Tertinggal di Angkringan Tugu
“Ara.”
Itu awal pertemuan kita, kamu begitu hemat kata-kata.
Tiga puluh menit yang lalu, aku capek menunggu keretamu di keriuhan stasiun. Di sesela dan gegas calon penumpang, kuli-kuli; aku duduk tepekur. Menelusuri koran lama yang kubawa dari rumah, tak ada berita baru, hanyalah informasi basi di sana. Menunggu, selalu membuatku tak tenang. Sebenarnya, aku tak suka menunggu. Bagaimanapun suasana hatiku, setelah menunggu umumnya akan menuju ke arah yang sama. Kemarahan.
Nah, suara itu. Pengumuman kedatangan kereta, bunyi-bunyi aneh, besi rel yang digilas roda kereta. Duhh, banyak sekali penumpang yang turun, bagaimana aku mencarimu? Akhirnya, kutuliskan besar-besar namamu di koran yang kubawa.
Kamu menghampiriku, masai selepas bangun tidur. Ada garis merah di pipimu, entah kau sandarkan di mana kepalamu sampai garis saling-silang itu tercetak di sana. Beberapa tas yang nampak berat, menggelayut di tubuhmu, merepotkan.
Aku iba; kasihan padamu. Sebentar, kucari kemarahanku pada kereta yang lambat. Umpatan dan kritik yang sudah siap kualamatkan kepada perusahaan jawatan kereta. Di mana semua itu?
“Aku lapar.”
“Maaf…”
“Aku lapar, seharusnya aku makan di kereta, namun tadi ketiduran.”
“Ibu sudah menyiapkan banyak makanan, tapi kita butuh waktu ke sana.”
“Perutku perih, adakah yang lebih dekat?”
Kupesan segelas Kopi Joss, sebungkus nasi sambal dan tempe goreng. Atas saranku, kamu pesan teh gula batu, dua bungkus nasi dan setusuk sate telur. Begitu diam kau nikmati setiap suapan, aku melirikmu ingin sekedar bertanya, “Bagaimana perjalananmu tadi?”
Beruntunglah aku masih ingat segaris merah di pipimu. “Tidur!” Kubayangkan ini jawaban yang akan keluar dari bibirmu. Aku bersyukur, pertanyaan konyol dan tidak penting itu hanya di hati saja.
“Hmm, enak ya di sini. Apa nama tempat ini?”
“Angkringan Tugu.”
“Kamu sering, Bi, ke sini?”
“Sering, hampir tiap malam.”
“Kenapa?”
“Aku senang mendengarkan suara-suara itu.”
“Suara… Suara yang mana? Ada banyak suara di sini.”
Kujelaskan panjang lebar tentang suara-suara yang datang dari stasiun. Bunyi yang akan mengawali setiap pengumuman kedatangan dan kepergian kereta. Bunyi gemuruh rel yang dilindas roda-roda kereta saat kedatangan dan keberangkatan. Suara memekakkan saat palang kereta di jalan depan stasiun ditutup.
“Kamu aneh, Bi, apa hebatnya semua suara itu?”
“Entahlah, aku hanya suka mendengarnya.”
Pembicaraan malam itu, mengawali hari-hari yang akan kita lewati bersama. Bukan masa yang panjang, seminggu di sini kamu membereskan urusan ayahmu dalam tiga hari. Aku mengantarmu, ke mana pun kamu ingin pergi. Aku menjadi tukang ojek yang bersemangat, membawamu menyentuh sudut-sudut kota ini.
Sekali waktu kita menembus hujan menuju pantai. Pada sebuah senja yang berangin; dingin. Bibirmu gemetar, tubuhmu menggigil. Aku hanya berdiri di sampingmu terpesona pada saujana. Saat kurasakan getaran dari tubuhmu yang sudah menempelku.
Kamu sandarkan kepalamu di dadaku. Kemudian, tanpa ragu memelukku. Begitu erat, seperti takut pada hujan. Tak lama, bukan hanya gigil, kamu menangis, sekuat tenaga menahan isak. Rahasia akan melindungiku. Aku memilih diam, menahan debar yang menggemuruh di tengah badai pantai.
Pulangnya, kamu memeluk erat pinggangku. Memintaku agar jangan terlalu laju mengendarai motorku. Kamu jujur berkata, “Aku ingin lebih lama bersamamu.” Ya, sore itu memang hari terakhir sebelum esok kamu pulang ke kotamu.
Angkringan Tugu, kembali kita ke sana. Sekali ini, entah kenapa kamu memilih kopi joss, sama dengan pesananku. Biasanya kamu lebih senang memesan teh panas gula batu, meminum cepat segelas pertama, kemudian mengisi lagi dengan teh yang sudah disediakan dalam gelas kaleng besar.
***
Kini, aku tahu kenapa begitu suka mendengar suara-suara itu. Setiap bunyi adalah penanda. Tengara bahwa harapan masih boleh digantungkan. Barangkali, di antara suara itu ada satu titimangsa di mana aku ‘kan bertemu denganmu, memenuhi janjiku saat mengantarmu dulu.
“Aku menunggu di sini.”












kapan yaa saya bisa dengerin suara-suara itu bareng paman…
haduh…
jangan menggodaku gitu, ohm hihihi
bonceeeng oom
boncemg ke mana?
enak aja!
BAYAR!!! hihihi
Ah… Apapun yang paman tulis selalu so swit…
hayah…
apa karena itu saya digigit semut semalam ya? hihihi
wedyannnn..!!! satirr….!!!!
suara2 kreta yo..???
