Home » loteng baca

Wengi, Sitaresmi dan Kartika

17 September 2008 230 views 30 Comments

Bathara Kala berjalan tenang. Selalu begitu dari tahun berganti tahun, hari berganti hari. Kita mengenalnya sebagai waktu sekarang ini. Rahina dan Wengi datang silih berganti, memberikan terang saat bekerja, membawa malam saat beristirahat.

Sang Hyang Re, Radite mengutuki hari dengan panasnya. Memuaikan ubun-ubun menjadi uap ide dan pikiran. Menguarkan bau tubuh, keringat dan lembab. Membacai setiap makhluk yang ikhlas yang bersyukur bagaimanapun susahnya hidup. Menelikung mereka yang lelah menggumuli berkas, yang berkeringat kehausan. Madah syukur berkelindan di antara umpatan, keluh kesah. Warna-warni siang.

Sang Sitaresmi setia muncul seperti melayang-layang di permukaan Gagana. Kartika menemani, berkelap-kelip tenang. Jumantara adalah kanvasnya, menjadi latar belakang biru gelap, pekat. Mendung Jaladara bergerak perlahan-lahan. Menyembunyikan bulan atau menjadi latar depan gemintang. Tak hirau semua itu, selimut melindungi dari dingin. Jaket kumal ketat dipakai peronda di gardu yang bau. Suara dengkur bersicepat dengan lenguhan, gelinjang dan keriat keriut ranjang tua. Bebunyian malam.

“Nanti sore, masak apa enaknya, ya?” Seorang ibu bertanya pada putra kecilnya selepas dhuhur.

“Rendang daging, ya, Bu, enak sekali sepertinya.” Begitu saja, lepas, tanpa beban anak itu menjawab.

Ibu yang sama kemudian melirik sediaan di dapur. Hampir kosong, sekerat daging sisa kemarin tak ada artinya untuk keluarga muda itu.

“Jangan lupa, Bu, es degan karena siang ini begitu terik.” Sang kakak yang baru pulang dari sekolah memberikan usul sembari mengelap keringat di dahinya.

Dompet diambil; membuka dan melihat isinya. Tinggal dua lembar sepuluh ribuan yang tersisa. Diputarnya otak, malah berpusaran. Teringat hutang di warung belum dibayar; tukang sayur tiap pagi cemberut memasang muka masam.

Menjelang Ashar, suami pulang. Berkeringat; debu menempel di keliman pakaian, lelah menggurati wajahnya. Ibu menyambut dengan senyuman; dibawakannya tas kerja penuh dengan berkas yang nanti malam harus diselesaikan dan esok pagi dikumpulkan.

“Ayah, bagaimana baju baruku? Sudah dapatkah?” Si kecil merengek; manja.

“Kalau sepatuku, Yah?” Kakaknya tak mau kalah, ikut menyibukkannya.

“Bu… Anakmu nih.” Berteriak tak sabar; sambil melepas sepatunya dengan sebal. Membuang kaus kaki; melepas baju luar, hanya berkaus rebahan, tak lama mendengkur.

Adzan magrib berkumandang. Waktu berbuka tiba. Di atas meja makan, tak ada rendang daging tak ada es degan. Tiga gelas air putih bersanding dengan semangkuk sup miskin daging, hanya banyak air, kobis dan wortel. Secobek sambal berisi cabai merah dan bawang ditambahi garam melengkapi menu buka puasa.

Protes si kecil bertalu-talu seperti bedug yang dipukul penanda waktu buka. Cemberut; sebentar kemudian menangis sangat keras. Si sulung bersungut-sungut memakan menu yang ada namun tambah nasi sampai dua kali. Ibu tersenyum. Tak berapa lama, kedua anaknya berebutan tempe goreng irisan terakhir. Ayah tertawa; kecut.

Sepulang dari Tarawih di musholla tepi desa. Keluarga itu berkumpul lagi di depan televisi berukuran kecil yang suaranya sumbang. Acara kompetisi dangdut yang tidak jelas menjadi hiburan. Si kecil mulai mengantuk di pangkuan Ayahnya. Kakaknya membolak-balik buku kumal mengerjakan PR dari sekolah. Ibu kadang bersenandung mengikuti lagu sambil melipat pakaian.

“Bu, perlukah kita mudik tahun ini?” Hati-hati, Ayah memulai obrolan.

“Sesuai rencana, Yah, tahun kemarin, kan, sudah tidak mudik.” Ibu menjawab dengan nada khawatir.

“Tapi aku belum dapat THR, Bu, bagaimana pinjaman dari Haji Karta? Sudahkah kau mendapatkannya?” Penuh harapan terkandung dalam pertanyaan Ayah.

Setelah menghela nafas panjang, “Belum, Yah, Ibu tidak enak, sudah terlalu banyak hutang kita kepada beliau.”

“Ongkos mudik, oleh-oleh untuk keluarga di kampung, pakaian anak-anak, makin banyak saja kebutuhan kita, ya, Bu?” Seperti mengabsen, dengan berat semua itu disebutkan.

“Pikirkan satu demi satu, Yah, Insya’ Allah, nanti juga terpenuhi semua.” Kemudian Ibu kembali bersenandung melantunkan “Duh Engkang” sebuah tembang manis dari Itje Trisnawati.

Ayah mengambil tas kerjanya, mengeluarkan berkas-berkas yang harus dikerjakan dan mulai diam; serius menekuri setiap lembarannya. Si kecil telah nyaman bergelung di balik selimut. Ibu memeluk sang kakak yang masih tidur-tidur ayam. Lama-lama Ibu ikut tertidur. Dalam tidurnya, bermimpi: seorang Apsari menunggang Baruna turun ke Bantala. Satu yang tidak lazim adalah sebelah sayapnya patah. Entah, pertanda apa lagi kah, ini?

