batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Suci September

Tuesday, 30 September 2008 pukul 1:00 WIB 18 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Tak nyenyak tidur

Terbangun sahur

Banyak tafakkur

Mengucap syukur

Menahan nafsu

Perut ngilu

Lidah kelu

Nafas Bau

Bulan ini suci

Menahan diri

Sucikan hati

Dengarkan nurani

Sudahkah?

Benarkah?

Terjadikah?

Sudah?

Ada yang menang

Tabuh genderang

Bertakbir lantang

Semena mengekang

Berebut zakat

Menjadi mayat

Menahan syahwat

Menjadi penat

Bulan ini suci

Menahan diri

Sucikan hati

Dengarkan nurani

Sudahkah?

Benarkah?

Terjadikah?

Sudah?

__________

Selamat Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

asal gambar

Bahagia, Hati dan Bimbang

Friday, 26 September 2008 pukul 9:29 WIB 14 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

Telah sampai waktuku. Aku harus memilih, meneruskan perjalanan ini atau berhenti. Terus berarti semakin banyak tantangan yang mungkin akan kuhadapi. Bermakna halangan yang menunggu untuk kulewati. Berhenti berarti aman; menjalani hari dengan sabar, mengendapkan bosan.

Mungkin aku akan memilih untuk terus, meski sebenarnya aku telah lelah dan capek. Sisa-sisa yang kini menjadi bahan bakarku. Seperti mesin yang mendekati rusak, suaranya sudah aneh, keluar asap yang mengepul bergulung-gulung.

Pilihan apa yang kutemui bila aku tinggal? Sebuah hari yang itu-itu juga. Detik demi detik yang sama. Aku khawatir nantinya ‘kan bosan. Apa menariknya dari tinggal dan berhenti? Otakku akan tumpul; tubuhku menggendut, kakiku melumpuh, otot-ototku mengerut.

Ah, tidak-tidak… Aku sampai pada simpang jalan. Tetapi tetap harus memilih, berjalan terus ataukah tinggal. Ya, dan kamu, Ra, adalah alasanku untuk kedua jalan yang membentang itu.

Aku memerlukan alasan kali ini, sekedar pembenaran atau apalah namanya yang akan mendasari pilihanku. Aneh, biasanya aku tidak pernah berpikir untuk berhenti, untuk tinggal. Aku mengejar matahari, hari demi hari. Tidak pernah menemuinya meski barang sekejap. Itu kan mimpiku, menjadi matahari, menerangi. Tetapi aku lelah dan sekaligus bersemangat di saat yang sama.

Aku bersemangat dan lelah, lelah dan bersemangat. Apa sih maksudku ini. Ra, punyakah kamu jawabannya?

***

“Ra, kupeluk, ya?”

Ah, bodoh! Untuk apa segala pranata? Biasanya juga langsung mendekap, erat. Tetapi, sekali-kali boleh, kan? Hihihi, dan aku suka reaksimu. Kamu melihatku aneh, seakan-akan baru saja bertemu dengan orang baru. Tetapi kamu selalu maklum dengan semua itu. Tersenyum, dan kemudian mengangguk pelan, begitu pelan.

“Ra, aku lelah.”

Kamu bereaksi mendengar kata-kataku itu. Mengendur sedikit lenganmu yang melingkari leherku. Kamu memindahkannya ke belakang kepalaku, mengacak rambutku; gemas. Aku geli.

“Lelah memelukku, Bi.”

Ya… aku lelah memelukmu, mengendapkan semua debar yang menggemuruh di rongga dadaku. Kamu bahkan pernah bilang, seperti gempa di punggungmu saat aku memelukmu dari belakang, entah kapan itu.

Kenapa, ya, Ra? Meski jantungku berdegup demikian cepat namun aku nyaman saat memelukmu. Tak ingin aku melepasnya. Inilah barangkali berhenti itu, Ra. Menikmati detik demi detik berjalan yang begitu khusus. Aku jadi lupa kalau semestinya aku terus berjalan. Apakah ini pilihanku?

