Membincangkan Nada
Dengarkan!
Bisakah kau dengar, Lagu itu?
Aku bisa mendengar di mana-mana
Di dalam angin, di udara, dalam cahaya
Ada di sekeliling kita
Kamu hanya perlu membuka diri
Kamu hanya perlu mendengarkan *)
Sudahkah Anda mendengarkan? Sudahkah Anda mendengar lagu itu? Sudahkah?
Udara memberat, ruangan menyempit, gelap dan kegelapan meliputi. Background yang hitam, ruangan dengan cahaya terbatas dan hanya menyorot pada beberapa bagian tertentu. Terkadang mengarah pada para pemain di tengah. Tak jarang menyentuh di sudut. Jarang sekali semua lampu menyala bersamaan.
Festival gamelan di Taman Budaya Yogyakarta, malam itu menjadi pengingat, terutama untuk saya sendiri. Ada noktah-noktah nada yang tersebar, bebas di sekitar kita. Tidak perlu terpaku pada kaidah-kaidah slendro atau pelog. Dengarkanlah, diamlah dan biarkan himpunan nada-nada itu memasuki telinga kita, menggetarkan gendang pendengaran di dalam sana. Membawa kita pada sebuah wilayah tanpa nama, melayang-layang entah di mana.
Tak perlu protes bila Anda masih saja tidak mengerti dengan apa yang dimainkan. Tak jua bosan, mungkin saja terjadi dan silakan saja itu terjadi. Musik tanpa pola –atau sebenarnya berpola- yang tidak begitu nyaman didengar. Menghentak, mengetuk kesadaran. Berpusing, melingkar-lingkar menjadi satu dengan semesta udara. Perlahan menjadi ketukan teratur, melenakan.
Mendengarkan suara gamelan malam itu, bukan hanya mendengar suara logam beradu dengan palu dari kayu. Barangkali bunyinya, nadanya adalah pengetuk jiwa-jiwa. Musik adalah jembatan bumi dan surga. **) Maka biarkanlah, ikutilah setiap ketukan nada, melayanglah atau terbang sekalian pada keindahan nada, dan sebagian dari surga mungkin sudah kita rasakan.
Ada bunyi pada gemericik air sungai, pada air minum yang memasuki gelas. Ada bunyi pada gesekan daun yang digerakkan angin. Ada bunyi pada cahaya matahari yang membangunkan kodok tidur. Ada bunyi yang mengusik pucuk-pucuk ilalang. Semua berbunyi, tak mudah membedakan satu dengan yang lain. Tetapi, kenapa pula harus dibedakan?
Bukankah saat gitar berpadu dengan bass, dengan drum, dengan piano malah menjadi suatu komposisi nada? Bila suara sebuah gitar saja sudah demikian memukau, bagaimana jadinya bila berpadu dengan alat musik yang lain? Sebuah orkestra mengalun kemudian. Tetapi orkestra alam tentu saja berbeda. Kita dapat merekamnya, tetapi bisakah kita membuatnya? Menciptakan nada-nada yang mirip dengan komposisi alam bermain musik? Musik alam, adalah ode, madah agung, zikir kepada Semesta.
Saya kira, symphoni alam adalah sebuah pertemuan. Pertemuan nada-nada dari angin dan dedaunan, rerumputan, lenguhan kerbau, sekedar kotek ayam? Cobalah membunyikan sebuah nada “do” jangan berhenti, teruslah bunyikan sebuah nada itu. Bukankah Anda bisa membuat variasi dari sebuah nada saja dengan memainkan tinggi rendahnya nada? Eh, ada pertemuan dari nada dengan pita suara Anda sehingga sebuah nada bisa terdengar merdu.
Kira-kira, apakah yang mempertemukan Yusuf dengan Zulaikha? Laila dengan Majnun? Romeo dengan Juliet? Kurt Cobain dengan Coutney Love?
