Wengi, Sitaresmi dan Kartika
Bathara Kala berjalan tenang. Selalu begitu dari tahun berganti tahun, hari berganti hari. Kita mengenalnya sebagai waktu sekarang ini. Rahina dan Wengi datang silih berganti, memberikan terang saat bekerja, membawa malam saat beristirahat.
Sang Hyang Re, Radite mengutuki hari dengan panasnya. Memuaikan ubun-ubun menjadi uap ide dan pikiran. Menguarkan bau tubuh, keringat dan lembab. Membacai setiap makhluk yang ikhlas yang bersyukur bagaimanapun susahnya hidup. Menelikung mereka yang lelah menggumuli berkas, yang berkeringat kehausan. Madah syukur berkelindan di antara umpatan, keluh kesah. Warna-warni siang.
Sang Sitaresmi setia muncul seperti melayang-layang di permukaan Gagana. Kartika menemani, berkelap-kelip tenang. Jumantara adalah kanvasnya, menjadi latar belakang biru gelap, pekat. Mendung Jaladara bergerak perlahan-lahan. Menyembunyikan bulan atau menjadi latar depan gemintang. Tak hirau semua itu, selimut melindungi dari dingin. Jaket kumal ketat dipakai peronda di gardu yang bau. Suara dengkur bersicepat dengan lenguhan, gelinjang dan keriat keriut ranjang tua. Bebunyian malam.
“Nanti sore, masak apa enaknya, ya?” Seorang ibu bertanya pada putra kecilnya selepas dhuhur.
“Rendang daging, ya, Bu, enak sekali sepertinya.” Begitu saja, lepas, tanpa beban anak itu menjawab.
Ibu yang sama kemudian melirik sediaan di dapur. Hampir kosong, sekerat daging sisa kemarin tak ada artinya untuk keluarga muda itu.
“Jangan lupa, Bu, es degan karena siang ini begitu terik.” Sang kakak yang baru pulang dari sekolah memberikan usul sembari mengelap keringat di dahinya.
Dompet diambil; membuka dan melihat isinya. Tinggal dua lembar sepuluh ribuan yang tersisa. Diputarnya otak, malah berpusaran. Teringat hutang di warung belum dibayar; tukang sayur tiap pagi cemberut memasang muka masam.
Menjelang Ashar, suami pulang. Berkeringat; debu menempel di keliman pakaian, lelah menggurati wajahnya. Ibu menyambut dengan senyuman; dibawakannya tas kerja penuh dengan berkas yang nanti malam harus diselesaikan dan esok pagi dikumpulkan.
“Ayah, bagaimana baju baruku? Sudah dapatkah?” Si kecil merengek; manja.
“Kalau sepatuku, Yah?” Kakaknya tak mau kalah, ikut menyibukkannya.
“Bu… Anakmu nih.” Berteriak tak sabar; sambil melepas sepatunya dengan sebal. Membuang kaus kaki; melepas baju luar, hanya berkaus rebahan, tak lama mendengkur.
Adzan magrib berkumandang. Waktu berbuka tiba. Di atas meja makan, tak ada rendang daging tak ada es degan. Tiga gelas air putih bersanding dengan semangkuk sup miskin daging, hanya banyak air, kobis dan wortel. Secobek sambal berisi cabai merah dan bawang ditambahi garam melengkapi menu buka puasa.
Protes si kecil bertalu-talu seperti bedug yang dipukul penanda waktu buka. Cemberut; sebentar kemudian menangis sangat keras. Si sulung bersungut-sungut memakan menu yang ada namun tambah nasi sampai dua kali. Ibu tersenyum. Tak berapa lama, kedua anaknya berebutan tempe goreng irisan terakhir. Ayah tertawa; kecut.
Sepulang dari Tarawih di musholla tepi desa. Keluarga itu berkumpul lagi di depan televisi berukuran kecil yang suaranya sumbang. Acara kompetisi dangdut yang tidak jelas menjadi hiburan. Si kecil mulai mengantuk di pangkuan Ayahnya. Kakaknya membolak-balik buku kumal mengerjakan PR dari sekolah. Ibu kadang bersenandung mengikuti lagu sambil melipat pakaian.
“Bu, perlukah kita mudik tahun ini?” Hati-hati, Ayah memulai obrolan.
“Sesuai rencana, Yah, tahun kemarin, kan, sudah tidak mudik.” Ibu menjawab dengan nada khawatir.
“Tapi aku belum dapat THR, Bu, bagaimana pinjaman dari Haji Karta? Sudahkah kau mendapatkannya?” Penuh harapan terkandung dalam pertanyaan Ayah.
Setelah menghela nafas panjang, “Belum, Yah, Ibu tidak enak, sudah terlalu banyak hutang kita kepada beliau.”