Na… na… na… aku bernyanyi saja apa, ya? Untuk apa? Ahh, dungu!

***

Merenda hari bersamamu, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana bila nanti kita bosan, eh, sebenarnya nanti aku yang akan bosan. Memelukmu, mencumbuimu? Kalau itu semua sudah dilakukan, lalu apa? Memelukmu lagi, mencumbuimu lagi? Hmm, sepertinya menyenangkan, hahaha.

Apa alasanku bahagia? Bila sudah tidak bosan, bila selalu merasa nyaman, atau apa? Semestinya, bukankah kebahagiaanmu adalah alasan kebahagiaanku?

Melihatmu tertawa, membahagiakanmu, bisakah? Bilakah? Senyatanya bukankah aku yang menuntut kebahagiaanku? Meski kadang dengan cara yang aneh.

Aku bahagia dulu saat melihat senyumnya, mendengar suaranya, keseluruhan gerak langkah dan lagunya. Aku juga pernah bahagia saat aku bisa mengungkapkan rasaku meski tidak berbalas, tapi aku sudah berani mengungkapkannya. Satu ketika aku meninggalkannya, menurutku itu langkah yang paling tepat untuknya. Itu semua bukan kamu, Ra. Bagian dari masa laluku, tetapi apakah “nya” ini bahagia? Aku tak pernah tahu, sepertinya ada yang bahagia ada yang tidak. Tetapi aku puas, bahagia dengan itu semua.

Semua pelabuhan itu pernah kusinggahi meski sebentar. Meninggalkannya atau ditinggalkannya. Dan kini aku melihatmu di sana, menungguku atau beranjak pergi?

Kamu menunggu aku berkata, tapi suara itu tak kunjung keluar dari bibirku. Kamu dan aku bimbang. Ini bukan masalah kata-kata. Apa setelah itu kukira yang menjadi masalahnya. Apa aku terlalu takut?

Menata hati-menata hati. Hatiku dan mu. Menentukan simpang mana akan dipilih. Menentukan apakah akan tinggal atau berjalan. Terombang-ambing kini lalu dan nanti. Menata hati-menata hati. Sampai kapan?

Bagaimana kalau kita coba saja? Setujukah kamu, Ra? Tetapi… selalu ada tetapi.

asal gambar

Hati, Pelabuhan Pencari

Monday, 22 September 2008 pukul 16:52 WIB 36 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

Kemarin kamu bertanya tentang hatiku, Bi. Kamu bilang “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?” Aku masih ingat betul pertanyaanmu itu. Kini, aku dirundung bimbang.

Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?

Sudah lama, Bi. Lama sekali hatiku ini membuka diri untukmu. Sebagai wanita tentu ada batas di mana aku tidak mungkin melanggarnya. Budaya kita tidak mengijinkanku untuk meminangmu. Aku tak punya kuasa untuk sekedar memilih; mengungkapkan rasaku padamu.

Aku telah kebal dengan semua sakit. Merindumu tanpa tahu bagaimana mengungkapkannya, Bi. Kerinduan ini menyenangkan, tetapi juga menyedihkan di saat yang sama. Aku mengeja malam-malamku sendiri, di sini tanpamu.

Kangen; salahkah, Bi, bila aku kangen padamu? Sekadar sms akan kukirimkan, “Sedang apa, Bi?” Hanya itu yang bisa kuketikkan. Aku bahkan berharap pun tidak agar kau tahu tentang kerinduan ini. Aku senang bila kamu membalas, “Lagi ngumpul, Ra, bareng anak-anak.” Ahh, lagi-lagi anak-anak.

Kurasa kamu memang kekanakan. Bermain-main bersama temanmu, selalu itu yang kamu lakukan. Tetapi aku mengerti, Bi. Kamu pembosan, sangat pembosan. Bersama mereka kamu menemukan duniamu sendiri. Tetapi, bagaimana denganku, Bi, bila duniaku adalah kamu?

