batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Pahlawan Perang dan Gila

Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB 37 komentar
Ditulis oleh Sridewanto Edi dalam loteng baca

Pahlawan adalah sesuatu yang dibuat dan dibutuhkan

Dahulu saya mengenal: “Knight Rider”, “Satria Baja Hitam”, BA Baracus dari “The A Team” sebagai pahlawan-pahlawan saya. Kepala saya masih mengingat dengan jelas, bila Kotaro Minami merapalkan mantra “Berubah!” maka dapat dipastikan penjahat yang bagaimanapun saktinya tak akan mampu bertahan.

Saat bermain-main bersama teman di Sekolah Dasar, di sesela istirahat akan berubahlah saya atau boleh juga teman saya menjadi “Satria Baja Hitam”. Lucu sekali saat itu, melakukan gerakan memutar tangan setengah lingkaran di depan dada dan berteriak keras-keras. Persis seperti Kotaro Minami.

Saat itu, saya membutuhkan Kotaro Minami dan jagoan-jagoan lain sebagai pahlawan saya. Terkadang lengkap dengan atribut yang digunakan, termasuk kostum dan gerakan-gerakan aneh mereka. Sekarang barangkali sosok pahlawan dapat ditemukan dalam “The Legend of Ang” atau “Naruto”.

***

Adakah pahlawan ini?

Bila seorang pahlawan adalah dia yang dibutuhkan kehadirannya; dia yang dibuat agar ada kiblat ke mana kita akan memalingkan muka. Menjadi teladan bertingkah laku; mengorbankan dirinya untuk kepentingan yang lebih luas.

Saya tidak pernah merasa simpatik kepada seorang tentara, sampai kemudian perang terjadi*. Dalam perang, semua hal bisa dan mungkin terjadi. Sebelum perang, seorang tentara akan berpamitan kepada istrinya; kepada anak-anaknya yang masih kecil.

Diiringi linangan air mata istri yang memandang penuh kekhawatiran dan harap. Tangis bocah yang ingin ikut dan memberati langkahnya. Tentara tetap berjalan dengan tegap. Menepiskan semua ragu, gundah dan cemas. Meski janji barangkali tak pernah diucapkan karena tak ada jaminan yang bisa diberikan – akankah dia pulang dengan selamat? Ataukah pulang hanya tinggal nama saja?

Perang, mungkin dilakukan untuk kepentingan yang agung. Tegaknya sebuah negara, sebuah kepentingan nasional yang -bila boleh dikatakan- lebih besar. Korban selalu diminta dari sebuah perang, entah dalam bentuk cacat fisik, cacat mental dan bahkan nyawa.

Kantung-kantung mayat akan terisi jasad yang menjadi korban dari perang. Bagian tubuh yang hilang dan menjadi cacat. Sebuah masalah mental yang akut karena selamat sementara teman yang lain tidak. Kegilaan yang tidak bisa dihindari, trauma pasca perang yang mengawal langkah-langkah kaki bahkan di saat damai.

Nyamankah kemudian seseorang disebut sebagai pahlawan? Bila untuk sebuah sebutan ini, nyawa orang lain menjadi penebusnya. Anggota tubuh orang lain menjadi harga; kesehatan mental adalah nilai penukarnya.

Orang yang memiliki nurani, tentu akan menyebut mereka yang telah meninggal, mereka yang cacat, mereka yang gila sebagai pahlawan yang sebenarnya. Apa yang dilakukan oleh mereka yang selamat, adalah berusaha sebisa mungkin untuk tidak terkena peluru, untuk tidak terkena pecahan mortir atau sebisa mungkin menjaga kewarasan di tengah desing peluru dan debu.

***

Bagaimana seseorang bisa mengorbangkan demikian banyak hal untuk orang lain?

Perang mungkin untuk sebuah kepentingan yang lebih besar. Perjuangan untuk kedaulatan negara dan kejayaan bangsa. Sesuatu yang mengawang-awang, tidak nyata dalam sebuah perang yang sebenarnya. Meski mungkin hasilnya, akan dapat dinikmati oleh anak cucu. Tetapi tentara, tak pernah barangkali berpikir sejauh itu.

