Home » kamar hati

Salamku Untukmu

24 August 2008 201 views 36 Comments

Dear Ibu,

Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, “Carikan di kamus nak, apa arti dear!”

Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau ‘kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.

Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.

Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, “Ooooeeekkkk!!!” seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus. Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.

Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?

Hallo Ibu,

Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.

Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.

Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. “Tetangga kita si anu …” itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, “Ahh, adikmu itu!”. Bapak yang nakal, “mBok Bapakmu, itu dikasih tahu!”

Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.

Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.

Ibu sayang,

Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.

“Aku sayang padamu” beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.

Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.

Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.

Bu’e,

Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Bu’e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih “mama”, “bunda”, “mami” yang kelihatannya lebih keren?

Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.

***

Apa sih maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Bu’. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.

Tunggulah…

asal gambar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

RSS feed | Trackback URI

36 Comments »

Comment by -tikabanget-
2008-08-24 20:41:42

aaahh, kaupun suka digombali, bang..

Comment by goop
2008-08-25 13:32:00

hahaha…
mbalesss :mrgreen:

 
 
Comment by antobilang
2008-08-24 21:23:54

bah, macam begini kau bilang masih belajar menulis. kalau boleh kubilang, ini masterpiece yang patut kusimpan dalam flashdisk bututku, berhimpit2 dengan data penelitian yang menghimpitku, bang.

Comment by goop
2008-08-25 13:33:32

hahaha…
semoga lekas beres penelitiannya…
ini penelitian untuk skr… ah sudahlah…
sukses mas bro!

 
 
Comment by kurt
2008-08-24 22:44:21

Dijamin sang Ibu pun kebingungan untuk membalas suratnya. Sebab like sun like mother tah? :D

Comment by goop
2008-08-25 13:59:13

hehe, semoga saja tidak Pak Kurt :mrgreen:

 
 
Comment by imcw
2008-08-25 07:00:43

Saya dari kecil sampai sekarang selalu dekat dengan Ibu jadi nggak pernah buat surat untuk ibu.

Comment by goop
2008-08-25 14:01:47

saya pun, tapi cobalah buat barang sebuah Pak
akan tidak mudah kemudian, itu yang saya rasakan :cry:

 
 
Comment by AngelNdutz
2008-08-25 09:17:04

wah….dalam sekali….

Comment by goop
2008-08-25 14:03:30

apanya nDutz? :mrgreen:

 
 
Comment by edy
2008-08-25 09:26:46

suratnya bakalan panjang ini… :D

Comment by goop
2008-08-25 14:05:18

doakan saja ohm :mrgreen:

 
 
Comment by darnia
2008-08-25 14:37:25

Memang ibu tiada duanya. Ditulis model apapun, hasilnya selalu menawan….

Ah, ibu….

Eh..ini bukan blognya Ibu yak? maaf maaf…
Salam kenal, pak :)

Comment by goop
2008-08-25 17:10:45

salam kenal juga, terima kasih sudah mampir di sini :D
*jabat erat* :mrgreen:

 
 
Comment by MaNongAn
2008-08-25 14:56:12

Sepakat dengan Anto. Anda sudah menjadi seorang penulis meski dengan gaya bahasa sendiri. Namun sungguh sayang, saya bukanlah seorang Pujangga ataupun Budayawan yang berhak untuk memberikan sebuah penilaian penulisan. Hanya satu saranku kawan, teruslah berkarya, meski itu dirasa tidak berguna, setidaknya ada kepuasan serta kebanggan pada diri sendiri bahwa kamu sudah berusaha.

@IBU : ma’afkan Putramu ini yang belum bisa membahagiakanmu meski itu hanya dalam sebuah ucapan atau rangkaian kata beribu makna yang tak berarti………

.::he509x::.

