“Ke pantai lagi?”

“Iya, yukk.”

Kamu mengerjapkan matamu; manja. Apa sih menariknya, pantai? Dalam hati aku bertanya-tanya. Kali ini, pagi belum lagi terang. Kamu sudah merengek-rengek mirip anak kecil menginginkan mainan. Aku tidak sedungu kerbau, tapi bila kamu sudah memintaku apa yang tidak untukmu?

Kemarin dulu kamu minta diantar ke pantai. Terkadang atau sering kali aku tak memahamimu. Di pantai kamu hanya diam melihat cakrawala menelan mentari yang lelah menyepuh laut dengan warna jelaga. Hebatkah semua itu?

“Bi, kita cari yang banyak nelayan pulang melaut, ya.”

“Oke.”

“Abi kenapa, marahkah?”

“Marah, kenapa harus marah?”

“Oh, ya sudah.”

Kira-kira apa yang paling pas untuk memberimu pelajaran? Sebuah jitakan, tonjokan di lengan atau pelukan. Eh, pelukan? Enak saja, kamu pasti akan kegirangan. Tidak saat ini, mungkin. Sudahlah, kudiamkan saja barangkali.

Brrr dingin sekali pagi ini. Kamu tidak mengeluh, padahal biasanya bila dingin seperti ini kamu akan begitu cerewet: “Peluk aku, Bi.”

Bergetar seluruh tubuhmu menahan dingin. Berulang kali kamu betulkan jaketmu; melipat lenganmu di depan dada. Sampai di sebuah gundukan pasir kamu berhenti. Kamu duduk begitu saja, memeluk lutut. Sesekali melirik ke arahku; takut-takut dan khawatir.

Apa pula yang kulakukan ini? Berdiri mematung seolah tak hirau akan hadirmu di sana. Melawan angin laut yang dingin dan basah; diam dan berlagak tak butuh. Padahal, seandainya kamu bergumam: “Ke sini, Bi, mendekatlah padaku.” Tentu aku akan salah menerjemahkannya sebagai: “Ke sini, Bi, peluk aku.”

Hahaha, jumawa meraja di dadaku. Kemarahan dungu yang pintar kumainkan membuatmu percaya. Membuta kamu berpikir aku benar-benar marah; terpaksa mengantarmu di dingin pagi ini. Ya ya ya, aku menyerah. Mengendapkan egoku dan duduk di sampingmu.

Tapi, hey! Belum lagi aku duduk. Sebuah tiang layar timbul tenggelam di batas kaki langit. Mula-mula ujung tertinggi tiang yang kelihatan. Perlahan-lahan, badan perahu pun nampak, tak begitu besar, masih terombang-ambing. Bersamaan dengan jilatan ombak yang membuih di pantai, nelayan itu satu per satu turun dan menarik perahu ke bibir pantai.

“Ra, mereka sudah sampai, tidakkah kamu ingin melihatnya?”

“Tidak, duduklah di sini, Bi.”

Kamu menepuk-nepuk pasir di samping tempatmu duduk. Bersungut-sungut aku pun mengikuti perintahmu. Apa lagi ini? Bukankah kamu tadi memintaku ke pantai yang banyak nelayan pulang melaut? Aku menduga karena kamu ingin melihat kesibukan mereka.

“Lihatlah mereka, Bi, bukankah mereka selalu pulang?”

Aku masih diam; dalam hati aku membatin: “Ya, iyalah ini kan rumah mereka.”

“Tak inginkah kamu memiliki sebuah pelabuhan, Bi, pelabuhan di mana kamu akan berlabuh, di mana kamu akan pulang?”

“Buat apa? Aku sudah punya rumah, yah, meski itu rumah Bapak dan Ibu.”

“Hihihi, bukan itu, Bi.”

“Lantas?”

“Sebuah hati, Bi, hati tempatmu akan pulang, melabuhkan semua rasamu itu.”

“Nggg.”

Rasaku, rasaku yang mana? Aku benci bila kamu sudah berteka-teki seperti ini. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang kamu bicarakan. Tetapi, tentu saja aku tidak akan mengakuinya, aku justru berlagak mengerti. Tidak membantah tidak menjawab, hanya diam. Terima kasih ya, Ra, karena kamu tidak pernah memaksaku menjawab semua pertanyaanmu. Kamu malah menyandarkan kepalamu di bahuku, membuatku tenang; gamang.

“Kamu pasti belum pernah mendengar hikayat kerang*, ya kan, Bi? Ahh, padahal Sukab sudah menceritakannya dengan indah.”

“Apa hubungannya?”

“Entahlah”

“Logh?!”

“Nelayan itu, Bi, selalu pulang. Memanfaatkan rasi bintang menunjukkan jalan pulang. Terkadang hujan badai menghadang. Tetapi, sebisa mungkin mereka pulang.”

“Hmmm”

“Anak istri mereka ada di rumah; harap-harap cemas menunggu mereka datang. Sebuah pertemuan yang menggembirakan. Hulu semua kebahagiaan, menjalin renda-renda kehidupan. Apalah letih, yang ditukar senyuman? Apalah buih, yang diganti kecupan? “

“Yah, aku sedikit mengerti,Ra.”

“Tak inginkah kamu sebuah tempat pulang, Bi? Menjadi seperti kerang yang berubah karang. Pula kerang yang digoreng menjadi sari-sari kehidupan. Bila kamu pulang, mungkin kamu bisa menjadi karang pelindung bisa menjadi sari-sari kehidupan.”

“Tetapi ke mana, Ra? Bagaimana hatimu? Bolehkah aku pulang ke sana?”

“Hihihi”

Aku benci lagi bila kamu tertawa menggoda. Tetapi aku senang bila kamu meninggalkan kecupan lembut di pipiku sebelum kemudian berlari.

___

*) Bacalah sekelumit hikayat kerang di sini

asal gambar