“Bi, kalau aku jadi jalan, kamu jadi apa?â€
“Jadi yang lewat, dong.â€
“Wahh, curang, enak di kamu ngga enak di aku, lama-lama bisa gepeng aku, Bi.â€
“Hihi….â€
“Kalau aku jadi bunga, Bi?â€
“Tentu, jadi kumbangnya. ‘Kan kuhisap seluruh sari madumu.â€
“Kalau sarinya habis?â€
“Ya… pindah.â€
“Ah, ngga setia kalau gitu, kamu pergi begitu saja meninggalkanku menjadi layu?â€
“Kira-kira, adakah pilihan lainnya?â€
“Emmm, kalau aku perangko, Bi, kamu amplopnya ya, jadi kita nempel terus.â€
“Kalau nanti amplopnya lecek, gimana? Kamu sih enak, ada yang koleksi para filatelis itu. Lah aku?â€
“Ya, kamu dibuang di tempat sampah, hihi.â€
“Nah, sekarang siapa yang curang?â€
“Ahh, ga asyik tebak-tebakan sama kamu, Bi.â€
“Yeee, gantian dong.â€
“Boleh.â€
“Bila kamu menjadi bunga pudak, aku akan merupakan tulisan atas daunnya.†*
“Itu bukan tebak-tebakan, masa sudah dijawab sendiri? Lagi pula aku tidak mengerti, apa maksudnya?â€
“Hahaha….â€
“Bi, jelasin.â€
“Panjang penjelasannya, nanti kamu bosan.â€
“Ayolah.â€
“Gampangnya, aku menjadi pena dan kamu kertas putih yang akan kutulisi. Ngerti?â€
“Ngga… hehe.â€
“Jaman dahulu, Ra….â€
“Yaaa, mulai deh dia mendongeng.â€
“Ini mau penjelasan, ngga?â€
“Iya… iya… maaf.â€
“Saat itu, belum ada alat tulis seperti pena dan kertas yang kita kenal sekarang, Ra. Para sastrawan menggunakan tanah dan karas untuk menuliskan karyanya.â€
“Tanah… karas… aku tidak mengerti.â€
“Tanah adalah alat yang dipakai untuk menulis, sementara karas ialah bahan yang ditulisi.†**
“Terus, apa hubungannya dengan kita?â€
“Jelas ada. Bila tanah digunakan untuk menggores karas. Lama kelamaan akan semakin berkurang, tak jarang patah. Mirip seperti pensil di saat sekarang ini.â€
“Apa yang terjadi pada karas, kemudian?â€
“Di tubuhnya, terdapat goresan-goresan, Ra, seperti luka. Tapi, di sanalah semua karya sastra tertera, ditatah begitu hati-hati sampai sebuah karya tercipta, dapat dibaca.â€
“Aih, hebat ya.â€
“Emang sudah mengerti?â€
“Sudah. Kerelaan hati tanah untuk berkurang, patah. Kesediaan karas untuk tergores, luka. Ya, kan?â€
“Kamu pintar juga, Ra.â€
“Hihihi….â€
—
Pustaka:
Zoetmulder, P.J., “Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandangâ€, Penerbit Djambatan., 1985.
*) Halaman: 162
**)) Halaman: 154
Keterangan:
Bunga Pudak atau daun Pandan, biasa digunakan oleh penyair untuk menuliskan kisah asmara. Caranya dengan menggoreskan sesuatu –benda runcing- di atasnya, kemudian akan menghitam dan bisa dibaca.



kalo saya Mini, kamu jadi Miki nya yaa… hohoho
wah, uncle goop nih bacaannya berat.. sampai Kalangwan Sastra Jawa Kuno segala… heheh..
[Jawab?]
goop menjawab:
gimana kalau saya unclegoop dan kau aunty goop? hihi
[Jawab?]
neng fey menjawab:
waaaah mini ama paman!! hihihi
[Jawab?]
goop menjawab:
Neng Fey setuju ngga? hihihi
neng fey menjawab:
hmm..setuju ga yah???
goop menjawab:
ehehe….
ditunggu lho jawabannya
Wah, ternyata lagi romantisan…
Anak dibawah umur, harus tutup mata nih…
[Jawab?]
goop menjawab:
kenapa tutup mata?
adakah yang salah?
