misuh-misuh
Lega! Plong lho rasanya, dapat meluncurkan perbendaharaan umpatan yang ada dalam kamus kata-kata kotor yang kita miliki. Ya iya dong, kotor, jorok. Masak lagi jengkel bilang, “Asyik!”, “Yes!”, “Hip-hip hura!”, dll, dan lain-lain?
Konon, saya untuk kesekian kalinya sowan Bapak Dosen Pembimbing Tugas Akhir, sebut saja namanya Bp. Bunga.
Lha, Bp. Bunga ini kondang akan figurnya yang santai. Kadang menguji sidang skripsipun beliau hanya mengenakan baju batik (pakai celana) – sepatu diinjak belakangnya, sementara kolega-koleganya rapi jali, berdasi, sepatu meling-meling, necis, ganteng (ada juga yang kurang ganteng ding), dkk, dan kawan-kawan. Penampilan Bp. Bunga terkesan selenge’an namun entah bagaimana menyiratkan kekuatan kepribadiannya. Nah, karena hal-hal tersebut di atas saya senang sekali saat mengetahui tugas akhir saya dibimbing oleh Bp. Ir. Bunga, MT.
Pertemuan-pertemuan pertama kami berjalan kurang lancar. Ide-ide, gagasan-gagasan saya yang gas-gasan ditolak mentah-mentah. Saya pun maklum. Wong ide-ide itu saya dapat dari teman yang berkarya di bidang yang agak tidak ada pertalian saudara dengan teknik industri (Oya, saya kuliah di teknik industri uss – universitas sak sake). Begitu proposal tugas akhir saya tembus bin acc(epted) beliau bersabda, “Wahai mahasiswa, Ingsun titahkan supaya pertemuan kita hanya terjadi sebanyak dua kali sahaja. Pertama yaitu hari ini, dan selanjutnya saat tugas akhirmu telah terselesaikan! Bisa di-copy? Huahahaha..” “Roger! Sendika dhawuh!”, sahutku meskipun dalam hati membatin (Ya iya dong, dalam hati itu membatin, masak sikat gigi?), “Ini dosen hobi ndalang apa ya? Kayak gunungan aja, njedhulnya saat pembukaan dan penutupan pagelaran wayang kulit? Alfa – omega, begitu katanya kalau mengutip Kitab Suci umat ber-salib.” Dan saya pun bergegas pulang ke kost untuk…. tidur.
Setahun kemudian.. Setelah melalui berbagai perjuangan (dan pertiduran) nan berat (dan nan pulas), saya berhasil membuat sebuah purwarupa alat bantu kerja yang prinsip kerjanya adalah.. (kelanjutannya dapat ditemui di perpustakaan jurusan teknik mesin dan industri uss bagian tugas akhir, secepatnya, semoga). Saya juga sukses mengetik naskah tugas akhir dengan…. pokoke rampung. Maka dengan gegap gempita saya meluncur ke kampus saya yang terletak di sebelah utara RS Dr. Andes itu. Saya menunggu kehadiran Bp. Bunga. Saya menghadap beliau. Saya keluar ruangan dengan membatin (Yak betul! Dalam hati!), “@$()!”.
Ternyata “pokoke rampung” itu sangat tidak dapat dipertanggung jawabkan. Naskah saya diabul-abul. Padahal waktu-waktu tersebut merupakan injury time batas waktu pendaftaran pendadaran. Dengan tidak gegap gempita saya ngglesot pulang ke kost untuk…. (bukan tidur!) memperbaiki naskah tugas akhir saya.
Di pintu kampus saya berjumpa dengan kompatriot sesama Last A**holes Standing – on Campus (dia juga diobok-obok tugas akhirnya oleh Bp. Rumput). Nah, pada saat inilah prolog tulisan saya ini terjadi. Namun itu terjadi pada sang kompatriot saya itu (sebut sajalah namanya Rio – kependekan dari kompatriot). Dia berceloteh mengenai pengalamannya ber-bimbingan tugas akhir-ria disambi misuh-misuh sak kayange (tapi volume-nya saya kecilkan). Saya hanya bisa memandang sorot matanya yang seolah bertutur “Kau hancurkan aku dengan sikapmu.. Tak sadarkah kau telah menyakitiku? Lelah hati ini meyakinkanmu.. Skripsi ini membunuhku..” Dan rasa syukur sayapun kembali bersemi di ladang tandus yang sering disebut hati ini. Ya! Naskah saya memang harus diperbaiki. Itu murni kesalahan saya. Namun apa yang terjadi pada Rio ini, aduh…. ada juga ya penyandang gelar Dr. se-obnoxious itu? Kalau ada yang berhak untuk misuh-misuh di kampus saya – berhubungan dengan (dosen) tugas akhir – maka Rio inilah menurut saya, orang yang memiliki privilese tersebut. Geleng-geleng kepala saya ikut-ikutan gerakan wadah otak Rio yang tampaknya mau meletus itu. Eh, nimbrung si MaryJane (rumahnya di kaki Merapi memang). Dia juga berkasus dengan Bp. Rumput. Nilainya tidak dikeluarkan lantaran sebab yang hanya tuyul yang tahu. Padahal tinggal ndaftar pendadaran! Tripping lagi deh paguyuban amburadul ini. (Untuk keselamatan nyawa dan CRV hitam kinyis-kinyis Bp. Dr. Ir. Rumput, M.Sc., detail sikap beliau kepada Rio+MaryJane sengaja tidak saya sebutkan di sini).
Kadang-kadang (menurut saya) memang perlu kok untuk mengumpat, menyumpah-serapah, misuh. Meskipun dulu Bu Guru Agama saya pernah bertutur, “Oy, murid-muridku! Apa yang kita katakan saat kita sedang dicobai sedikit-banyak menunjukkan kadar keimanan kita lho. Gitu ganti.” Dan saya percaya beliau benar. Namun apakah sebagai manusia kita ini benar-benar sempurna? Memang dibandingkan dengan cacing, kita sedikit lebih baik. Pun ada tertulis, “Manusia adalah makhluk ciptaan Sang Pencipta yang paling sempurna.” Tapi…. manusia. Entah lulusan psikologi mana yang pernah berujar “As a species, we (humans) are fundamentally insane.” Saat dihadapkan pada suatu peristiwa yang cukup menjengkelkan (exampli gratia: studi kasus Rio+MaryJane) orang yang religius ngelotok mungkin akan mengelus-elus dada sambil komat-kamit, “Gusti nyuwun kawelasan.. Amin.” Di sini variasi watak manusia berperan. Pribadi yang tidak dapat menahan diri sebentar – untuk minta petunjuk Yang Berwenang – mungkin akan langsung, “Kotoran manusia! Hewan berkaki empat yang menggonggong! Wanita pekerja hubungan kelamin komersial! Rambut yang tumbuh di sekitar selangkangan! Supir gerobak!”. Dan itu (menurut saya) sedikit membantu meringankan rasa yang menyesakkan (asal tidak jadi kebiasaan lho ya adik-adik?).
Sekali lagi hal permisuhan ini hanya pendapat. Saya tidak mengajak siapapun untuk berdebat. Saya juga tidak akan mempertanyakan kadar ketakwaan pihak-pihak yang saya jumpai sedang misuh-misuh. Saya hanya akan teringat Rio+MaryJane. Tetap tabah dan semoga sukses, dear Rio, MaryJane!










