Home » kamar hati

Pantai Kerang dan Karang

5 September 2008 375 views 79 Comments

“Ke pantai lagi?”

“Iya, yukk.”

Kamu mengerjapkan matamu; manja. Apa sih menariknya, pantai? Dalam hati aku bertanya-tanya. Kali ini, pagi belum lagi terang. Kamu sudah merengek-rengek mirip anak kecil menginginkan mainan. Aku tidak sedungu kerbau, tapi bila kamu sudah memintaku apa yang tidak untukmu?

Kemarin dulu kamu minta diantar ke pantai. Terkadang atau sering kali aku tak memahamimu. Di pantai kamu hanya diam melihat cakrawala menelan mentari yang lelah menyepuh laut dengan warna jelaga. Hebatkah semua itu?

“Bi, kita cari yang banyak nelayan pulang melaut, ya.”

“Oke.”

“Abi kenapa, marahkah?”

“Marah, kenapa harus marah?”

“Oh, ya sudah.”

Kira-kira apa yang paling pas untuk memberimu pelajaran? Sebuah jitakan, tonjokan di lengan atau pelukan. Eh, pelukan? Enak saja, kamu pasti akan kegirangan. Tidak saat ini, mungkin. Sudahlah, kudiamkan saja barangkali.

Brrr… dingin sekali pagi ini. Kamu tidak mengeluh, padahal biasanya bila dingin seperti ini kamu akan begitu cerewet: “Peluk aku, Bi.”

Bergetar seluruh tubuhmu menahan dingin. Berulang kali kamu betulkan jaketmu; melipat lenganmu di depan dada. Sampai di sebuah gundukan pasir kamu berhenti. Kamu duduk begitu saja, memeluk lutut. Sesekali melirik ke arahku; takut-takut dan khawatir.

Apa pula yang kulakukan ini? Berdiri mematung seolah tak hirau akan hadirmu di sana. Melawan angin laut yang dingin dan basah; diam dan berlagak tak butuh. Padahal, seandainya kamu bergumam: “Ke sini, Bi, mendekatlah padaku.” Tentu aku akan salah menerjemahkannya sebagai: “Ke sini, Bi, peluk aku.”

Hahaha, jumawa meraja di dadaku. Kemarahan dungu yang pintar kumainkan membuatmu percaya. Membuta kamu berpikir aku benar-benar marah; terpaksa mengantarmu di dingin pagi ini. Ya ya ya, aku menyerah. Mengendapkan egoku dan duduk di sampingmu.

Tapi, hey! Belum lagi aku duduk. Sebuah tiang layar timbul tenggelam di batas kaki langit. Mula-mula ujung tertinggi tiang yang kelihatan. Perlahan-lahan, badan perahu pun nampak, tak begitu besar, masih terombang-ambing. Bersamaan dengan jilatan ombak yang membuih di pantai, nelayan itu satu per satu turun dan menarik perahu ke bibir pantai.

“Ra, mereka sudah sampai, tidakkah kamu ingin melihatnya?”

“Tidak, duduklah di sini, Bi.”

Kamu menepuk-nepuk pasir di samping tempatmu duduk. Bersungut-sungut aku pun mengikuti perintahmu. Apa lagi ini? Bukankah kamu tadi memintaku ke pantai yang banyak nelayan pulang melaut? Aku menduga karena kamu ingin melihat kesibukan mereka.

“Lihatlah mereka, Bi, bukankah mereka selalu pulang?”

Aku masih diam; dalam hati aku membatin: “Ya, iyalah ini kan rumah mereka.”

“Tak inginkah kamu memiliki sebuah pelabuhan, Bi, pelabuhan di mana kamu akan berlabuh, di mana kamu akan pulang?”

“Buat apa? Aku sudah punya rumah, yah, meski itu rumah Bapak dan Ibu.”

“Hihihi, bukan itu, Bi.”

“Lantas?”

“Sebuah hati, Bi, hati tempatmu akan pulang, melabuhkan semua rasamu itu.”

“Nggg….”

Rasaku, rasaku yang mana? Aku benci bila kamu sudah berteka-teki seperti ini. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang kamu bicarakan. Tetapi, tentu saja aku tidak akan mengakuinya, aku justru berlagak mengerti. Tidak membantah tidak menjawab, hanya diam. Terima kasih ya, Ra, karena kamu tidak pernah memaksaku menjawab semua pertanyaanmu. Kamu malah menyandarkan kepalamu di bahuku, membuatku tenang; gamang.

