melintas batas
Archive for July, 2008
Membincangkan Nada
Jul 18th
Dengarkan!
Bisakah kau dengar, Lagu itu?
Aku bisa mendengar di mana-mana
Di dalam angin, di udara, dalam cahaya
Ada di sekeliling kita
Kamu hanya perlu membuka diri
Kamu hanya perlu mendengarkan *)
Sudahkah Anda mendengarkan? Sudahkah Anda mendengar lagu itu? Sudahkah?
Udara memberat, ruangan menyempit, gelap dan kegelapan meliputi. Background yang hitam, ruangan dengan cahaya terbatas dan hanya menyorot pada beberapa bagian tertentu. Terkadang mengarah pada para pemain di tengah. Tak jarang menyentuh di sudut. Jarang sekali semua lampu menyala bersamaan.
Festival gamelan di Taman Budaya Yogyakarta, malam itu menjadi pengingat, terutama untuk saya sendiri. Ada noktah-noktah nada yang tersebar, bebas di sekitar kita. Tidak perlu terpaku pada kaidah-kaidah slendro atau pelog. Dengarkanlah, diamlah dan biarkan himpunan nada-nada itu memasuki telinga kita, menggetarkan gendang pendengaran di dalam sana. Membawa kita pada sebuah wilayah tanpa nama, melayang-layang entah di mana.
Tak perlu protes bila Anda masih saja tidak mengerti dengan apa yang dimainkan. Tak jua bosan, mungkin saja terjadi dan silakan saja itu terjadi. Musik tanpa pola –atau sebenarnya berpola- yang tidak begitu nyaman didengar. Menghentak, mengetuk kesadaran. Berpusing, melingkar-lingkar menjadi satu dengan semesta udara. Perlahan menjadi ketukan teratur, melenakan.
Mendengarkan suara gamelan malam itu, bukan hanya mendengar suara logam beradu dengan palu dari kayu. Barangkali bunyinya, nadanya adalah pengetuk jiwa-jiwa. Musik adalah jembatan bumi dan surga. **) Maka biarkanlah, ikutilah setiap ketukan nada, melayanglah atau terbang sekalian pada keindahan nada, dan sebagian dari surga mungkin sudah kita rasakan.
Ada bunyi pada gemericik air sungai, pada air minum yang memasuki gelas. Ada bunyi pada gesekan daun yang digerakkan angin. Ada bunyi pada cahaya matahari yang membangunkan kodok tidur. Ada bunyi yang mengusik pucuk-pucuk ilalang. Semua berbunyi, tak mudah membedakan satu dengan yang lain. Tetapi, kenapa pula harus dibedakan?
Bukankah saat gitar berpadu dengan bass, dengan drum, dengan piano malah menjadi suatu komposisi nada? Bila suara sebuah gitar saja sudah demikian memukau, bagaimana jadinya bila berpadu dengan alat musik yang lain? Sebuah orkestra mengalun kemudian. Tetapi orkestra alam tentu saja berbeda. Kita dapat merekamnya, tetapi bisakah kita membuatnya? Menciptakan nada-nada yang mirip dengan komposisi alam bermain musik? Musik alam, adalah ode, madah agung, zikir kepada Semesta.
Saya kira, symphoni alam adalah sebuah pertemuan. Pertemuan nada-nada dari angin dan dedaunan, rerumputan, lenguhan kerbau, sekedar kotek ayam? Cobalah membunyikan sebuah nada “do” jangan berhenti, teruslah bunyikan sebuah nada itu. Bukankah Anda bisa membuat variasi dari sebuah nada saja dengan memainkan tinggi rendahnya nada? Eh, ada pertemuan dari nada dengan pita suara Anda sehingga sebuah nada bisa terdengar merdu.
Kira-kira, apakah yang mempertemukan Yusuf dengan Zulaikha? Laila dengan Majnun? Romeo dengan Juliet? Kurt Cobain dengan Coutney Love?
Saya tidak sedang membicarakan cinta. Tetapi, bukan tidak mungkin nada-nada cinta telah mempertemukan mereka ini. Menggetarkan relung-relung jiwa, dawai-dawai hati dan membentuk sebuah komposisi nada. Bila Semesta mengijinkan, apa yang tidak mungkin kemudian?
Semesta juga yang telah membuat unclegoop menunggu. Dia menunggu, mendengarkan semesta nada. Apakah tidak mencari? Bukankah mendengarkan itu juga sebentuk pencarian? Saat mendengarkan, mungkin dia juga mengeluarkan sebentuk bunyi. Di antara nada-nada itu, barangkali ada sebuah nada yang berbeda. Nada yang dibunyikan oleh auntygoop yang juga dalam penantiannya, yang juga mendengarkan. Bila Semesta mengijinkan, apa yang tidak mungkin kemudian? ***)
Kemudian keduanya bahagia selamanya, halah!
Musik itu ada di sekitar kita
Hanya perlu kita dengarkan saja.
