Membincangkan Plat dan Nomor

Share in top social networks, email, translate, and more!

Delapan Agustus dua ribu delapan, lebih cantik bila dituliskan 080808. Sebuah tanggal istimewa yang akan ditemukan 1000 tahun lagi, eh? Tanggal istimewa, karena deretan angka penyusunnya, kemudian banyak yang memanfaatkannya. Tanggal itu digunakan sebagai pengingat hal-hal spesial seperti pernikahan.

Sayangnya, tulisan ini bukan tentang angka dan keajaiban angka seperti yang biasa ditemukan di sini. Saya hanya ingin meminjam angka sebagai bagian tak terpisahkan dari plat nomor kendaraan bermotor. Deretan huruf, diikuti dengan angka, kemudian diakhiri dengan huruf lagi. Dan, ternyata saya lebih tertarik membincangkan huruf-huruf di depan angka yang tertera di plat nomor.

Plat nomor yang menempel di sepeda motor saya diawali deretan huruf AA diakhiri dengan huruf K. Penanda bahwa motor saya termasuk di wilayah Kabupaten Magelang. Bagaimana dengan plat nomor kendaraan Anda, Sobat?

Di tempat tinggal saya, hampir semua kendaraan dimulai dengan AA, di jalanan di kota dan kabupaten di Magelang. Bila ada plat nomor kendaraan dengan huruf yang berbeda selain AA, kemudian saya akan membuat persepsi tentang makna dari tiap huruf, penanda asal kendaraan tersebut. Beberapa memang kebetulan saya hafal di luar kepala. Seperti B dari Jakarta, D dari Bandung, L dari Surabaya dan seterusnya.

Suatu ketika, saya melihat plat nomor yang diawali huruf L melintas -berarti dari Surabaya-. Segera terbentuk di benak saya gambaran, pasti pengendara sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh dari Surabaya sana. Saat ini, hanyalah separuh perjalanan dari yang seharusnya dia tempuh. Barangkali tujuannya bukan kota ini, biasanya akan pergi ke Jakarta dan kebetulan saja melintas di kota ini.

Di waktu yang lain, kebetulan saya melihat kendaraan yang begitu lincah menyalip di sesela kendaraan. Cenderung ngawur dan berkendara dengan serabutan, bahkan ke arah membahayakan pengguna jalan yang lain. Setelah saya melirik ke arah plat nomor yang menempel, tertera di sana huruf B. Dalam hati saya membatin, wogh pantas!!… orang Jakarta.

Ternyata, di benak saya sudah terbentuk suatu gambaran sebelumnya. Orang Jakarta terbiasa menghadapi macet, sehingga saat berada di jalanan yang tidak macet begitu gembira. Diluapkan kegembiraan itu sepuasnya, tak peduli kepada pengguna jalan lain, tak juga keselamatan sendiri.

Prasangka yang terbentuk di benak saya, tentu tidak dapat dibenarkan. Bisa saja pengendara berplat L ternyata berasal dari kecamatan sebelah dan sedang mencari pompa bensin. Sama halnya, bisa saja pengendara berplat B adalah mekanik bengkel yang sedang mencoba motor dan dia sendiri ternyata berasal dari tetangga sebelah.

Seringkali, saya juga harus menghadapi kondisi yang berkebalikan. Tersesat di belantara plat nomor kendaraan yang berbeda dengan saya punya. Beberapa tahun yang lalu, saya berada di kota dengan beragam plat nomor kendaraan. Yogyakarta seperti magnet yang menarik besi-besi bahan baku plat ke sana. Begitu beragam, sampai-sampai banyak di antaranya yang saya tidak mengerti dari mana tepatnya asal dari kendaraan tersebut.

Pada kondisi ini, perhatian saya lebih kepada kehati-hatian di jalanan. Seperti telah disebutkan di muka, dalam benak saya sudah terlanjur terbentuk suatu gambaran. Plat nomor tertentu akan berhubungan dengan “gaya” pengendara mengendarai kendaraannya. Toleransi lebih diutamakan di sini, menerima perbedaan di plat nomor sebagai tuntutan berbagi di jalanan. Sesekali mengalah pun, tak jadi soal demi keselamatan bersama.

Sekarang, saya berada di kota yang hampir semua plat nomornya diawali dengan rangkaian huruf AD. Di sini, saya menjadi seperti orang asing karena rangkaian huruf di plat nomor saya berbeda. Beberapa tuntutan harus saya hadapi karena perbedaan ini. Di antaranya, saya harus lebih berhati-hati mengendarai dan mematuhi semua rambu yang ada. Entah kenapa, saya merasa perlakuan yang berwajib sedikit berbeda kepada plat nomor luar daerah, semoga ini hanya perasaan saya saja.