Huff… duniaku? Yang benar saja. Tidakkah aku terlalu berlebihan? Tetapi, Bi, aku senang saat kamu datang satu malam. Sekedar mampir di tengah hujan. Kamu bilang akan ngumpul bareng anak-anak tetapi hujan dan kebetulan melintasi rumahku.

Aku merasa beranda menjadi lengkap, Bi. Kamu tidak lama di sana menunggu hujan. Tetapi bila kamu tahu, aku masih di sana selepas kamu pamit. Di beranda, lebih lama lagi menikmati setiap bau tanah yang bercampur-campur dengan aromamu.

Bercampur; rasaku bercampur, kamu tentu tidak tahu itu semua. Aku senang ketika kamu hendak memelukku saat itu, Bi. Iseng kamu berkata, “Brrr, dingin… bolehkah aku memelukmu, Ra?”

Entah dari mana kegilaan itu bermula. Aku luruh di pelukanmu; menghangati tubuhmu. Tetapi tahukah, aku berdebar lebih cepat, Bi. Kebat-kebit antara panas dan dingin berganti-ganti yang kurasakan.

Perlahan sekali rasa itu menghambur di tengah-tengah kita. Mungkin lebih tepat di tengah hatiku. Aku merasa tenang; damai dan nyaman dalam pelukanmu. Semenjak saat itu, aku selalu memintamu memelukku. Tatkala dingin cuaca yang sebenarnya karena dinginnya hatiku.

Sampai sekarang aku masih tidak mengerti, Bi. Yah, aku tahu bahwa kamu selalu mudah bosan. Tetapi, itu tidak terjadi ketika kamu memelukku. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi, Bi? Aku ingin tahu alasannya, berharap tahu meski tidak pernah menjadi tahu. Aku terlalu malu untuk menanyakannya. Di sisi lain, aku tidak ingin mengganggumu. Bahkan aku takut mengganggumu.

Kamu sedikit lain saat memelukku; berbeda. Semoga aku tidak terlalu percaya diri. Tetapi benarkah apa yang kurasa ini? Aku merasa kamu begitu rapuh meski kekar lenganmu melingkari erat pingganggku. Sendu, kulihat begitu dari pancaran wajahmu. Sejuta sayang yang tertahan di sana kutemukan. Rasa yang tertahan; diendapkan seperti menemu muara. Aku ingin menampungnya; menerimanya dengan sepenuh hati, tentu di samudera hatiku.

Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?

Semenjak lama kamu adalah pencari. Entah apa yang dicari. Kamu akrab dengan gemintang yang menunjukimu jalan yang seolah-olah harus kamu tempuh. Melayari samudera hati ke hati, begitu banyak hati. Terkadang kamu singgah di salah satu pelabuhan tetapi jarang lama tinggal. Entah apa yang dicari, meski sejak lama aku tahu kamu adalah pencari.

Aku khawatir sebuah hati takkan cukup untukmu. Aku takut sebuah hati akan lebih membuatmu bosan dari yang sudah-sudah. Aku tidak ingin mengekangmu; membelenggumu dengan dingin dan kosong di hatiku.

Tetapi, dingin itu, Bi, dingin itu. Mungkinkah kamu akan bisa menghangatkannya? Kekosongan itu, Bi, kekosongan itu. Mungkinkah kamu akan bisa mengisinya?

Mungkin dengan menghangatkannya; mengisinya kamu tidak akan bosan nantinya. Kamu bisa memeluknya dengan segala rapuh dan sendu. Kamu bisa menyentuh sudut-sudut yang kosong; belum terisi dengan hadirmu di sana. Apakah aku terlalu berharap?

Bolehkah juga aku berharap menemanimu mencari? Aku tidak akan membelenggumu dengan lagunaku yang tenang. Di mana ikan berenang tenang dan jelas terlihat kerang. Aku ingin mendampingimu berlayar; mencari. Biarlah aku basah dalam keringat di terik bersamamu. Ijinkan aku menikmati badai selama denganmu.