Tengah malam telah dilampaui saat sebuah tangan usil menelusup di balik daster. Meraba-raba ke sana ke mari. Mulai dari usapan lembut sampai remasan agak kasar. Saat Ibu tersadar dan membuka mata.

“Satu ronde, ya, Bu, sebelum sahur.”

Walah….!!!

__

Koleksi kata:

Kala : Waktu

Rahina : Siang

Wengi : Malam

Sang Hyang Re, Radite : Matahari

Sitaresmi : Bulan

Gagana : Langit

Kartika : Bintang

Jumantara : Langit

Jaladara : Awan Mendung

Apsari : Bidadari

Baruna : Angin

Bantala : Bumi

asal gambar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

RSS feed | Trackback URI

30 Comments »

Comment by itikkecil
2008-09-17 11:41:30

mudik jadinya keharusan yang malah membebankan… ironis kalau akhirnya mudik berbuah hutang…
btw, yang satu ronde kok gak diterusin…

Comment by goop
2008-09-18 12:27:36

lagi puasa mbak, kwatir ada yang kepengaruh hihihi

 
 
Comment by edy
2008-09-17 11:46:41

mudahan-mudahan kita tidak lupa bahwa puasa tak sekedar menahan lapar dan haus dari subuh hingga magrib, bahwa masih banyak orang yg bahagia menyambut Ramadhan krn artinya jatah belanja harian jadi berkurang, yg tadinya mesti makan 3x sehari jadi cukup 2x sehari
bahwa hubungan pasutri tetap jadi hiburan utama :lol:

Comment by goop
2008-09-19 10:41:26

meski dua kali sehari, ohm. tapi bukankah lebih boros karena beberapa menu istimewa dibeli juga?
mengenai hiburan utama itu? gimana sih persisnya? kekeke

 
 
Comment by Zen
2008-09-17 13:42:47

Kalo gak bisa mudik sebaiknya gak usah dipaksain deh, cukup telpon aja dan mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh keluarga, kan sekarang biaya percakapan semakin murah. Semuanya demi keamanan finansial keluarga. Kalaupun ada rejeki mending buat nyicil hutang aja, buat mengurangi beban mental keluarga.

Comment by goop
2008-09-19 10:43:22

setuju mas bro…. :mrgreen:
tapi budaya itu bukankah masih ada?

 
 
Comment by Gum
2008-09-17 13:53:15

yang aneh, buat makan aja mesti ngutang2. tapi tipi tetap kebeli :D

sepakat sama itikkecil, pak.
endingnya nggantung :))

Comment by goop
2008-09-19 10:55:55

itu tipinya dibeli pas masih jaya :D
nggantung gimana, yak maksudnya? hihihi

 
 
Comment by darnia
2008-09-17 14:21:42

terlalu banyak “ritual” yang sebenernya dipaksakan dalam menyambut kegembiraan di bulan suci….

*pura-pura gak baca endingnya XD*

Comment by goop
2008-09-19 11:01:15

memang ada apa dengan endingnya? :mrgreen:

 
 
Comment by aditya sani
2008-09-17 14:43:03

wah, kakak endingnya kakak.. ya ampun kakak…
tapi sejujurnya, itu realitas yg ada di masyarakat ya kakak..

Comment by goop
2008-09-19 11:16:01

klo menurutmu? itu realitas, bukan?

 
 
Comment by zen
2008-09-17 16:41:28

wuih, ada glosariumnya juga. kosa kata dan kosa nada punyamu makin kaya!

Comment by goop
2008-09-19 11:19:53

hayah…
cuma memanfaatkan kamus jawa yang sak uplik itu :D
nuwung Kang

 
 
Comment by Ndebakulsempak
2008-09-17 18:36:34

wah ternyata uncle goop udah menikah, bahkan udah punya 2 anaaaaak :D

Comment by goop
2008-09-19 11:50:30

wakakaka :lol:

 
 
Comment by Ikkyu_san
2008-09-17 19:25:28

hmmm
sayap patah = usapan dan remasan? hihihi

Comment by goop
2008-09-19 12:38:31

eh….
Ibu ni bisa aja :oops:

 
 
Comment by danindra
2008-09-17 23:10:38

huaaaaa…. curcol…

piss paman….

satu ronde ya paman…

Comment by goop
2008-09-19 12:40:45

hahaha….
bisa juga ya, menjadi curcoll :D

 
 
Comment by Hedi
2008-09-18 00:39:39

urusan “satu ronde” itu memang selalu abadi, nggak terkekang oleh situasi dan kondisi :D

Comment by goop
2008-09-19 12:42:53

maksudnya, Kang?? :lol:

 
 
Comment by AngelNdutz
2008-09-18 11:02:44

wah..wah..ini bacaan yang bikin BT!!! [-(

Comment by goop
2008-09-19 12:48:41

kenapa? :oops:

 
 
Comment by AngelNdutz
2008-09-18 11:03:40

lanjutannyah donk paman…. :D

Comment by goop
2008-09-19 12:55:03

sabar…
atau nanya kandamu aja nDutz, mungkin beliau tahu

 
 
Comment by ulan
2008-09-19 07:59:15

akhir nya jadi barapa ronde om??? huhuhu.. om bahasa nya keren aku jadi kayak mbaca kamus kejawen..

Comment by goop
2008-09-19 13:03:17

hayah, mbak ulan ni lho :oops:

 
 
Comment by unai
2008-09-19 11:18:35

aku seperti membaca Ahmad Tohari…keren sekali, pilihan kata yang tak biasa. Uncle hebat deh :)

Comment by goop
2008-09-19 13:09:37

eh, makasih mbak unai :D

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post