Membincangkan Kematian

Yogyakarta, Sabtu 19 Juli 2008 pukul 07.30 WIB.

Pagi itu, bekas kosan saya yang lama, di Jogja sana disibukkan oleh meninggalnya Ibu kos. Ya, meninggal. Peristiwa sederhana lepasnya nyawa dari tubuh. Meninggalkan tubuh dalam ketakberdayaan, tak kuasa untuk sekedar memompa jantung, menghela nafas, mengedipkan mata. Entah, ke mana perginya nyawa. Apakah masuk di alam kubur? Mungkinkah di sisi Tuhan? Atau menyatu dengan semesta untuk kemudian menjadi pohon, menjadi serangga? Tak tahu saya jawabnya, silakan Anda kembali kepada kepercayaan Anda masing-masing.

Usianya masih bisa dibilang muda, baru 44 tahun. Tetapi maut, tidaklah pernah memandang usia. Maut bekerja tidak pandang bulu. Biarpun muda tak hirau tua, bila memang sudah tiba saatnya tak ada yang bisa menghindar atau menundanya barang sekedipan mata. Penyebab kematian sendiri, bisa beraneka ragam. Kasus Ibu kos saya itu, disinyalir karena terlalu capek bermain badminton dua malam berturut-turut. Tubuhnya yang tambun mungkin telah membuat lemah jantungya, membuatnya lelah dan berhenti berdegup.

Tak ada tangis dari saya, meskipun bisa dibilang saya sangat dekat dengan beliau, saat saya masih kos dulu. Tak jua ada air mata saat Kakek dan Nenek dahulu meninggal. Entahlah, apakah saya tak punya nurani? Ataukah saya menganggap kematian sebagai sebuah hal yang perlu agar kehidupan terus berjalan (Komik Budha)?

Tetapi, saat saya bertemu dengan putra dan putri beliau yang seumuran dengan adik-adik saya dan sudah menganggap mereka seperti adik. Saat menatap mereka satu demi satu, melihat ke matanya yang sembab. Ada perasaan sedih luar biasa, seperti sebuah kehilangan, sebentuk kekhawatiran. Pertanyaan, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan mereka yang terus berjalan, tanpa Ibu di sisinya? Tak ada yang bisa saya lakukan, hanya berdiam diri di sana, menyalami satu demi satu dengan lidah yang kelu.

Kematian, selalu sebuah garis akhir untuk kehidupan seseorang. Di saat yang sama, kematian menandai sebuah awal untuk kehidupan-kehidupan yang lain.

Kehidupan adalah perjalanan pulang. Laksana pulangnya seruling ke rumpun bambu, seperti tertera dalam sajak-sajak Rumi. Kematian adalah pintu, sebelum kita memasuki rumah-rumah keabadian. Sudahkah oleh-oleh disiapkan? Sudahkah cerita dirangkai saat ini untuk dibagi kelak di sana?

Budha menyepi dan tenggelam dalam perenungan yang agung. Budha ingin lepas dari penderitaan manusia dari sakit, dari kematian. Sampai akhirnya Budha menemukan pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Gede Prama menuliskan “Apa yang ditakuti manusia sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingnya”.

Saya tidak tahu, bagaimana persisnya rasa kematian itu. Benarkah seperti daun jatuh dari ranting, melayang-layang kemudian jatuh di tanah. Menjadi humus, dihisap akar, menjadi rumput, dimakan kambing dan seterusnya, sehingga menjadi sebuah siklus?

Mati, mengingatnya menjadi perlu. Agar detik demi detik kehidupan dihargai. Mengingat mati menjadikan kita sadar ada orang tua yang akan kehilangan. Ada istri yang akan bersedih dan berduka cita. Ada anak yang kehilangan pegangan. Ada sahabat yang bersedih, handai taulan yang kerepotan?

Di film seri Smallville semalam, Lex Luthor begitu takut ditinggalkan. Memang nyatanya orang-orang yang dekat dengan Lex pergi meninggalkannya satu demi satu. Di tengah kesendiriannya dia menciptakan seorang adik –Julian- hanya bermodalkan DNA. Julian, malah berhasil mencuri hati ayah Lex, hal yang selama ini tidak bisa dilakukan Lex. Kecemburuan yang memuncak menjadikannya gelap mata, dibunuhnya Julian tepat di hadapan Luthor Sr. Entah bagaimana memaknai peristiwa ini. Satu hal yang jelas, Luthor Sr begitu kehilangan Julian, senangkah Lex, bila ternyata ia kembali ditinggalkan?

Dalam 7 habit-nya, Stephen Covey menyinggung tentang kematian. Cobalah bayangkan saat-saat kematian kita. Di sebuah gereja, saat requiem dilakukan dan orang-orang yang kita kenal memberikan kesaksian kehidupan kita. Sebuah kesaksian seperti apa persisnya yang kita harapkan saat kita dikenang pada detik itu?

Dalam perjalan pulang ini, kita merangkai kata menjadi sebuah cerita. Bahagia ataukah duka yang menanti di sana masih berupa sebentuk tanya. Banyak rambu ditemui selama perjalanan, tak jarang tersesat untuk kemudian putar balik di jalur yang benar. Sebentuk pelajaran, menjadi catatan agar generasi yang akan datang bisa memetik hikmah dan makna.

Sebuah tulisan dari blog lama “Pernahkah Anda mendengar tentang mestia? Upacara pengorbanan, istri-istri Raja di Bali yang membakar diri, moksa bersama kekasihnya? Pun, budaya pagan di Eropa yang menyambut kematian sebagai sebuah perayaan? Mereka menghadapi kematian dengan senyuman.” Saya ingin memberikan link sumber cerita mestia dan budaya di Eropa itu, sayang kini telah menjadi mantan-bloger “kapan nge-blog lagi, Mas?”

Beranikah Anda mendeklarasikan kematian seperti Einstein melakukannya? Beliau berkata “Aku akan pergi jika aku menghendakinya. Merupakan suatu hal yang tak bermakna sama sekali jika aku memperpanjang kehidupan secara artifisial. Aku telah mengerjakan bagianku, dan sudah saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya secara elegan.”

Yogyakarta, Sabtu 19 Juli 2008 pukul 15.30 WIB.

Jenazah sudah dimasukkan di liang lahat, berpakaian kain kafan, berbantalkan tanah yang dibentuk kotak-kotak. Beberapa batangan bambu diletakkan di atas jenazah, sebelum tanah diuruk nantinya. Selepas urukan tanah dibentuk menjadi gundukan-gundukan kuburan, satu per satu pelayat meninggalkan kompleks makam.

“Paman, saya takut…” gumam ponakan saya

Tak ada jawaban dari saya, tak ada yang bisa saya lakukan. Saya masih belum berani untuk mendeklarasikan keberanian menghadapi maut. Tak juga begitu takut karena berharap akan pertemuan denganNya, karena akan pulang. Saya bimbang dalam tanya, tetapi masih cukup mampu untuk mengulurkan tangan menggandeng ponakan saya.

…senandung Megatruh di kejauhan, dan bunga-bunga kamboja berguguran…

asal gambar

[adsenseyu1]