Bi, andai kamu tahu. Ketakutanku akan hatiku yang sepertinya tidak akan pernah cukup untukmu. Kegelisahanku yang khawatir akan membuatmu bosan dengan hatiku. Jadi, apakah aku harus menjawab, “Ya” Atas pertanyaanmu, “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?”

Toko, Obat dan Pil

Friday, 19 September 2008 pukul 10:29 WIB 32 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Wajah-wajah penuh harap di sebuah toko. Pegawai sibuk ke sana ke mari memenuhi pesanan; mengambilkan obat yang dikehendaki oleh pelanggan. Bos perempuan yang bertubuh gempal; berkoyo di dahinya sibuk menghitung harga obat, menerima uang, mengangsurkan kembalian dan memasukkannya baik-baik ke dalam laci.

Sebuah toko obat menjelang buka puasa. Setiap pelanggan ingin bersicepat dilayani. Menyebutkan nama obat-obatan yang aneh. Sebagian sambil meringis menahan sakit dan secepatnya butuh penawar. Sebagian yang lain diliputi khawatir mengingat si sakit di rumah yang mungkin sedang mengerang-erang.

“Obat diabetes yang mana, Pak?” Tanya pemilik toko; tersenyum.

Sambil mengernyit, seorang pelanggan, bapak-bapak setengah baya menyebutkan merk sebuah obat. Entah merasakan sakit atau memikirkan harga obat yang demikian mahal kernyitan itu harus diartikan. Lagi-lagi pemilik toko tersenyum.

Di rak-rak berbingkai kaca dan trasparan; terlindung di balik kaca berderet berbotol-botol obat dan minyak telon. Dalam kardus-kardus, tablet obat-obatan tersembunyi, satu per satu menunggu disentuh, dipilih-pilih untuk kemudian diambil.

Di sebelah bawah, deretan perlengkapan bayi mulai dari bedak sampai dengan minyak kayu putih. Semakin ke atas kian beragam jenis obat yang ada. Di rak paling atas, jauh dari jangkauan adalah beraneka ragam merk kondom. Kenapa ditaruh di atas?

Seluruh kebutuhan si sakit, sebisa mungkin dipenuhi oleh pemilik toko yang dibantu oleh pelayan-pelayan yang bergerak tangkas. Sakit gatal gara-gara jamur di antara jemari kaki, panu, kadas, kudis, kurap semua ada solusinya. Tetes mata beraneka macam, ada pula tetes hidung, tetes telinga. Pendek kata semua penyakit yang hinggap di tubuh ada penawarnya. Tak hirau di luar pada permukaan kulit atau di dalam tubuh seperti jantung, ginjal dan kadar gula darah. Tidak peduli tubuh itu seorang bayi, anak muda, orang dewasa bahkan lansia berusaha menemui penyembuh di toko ini.

Benarkah penyembuh? Bukankah sakit dan sehat sudah ada yang mengatur? Setidaknya begitu yang saya percayai. Obat hanyalah sekedar perantara, uluran tangan pembawa kasih Tuhan, penanda ikhtiar; usaha si sakit untuk memperoleh kesembuhan. Hasil akhir tak pernah bisa diketahui. Ada garis nasib yang tidak mungkin ditolak.

Akhirnya, sebuah obat murah bisa jadi membawa kesembuhan. Tak jarang bermacam obat dengan harga selangit bahkan tanda membaik pun tidak tercapai. Tetapi harapan, barangkali boleh digantungkan di antara pil-pil yang ada, tablet-tablet penyambung kehidupan, penawar gatal di kulit dan pedas di mata.

Beberapa membawa resep dari dokter. Tulisan cakar ayam yang sukar dibaca menerangkan obat apa yang harus ditebus. Selembar resep mungkin boleh diganti dengan berlembar rupiah. Tetapi penyakit tidak berhubungan dengan harga, bukan?

Penyakit menahun menyebabkan pembeli hapal obat apa saja yang harus dibeli, mereka mengandalkan kekuatan daya pikir, hapalan. Ibu saya lain lagi, beliau menggunakan pengalaman. Obat sakit kepalanya bermerk “A”, tatkala batuk, biasa sembuh bila minum obat “B”. Kemarin, saya membeli obat batuk yang disarankan oleh teman saya seorang dokter. Saat menyerahkan obat itu kepada Ibu beliau bilang, “Ah, kok sing iki, ra biasa aku.”

