Banyak sekali hewan yang hidup bersama saya. Agaknya, saya harus merevisi tentang ke-sendiri-an saya.

Semut berukuran kecil dan lembut biasa berarak, berbaris rapi di lantai dan tembok. Mereka seperti dikomando; menyerbu, bila ada sisa teh hangat di gelas yang lupa diminum.

Gelas akan riuh, hiruk pikuk dengan pergerakan semut-semut di dalamnya. Hasil akhirnya, permukaan gelas yang bersih, licin dan kering karena ulah semut itu.

Beberapa semut ada pula yang tidak beruntung lantaran bila saatnya tiba gelas dicuci, ada yang turut tercuci. Kasihan sekali mereka: terapung-apung, gelagepan dan hanyut. Barangkali kemudian mereka akan mati bercampur bersama sabun dan air limbah.

Semut yang besar dan berwarna merah lain lagi tempatnya mangkal. Di sekitar tempat sampah, pada pegangannya mereka wara-wiri. Menyulitkan sekali bila tiba saatnya sampah harus dibuang. Bentuknya yang besar, merah, membuat seram. Terkadang merambat di tangan; dikibaskan sebal, kemudian mati terinjak.

Bila ternyata masih ada yang menempel di tempat sampah, maka akan terbawa ke tempat penampungan. Entah apa yang terjadi di sana, apakah ikut terbawa truk ke tempat pembuangan akhir, ataukah terbakar bersama sampah lain saat ada penduduk yang rajin membakar sampah?

Satu lagi yang kerap bernasib malang adalah kecoa. Entah di mana tinggalnya binatang coklat kehitaman ini. Tiba-tiba saja sering terbang dan hinggap di tubuh. “Tass!” jentikan kuat jari mengusirnya jauh; terpental, menabrak tembok, menggelepar.

Satu saat akan mondar-mandir tanpa rasa bersalah di lantai. Entah karena tidak menemukan sasaran berupa bola, atau sebab lain. Kaki saya suka usil, menendang, menginjak kecoa yang malang itu. “Kress!” gepenglah kecoa itu.

Aneh memang binatang satu ini. Tempat tinggalnya suka tidak terduga. Di kamar mandi dia akan ngumpet di tempat sabun; di belakang gantungan baju dari kayu. Mungkin karena kaget: kecoa terjatuh, bersamaan dengan saya mengguyurkan air ke tubuh.

Kecoa itu berada pada posisi terbalik. Kakinya yang berpasang-pasang bergerak kebingungan di udara. Berusaha keras dia mengembalikan posisi tubuhnya ke posisi awal dan kemudian bisa berlari.

Saya memang memperhatikan, tapi tak berusaha untuk sekedar menolong. Masih asyik mandi, mengguyurkan air. Akhirnya, kecoa tenggelam bersama dengan air sisa ke saluran pembuangan, hanyut, mati.

Beruntunglah cicak yang berada jauh dari saya. Saya tidak mengerti kisahnya, kecuali yang dulu menempel di tembok menjadi bangkai. Entah apa yang terjadi pada cicak, mungkinkah sebuah akhir yang tragis sama seperti binatang lainnya?

Saya bukanlah pembunuh, ataukah iya? Mungkin semua binatang: semut kecil, semut merah, kecoa, memang telah sampai pada titimangsa hidupnya. Menghadapi kematian. Barangkali saya hanyalah perantara, melalui air sabun melalui guyuran air melalui sampah yang terbakar. Tetapi mengapa, saya bahkan sedikit terharu pun tidak? Tak merasa bersalah? Apakah ini -lagi-lagi- sebuah kewajaran? Tertawa, jumawa di atas kematian di tengah penderitaan bersama dengan seringai malaikat pencabut nyawa.