melintas batas
Pelukan Terakhir
“Di mana kita?â€
Aku menganggap aneh pertanyamu setelah apa yang terjadi semalam di antara kita. Setiap desahmu, meliar tubuhmu yang kutindih. Bahkan, aku masih ingat dengan jelas bulir-bulir keringat di koordinat pucuk hidungmu.
Ku biarkan kau dengan diam dan senyum nakalku.
“Aih! Apa yang telah terjadi?â€
Pekik manjamu itu, keluar saat kau sadar kita berpelukan tanpa busana. Apa yang terjadi kau tanyakan, benarkah itu, atau sekedar berpura-pura?
Ingin aku menghukummu sekarang juga dengan pagutan yang lama. ‘Kan kuhela seperti kuda Troya yang binal saat ini. Seperti semalam, lagi dan lagi.
Lupakah kau? Siapa yang telah begitu sabar membuka kancing kemejaku satu demi satu? Kemudian, tak kau biarkan aku beraksi. Justru kau menelanjangi dirimu dan menari.
Ah tarian itu… ‘Kan kukenang malam demi malam…
Masih saja aku terdiam. Malah, kutiupi bulu-bulu halus di keningmu. Mempermainkanmu? Bukan; bukan itu tujuanku. Kemanjaanmu, itulah yang kunanti. Benar, kan? Kau menggeliat membelakangiku, setelah tak lupa mencubit perutku. Ahh, kau memang nakal.
Di antara banyak hal yang membuatmu takut, kesendirian adalah musuh besarmu. Ingin kuuji kau, berapa lama kau mampu bertahan membelakangiku. Kuberingsut, pasti kau kira akan mendekatimu. Padahal aku hanya menengadah, kemudian membelakangimu.
Saat membelakangimu itu, kukenangkan semua yang terjadi semalam. Belum lama, sebuah tangan sudah melingkar erat di pinggangku. Bingo!
Kau memang sangat usil, kau hembuskan nafas hangatmu di tengkukku. Membuatku kegelian, mengganggu kenanganku. Barangkali kau mengharapkan aku bereaksi atas aksi yang kau lakukan. Tetapi, aku memilih tetap diam.
Akhirnya kau pun menyerah, justru memelukku kian erat, hangat, rapat. Diam menyelimuti, saat kurasakan cairan hangat mengalir di punggungku. Aku kira kau menangis. Ahh, apa pula ini.
“Sudah bulatkah tekadmu itu?â€
Bisikmu nyaris tak terdengar ditingkahi isakan yang tertahan. Aku tahu, pada akhirnya kau akan menanyakan ini. Sekedar memastikan niatku untuk terakhir kali, mungkin.
Kupikir, sebuah sentuhan terakhir yang tak terlupakan pantas untukmu. Aku bangun, menarik tanganmu dengan lembut. Pasti kau mengira akan kubawa kau ke balkon seperti biasa kita lakukan. Berpelukan, telanjang dan mandi matahari.
Sayang kau salah kali ini. Kamar mandi dengan bath tub untuk berdua menjadi tujuan kita.
Shower kunyalakan, hanya pintu yang lupa belum tertutup…
*Cklik!*
Dan kemudian pintu tertutup…
_____________________________________________
Saya mendengar lho suara-suara protes itu!
Dari pada penasaran, kenapa tidak membuat cerita sendiri saja di sini misalnya, hahaha
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 12/08/2008 at 17:37, and is filed under kamar hati. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |


about 1 year ago
prajurit sparta yang haus darah
Masokis? *seneng ngomongin yang ginian*
about 1 year ago
wah… parah nih…
ntar lama-lama senang mutilasi hihihi
syerem ah…
about 1 year ago
was it us?
about 1 year ago
did you forget about it?