Membincangkan Tata
Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Minggu sore itu, Bapak dan Ibu baru saja pulang dari penjahit di desa sebelah. Satu stel baju seragam SMA baru saja selesai dijahit. Di rumah Tata telah menunggu dengan antusias. Tanpa menunggu lama, segera dipakai baju seragam itu lengkap dengan dasi dan topi. Lucu sekali melihat di sore yang cerah itu ada anak yang begitu bersemangat memakai baju seragam. Sudah hari Minggu, sore pula. Sepatu baru yang dari kemarin hanya diletakkan di atas kardusnya, kini pindah ke kaki. Lengkap sudah seragam baru, topi baru, dasi baru, sabuk baru. Ah, gagah sekali adik saya itu.
Di antara kekanakannya yang menjengkelkan dan kebandelan remajanya yang mulai nampak. Saya teringat sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, mungkin saya juga sama bersemangatnya dengan Tata. Tidak peduli bahwa saat itu hari Minggu, sore hari, atau alasan dan pembenaran yang lain. Di lain pihak saya juga teringat bahwa saat itu saya mulai berkenalan dengan kenakalan khas remaja. Mencoba merokok, ikut tawuran, sesekali membolos dan jatuh cinta.
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Saya merasa berbangga juga melihat Tata sudah berganti seragamnya dari kemarin putih biru menjadi putih abu-abu. Hari yang lalu dia terlihat culun dengan celana pendek dan sepatu kumal yang tak jarang berdebu, kini dia terlihat tampan dengan celana panjang dan sepatu baru. Ini bukan masalah penampilan tentu, tetapi rasa yang lain, ah apa ya? Mungkin tiada kata yang pas untuk menggambarkannya.
Saya jadi bertanya-tanya bagaimana “rasa” yang dirasakan oleh Bapak dan Ibu, lahirnya senyum-senyum, batinnya siapa tahu? Di antara bangga dan haru, mungkin terselip juga kekhawatiran. Bagaimana langkah adik saya itu? Akan benarkah dia melangkah, apakah sedikit tersesat seperti kakaknya yang pertama?
Saya jengkel saat tahu adik saya itu pada hari-hari pertama masih diantar ke sekolah. Mungkin saya teringat saat saya masuk SMA semua hal dilakukan sendiri. Harapan saya tentu dia juga melakukan sendiri semuanya. Tetapi kehendak dan perlakuan orang tua tentu tidak sama terhadap putra-putranya.
Duduk sini nak, dekat pada Bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Saya selalu percaya, apa yang dikatakan dan dilakukan orang tua adalah baik. Pengalaman yang dilalui menjadi cermin dan pelajaran. Langkah yang beliau tempuh, tentu tidak sama dengan saya yang sukanya main tabrak. Barangkali beliau ini belajar dari tingkah polah saya dan adik yang satu lagi. Si bungsu ini, mungkin lebih mendapat pengawasan dan perhatian.
Sebenarnya agak kasihan juga karena bentuk pengawasan ini terkadang berupa bentakan dan hardikan. Sedikit cercaan dari kakak-kakaknya yang sok tahu pun sering dia terima. Selama ini, Tata telah berhasil melaluinya. Kini sebelah kakinya telah menginjak tempat yang berbeda, mencari jati dirinya. Entah perubahan macam apa yang akan terjadi. Saya harap semoga semuanya berjalan dengan baik dan arah yang benar.
Turunlah cepat dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri
Sepuluh tahun yang lalu tentu berbeda tantangan yang dihadapi dengan saat ini. Langkah saya dahulu, tentu tidak bisa lagi diterapkan untuk masa kini. Biarlah Tata belajar melangkah, mungkin sesekali terperosok dan kami akan berdiri di belakangnya mengulurkan tangan menariknya. Keluarga layaknya sebuah tim yang bahu membahu, saling mengingatkan dan bergandengan tangan.
Bapak sibuk dengan urusannya sendiri. Ibu sibuk di dapur dan mencuci. Kakak-kakaknya sok sibuk dengan perkaranya masing-masing. Pada akhirnya dia akan sendiri, mencoba-coba, belajar menyelesaikan masalah. Barangkali dengan itu, pengalaman akan datang menghampiri, menjadi bekal melalui jalan terjal yang menghadang. Semoga…
Semua quote : Iwan Fals “Nak”

dan tak lupa “Selamat Hari Anakâ€
itikkecil berkata...
nasib anak bungsu kadang-kadang seperti itu… suka dibentaki dan diatur oleh kakak-kakaknya yang sok tau itu….
btw, adikmu memang sudah beranjak dewasa ya…
mayssari berkata...
Selamat Hari Anak juga, Mari beri sentuhan cinta pada anak-anak kita…
saya suka caramu bertutur, sungguh…
goop berkata...
hah?! ah mbak ira malah bilang sok tahu juga

tapi emang iya sih, mbak
errr… kalau usia masuk SMA itu kan boleh dibilang beranjak dewasa, gitu ga ya?
edy berkata...
selamat siang! boleh liat SIM-nya?
Fany berkata...
selamat hari anak juga..
perlakuan thd anak bungsu dilihat dari si anak sulung memang kadang seperti itu, si anak sulung menganggap “aku dulu kok gak gitu, kok aku dulu gini, dll…”
hihihi…wajar
yusdi berkata...
selamat hari anak juga…..saya masih anak ga ya?
MaNongAn berkata...