Apakah ada yang berbeda?



ya… karena ini bukan tulisan saya
seorang teman telah berhasil menyumbang tulisan di sini
_____________________________________________________________
Kalo perlu bantuan misuh! saya siap mas bro!!
hu uh paman, hampir binun, apa ini gara2 si paman stres skripsi jadi tulisannyah agak beda ato gi patah hati…tiba’nyah… ;))
Salam tuk Bapak Bunga..! Bunga? Bunga apa? Hmm… inisial yang indah!
Bunga (bukan nama sebenarnga) masih mending dari rumput yg super pelit ndalit itu. o.o
belum masup kuliyah kok saya jadi takut sekripsi duluwan gara gara tulisan paman ini
mengingat saya saksi hidup orang yang ndak lulus2
bukan tulisan saya…

saya lulusnya cepet kok
*ditendang teman yang nitip nulis ini*
banyak korban perkosaan ya ditulisan njenengan kali ini..
wakaka
sopo sing diperkosa, mbak?
Nyritake sopo e goop?
Koncoku mas dab,
ora nyritake, dekne nulis dewe, nunut di publish neng kene
nuwun
Kalok mingsih ndak puwas misuh-misuh, sayah sediyakeun da tempat sayah.
Dijamin puwaaaaaasss…..
Konon, misuh itu hampir sama dengan dzikir..
Titipannya siapa, Pakde? Tikabanget??

lirik koment tika di bawah itu zieb
saya nda’ ikut-ikut ah…
ooo pantes…kok tulisannya beda, ternyata bukan yang sudah lulus to…ooops ini bukan misuh-misuh lho
kok akuuuu yang dituduuuhhhh..??!!
misuh-misuh memang perlu…. tapi saya beraninya pas sedang sendirian…
misuh itu keahlian apa ketrampilan ya paman ??? ato … sejenis latah gitu yah ??? aku juga sering sih misuh2 ndak jelas gitu …
ketoke itu keahlian yang tak ada duanya mas
*dipentung!*
Aku melu misuh yo Mas Dab..
Huwaaaaa…yuuuu!!!
aku yo ngewangi misuh…
hoodver dosee….
tapi apa dikata kalo kata pisuhan berevolusi menjadi sebuwah sapaan hangat Kangmas?
contoh :
A:Hey… Cuk! yoopo kabarmuuu???kagen Cuuuk…suwe ra ketemu!
B:Jan*cuuuuukkk…raimu cuk! sik urip kon!
trus fungsinya kata yang awalnya pisuhan apa donk
Pap?hahaha…
metamorfosis kata mungkin…
agak kurang mengerti