“Kamu pasti belum pernah mendengar hikayat kerang*, ya kan, Bi? Ahh, padahal Sukab sudah menceritakannya dengan indah.”

“Apa hubungannya?”

“Entahlah…”

“Logh?!”

“Nelayan itu, Bi, selalu pulang. Memanfaatkan rasi bintang menunjukkan jalan pulang. Terkadang hujan badai menghadang. Tetapi, sebisa mungkin mereka pulang.”

“Hmmm…”

“Anak istri mereka ada di rumah; harap-harap cemas menunggu mereka datang. Sebuah pertemuan yang menggembirakan. Hulu semua kebahagiaan, menjalin renda-renda kehidupan. Apalah letih, yang ditukar senyuman? Apalah buih, yang diganti kecupan? ”

“Yah, aku sedikit mengerti,Ra.”

“Tak inginkah kamu sebuah tempat pulang, Bi? Menjadi seperti kerang yang berubah karang. Pula kerang yang digoreng menjadi sari-sari kehidupan. Bila kamu pulang, mungkin kamu bisa menjadi karang pelindung bisa menjadi sari-sari kehidupan.”

“Tetapi ke mana, Ra? Bagaimana hatimu? Bolehkah aku pulang ke sana?”

“Hihihi…”

Aku benci lagi bila kamu tertawa menggoda. Tetapi aku senang bila kamu meninggalkan kecupan lembut di pipiku sebelum kemudian berlari.

___

*) Bacalah sekelumit hikayat kerang di sini

asal gambar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

RSS feed | Trackback URI

79 Comments »

Comment by AngelNdutz
2008-09-05 11:09:31

pertamax???

 
Comment by AngelNdutz
2008-09-05 11:10:49

yeah!!i gotcha!!!

waahhh…jadi pengen cepet2 punya tempat pulang :(

 
Comment by AngelNdutz
2008-09-05 11:12:00

hwetric dulu ah…. :-”

*gak boleh marah lho, kan pwsa ;))

Comment by goop
2008-09-05 11:31:05

walah…
sabar-sabar…
*sms nazieb, ngandakke bojone, ah* :mrgreen:

 
 
Comment by Ina
2008-09-05 11:30:46

dah nemu pelabuhan hati blm?

kl belom ,ndang dicari sono… :D

Comment by goop
2008-09-05 11:32:11

sudah kok…
auntiegoop, hehehe

Comment by edy
2008-09-05 12:23:22

kenalin dong… :roll:

(Comments wont nest below this level)
Comment by goop
2008-09-05 22:01:13

bentar yak, ohm… :lol:

 
 
 
 
Comment by neng fey
2008-09-05 12:53:36

ya ke pantai ya emang gitu doang enaknya, bengong2, liat nelayan, maen air, masih mendingkan dari pada minta ditemenin belanja, hehehe

Comment by goop
2008-09-05 22:02:43

tapi saya pernah kok, nemenin belanja hihi

 
 
Comment by Gempur
2008-09-05 13:17:33

ah.. Masya Allah.. romantis banget ueeyyyy… sayang saya orang yang dingin sedingin es kata istri saya… ndak bisa romantis.. huh.. jadi pengen marah pada diri sendiri…

Comment by goop
2008-09-05 22:03:34

sudah marah belum, pak?
janganlah suka marah apa lagi puasa nih sekarang hihi

 
 
Comment by Gun
2008-09-05 14:27:49

Sini, peluk aku, Om…

*muntah*

Comment by goop
2008-09-05 22:04:56

*cihh!!*

 
 
Comment by darnia
2008-09-05 14:48:03

pengen nonton “live show” adegan di atas :”>

*siap-siap tissue….. buat bungkus kerang*

Comment by goop
2008-09-05 22:06:06

kenapa kerangnya? kok dibungkus? :mrgreen:

 
 
Comment by itikkecil
2008-09-05 14:49:19

Apakah sudah ada aunty goop nya paman?
cari gih sana…
*digampar*

Comment by goop
2008-09-05 22:06:39

mau bantuin nyariin, mbak? :lol:

 
 
Comment by ulan
2008-09-05 15:37:57

wooooo good ommm goooddd..
jadi aunty goop nya mana?? kemaren aku bilang kan sampai anak ku lahir kamu dia harus udah punya tante, nah ternyata di kasih waktu lebih lama, jadi sebelum aku hamil lagi harus udah ada calon nya ya..
*maksa*

Comment by goop
2008-09-05 22:07:26

ya bisa aja sih, asal mbak ulan bantuin hihi

 
 