Anak laki-laki memang harus dididik untuk mandiri, kenakalan remaja merupakan suatu sikap untuk mencari jati diri. Tugas orang tua dan kakak hanya mengawasi dan mengarahkan, asalkan jangan terlalu dibebaskan dan juga jangan terlalu dikekang. Berjalan wajar mengikuti arus dan perkembangan jaman. Contoh serta wejangan yang baik jangan dilupakan. Semoga generasi berikutnya akan lebih baik.
.::he509x::.
goop berkata...
Mari berikan sentuhan itu
dan terima kasih apresiasinya
goop berkata...
hehe…
untunglah dia pakai motor tapi tidak di jalan raya, hanya dari rumah sampai pinggir jalan raya
maap ya pekerja yang pakai pakaian coklat-coklat yang berdiri gagah di pinggir jalan, hehegoop berkata...
iya, mbak
kira-kira memang seperti itu
wajar dan kemudian menerima pada akhirnya, begitu?
goop berkata...
masih… anak tua nakal
goop berkata...
ah iya, itu benar sekali mas bro
amien… semoga seperti itu semuanya akan berjalan
anggie davey berkata...
Wah, mengingatkan waktu pertama kali mausk SMA 8 tahun lalu Om gup, rasanya baru kemarin menapakkan kaki di bangku SMA yang tak terlupakan itu… i miss it so much…. btw adek gw paling kecil juga baru masuk SMA, cowok pula….. sampai hari ini, gw belom liat dia pakai baju putih abu-abunya itu karena udah gak pulang ke rumah 2 minggu, kayaknya minggu depan juga nggak balik…. hiks2 kalo udah kerja gak bisa deh kyak jaman2 sekolah dulu…… hehehe
dobelden berkata...
anak sayapun lgi antusias masuk sekolah TK nol kecil. hihi
edratna berkata...
Saya cuma mengantar anak saat masuk pertama kali di TK, kemudian di SD. Saat si bungsu masuk SD pertama kali, yang mendampingi kakaknya, kebetulan sekolah di SD yang sama. Tapi saya usahakan setiap bulan sekali ke sekolah, diskusi dengan guru apakah ada masalah dengan anak-anak…agar tak berkelanjutan dan segera diatasi jika ada masalah.
goop berkata...
wah disempatkan dong pulang
barangkali pujian dari kakaknya yang canti akan membuatnya kian bersemangat
goop berkata...
errr sudah berputra ternyata
selamat lah, Kang… salam untuk anaknya yak
goop berkata...
wah hebat sekali, Bu…
Ibu dan Bapak saya tidak pernah berdiskusi dengan sekolah dulu dan kini, syukurlah nakalnya masih dalam batas wajar, hehe
terima kasih
ngodod berkata...
kadang kita akan rindu dengan saat kita masih bisa menganggap adik kita adalah seorang “anak kecil”.
antobilang berkata...
dalam kamus CA, cah lanang ora usah riwil! wortel kok riwil!
goop berkata...
yupe, akhirnya dinikmati saja ya, mas bro?
goop berkata...
baiklah Kakanda Tobil, saya nda’ akan riwil
haning… nek ono sing ayuu bangeti piye, nto?
ulan berkata...
itu foto njenengan to om?? weh… ckckckck…
ulan berkata...
ckckkcckckck… percakapan lelaki tuh begini to… yayayayaya..
AngelNdutz berkata...
wew,,,,baru masuk SMA yah? masih kecil
untung Ndutz bukan anak bungsu yg sering dibentak2+disuruh2 kakaknyah, malah Ndutz yg sering nyuruh
*merasa paling gede
goop berkata...
begini bagaimana?
goop berkata...
ah, mbak ulan baca postingannya ngga ya?
goop berkata...
masih kecil gimana, ndutz?
enak ngga ndutz, nyuruh-nyuruh?
Nazieb berkata...
Pakde jeles ini ceritanya??
Jadi… kapan bikin anak?
goop berkata...
jeles? ha kok iso?
bikin anak? bentar lagi nunggu auntygoop-nya siap
aditya sani berkata...
tuh kan, gaya bahasamu mas bro, apik tenan.. piye yo.. menenangkan ngono lho..
ah mas bro ini.. kagum saya sama mas bro.. hehehe
novita anggraeni berkata...
Selamat hari anak.. Salam kenal, saya nyubi..
Mbilung berkata...
weeeh, adikmu dan anakku seumuran. Kita adu yuk …
itikkecil berkata...
belum dewasa ini… masih remaja… tapi sudah menuju ke dewasa gitu…..
goop berkata...
ah iya, gitu juga maksud saya, mbak
goop berkata...
haduh, jangan gitu dong, dit
eike masih normal, kok bro
goop berkata...
iya, terima kasih…
salam kenal juga
*salaman*
goop berkata...
diadu apa ini Pak Dhe?
nek putrane Pak Dhe kalah, jangan protes, yak!
Batas Ruang » Blog Archive » Nostalgia Masuk SMA berkata...
[...] topi baru dan sepatu baru Akan gagah sekali seorang anak SMA bukan? Tunggu apa lagi? silakan dibaca di sini -terima kasih- — ~www.unclegoop.com~ Permalink | Leave a comment  » (No Ratings Yet) [...]
Batas Ruang » Blog Archive » Membincangkan Masuk SMA berkata...
[...] 1 views No Comment Seorang adik masuk ke SMA, apa dan bagaimana kekhawatiran saya? Silakan dilihat di sini (No Ratings Yet) Loading [...]