[Jawab?]
wah wah…romantis banget nih!!!!
[Jawab?]
goop menjawab:
ini belajar dari kandamu, nDutz hihi
[Jawab?]
Cie cie cie.. So sweet..
[Jawab?]
goop menjawab:
haiyah
makasih mas
[Jawab?]
Tebak-tebakan yo…
Makan buah apa yang kalo kebanyakan bisa bikin kita dikejar-kejar orang ?
……………….
……………….
……………….
Jawabannya makan buah dapet ngembat dari pohon tetangga, hehehe…
Biasanya kalo cuman satu dua sih masih dimaklumi, tapi kalo dah sepohon diembat semua bisa-bisa dikejar-kejar sambil bawa parang tuh.
(ini bukan pengalaman pribadi lho !)
[Jawab?]
goop menjawab:
hihihi, pengalaman pribadi juga ngga papa kok mas
makasih yak
[Jawab?]
tebak-tebakan romantis ya?
hmmmm kalau aku bantal…kamu sarungnya.
kalau sarung dicuci, bisa pake sarung lain hahahaha
[Jawab?]
goop menjawab:
waduhhh….
no comment ah
[Jawab?]
Kok kayak lagu PMR ya mas? Jangan2 fans beratnya.. HEhehehe
Tapi bagus loh, semoga bisa cepat terealisasi ya; main tebak2an dengan “mbak ara” mu..
[Jawab?]
goop menjawab:
amiennn….
makasih mbak
[Jawab?]
wah bacaannya berat, saya mah cuma baca majalah saja. itupun majalah anak anak -Bobo
….uncle lagi lagi hebat.
[Jawab?]
goop menjawab:
mbak unai baca Bobo untuk putranya, ah itu lebih hebat….
[Jawab?]
ahhh saya nyari bunga pudak dulu dehhh mau menulis kisah asmara saya… kekkekekekekke
[Jawab?]
goop menjawab:
udah ketemu belum?
[Jawab?]
wohohohoh… mini & miki .. uncle & aunty . .prikitiiwwww
[Jawab?]
goop menjawab:
keren, kan, dabz?
[Jawab?]
uncle, kasih saya satu tebakan dong..
[Jawab?]
goop menjawab:
nggg… apa yak?
[Jawab?]
diam2 menghanyutkan….
[Jawab?]
goop menjawab:
kayak sungai aja mas
[Jawab?]
Waaah… keyen deh om
(^0^)
[Jawab?]
goop menjawab:
terima kasih
[Jawab?]
seth…. si oom ni… XD
romantis abiezzz….
[Jawab?]
goop menjawab:
haiyah
makasih yak
[Jawab?]
Haiz…
Dasar wanita… Hobi digombali…
Kapan kapan posting tentang baratayudha ya paman.. *ngarep*
[Jawab?]
goop menjawab:
Baratayudha Goen tuh jagonya
eh, memang wanita hobi digombali, kan?
[Jawab?]
Daleeemmmmm..ah shit..luka itu bisa jadi karya sastra gitu?
[Jawab?]
goop menjawab:
bekas luka mungkin mbak
yang terbaca, tertera di sana
[Jawab?]
aih abi eh paman…suka main tebak-tebakan sama umi
paman, apa benar cinta itu adalah rela berkorban??
[Jawab?]
goop menjawab:
sebagian dari artinya mungkin iya? bener ngga sih?
kalau aku sih ngga mau dikorbanin, hihihi
[Jawab?]
maaf, jangan kasih tebakan dulu yaaaa
[Jawab?]
goop menjawab:
ah padahal hadiahnya menarik sangat, Pak
[Jawab?]
ah, abi goop.. andai ummi goop itu ada, pasti dia tergila2 pada kelembutan hatinya abi ya..
*mlayu*
[Jawab?]
goop menjawab:
udah ada kok, bro
lagi ngumpet aja
[Jawab?]
sudah dapatkan aunty goopnya?
[Jawab?]
goop menjawab:
belum mbak, masih ngumpet, ini lagi mencarinya
[Jawab?]
Kalo kamu jadi toilet?
[Jawab?]
goop menjawab:
kamu yang duduk
[Jawab?]
kayak lagunya BIP ajah…..
[Jawab?]
goop menjawab:
haha BIP oiya ya
[Jawab?]