Archive for July, 2008

Batas Ruang

Batas Ruang:

Bingkai Kata Tak Terbatas

Urusan cinta ini kok makin tidak mudah

“Aku baru sadar, ternyata mencintai itu, begitu… begitu… sulit! Sementara membenci seseorang, begitu mudah! Saat melihat langsung ke mata duplikatku yang jahat itu, aku baru sadar, ternyata perubahan menjadi monster bukan hal yang sukar.”

“Apa yang perlu kau tahu adalah, apapun yang akan keluar dari dirimu saat ini, aku akan berada di sini.”

Kira-kira begitulah percakapan di antara Clark Kent dan Chloe di penghujung film Smallville (9/7/8). Kesadaran Clark Kent akan potensi dirinya untuk menjadi monster, dari pada menjadi pembela kebenaran saya kira patut diacungi jempol. Dia yang notabene adalah seorang superhero, memiliki kekuatan yang bisa diisi ulang dengan gampang menggunakan sinar matahari, serta lebih perkasa dari manusia manapun, sadar betul apa akibatnya bila dia berubah menjadi monster.

Kira-kira, bila dia benar menjadi monster apakah ada yang sanggup untuk menghentikannya? Ya, mungkin bila orang itu semacam Lex Luthor yang memiliki cadangan kryptonite di gudang pabriknya. Tetapi bagaimana bila Clark begitu berniat menjadi monster dan melakukan langkah antisipasi dengan menyembunyikan batangan-batangan kryptonite?

Kita mesti bersyukur akhirnya, bahwa Clark masih memiliki cinta. Sedikit naif barangkali, tetapi memang demikianlah senyatanya. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang menyayanginya dengan sepenuh hati di sebuah peternakan. Tumbuh kembang bersama teman-teman yang meskipun tidak “aneh” namun tidak kalah dalam memberikan perhatian, membuat Clark menjadi peduli. Peduli pada sekitar, perhatian kepada teman dan keluarga. Cinta dalam hatinya dipupuk, tumbuh subur dan menguncup, mekar kemudian mewangi, mengharumkan lingkungan sekitarnya. Cinta ini pula yang telah menjaganya dari keinginan menjadi monster.

Di lain pihak, saya juga bersimpati kepada Lex Luthor. Tidak segan-segan dia berubah menjadi monster demi memenangkan sebuah hati. Apa yang tidak dilakukannya untuk memenangkan hati seorang Lana? Penelitian yang bernilai miliaran dollar, sampai dengan berpura-pura bahwa Lana telah hamil. Hampir semua hal telah dilakukan, tetapi apakah telah dimenangkan hati Lana, bila kenyataannya Lana masih saja belum berpaling dari Clark?

Apa yang kurang dari Lana kemudian? Dia begitu mencintai Clark, tidak perlu dipertanyakan, walaupun mungkin dalam hubungan di antara mereka berdua banyak onak dan duri. Proses adaptasi saya kira membutuhkan waktu yang tidak sedikit, kesabaran, pengorbanan dan kompromi. Hasil akhir memang tidak pernah di tangan kita, bila kemudian Lana menikah dengan Lex, sampai kemudian Lana “berlagak” meninggal demi melindungi orang yang paling dicintainya, barangkali menjadi bukti paling sahih betapa rumit masalah cinta ini.

Tetapi sabar dulu, sobat! Di sisi lain masih ada cinta yang sederhana, atau mungkin lebih tepat bila cinta tersebut bisa menyederhanakan sesuatu, terbukti dari pernyataan berikut ini:

“Bila kau mencintai seseorang, kau tak peduli semegah apa pernikahanmu. Kau bahkan akan rela menikah di beranda dan hanya tukang susu yang menjadi tamunya.”

Sebuah quote dari film “MOLLY” film yang diputar tepat sebelum “Smallville” di malam yang sama. Bukankah sebuah cinta telah menyederhanakan resepsi yang semestinya megah, mewah dan tidak jarang bahkan sampai dibela-belain berhutang?

“Tetapi dalam quote kedua, cinta sudah terjalin, Paman!”

“Ah iya, benar juga pernyataan kau itu.”

“Paman sendiri bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Maksudnya, cinta Paman sendiri bagaimana?

Saya manyun, dan maukah menemani saya manyun, sobat?