Comment by iman brotoseno
2008-09-05 18:06:36

saya selalu suka pantai, laut entah kenapa..
semoga pencarianmu menemukan pelabuhan hati dipantai sana. Jauh dibalik matahari terbenam

Comment by goop
2008-09-05 22:12:11

-amien-
bisa diubah ngga, mas?
jangan jauh-jauh di balik matahari dunk, gelap. -halah!-

 
 
Comment by Nazieb
2008-09-05 18:07:56

Tokohnya bernama Ra & Bi, jadi kapan sampeyan rabi? :lol:

Maaf, pakde, proyek theme-nya masih belum bisa lanjut, saya sedang di persimpangan jalan. halah..

Comment by goop
2008-09-05 22:16:07

santai zieb, untuk theme itu… anggap aja latihan
*sok tahu* :lol:
__
kapan rabinya?
nganu… :roll:

 
 
Comment by Jumawa
2008-09-05 18:23:06

*ngakak baca komen nazieb*

makin lama fantasi paman makin membuai saja… :p

Comment by goop
2008-09-05 22:17:35

eh, membuai bagaimana?

 
 
Comment by Ikkyu_san
2008-09-05 19:38:07

pelabuhan hati
tempat bersandar perahu kelana
tapi suatu waktu dia juga harus pergi
dan mungkin tak kan kembali lagi
(uuuh pesimis banget yak)

nice story uncle

Comment by goop
2008-09-05 22:19:03

hihi…
memang senyatanya begitu, kan, bu?
tak ada yang abadi…
apa jadikan cerita selanjutnya? :P

 
 
Comment by regsa
2008-09-06 00:28:05

kejar dia bi….
kesuwen :lol:

Comment by goop
2008-09-08 15:48:14

wah… kurang seru dong mas :mrgreen:
ben mlayu sik, sopo ngerti mbalik, hihihi

 
 
Comment by abee
2008-09-06 02:19:43

baca kalimat terakhir…….
idilah…..sikat.!

Comment by goop
2008-09-08 15:49:20

wogh… seperti keramik, mas :roll:
disikat! :lol:

 
 
Comment by yhadee
2008-09-06 06:24:59

sebagai pelajaran,, tibanin tangga aja!! :D hEEEEEEEE

Comment by goop
2008-09-08 15:51:15

jah… kejam nian :lol:

 
 
Comment by minidoor
2008-09-06 12:30:30

coba deh pantainya cilacap… heheh :D

Comment by goop
2008-09-08 15:53:36

ehem…
apakah ini berarti sebuah undangan? :oops:
bagus-bagus, kan, di sana? saya suka yang berderet dekat kilang minyak, apa ya? :mrgreen:

 
 
Comment by rasyeed
2008-09-06 17:03:33

SGA Wannabe…
Hm..gimana kalau uncle goop bikin buku… semacam kumpulan cerpen gituh ..atau malah novel?

Comment by goop
2008-09-08 16:00:47

wah… ingin sekali bisa seperti itu, mas :mrgreen:
tapi… belum tahu caranya. Panjenengan tahu?

 
 
Comment by rizky
2008-09-07 02:06:27

maaf jika isi pesan berikut mengganggu aktivitas kamu.. aku cuma mau kasih tau aja, ada sebuah situs social bookmarking yang berisi kumpulan berita-berita menarik yang paling update diseluruh indonesia,dan memang situs ini berbasis bahasa indonesia… klo nggak keberatan tolong cek situs ini yah.. semoga bermanfaat..

>>> http://www.lintasberita.com

mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini ,keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita’s widget?? cek disini aja yah

>>> http://www.lintasberita.com/tools.php

thanks…. sory klo keliatannya spamming.. but seriously… im just helping you out here…

Comment by goop
2008-09-08 16:17:12

makasih mas, atas link beritanya :mrgreen:

 
 
Comment by -tikabanget-
2008-09-07 04:16:04

jadi, kecupanku waktu itu masih kauingat, Bi..? aih.. *tersipu*

Comment by goop
2008-09-08 16:34:11

hihihi…
Bi… jawab ni, Bi… :mrgreen:

 
 
Comment by danindra
2008-09-07 09:08:00

saya anak pantai…

selalu kangen pantai…

ini retorika lagi ya tik??