Comment by goop
2008-08-25 17:13:09

maturnuwun mas bro…
terima kasih banyak :mrgreen:

 
 
Comment by nana
2008-08-25 15:27:35

wahh.. tulisannya bagus pa’e..
boleh nih..
hehehehe

Comment by goop
2008-08-25 17:14:15

makasih, btw… boleh apa nih? hihihi

 
 
Comment by yusdi
2008-08-25 15:41:02

duh jadi sedih neh……rasanya pengen ketemu ibu terus meluk cium….mbahagiain lah pokoknya……

wah ternyata bang goop pandai merangkai kata seperti pujangga…mantaf mantaf

Comment by goop
2008-08-25 17:15:23

hayah…
masih belajar ini bro…
makasih

 
 
Comment by mbelGedez™
2008-08-25 16:07:45

Semoga ajah ndak ngidap Oedipus Complex…. :mrgreen:

Comment by goop
2008-08-25 17:18:39

wakaka…
kok bisa ki lho, hihihi

 
 
Comment by ulan
2008-08-25 17:05:23

wah om goop.. jadi mbrebes mili.. pengen nangis,.. ah kebetulan emak ku lagi di sini,..

Comment by goop
2008-08-25 17:20:22

hehe…
saya poen mrebes mili :mrgreen:

 
 
Comment by warmorning
2008-08-25 20:04:04

Lama gak kesini. Dan makin romantis saja kaw paman. Salut !

Comment by goop
2008-08-26 10:52:15

hayah, masih belajar ini, Bang :mrgreen:
makasih ya

 
 
Comment by Jumawa
2008-08-26 06:35:02

Lho, ngirim surat? mau merantau, paman?
:mrgreen:

Comment by goop
2008-08-26 10:58:31

andaikan suatu saat merantau, perlu juga belajar kali ya?

 
 
Comment by funkshit
2008-08-29 18:34:24

waaaah….surat yang .. waaaahhhhh
tapi surat kaya beginian ngga bakalan bisa dimengerti oleh ibukku ..
dia akan menyuruh orang lain membaca dan bertanya . . “Inti suratnya apa” . . dan orang itu pun akan bingung.. “Apa isi surat ini”, karena surat ini baru sampe ke salam pembuka

ya tho mas bro ?

Comment by goop
2008-08-30 15:57:38

mhuahaha
itchu bethcull, ini sedang memilih salam pembuka :D

 
 
Comment by Ikkyu_san
2008-08-30 16:25:58

wahhh gaya bahasanya sesuai seleraku nih…
gawat!!

btw, surat pertama yang saya buat benar-benar dari hati untuk orangtuaku yaitu saat aku ulang tahun ke 30. Waktu itu masih lajang, dan aku mohon maaf karena belum bisa memenuhi keinginan mereka untuk segera berumah tangga. But, setelah aku tulis surat itu, bulan desember di tahun itu aku menikah. Mungkin surat itu pelancar proses ya? entah….

Comment by goop
2008-08-30 16:50:21

kok gawat? hihihi

Saya kurang tahu apa makna di balik surat itu, barangkali memang bagian dari proses.

Pun tulisan ini, bagian dari proses belajar saya :D

Terima kasih

 
 
Comment by aprikot
2008-09-02 16:24:11

seharusnya surat brisi prasaan cinta thdp seseorang yg kita sayangi sprti ibu bisa dituliskan dengan bahasa yg paling sederhana sekalipun

Comment by goop
2008-09-03 09:40:27

seharusnya memang begitu ya git…
sayang.. saya kok susah yak :cry:

 
 
Comment by islam indie
2008-09-12 07:14:08

saya pernah memberi kartu valentine ke mama, ketika masih smp. berlalu bertahun-tahun, meski sudah kucel, kartu itu ternyata masih di simpennya di lemari spesialnya. padahal rasanya, waktu itu saya cuma sedang pertama belajar kenal valentine aja loh. segitunya ibu yaa…

Comment by goop
2008-09-12 09:13:00

hihi…
apakah kita masih menyimpan benda-benda darinya, sobat?
paling tidak kenangan boleh kita makamkan di benak, bukan?

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post