Pernah beberapa kali saya melihat sebuah kendaraan yang memiliki rangkaian huruf awal di plat nomornya sama dengan milik saya. Senang sekali saat itu terjadi. Meski saya tidak mengenal siapa pemiliknya, saya hanya merasa dekat, akrab, seperti seorang sahabat lama.

Hey!! Baru saja melintas teller sebuah bank. Roknya, kaki mulusnya, bangun tubuhnya, sepertinya saya mengenalnya. Sebentar Sobat, saya akan mengejarnya, maaf tak sempat melirik plat nomornya. Bbbrrruuummmmmm!!!!!!!

asal gambar

Tulisan ini, disertakan dalam lomba ini

[adsenseyu1]

48 thoughts on “Membincangkan Plat dan Nomor”

  1. Ada yang bilang, kalau di Jawa pake plat BG itu banyak yang jadi takut….
    dikirain preman kali ye….

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    BG endi to mbak?
    BG mana?
    dulu ada teman saya namanya BG, karena mirip Bagong, hehehe

    [Jawab?]

  2. BG = palembang
    eh apa sumsel yak? soalnya sempet ditudh rombongan dari palembang
    akibat nopol jkt kan hurufnya skarang 3 digit
    sementara depannya mesti angka 6
    contoh B 6264 NLY <<< Vitri

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    Palembang kan ibukota Sumsel ohm, jadi ya mungkin aja sih :mrgreen:

    [Jawab?]

  3. Saya pengen punya plat N 4213 B
    :mrgreen:

    Err.. tampaknya sih memang ada semacam diskriminasi buat kendaraan luar daerah, Pakde..
    Waktu saya di Njakarta dulu, temen-temen saya mesti bilang “Ati-ati jo nglanggar, susah nguruse. Platku sik Malang..” waktu saya pinjam motor “luar daerah”-nya.

    [Jawab?]

    AngelNdutz menjawab:

    ituh di motor yg mo dibeliin wat Dinda yuh, Beib? :mrgreen:

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    Wogh…
    dua sejoli beraksi :lol:

    [Jawab?]

  4. Sekarang bisa jadi plat nomor tidak mencerminkan identitas kota pemilik. Karena plat nomor bisa jadi barang ‘ obyekan ‘ polisi. R 1 ZA, begitu teman saya membeli nomor ini. Dahulu saya sempat mencari nomor F 1 LM, ternyata sudah dimiliki pedagang rental laser disc ( jaman dulu ). Akhirnya saya mendapat F 1 VA,..yang akhirnya ditawar oleh boss pemilik kosmetik VIVA dari Surabaya.

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    Walah, menguntungkan kalau itu, Mas :mrgreen:

    [Jawab?]

  5. Mak bapak saya orang pekalongan tapi pelat mubil nya K . . .
    Dan gak pernah nyupir sendiri

    menyembunyikan jati diri sepertinya.

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    hahaha
    emang kenapa harus disembunyikan? :mrgreen:

    [Jawab?]

  6. plat nomer saya AB 5947 GU
    AB,jelas jogja….
    59 adalah angka dimana nomer rumah saia….
    47 adalah nomer 50 kurang 3 digit.!!!!
    GU..wilayah jogja….

    nah,lucunya…saya klo nyasar di semarang..sering di liat plat nomernya oleh penjawab….
    ah…bangganya punya plat AB diantara plat H dan plat K yg banyak bgt di kota semarang…

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    hahaha…
    bangga opo malah ketar-ketir? :lol:

    [Jawab?]

  7. Wah memang sesuatu yang sama apanya saja entah plat nomor atau plat perasaan kita, maka hubungan menjadi cair…. wah ini sebenarnya mau bcara psikologi yah… :D

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    ah ini bicara apa aja kok Pak Kurt, hehehe

    [Jawab?]

  8. ahh… kata siapa BG ditakuti.
    Di jalanan jogja justru para penjahat jalanan lebih berani kalo liat plat dari luar.

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    iya mas biasanya sih gitu, barangkali itu di tempat lain :D

    [Jawab?]

  9. “Teller sebuah bank”?

    Hmmm… mbaknya yg di Surabaya itukah?

    heh? di surabaya siapa, ya? aya-aya wae!

    [Jawab?]

  10. iya, sama.
    pakai plat AD di jakarta. tiap kali parkir ditanyain ma tukang parkirnya.
    mas dari luar kota yah? AD dari mana sih?
    :)

    hihihi, nasib kalau gitu mas. kita sama tuh!

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>