Berat hati Ibu meminumnya, “Yowis, ra popo etung-etung obate anak lanang.” Saya dan adik-adik harus mengawasi, sedikit memaksa sampai Ibu mau meminumnya. Sekali waktu ingin peduli ternyata sedikit kurang tepat.

Obat seperti jodoh, konon begitu juga dengan dokter. Melalui cek dan ricek, memerlukan waktu sampai dengan ditemukan obat dan dokter yang sesuai yang pas di hati.

Di antara obat dan peminumnya saling memberi, bukan?

Obat berkorban tubuhnya untuk diminum, cairan pindah ke perut, pil-pil melewati tenggorokan, tablet-tablet menyangkut di pangkal lidah. Tetes demi tetes cairan bening membeningkan mata melegakan hidung menjernihkan telinga.

Peminumnya atau bisa juga keluarga peminum tidak hanya berpangku tangan. Ada lembaran-lembaran uang yang menjadi penebus; tiap tetes cairan tiap butiran pil tiap lempengan tablet. Banting tulang dan mandi keringat bukanlah halangan demi kesembuhan dari penyakit; sedikit waktu lebih lama untuk bertahannya nyawa.

Sekali waktu, ada yang bilang, “Sugesti kepada si sakit itu lebih penting, lho.” Senyatanya tidak sepenuhnya salah pernyataan ini. Beberapa teman dokter berkata, “Seorang yang sakit cukup diberikan vitamin dan diberikan sedikit sugesti.” Eh, lah kok besoknya si sakit ini sudah baikan. Apakah khasiat obat ataukah kekuatan sugesti?

Nah, kemudian apa manfaat dari rasa buah-buahan yang ada pada sebuah kondom? Ribet amat, yak? Hehehe.

asal gambar

Wengi, Sitaresmi dan Kartika

Wednesday, 17 September 2008 pukul 10:12 WIB 30 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Bathara Kala berjalan tenang. Selalu begitu dari tahun berganti tahun, hari berganti hari. Kita mengenalnya sebagai waktu sekarang ini. Rahina dan Wengi datang silih berganti, memberikan terang saat bekerja, membawa malam saat beristirahat.

Sang Hyang Re, Radite mengutuki hari dengan panasnya. Memuaikan ubun-ubun menjadi uap ide dan pikiran. Menguarkan bau tubuh, keringat dan lembab. Membacai setiap makhluk yang ikhlas yang bersyukur bagaimanapun susahnya hidup. Menelikung mereka yang lelah menggumuli berkas, yang berkeringat kehausan. Madah syukur berkelindan di antara umpatan, keluh kesah. Warna-warni siang.

Sang Sitaresmi setia muncul seperti melayang-layang di permukaan Gagana. Kartika menemani, berkelap-kelip tenang. Jumantara adalah kanvasnya, menjadi latar belakang biru gelap, pekat. Mendung Jaladara bergerak perlahan-lahan. Menyembunyikan bulan atau menjadi latar depan gemintang. Tak hirau semua itu, selimut melindungi dari dingin. Jaket kumal ketat dipakai peronda di gardu yang bau. Suara dengkur bersicepat dengan lenguhan, gelinjang dan keriat keriut ranjang tua. Bebunyian malam.

“Nanti sore, masak apa enaknya, ya?” Seorang ibu bertanya pada putra kecilnya selepas dhuhur.

“Rendang daging, ya, Bu, enak sekali sepertinya.” Begitu saja, lepas, tanpa beban anak itu menjawab.

Ibu yang sama kemudian melirik sediaan di dapur. Hampir kosong, sekerat daging sisa kemarin tak ada artinya untuk keluarga muda itu.

“Jangan lupa, Bu, es degan karena siang ini begitu terik.” Sang kakak yang baru pulang dari sekolah memberikan usul sembari mengelap keringat di dahinya.