“Ongkos mudik, oleh-oleh untuk keluarga di kampung, pakaian anak-anak, makin banyak saja kebutuhan kita, ya, Bu?” Seperti mengabsen, dengan berat semua itu disebutkan.
“Pikirkan satu demi satu, Yah, Insya’ Allah, nanti juga terpenuhi semua.” Kemudian Ibu kembali bersenandung melantunkan “Duh Engkang” sebuah tembang manis dari Itje Trisnawati.
Ayah mengambil tas kerjanya, mengeluarkan berkas-berkas yang harus dikerjakan dan mulai diam; serius menekuri setiap lembarannya. Si kecil telah nyaman bergelung di balik selimut. Ibu memeluk sang kakak yang masih tidur-tidur ayam. Lama-lama Ibu ikut tertidur. Dalam tidurnya, bermimpi: seorang Apsari menunggang Baruna turun ke Bantala. Satu yang tidak lazim adalah sebelah sayapnya patah. Entah, pertanda apa lagi kah, ini?
Tengah malam telah dilampaui saat sebuah tangan usil menelusup di balik daster. Meraba-raba ke sana ke mari. Mulai dari usapan lembut sampai remasan agak kasar. Saat Ibu tersadar dan membuka mata.
“Satu ronde, ya, Bu, sebelum sahur.”
Walah….!!!
__
Koleksi kata:
Kala : Waktu
Rahina : Siang
Wengi : Malam
Sang Hyang Re, Radite : Matahari
Sitaresmi : Bulan
Gagana : Langit
Kartika : Bintang
Jumantara : Langit
Jaladara : Awan Mendung
Apsari : Bidadari
Baruna : Angin
Bantala : Bumi










mudik jadinya keharusan yang malah membebankan… ironis kalau akhirnya mudik berbuah hutang…
btw, yang satu ronde kok gak diterusin…
lagi puasa mbak, kwatir ada yang kepengaruh hihihi
mudahan-mudahan kita tidak lupa bahwa puasa tak sekedar menahan lapar dan haus dari subuh hingga magrib, bahwa masih banyak orang yg bahagia menyambut Ramadhan krn artinya jatah belanja harian jadi berkurang, yg tadinya mesti makan 3x sehari jadi cukup 2x sehari
bahwa hubungan pasutri tetap jadi hiburan utama
meski dua kali sehari, ohm. tapi bukankah lebih boros karena beberapa menu istimewa dibeli juga?
mengenai hiburan utama itu? gimana sih persisnya? kekeke
Kalo gak bisa mudik sebaiknya gak usah dipaksain deh, cukup telpon aja dan mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh keluarga, kan sekarang biaya percakapan semakin murah. Semuanya demi keamanan finansial keluarga. Kalaupun ada rejeki mending buat nyicil hutang aja, buat mengurangi beban mental keluarga.
setuju mas bro….
tapi budaya itu bukankah masih ada?
yang aneh, buat makan aja mesti ngutang2. tapi tipi tetap kebeli
sepakat sama itikkecil, pak.
endingnya nggantung :))
itu tipinya dibeli pas masih jaya
nggantung gimana, yak maksudnya? hihihi
terlalu banyak “ritual” yang sebenernya dipaksakan dalam menyambut kegembiraan di bulan suci….
*pura-pura gak baca endingnya XD*
memang ada apa dengan endingnya?
wah, kakak endingnya kakak.. ya ampun kakak…
tapi sejujurnya, itu realitas yg ada di masyarakat ya kakak..
klo menurutmu? itu realitas, bukan?
wuih, ada glosariumnya juga. kosa kata dan kosa nada punyamu makin kaya!
hayah…
cuma memanfaatkan kamus jawa yang sak uplik itu
nuwung Kang
wah ternyata uncle goop udah menikah, bahkan udah punya 2 anaaaaak
wakakaka
hmmm
sayap patah = usapan dan remasan? hihihi
eh….
Ibu ni bisa aja
huaaaaa…. curcol…
piss paman….
satu ronde ya paman…
hahaha….
bisa juga ya, menjadi curcoll
urusan “satu ronde” itu memang selalu abadi, nggak terkekang oleh situasi dan kondisi
maksudnya, Kang??
wah..wah..ini bacaan yang bikin BT!!! [-(
kenapa?
lanjutannyah donk paman….
sabar…
atau nanya kandamu aja nDutz, mungkin beliau tahu
akhir nya jadi barapa ronde om??? huhuhu.. om bahasa nya keren aku jadi kayak mbaca kamus kejawen..
hayah, mbak ulan ni lho
aku seperti membaca Ahmad Tohari…keren sekali, pilihan kata yang tak biasa. Uncle hebat deh
eh, makasih mbak unai