*) : August Rush
**) : Forbidden Kingdom
***) : Semoga bisa menjadi jawaban untuk sebuah pertanyaan dari seorang sahabat.
Ps1 : Silakan melihat film “August Rush”, juga “Once” untuk belajar dari nada-nada
Ps2 : Tidak semua musik enak didengar, ini soal selera sepertinya, tidak masalah, bukan?
Ps3 : Bagaimana bila sebuah nada berakhir? Benarkah hanya tinggal diam, hening dan sunyi?
Ps4 : Kok masih baca Ps? Kapan koment-nya? hahaha
Urusan cinta ini kok makin tidak mudah
Jul 10th
“Aku baru sadar, ternyata mencintai itu, begitu… begitu… sulit! Sementara membenci seseorang, begitu mudah! Saat melihat langsung ke mata duplikatku yang jahat itu, aku baru sadar, ternyata perubahan menjadi monster bukan hal yang sukar.”
“Apa yang perlu kau tahu adalah, apapun yang akan keluar dari dirimu saat ini, aku akan berada di sini.”
Kira-kira begitulah percakapan di antara Clark Kent dan Chloe di penghujung film Smallville (9/7/8). Kesadaran Clark Kent akan potensi dirinya untuk menjadi monster, dari pada menjadi pembela kebenaran saya kira patut diacungi jempol. Dia yang notabene adalah seorang superhero, memiliki kekuatan yang bisa diisi ulang dengan gampang menggunakan sinar matahari, serta lebih perkasa dari manusia manapun, sadar betul apa akibatnya bila dia berubah menjadi monster.
Kira-kira, bila dia benar menjadi monster apakah ada yang sanggup untuk menghentikannya? Ya, mungkin bila orang itu semacam Lex Luthor yang memiliki cadangan kryptonite di gudang pabriknya. Tetapi bagaimana bila Clark begitu berniat menjadi monster dan melakukan langkah antisipasi dengan menyembunyikan batangan-batangan kryptonite?
Kita mesti bersyukur akhirnya, bahwa Clark masih memiliki cinta. Sedikit naif barangkali, tetapi memang demikianlah senyatanya. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang menyayanginya dengan sepenuh hati di sebuah peternakan. Tumbuh kembang bersama teman-teman yang meskipun tidak “aneh” namun tidak kalah dalam memberikan perhatian, membuat Clark menjadi peduli. Peduli pada sekitar, perhatian kepada teman dan keluarga. Cinta dalam hatinya dipupuk, tumbuh subur dan menguncup, mekar kemudian mewangi, mengharumkan lingkungan sekitarnya. Cinta ini pula yang telah menjaganya dari keinginan menjadi monster.
Di lain pihak, saya juga bersimpati kepada Lex Luthor. Tidak segan-segan dia berubah menjadi monster demi memenangkan sebuah hati. Apa yang tidak dilakukannya untuk memenangkan hati seorang Lana? Penelitian yang bernilai miliaran dollar, sampai dengan berpura-pura bahwa Lana telah hamil. Hampir semua hal telah dilakukan, tetapi apakah telah dimenangkan hati Lana, bila kenyataannya Lana masih saja belum berpaling dari Clark?
Apa yang kurang dari Lana kemudian? Dia begitu mencintai Clark, tidak perlu dipertanyakan, walaupun mungkin dalam hubungan di antara mereka berdua banyak onak dan duri. Proses adaptasi saya kira membutuhkan waktu yang tidak sedikit, kesabaran, pengorbanan dan kompromi. Hasil akhir memang tidak pernah di tangan kita, bila kemudian Lana menikah dengan Lex, sampai kemudian Lana “berlagak” meninggal demi melindungi orang yang paling dicintainya, barangkali menjadi bukti paling sahih betapa rumit masalah cinta ini.
Tetapi sabar dulu, sobat! Di sisi lain masih ada cinta yang sederhana, atau mungkin lebih tepat bila cinta tersebut bisa menyederhanakan sesuatu, terbukti dari pernyataan berikut ini:
“Bila kau mencintai seseorang, kau tak peduli semegah apa pernikahanmu. Kau bahkan akan rela menikah di beranda dan hanya tukang susu yang menjadi tamunya.”
Sebuah quote dari film “MOLLY” film yang diputar tepat sebelum “Smallville” di malam yang sama. Bukankah sebuah cinta telah menyederhanakan resepsi yang semestinya megah, mewah dan tidak jarang bahkan sampai dibela-belain berhutang?
“Tetapi dalam quote kedua, cinta sudah terjalin, Paman!”
“Ah iya, benar juga pernyataan kau itu.”
“Paman sendiri bagaimana?”
“Maksudmu?”
“Maksudnya, cinta Paman sendiri bagaimana?
Saya manyun, dan maukah menemani saya manyun, sobat?