Comment by goop
2008-09-08 16:52:31

kok nanya, tika? :mrgreen:

 
 
Comment by Yoyo
2008-09-07 13:46:07

Kwak, Kwik sama Kwek diajak ke pantai nggak : Uncle Goop ? … :0

Comment by goop
2008-09-08 16:53:57

ngga, ntar ganggu kalau diajak, hihi

 
 
Comment by masmoemet
2008-09-07 22:25:31

jd pgn kepante … biar mendapat kecupan … loh ??? hehehe

Comment by goop
2008-09-08 16:55:19

hehe… dikecup sama buih, mungkin, mas :lol:

 
 
Comment by edratna
2008-09-07 22:33:19

Pantai memang menimbulkan suasana romantis….

Comment by goop
2008-09-08 16:56:38

ibu, betull :mrgreen:

 
 
2008-09-08 00:18:49

Selalu saja bisa menyajikan postingan menarik dan mengundang renungan. Salute.

Comment by goop
2008-09-08 16:57:49

ehehe, makasih banyak pak ersis :mrgreen:

 
 
Comment by senimanpeta
2008-09-08 03:21:26

ceritanya panjang, tapi endingnya…:)..fiuh..

Comment by goop
2008-09-08 16:58:50

gimana-gimana, endingnya? :mrgreen:

 
 
Comment by mantan kyai
2008-09-08 13:21:33

good work. jd kapan kita nyebur k panntaii

Comment by goop
2008-09-08 17:00:14

hehe… nyeburr sendiri aja sana! :mrgreen:

 
 
Comment by escoret
2008-09-08 14:24:28

aku malah takut ombak….pie jal..????

 
Comment by goop
2008-09-08 17:01:48

yo ke gunung atau ke mana gitu, ohm…
jah… mosok preman takut sama ombak? hihihi

 
Comment by dEEt
2008-09-09 15:29:25

whuuuuaaaa…

this story so sweeet bangeeettt deh..!!!
mdh2an cerita di atas a.k.a. khayalan-a segera terwujud om.. :mrgreen:

eh, apa ini malah pengalaman pribadi yah?!
hihi..

Comment by goop
2008-09-09 17:05:09

ini cuma cerita dt, bisa apa saja, kan? :mrgreen:

 
 
Comment by omahputih
2008-09-09 20:28:26

style dan stilistika-nya sudah mendekati seno. akan lahir penulis baru yang berkualitas, lahirlah sudah….

Comment by goop
2008-09-10 10:26:02

amien…, mohon dukungannya mas
btw, stilistika apa ya? :mrgreen:

 
 
Comment by easy
2008-09-09 21:48:06

belum punya rumah..
ga ngerti harus pulang kemana…

pelabuhan itu masih terlalu jauh untukku

Comment by goop
2008-09-10 10:29:05

owww… tidakkah berusaha mencari? :mrgreen:

 
 
Comment by Kurt
2008-09-10 00:32:36

Apalah letih, yang ditukar senyuman? Apalah buih, yang diganti kecupan? ”

sedapnya membaca ini …sastrawi banget

Comment by goop
2008-09-10 10:32:02

hihihi… makasih banyak Pak Kurt :mrgreen:

 
 
Comment by hanny
2008-09-10 08:53:46

episode home is where the heart is, ya? :)

Comment by goop
2008-09-10 10:35:03

kira-kira seperti itulah, kurang lebih :D

 
 
Comment by panda
2008-09-10 20:47:46

hanya sesekali bisa datang, tapi selalu…selalu..tersuguhkan sesuatu yang lembut…

Comment by goop
2008-09-11 12:19:08

hihi, sedang belajar Bang, melembutkan hati :mrgreen:

 
 
Comment by silly
2008-09-11 01:31:48

ya ampunnnn… so sweet banget… semoga ini bukan khayalan doang.

Aunty goop udah ada khan?… kepantai yukkk, halahhh.. :P

Comment by goop
2008-09-11 12:53:22

eh doain ya mbak sill, semoga bukan khayalan sahaja hihi
amien

 
 
Comment by sapimoto
2008-09-12 15:27:39

Wah, ternyata ini blog isinya keromantisan. Saya kasihkan alamatnya ke seseorang yang seneng dengan suasana romantis, biar datang kesini untuk baca-baca.

Comment by goop
2008-09-12 19:49:14

silakan mas, panjenengan tak suka romantis-romantisan? ;)

 
 
Comment by stey
2008-09-14 19:00:34

BATUK-BATUK…:D

Comment by goop
2008-09-16 16:47:25

Pisss…. mbak ;)

 
 
Comment by kecoak
2008-09-16 12:39:01

so sweet sekaliii….saiya menggelinjang sambil ngedip2 geli ngebacanya..hihihii