Hidup untuk sehari lebih lama. Menghindari desingan peluru, penyakit dan pecahan mortir. Menjaga kesadaran agar tetap waras dan tidak gila. Bertahan sebisa mungkin untuk mampu menghadapi keadaan yang ekstrim.

Semua nyawa yang melayang menjadi roh-roh yang mengharumkan gelanggang perang. Semua luka yang diderita dan menjadi penanda dalam hari-hari yang akan datang, pengingat akan sebuah derita dan perjuangan. Semua risiko yang diambil untuk meraih kemenangan dalam perang. Semua itu, dilakukan bukan untuk kepentingan bangsa yang mengawang. Semua itu, dilakukan untuk orang-orang di belakang mereka, orang di samping mereka.

***

Ada kegilaan dalam perang, sebuah kegilaan alasan, kegilaan menghamburkan amunisi dan mesiu. Kegilaan yang memunculkan pahlawan, membuat nyawa melayang, luka mendera, jiwa-jiwa gila. Di lain pihak, ada seseorang yang tergila-gila ingin menjadi pahlawan dan disebut pahlawan. Bisa jadi pahlawan kepagian, kesiangan atau pun kesorean.

Sudahkah Anda menemukan pahlawan Anda, sobat? Saya menemukannya dalam setiap makanan yang menyegarkan saat berbuka puasa. Di antara piring-piring penuh makanan saat dini hari ketika sahur menjelang. Seorang pahlawan cantik yang sibuk sendiri saat sore dan dini hari. Setiap mereka yang bernama Ibu, menjadi pahlawan pada hari-hari ini, hari yang telah lalu dan hari yang akan datang.

Seorang yang tidak membuat gila, yang tidak tergila-gila disebut pahlawan. Bahkan mungkin tidak sadar dirinya adalah seorang pahlawan. Satu hal yang pasti, pahlawan ini menyelamatkan perut-perut yang gila karena lapar. Menyiapkan perut-perut menghadapi kegilaan akan lapar.

Lihatlah juga di sana :

Perang

Hero

Pemimpin

Sebuah film berjudul “Flags of Our Father” telah menjadi inspirasi dari tulisan ini.

*) Five for Fighting – Freedom Never Cries

Asal gambar

37 komentar »

  1. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    danisdad berkata...

    Tulisan yang berujung tentang ibu dalam blog katanya menjadi tema dengan rangking teratas…

  2. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    danalingga berkata...

    Sebuah kata kata sakti dari novel harry potter:

    For Greater Good

  3. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    aprikot berkata...

    hummm trnyata film tak sekedar mnjadi tontonan tp dpt juga menginspirasi sebuah tulisan atau bahkan mungkin hidup seseorang, eh?

  4. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    darnia berkata...

    I believe theres a hero in all of us,
    that keeps us honest,
    gives us strength,
    makes us noble

    And finally gets us to die with pride.
    Even though sometimes we have to be steady
    and give up the thing we want most,
    even our dreams

    (May Parker in Spiderman 2)

    Can’t be more agree with you, oom Goop
    my beloved Mom is my eternal hero until the end of time

  5. [...] pembenahan. Iri melihat blog lain yang bisa lancar bermain kata-kata: Ndorokakung, Pak Sawali juga UncleGoop yang mudah merangkai kalimat, malah beberapa kata saya baru tahu. Lihat seru berbalas cerita [...]

  6. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    ulan berkata...

    ah om goop buat aku pengen jadi ibu lagi..

  7. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    hanny berkata...

    pahlawan itu bisa jadi seseorang tak dikenal yang tersenyum kepada kita di kala hari kita sedang buruk-buruknya, dan membuat kita merasa segalanya akan menjadi baik-baik saja.

  8. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    hehe… kalau pun menjadi rangking teratas… tak ada yang berbeda dengan arti Ibu, ya kan?
    masih bingung, untuk apa segala rangking? :roll:

  9. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    Indah Sitepu berkata...

    Pahlawan tak selalu artinya njelimet, terkadang hal kecil yang bisa kita lakukan bisa menjadikan pahlawan bagi orang lain.