Rahasia Kenikmatan Kerupuk
Jul 9th
Makan nasi goreng senikmat apapun, masih kurang lengkap bila tiada kerupuk yang menemani. Kerupuk bukanlah makanan utama, tak juga bervitamin. Bahkan mungkin menimbulkan batuk karena kandungan minyak di dalamnya. Fakta yang demikian jelas tentang kandungan kerupuk dan efek negatifnya, tak juga menyurutkan langkah tukang makan, semisal saya untuk terus memakan kerupuk.
Kerupuk selalu dicari ketika soto terhidang di meja makan. Kerupuk diincar, dilirik-lirik saat menikmati mie goreng, atau mie godok. Pendek kata, apapun makanannya kerupuk teman menyantapnya. Biar makanan selezat apapun, bila tiada kerupuk terhidang rasanya ada yang kurang, hampa dan tidak lengkap.
Sayang, tidak semua kerupuk nikmat. Kerupuk yang terhidang ini harus dalam kondisi keras alias tidak melempem. Kerupuk yang keras, tak jarang menimbulkan bunyi saat dimakan benar-benar bernilai mahal. Bukan mahal harganya, sobat. Tetapi mahal kenikmatan yang ditawarkannya.
Guna menjaga kekerasan kerupuk, dibuatlah sebuah wadah yang istimewa. Di tempat saya, wadah kerupuk ini terbuat dari bahan yang sejenis dengan material dasar kaleng roti. Desain yang sedemikian hebatnya, membuat udara tak mungkin masuk dan mencederai rasa nikmat kerupuk. Udara yang tidak berganti di dalam kaleng kerupuk, adalah syarat agar kerupuk tetap keras dan tidak melempem.
Di salah satu sisinya, kaleng kerupuk memiliki kaca tembus pandang. Dari sini, kita bisa melihat bagaimana bentuk, warna dan penampilan dari kerupuk yang ada di dalam sana. Saya kira, ini salah satu bentuk bagaimana menawarkan kerupuk itu, semacam beriklan melalui penampilan langsung dari kerupuk.
Tak jarang, di sisi atas dari kaca tembus pandang ini, dituliskan siapa yang memproduksi kerupuk istimewa ini. Hanyalah nama, tengara untuk kaleng kerupuk itu sendiri, agar tidak tertukar dengan produsen kerupuk yang lain. Tetapi, bila ditelusur lebih jauh, rasa-rasanya nama ini juga menjadi salah satu cara beriklan juga. Tanpa sadar, kita akan menandai sebuah merk kerupuk bila dirasa lebih nikmat dari merk lain, kemudian bila di suatu warung kita bertemu dengan beberapa kaleng kerupuk yang merk-nya beragam, tentu kita akan memilih merk-merk yang sudah kita kenal.
Hebat bukan, peran dari sebuah kaleng kerupuk? Fungsinya tidak saja kepada kerupuk yang dijaga kekerasannya, tetapi juga kepada pelanggan rumah makan agar kian nikmat dalam menikmati hidangan. Sebuah kaleng kerupuk menyimpan rahasia, bukan sembarang rahasia, karena rahasia yang disimpan adalah rahasia kerupuk. Kenikmatan beberapa buah kerupuk yang akan menjaga pengunjung tetap setia pada sebuah rumah makan, kenikmatan yang akan menambah rasa nikmat pada makanan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Lebih jauh, kaleng kerupuk menyimpan sebuah rahasia kenikmatan.
Peran yang sama, meski pada obyek yang berbeda, dapat juga kita temukan pada sebuah termos, magic jar, magic comp dan peralatan rumah tangga yang lain, (maaf ngga hapal).
Bagaimana dengan manusia, sobat? Apakah yang dirahasiakan oleh seonggok tubuh manusia? Kenikmatan macam apa yang bisa ditawarkan?
Seorang wanita, kenikmatan yang ada apakah hanya sebatas selaput dara? Setahu saya, tidak hanya itu. Rasa keibuan yang dimiliki, sifatnya yang lebih peka sekaligus perasa. Tentu saja, sebagai mitra pria dalam menjalani hari demi hari. Kepolosan, jujur dan nakalnya anak kecil, sepertinya adalah rahasia dari masa kanak-kanak. Kebijaksanaan orang tua, ajaran dan wejangannya juga terawangan yang awas sebagai hasil dari memakan asam dan garam pengalaman, barangkali sebuah kenikmatan cawan-cawan yang ditawarkan dari perjalanan usia.
Potensi kenikmatan, akhirnya ada pada setiap diri. Bagaimana cara mengungkapkannya kemudian yang menjadi masalah. Apakah tersembunyi dalam sebuah kaleng yang tertutup rapat? Apakah ada media tembus pandang yang dari sana kita dapat melihatnya, tapi tiada kuasa untuk menyentuh dan menikmatinya? Ataukah terhidang begitu saja, di atas meja makan dan tinggal kita santap?
Bagaimana dengan Tuhan, ya?
