Membaca, adalah perintah pertama yang diterima oleh Baginda Nabi. Sahabat saya ini, merasa begitu kecewa saat dia sadar bahwa banyak sekali bahan bacaan yang terlewatkan di rumah tetangganya dahulu. Penyesalan memang datangnya di akhir, tak bisa lagi mengulang waktu yang telah lampau.

Membaca, seperti menghubung-hubungkan berbagai dunia. Membaca, juga laksana menjalin senarai dan jejalin ingatan. Kata S.I. Hayakawa, “Adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan.”

Keinginan untuk membaca, semangatnya tentu tidak sama orang per orang. Beberapa begitu menggilai bahan bacaan yang ringan, di seberang sana tenggelam dalam manuskrip kuno dan pelajaran tentang kehidupan yang dalam. Ada yang alergi melihat buku yang tebal, namun di sisi lain merupakan keasyikan dan kebanggan tersendiri bila berhasil menamatkan buku itu.

Masalahnya bukan tebal dan tipisnya buku saya kira. Makna yang terkandung di dalamnya, bisakah kita mengikatnya? Akankah menjadi pelajaran untuk kita, modal menjalani kehidupan, tentunya tidak hanya menjadi sekedar koleksi saja, bukan?

Di dalam membaca tentunya ada objek yang dibaca. Pada bagian awal memang beberapa kali saya menuliskan buku sebagai contoh. Tetapi, saya kira buku hanya sebagian contoh dan masih banyak contoh-contoh lain di luar buku. Sobekan kertas yang ada tulisannya, barangkali juga bahan bacaan. Alam di sekeliling kita, ada yang berkata bahwa itu wahyu yang dituliskan Tuhan. Namun, apakah kita dapat membacanya?

Beberapa buku memberikan pengaruh yang luar biasa kepada kita. Menginspirasi, menggugah, menyemangati atau istilah-istilah yang lain. Tak jarang, ada juga yang selintas lalu dan kemudian dilupakan. Buku adalah perlambang ketidaksetiaan.

Seorang penulis begitu mengagumkan pada suatu masa, namun akan tenggelam perlahan-lahan saat kita mengenal penulis lain di masa yang berbeda. Tetapi penulis yang sama, justru mencapai masa keemasannya di benak orang lain lagi. Tak pernah selesai, selalu berputar, berulang-ulang.

Membaca, buku dan penulis. Terjalin sebuah rangkaian seperti mata rantai. Penulis akan senang mengetahui bukunya dibaca. Pembaca akan menanti tulisan-tulisan terbaru dari penulis favoritnya. Seperti pengelana yang kehausan di gurun, barangkali bacaan adalah oasis yang menyejukkan.

Ketersediaan bahan bacaan, dalam hal ini buku, tentu sangat dibutuhkan oleh mereka yang hobi membaca. E-book di sisi lain, memang menarik, tetapi ketersediaannya masih terbatas hanya pada beberapa orang yang bisa dengan mudah, mau dan bisa menggunakan internet.

Sebuah perpustakaan, taman bacaan atau apalah namanya menjadi perlu. Di Magelang ada Desa Buku di komplek Taman Kyai Langgeng. Sebuah upaya cerdas untuk menggalakkan membaca saya kira. Sekedar usaha, agar buku lebih dekat, mudah dijangkau dan menimbulkan minat. Karena rasa ingin tahu, masih dimiliki oleh setiap orang.

Tulisan ini mendukung gerakan 1000 buku yang dirintis BHI dan perpustakaan oleh CahAndong

yukk mari nyumbang buku :D