    Bukan berarti berbuat baik untuk mengejar sebuah julukan pahlawan.

    Tapi tetaplah berbuat sesuatu yang baik, untuk dirimu, untuk orang lain, untuk siapa saja…..

  10. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    maksudnya, bagaimana pula itu Bang? :mrgreen:

  11. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    Jumawa berkata...

    *buru buru sms ibu*

  12. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    ah iya, itu benar sekali git ;)
    jadi bagaimana kalau nonton bareng? :mrgreen:
    *dipentung*

  13. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    thank you darnia :mrgreen:

  14. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    hiks… maap, mbak :D
    ngga papa, kan? :mrgreen:

  15. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    yupe, seseorang yang demikian berarti, yes?

  16. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    yupe… tetap berbuat baik, jangan lelah, yak? :mrgreen:
    makasih

  17. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    aku ngga bisa, ibuku tak ada hape :mrgreen:

  18. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    AngelNdutz berkata...

    ah…paman membuat Ndutz ingin jadi Ibu :mrgreen:

  19. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    bentar ya nDutz, kubilang ke kandamu dulu
    Ziebbb…. piye iki? :lol:

  20. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    Yoyo berkata...

    buru-buru pulang ah, buka bareng istri sama ibu mertua…. :)

  21. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    wahhh enaknya :mrgreen:
    selamat berbuka ya, Kang :D

  22. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    sawali tuhusetya berkata...

    wah, pemaknaan istilah pahlawan yang menyentuh, mas goop. saya jadi berpikir, jangan2 setiap orang memiliki tafsiran yang berbeda2 tentang makna pahlawan….

  23. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    Ikkyu_san berkata...

    Biasanya wanita akan menganggap pahlawan itu adalah seorang laki-laki pujaannya yang memenuhi syarat diri pribadi. Jarang ada wanita menyebut sesama wanita (well ibu itu sesama wanita kan?) sebagai pahlawan, meskipun jika kita keluar dari “gender”, saya setuju ibu disebut pahlawan. Dan mungkin karena pahlawan itu konotasinya dengan perang seperti kata Anda di atas, maka mungkin saya akan lebih memilih menyebut ibu sebagai malaikat.

    EM

  24. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    Adesti KOmalasari berkata...

    It turns out that I am already becoming your fans (of your blog). Hahaha..I start admiring your words. Indeed.

  25. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    moerz berkata...

    http://photos.gilaupload.com/images/2nS54395.jpg

    bisa paman…
    coba deh..
    baca bismillah dulu makanya..
    hehe..

  26. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    yhadee berkata...

    siapa sih yang pantas disebut pahlawan??? yaHHH malah nanya lagi,,,:D

  27. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    yusdi berkata...

    sebenernya kita tidak perlu menjadi pahlawan. jadilah diri kita sendiri. jika memang tepat, maka kata pahlawan itu akan bersanding di pundak kita…..

  28. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    bisa juga seperti itu, kan Pak :mrgreen:

  29. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    hehehe… Ibu EM habat nian, saya tidak pernah terpikir pahlawan dari sisi gender. Tapi, bagaimana dengan Ibu Kartini?
    Dus.. saya setuju Ibu adalah malaikat.
    -terima kasih, Bu- :D

  30. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    waoww… really?
    thank you very much, Ibu :mrgreen:

  31. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    ngga tahu tuh, tetep aja ngga bisa…
    btw, makasih emailnya yak!

  32. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    ho’o… kira-kira siapa yak, mas :mrgreen:

  33. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    nah, tepat ini yang bagaimana, bro? :roll:

  34. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    minidoor berkata...

    ibu saya adalah pahlawan saya.. hehe :D
    ntar nyari ah filmnya, Flags of our father.. udah sering liat covernya, tp blm sempet nonton.. :D

  35. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    unai berkata...

    ibu, perjuangan hingga akhir hayat uncle…

  36. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    nonton bareng aja gimana? :mrgreen:

  37. Pada Wednesday, 3 September 2008 pukul 9:42 WIB,
    goop berkata...

    yupe, benar sekali mbak, makasih :mrgreen:

RSS komentar untuk tulisan ini URI Lacak balik

Tinggalkan Komentar