batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Pelupa Agustus

Friday, 29 August 2008 pukul 10:30 WIB 54 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Lupa seperti bidadari cantik yang tidur
Begitu diam
Rela menukar waktu terpekur
Di ranjang diam

Lupa bangun sesuka hati
Tak perlu panggilan
Mengaduk semua suasana hati
Tanpa erangan

Lupa menyisakan tangis
Lupa mengundang tawa
Ingatan yang terkais
Kerlingan nostalgia

Tidurlah lupa…
Tidurlah…
___________

asal gambar

What will left after meeting?

Thursday, 28 August 2008 pukul 17:06 WIB 0 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam tetirah lain

A few glass which is empty and those is water in the low level

A little snack in the dirty plate

A minutes meeting that i have to write

A summary, that would be usefull later, might be.

A few words, just say good bye to all of attendace

tentang kesepian elipsis

Wednesday, 27 August 2008 pukul 9:45 WIB 0 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam tetirah lain

sepi pun… elipsis… elipsis….

mungkin, karena elipsis butuh jeda, seperti spasi….

Tertinggal di Angkringan Tugu

Tuesday, 26 August 2008 pukul 11:14 WIB 52 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

“Kenalkan, saya Abi.”

“Ara.”

Itu awal pertemuan kita, kamu begitu hemat kata-kata.

Tiga puluh menit yang lalu, aku capek menunggu keretamu di keriuhan stasiun. Di sesela dan gegas calon penumpang, kuli-kuli; aku duduk tepekur. Menelusuri koran lama yang kubawa dari rumah, tak ada berita baru, hanyalah informasi basi di sana. Menunggu, selalu membuatku tak tenang. Sebenarnya, aku tak suka menunggu. Bagaimanapun suasana hatiku, setelah menunggu umumnya akan menuju ke arah yang sama. Kemarahan.

Nah, suara itu. Pengumuman kedatangan kereta, bunyi-bunyi aneh, besi rel yang digilas roda kereta. Duhh, banyak sekali penumpang yang turun, bagaimana aku mencarimu? Akhirnya, kutuliskan besar-besar namamu di koran yang kubawa.

Kamu menghampiriku, masai selepas bangun tidur. Ada garis merah di pipimu, entah kau sandarkan di mana kepalamu sampai garis saling-silang itu tercetak di sana. Beberapa tas yang nampak berat, menggelayut di tubuhmu, merepotkan.

Aku iba; kasihan padamu. Sebentar, kucari kemarahanku pada kereta yang lambat. Umpatan dan kritik yang sudah siap kualamatkan kepada perusahaan jawatan kereta. Di mana semua itu?

“Aku lapar.”

“Maaf…”

“Aku lapar, seharusnya aku makan di kereta, namun tadi ketiduran.”

“Ibu sudah menyiapkan banyak makanan, tapi kita butuh waktu ke sana.”

“Perutku perih, adakah yang lebih dekat?”

Kupesan segelas Kopi Joss, sebungkus nasi sambal dan tempe goreng. Atas saranku, kamu pesan teh gula batu, dua bungkus nasi dan setusuk sate telur. Begitu diam kau nikmati setiap suapan, aku melirikmu ingin sekedar bertanya, “Bagaimana perjalananmu tadi?”

Beruntunglah aku masih ingat segaris merah di pipimu. “Tidur!” Kubayangkan ini jawaban yang akan keluar dari bibirmu. Aku bersyukur, pertanyaan konyol dan tidak penting itu hanya di hati saja.

“Hmm, enak ya di sini. Apa nama tempat ini?”

“Angkringan Tugu.”

“Kamu sering, Bi, ke sini?”

“Sering, hampir tiap malam.”

“Kenapa?”

“Aku senang mendengarkan suara-suara itu.”

“Suara… Suara yang mana? Ada banyak suara di sini.”

Kujelaskan panjang lebar tentang suara-suara yang datang dari stasiun. Bunyi yang akan mengawali setiap pengumuman kedatangan dan kepergian kereta. Bunyi gemuruh rel yang dilindas roda-roda kereta saat kedatangan dan keberangkatan. Suara memekakkan saat palang kereta di jalan depan stasiun ditutup.

“Kamu aneh, Bi, apa hebatnya semua suara itu?”

“Entahlah, aku hanya suka mendengarnya.”

Pembicaraan malam itu, mengawali hari-hari yang akan kita lewati bersama. Bukan masa yang panjang, seminggu di sini kamu membereskan urusan ayahmu dalam tiga hari. Aku mengantarmu, ke mana pun kamu ingin pergi. Aku menjadi tukang ojek yang bersemangat, membawamu menyentuh sudut-sudut kota ini.

Sekali waktu kita menembus hujan menuju pantai. Pada sebuah senja yang berangin; dingin. Bibirmu gemetar, tubuhmu menggigil. Aku hanya berdiri di sampingmu terpesona pada saujana. Saat kurasakan getaran dari tubuhmu yang sudah menempelku.

Kamu sandarkan kepalamu di dadaku. Kemudian, tanpa ragu memelukku. Begitu erat, seperti takut pada hujan. Tak lama, bukan hanya gigil, kamu menangis, sekuat tenaga menahan isak. Rahasia akan melindungiku. Aku memilih diam, menahan debar yang menggemuruh di tengah badai pantai.

Pulangnya, kamu memeluk erat pinggangku. Memintaku agar jangan terlalu laju mengendarai motorku. Kamu jujur berkata, “Aku ingin lebih lama bersamamu.” Ya, sore itu memang hari terakhir sebelum esok kamu pulang ke kotamu.

Angkringan Tugu, kembali kita ke sana. Sekali ini, entah kenapa kamu memilih kopi joss, sama dengan pesananku. Biasanya kamu lebih senang memesan teh panas gula batu, meminum cepat segelas pertama, kemudian mengisi lagi dengan teh yang sudah disediakan dalam gelas kaleng besar.

***

Kini, aku tahu kenapa begitu suka mendengar suara-suara itu. Setiap bunyi adalah penanda. Tengara bahwa harapan masih boleh digantungkan. Barangkali, di antara suara itu ada satu titimangsa di mana aku ‘kan bertemu denganmu, memenuhi janjiku saat mengantarmu dulu.

“Aku menunggu di sini.”

asal gambar

Salamku Untukmu

Sunday, 24 August 2008 pukul 18:08 WIB 36 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

Dear Ibu,

Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, “Carikan di kamus nak, apa arti dear!”

Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau ‘kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.

Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.

Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, “Ooooeeekkkk!!!” seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus. Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.

Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?

Hallo Ibu,

Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.

Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.

Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. “Tetangga kita si anu …” itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, “Ahh, adikmu itu!”. Bapak yang nakal, “mBok Bapakmu, itu dikasih tahu!”

Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.

Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.

Ibu sayang,

Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.

“Aku sayang padamu” beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.

Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.

Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.

Bu’e,

Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Bu’e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih “mama”, “bunda”, “mami” yang kelihatannya lebih keren?

Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.

***

Apa sih maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Bu’. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.

Tunggulah…

asal gambar

tentang dan dengan atau

Friday, 22 August 2008 pukul 10:12 WIB 0 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam tetirah lain
“dan” dengan “atau” seperti “keserakahan” dengan “pilihan” itu saja!