Dompet diambil; membuka dan melihat isinya. Tinggal dua lembar sepuluh ribuan yang tersisa. Diputarnya otak, malah berpusaran. Teringat hutang di warung belum dibayar; tukang sayur tiap pagi cemberut memasang muka masam.

Menjelang Ashar, suami pulang. Berkeringat; debu menempel di keliman pakaian, lelah menggurati wajahnya. Ibu menyambut dengan senyuman; dibawakannya tas kerja penuh dengan berkas yang nanti malam harus diselesaikan dan esok pagi dikumpulkan.

“Ayah, bagaimana baju baruku? Sudah dapatkah?” Si kecil merengek; manja.

“Kalau sepatuku, Yah?” Kakaknya tak mau kalah, ikut menyibukkannya.

“Bu… Anakmu nih.” Berteriak tak sabar; sambil melepas sepatunya dengan sebal. Membuang kaus kaki; melepas baju luar, hanya berkaus rebahan, tak lama mendengkur.

Adzan magrib berkumandang. Waktu berbuka tiba. Di atas meja makan, tak ada rendang daging tak ada es degan. Tiga gelas air putih bersanding dengan semangkuk sup miskin daging, hanya banyak air, kobis dan wortel. Secobek sambal berisi cabai merah dan bawang ditambahi garam melengkapi menu buka puasa.

Protes si kecil bertalu-talu seperti bedug yang dipukul penanda waktu buka. Cemberut; sebentar kemudian menangis sangat keras. Si sulung bersungut-sungut memakan menu yang ada namun tambah nasi sampai dua kali. Ibu tersenyum. Tak berapa lama, kedua anaknya berebutan tempe goreng irisan terakhir. Ayah tertawa; kecut.

Sepulang dari Tarawih di musholla tepi desa. Keluarga itu berkumpul lagi di depan televisi berukuran kecil yang suaranya sumbang. Acara kompetisi dangdut yang tidak jelas menjadi hiburan. Si kecil mulai mengantuk di pangkuan Ayahnya. Kakaknya membolak-balik buku kumal mengerjakan PR dari sekolah. Ibu kadang bersenandung mengikuti lagu sambil melipat pakaian.

“Bu, perlukah kita mudik tahun ini?” Hati-hati, Ayah memulai obrolan.

“Sesuai rencana, Yah, tahun kemarin, kan, sudah tidak mudik.” Ibu menjawab dengan nada khawatir.

“Tapi aku belum dapat THR, Bu, bagaimana pinjaman dari Haji Karta? Sudahkah kau mendapatkannya?” Penuh harapan terkandung dalam pertanyaan Ayah.

Setelah menghela nafas panjang, “Belum, Yah, Ibu tidak enak, sudah terlalu banyak hutang kita kepada beliau.”

“Ongkos mudik, oleh-oleh untuk keluarga di kampung, pakaian anak-anak, makin banyak saja kebutuhan kita, ya, Bu?” Seperti mengabsen, dengan berat semua itu disebutkan.

“Pikirkan satu demi satu, Yah, Insya’ Allah, nanti juga terpenuhi semua.” Kemudian Ibu kembali bersenandung melantunkan “Duh Engkang” sebuah tembang manis dari Itje Trisnawati.

Ayah mengambil tas kerjanya, mengeluarkan berkas-berkas yang harus dikerjakan dan mulai diam; serius menekuri setiap lembarannya. Si kecil telah nyaman bergelung di balik selimut. Ibu memeluk sang kakak yang masih tidur-tidur ayam. Lama-lama Ibu ikut tertidur. Dalam tidurnya, bermimpi: seorang Apsari menunggang Baruna turun ke Bantala. Satu yang tidak lazim adalah sebelah sayapnya patah. Entah, pertanda apa lagi kah, ini?

Tengah malam telah dilampaui saat sebuah tangan usil menelusup di balik daster. Meraba-raba ke sana ke mari. Mulai dari usapan lembut sampai remasan agak kasar. Saat Ibu tersadar dan membuka mata.

