL
hihihi
kalau itu mah, sering-sering aja nongkrong di RS
jadi gini lho mas, gunanya perisa buah2an itu agar supaya si perempuan itu gak merasa mentok ketika melihat..
jadi si perempuan itu gak merasa melihat pisaang trus..nah itu yang dinamakan variasi mas..
ah mas ini, udh mulai membahas ini..
sdh ada yang dikeloni ya?
*panggil taksi, suruh ngebut*
mentok? apaan maksudnya mentok? udah sampai puol gitu yak? hihihi
apa manfaat dari rasa buah-buahan yang ada pada sebuah kondom?
biar seger kayak makan rujak
rujak? hayah… itu mah pedes kali, ohm
Rasa buah? Buat sugesti bahwa yang dihadapi saat itu hanyalah lolipop rasa buah
wah, nampak pengalaman hihihi
ooo…..
berarti variasi rasa di kondom hanya sugesti ya, oom? *gaknyambungdotcom*
saya juga nda’ tahu, makanya nanya
walah…lha kok ujung-ujungnya tentang ini?? Ndutz pernah baca kok pelumas di kondom bisa nyembuhin jerawat yah, paman?
udah dicoba belum?
*nyegat tronton! terus kaburrr*
soal rasa buah-buahan itu kayaknya sudah banyak yang bahas ya

Tapi saya pernah tuh, sakit batuk gak sembuh-sembuh dan sudah menebus obat paten yang harganya ratusan ribu. sembuhnya oleh obat generik yang harga per sepuluh bijinya seribu lima ratus saja
nah, ya kan Mbak
belum tentu murah itu tidak berkhasiat.
Btw, senang mbak ira komentnya tentang obat hihihi
ini juga terinspirasi waktu ngantar aku yakkkk?????
hahahahaha….
kok tahu