*uhuk2*
walah, kok satirr?
batuk mas, tak bilangin ke mbak nganu pow? hihihi
walah2…
aku ada tips, mendingan jd petugas stasiun aja oms
ough itu ide bagus noe…
ada buka lowongan ngga ya?
Setiap bunyi adalah penanda. Tengara bahwa harapan masih boleh digantungkan. Barangkali, di antara suara itu ada satu titimangsa di mana aku ‘kan bertemu denganmu, memenuhi janjiku saat mengantarmu dulu.
________________________
Aha, … begitu juga kenangan, harapan adalah temali yang menjaraki mimpi dan kenyataan juga masa lau.
So sweet paman ….
hihihi…
ini juga gara-gara beliau itu Lenna
Sayang sekali suara dari seberang stasiun tugu tidak menerobos masuk ke dalam telinga
perlu alat tambahan sepertinya, mas bro
gak bisa berkata apa-apa
terpesona akan rangakain kata
*pesen kopi joss*
hahaha…
kopi joss di angkringan tugu, mas
bagaimana kalau kita ke sana?
So, kapan nih si “Ara” itu dikenalkan kekita? Dan, kapan juga peresmian makan-makannya? Ditunggu jawabannya di Angkringan Tugu itu.
@Sandal : hust …. kalo suara-suara indah dari sebrang selatan stasiun terdengar sampai angkringan, bisa-bisa kita tak kenal kata “PULANG”.
.::he509x::.
Ini lagi nyiapin hati untuk datangnya “Ara” yang beneran mas bro

makanya, lagi seneng nunggu, dengerin suara-suara
weeewwwww !!! kuwi cedhak omahku !!! ga nyampe 500 meter !!!
dan suara2 sepur plus operatornya, pun, terdengar sampe kamarku !!!
*ga penting banget siiihhh*
20thn lebih aku hidup ditemani suara2 sepur itu, goop…
bahkan kecilnya pun, aku makan sambil ndlongop melihat kereta laju…plus ngrasain sepur langsir….
suara yg menyatu…sampek aku baru sadar suara2 itu bbrp thn lalu, ketika ada temen komentar mengenai suara kereta. lbh terhenyak ketika telpon, lawan bicara bisa mendengar pengumuman kereta apa yg akan berangkat / datang….
nah kok mbak med ngga pernah ke angkringan tugu bareng kita-kita ya?
seru lho mbak…
uhm… atau bersama seseorang yang special aja? hihihi
tak kiro tenanan dab…
hora je, iki mung ngimpi hahaha
Kenapa kok ditinggal sih paman?
ngga tahu juga, Bang
semoga dia ingat akan kembali lagi hihihi
jogja memang ngangeni paman..apalagi hati saya tertinggal disana..
kenapa tak kembali ke Jogja lagi?
di Juminten ditunggu hehe
aku jg selalu kangen pada suara2 itu. gilas roda beradu rel, suara peluit melengking petugas pemberangkat kereta api, sampe suara pedagang asongan di stasiun2 tua.
saking senengnya sama kereta, dulu pernah pas SMA itu menghabiskan siang nongkrong di stasiun
ehehehehe.
wogh, rumah panjenengan dekat to sama stasiun?
saya sih jauh makanya sering terpesona
Wah, puitis nian, sulit sekali daku mengikuti rangkaian kata di blogmu ini
sulit?
di mana sulitnya itu pak yahya?
maafkeun, sedang belajar poen, hehehe
wah si om goop indah sekali mengungkapkan nya..
kalo aku ke jogja kira kira njenengan mau nemui aku nggak om??
mauuu….
kapak ke jogja, mbak?
Cerita tugu, bisingnya …., angkringan, mhhhh jadi kangen jogja ….
ya sudah, ke jogja aja mbak
itu kisah nyata???? gw kira itu cerpen… bagus banget pemilihan kata-katanya! (kapan bisa nulis kayak gitu…hiks)
Ro-man-tis oiiii… (ngidam mode on)
baidewei, oom goop… linknya gw tambahkan di blog gw yak! makasih kalo boleh :>
itu cerpen…
boleh kok, silakan aja ditambahkan
narasi yang bagus, mas, khas mas goop. kereta selalu saja menyuguhkan sebuah pemandangan yang hiruk-pikuk. kereta memang maunya ditunggu dan ndak mau menunggu. selamat menyambut bulan suci, mas goop, semoga kita sanggup menunaikan puasa dengan kebeningan dan kejernihan hati.
iya pak, terima kasih
kita pake tmes tang sama brooo ternyata
wogh! iya ya?
*toss*
ati-ati paman.. nunggunya jangan di tengah rel, daripada masuk koran merapi esok harinya
hehehe…
koran nan seram itu, ya mas
ah…
Lagi-lagi angkringan itu….
***kemaren pas pulang, ndak sempat ke sana….***
sayang ohm mBell…
yah, besok lagi ke sana yuk hihi
jadi pengen ke Jogja……
ke sinilah mbak
ditunggu lho, hehehe
sudah saya duga.. ini pasti di blog kan…
tapi tebakan soal judulnya mau pake kata sirine ternyata ngga ada . . mas bro ternyata tidak semudah itu ditebak ;))
hahaha…
tapi kan sudah berhasil menebaknya, paling tidak sedikit di antaranya
uncle, aku akan datang..
baiklah, ku ‘kan menunggu
hhmm.. met nunggu deh..
btw..
nunggu itu ‘berat’ loh om..
mdh2an penantian-a gak sia2 yah..
iya ni dt, udah mulai jamuran nih, hihi