“Satu ronde, ya, Bu, sebelum sahur.”

Walah….!!!

__

Koleksi kata:

Kala : Waktu

Rahina : Siang

Wengi : Malam

Sang Hyang Re, Radite : Matahari

Sitaresmi : Bulan

Gagana : Langit

Kartika : Bintang

Jumantara : Langit

Jaladara : Awan Mendung

Apsari : Bidadari

Baruna : Angin

Bantala : Bumi

asal gambar

Tebak-tebakan

Friday, 12 September 2008 pukul 11:05 WIB 48 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

“Bi, kalau aku jadi jalan, kamu jadi apa?”

“Jadi yang lewat, dong.”

“Wahh, curang, enak di kamu ngga enak di aku, lama-lama bisa gepeng aku, Bi.”

“Hihi….”

“Kalau aku jadi bunga, Bi?”

“Tentu, jadi kumbangnya. ‘Kan kuhisap seluruh sari madumu.”

“Kalau sarinya habis?”

“Ya… pindah.”

“Ah, ngga setia kalau gitu, kamu pergi begitu saja meninggalkanku menjadi layu?”

“Kira-kira, adakah pilihan lainnya?”

“Emmm, kalau aku perangko, Bi, kamu amplopnya ya, jadi kita nempel terus.”

“Kalau nanti amplopnya lecek, gimana? Kamu sih enak, ada yang koleksi para filatelis itu. Lah aku?”

“Ya, kamu dibuang di tempat sampah, hihi.”

“Nah, sekarang siapa yang curang?”

“Ahh, ga asyik tebak-tebakan sama kamu, Bi.”

“Yeee, gantian dong.”

“Boleh.”

“Bila kamu menjadi bunga pudak, aku akan merupakan tulisan atas daunnya.” *

“Itu bukan tebak-tebakan, masa sudah dijawab sendiri? Lagi pula aku tidak mengerti, apa maksudnya?”

“Hahaha….”

“Bi, jelasin.”

“Panjang penjelasannya, nanti kamu bosan.”

“Ayolah.”

“Gampangnya, aku menjadi pena dan kamu kertas putih yang akan kutulisi. Ngerti?”

“Ngga… hehe.”

“Jaman dahulu, Ra….”

“Yaaa, mulai deh dia mendongeng.”

“Ini mau penjelasan, ngga?”

“Iya… iya… maaf.”

“Saat itu, belum ada alat tulis seperti pena dan kertas yang kita kenal sekarang, Ra. Para sastrawan menggunakan tanah dan karas untuk menuliskan karyanya.”

“Tanah… karas… aku tidak mengerti.”

“Tanah adalah alat yang dipakai untuk menulis, sementara karas ialah bahan yang ditulisi.” **

“Terus, apa hubungannya dengan kita?”

“Jelas ada. Bila tanah digunakan untuk menggores karas. Lama kelamaan akan semakin berkurang, tak jarang patah. Mirip seperti pensil di saat sekarang ini.”

“Apa yang terjadi pada karas, kemudian?”

“Di tubuhnya, terdapat goresan-goresan, Ra, seperti luka. Tapi, di sanalah semua karya sastra tertera, ditatah begitu hati-hati sampai sebuah karya tercipta, dapat dibaca.”

“Aih, hebat ya.”

“Emang sudah mengerti?”

“Sudah. Kerelaan hati tanah untuk berkurang, patah. Kesediaan karas untuk tergores, luka. Ya, kan?”

“Kamu pintar juga, Ra.”

“Hihihi….”

Pustaka:

Zoetmulder, P.J., “Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang”, Penerbit Djambatan., 1985.

*) Halaman: 162

**)) Halaman: 154

Keterangan:

Bunga Pudak atau daun Pandan, biasa digunakan oleh penyair untuk menuliskan kisah asmara. Caranya dengan menggoreskan sesuatu –benda runcing- di atasnya, kemudian akan menghitam dan bisa dibaca.

asal gambar