Salamku Untukmu
Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, “Carikan di kamus nak, apa arti dear!â€
Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau ‘kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.
Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.
Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, “Ooooeeekkkk!!!†seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus. Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.
Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?
Hallo Ibu,
Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.
Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.
Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. “Tetangga kita si anu …†itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, “Ahh, adikmu itu!â€. Bapak yang nakal, “mBok Bapakmu, itu dikasih tahu!â€
Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.
Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.
Ibu sayang,
Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.
“Aku sayang padamu†beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.
Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.
Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.
Bu’e,
Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Bu’e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih “mamaâ€, “bundaâ€, “mami†yang kelihatannya lebih keren?
Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.
***
Apa sih maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Bu’. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.
Tunggulah…

-tikabanget- berkata...
aaahh, kaupun suka digombali, bang..
antobilang berkata...
bah, macam begini kau bilang masih belajar menulis. kalau boleh kubilang, ini masterpiece yang patut kusimpan dalam flashdisk bututku, berhimpit2 dengan data penelitian yang menghimpitku, bang.
kurt berkata...
Dijamin sang Ibu pun kebingungan untuk membalas suratnya. Sebab like sun like mother tah?
imcw berkata...
Saya dari kecil sampai sekarang selalu dekat dengan Ibu jadi nggak pernah buat surat untuk ibu.
AngelNdutz berkata...
wah….dalam sekali….
edy berkata...
suratnya bakalan panjang ini…
goop berkata...
hahaha…
mbalesss
goop berkata...
hahaha…
semoga lekas beres penelitiannya…
ini penelitian untuk skr… ah sudahlah…
sukses mas bro!
goop berkata...
hehe, semoga saja tidak Pak Kurt
goop berkata...
saya pun, tapi cobalah buat barang sebuah Pak
akan tidak mudah kemudian, itu yang saya rasakan
goop berkata...
apanya nDutz?
goop berkata...
doakan saja ohm
darnia berkata...
Memang ibu tiada duanya. Ditulis model apapun, hasilnya selalu menawan….
Ah, ibu….
Eh..ini bukan blognya Ibu yak? maaf maaf…
Salam kenal, pak
MaNongAn berkata...
Sepakat dengan Anto. Anda sudah menjadi seorang penulis meski dengan gaya bahasa sendiri. Namun sungguh sayang, saya bukanlah seorang Pujangga ataupun Budayawan yang berhak untuk memberikan sebuah penilaian penulisan. Hanya satu saranku kawan, teruslah berkarya, meski itu dirasa tidak berguna, setidaknya ada kepuasan serta kebanggan pada diri sendiri bahwa kamu sudah berusaha.
@IBU : ma’afkan Putramu ini yang belum bisa membahagiakanmu meski itu hanya dalam sebuah ucapan atau rangkaian kata beribu makna yang tak berarti………
.::he509x::.
nana berkata...
wahh.. tulisannya bagus pa’e..
boleh nih..
hehehehe
yusdi berkata...
duh jadi sedih neh……rasanya pengen ketemu ibu terus meluk cium….mbahagiain lah pokoknya……
wah ternyata bang goop pandai merangkai kata seperti pujangga…mantaf mantaf
mbelGedezâ„¢ berkata...
Semoga ajah ndak ngidap Oedipus Complex….
ulan berkata...
wah om goop.. jadi mbrebes mili.. pengen nangis,.. ah kebetulan emak ku lagi di sini,..
goop berkata...
salam kenal juga, terima kasih sudah mampir di sini
*jabat erat*
goop berkata...
maturnuwun mas bro…
terima kasih banyak
goop berkata...
makasih, btw… boleh apa nih? hihihi
goop berkata...
hayah…
masih belajar ini bro…
makasih
goop berkata...
wakaka…
kok bisa ki lho, hihihi
goop berkata...
hehe…
saya poen mrebes mili
warmorning berkata...
Lama gak kesini. Dan makin romantis saja kaw paman. Salut !
Jumawa berkata...
Lho, ngirim surat? mau merantau, paman?
goop berkata...
hayah, masih belajar ini, Bang
makasih ya
goop berkata...
andaikan suatu saat merantau, perlu juga belajar kali ya?
funkshit berkata...
waaaah….surat yang .. waaaahhhhh
tapi surat kaya beginian ngga bakalan bisa dimengerti oleh ibukku ..
dia akan menyuruh orang lain membaca dan bertanya . . “Inti suratnya apa” . . dan orang itu pun akan bingung.. “Apa isi surat ini”, karena surat ini baru sampe ke salam pembuka
ya tho mas bro ?
goop berkata...
mhuahaha
itchu bethcull, ini sedang memilih salam pembuka
Ikkyu_san berkata...
wahhh gaya bahasanya sesuai seleraku nih…
gawat!!
btw, surat pertama yang saya buat benar-benar dari hati untuk orangtuaku yaitu saat aku ulang tahun ke 30. Waktu itu masih lajang, dan aku mohon maaf karena belum bisa memenuhi keinginan mereka untuk segera berumah tangga. But, setelah aku tulis surat itu, bulan desember di tahun itu aku menikah. Mungkin surat itu pelancar proses ya? entah….
goop berkata...
kok gawat? hihihi
Saya kurang tahu apa makna di balik surat itu, barangkali memang bagian dari proses.
Pun tulisan ini, bagian dari proses belajar saya
Terima kasih
aprikot berkata...
seharusnya surat brisi prasaan cinta thdp seseorang yg kita sayangi sprti ibu bisa dituliskan dengan bahasa yg paling sederhana sekalipun
goop berkata...
seharusnya memang begitu ya git…
sayang.. saya kok susah yak
islam indie berkata...
saya pernah memberi kartu valentine ke mama, ketika masih smp. berlalu bertahun-tahun, meski sudah kucel, kartu itu ternyata masih di simpennya di lemari spesialnya. padahal rasanya, waktu itu saya cuma sedang pertama belajar kenal valentine aja loh. segitunya ibu yaa…
goop berkata...
hihi…
apakah kita masih menyimpan benda-benda darinya, sobat?
paling tidak kenangan boleh kita makamkan di benak, bukan?