Saya tidak sedang membicarakan cinta. Tetapi, bukan tidak mungkin nada-nada cinta telah mempertemukan mereka ini. Menggetarkan relung-relung jiwa, dawai-dawai hati dan membentuk sebuah komposisi nada. Bila Semesta mengijinkan, apa yang tidak mungkin kemudian?
Semesta juga yang telah membuat unclegoop menunggu. Dia menunggu, mendengarkan semesta nada. Apakah tidak mencari? Bukankah mendengarkan itu juga sebentuk pencarian? Saat mendengarkan, mungkin dia juga mengeluarkan sebentuk bunyi. Di antara nada-nada itu, barangkali ada sebuah nada yang berbeda. Nada yang dibunyikan oleh auntygoop yang juga dalam penantiannya, yang juga mendengarkan. Bila Semesta mengijinkan, apa yang tidak mungkin kemudian? ***)
Kemudian keduanya bahagia selamanya, halah!
Musik itu ada di sekitar kita
Hanya perlu kita dengarkan saja.
*) : August Rush
**) : Forbidden Kingdom
***) : Semoga bisa menjadi jawaban untuk sebuah pertanyaan dari seorang sahabat.
Ps1 : Silakan melihat film “August Rush”, juga “Once” untuk belajar dari nada-nada
Ps2 : Tidak semua musik enak didengar, ini soal selera sepertinya, tidak masalah, bukan?
Ps3 : Bagaimana bila sebuah nada berakhir? Benarkah hanya tinggal diam, hening dan sunyi?
Ps4 : Kok masih baca Ps? Kapan koment-nya? hahaha

itikkecil berkata...
untuk mendengarkan simfoni alam kita perlu menyatukan diri dengan alam
edy berkata...
saya tunggu
jawabanundangan dari uncle & aunty saja…AngelNdutz berkata...
dengarkan gamelan pas Ndutz SD dulu, kan Ndutz seorang penari B-)
dan skali lagi postingan ini menegaskan kalo paman lagi fallin’ in love…
*mendaftar ke om edy buat jadi undangannyah
Koko berkata...
Simfoni yang indah di telinga sepanjang kita hidup.
goop berkata...
bagaimana cara menyatukan diri itu, mbak?
apakah dengan mendengarkan juga bisa disebut sebagai menyatukan diri?
goop berkata...
oke deh, selamat menunggu
goop berkata...
wogh penari to?
kok fallin’ in love terus sih, ndutz?
oiya ohm edy emang EO-nya hehehe, tapi embuh kapan yak?
goop berkata...
yupe, asal bisa mendengarkan…
bukan begitu, mas?
ulan berkata...
aku mau komen dulu baru baca ps nya
ulan berkata...
cara nya dengan nyanyi mbah dukun..
ulan berkata...
saya juga nunggu om..
*menemukan cara hettrik baru..
goop berkata...
Udah belum bacanya?
goop berkata...
what?!
kalau menyanyi mbah dukun menyatu dengan alam karena disembur-sembur ya, mbak
goop berkata...
Yeee, ikut-ikutan nunggu
awas ya kalau menyampah, hehehe
yusdi berkata...
ikutan nunggu aahhhh
yusdi berkata...
cinta itu memang begitu….bisa dipertemukan dengan simponi, atau apalah namanya…hehehehe
goop berkata...
dezighhh!!!
melu-melu ae
tukangkopi berkata...
entah kenapa gw senyum2 ndak jelas waktu baca postingan ini, apalagi waktu liat link auntygoop itu..
goop berkata...
bukan seperti itu barangkali, bro
tapi pertemuan antara cinta dengan cinta, nada-nadanya menjadi simponi
goop berkata...
Lha kenapa ik? tega nian dikau brader
danisdad berkata...
Goop sang penyair, postingmu nek tak woco ‘AADC’ model puisine…
goop berkata...
Ora mudeng, Mas Dab! maksude piye?
Alex berkata...
SEMILIR ANGIN adalah alunan musik anugerah Illahi yang TERINDAH…….
begitu juga DESIRAN OMBAK di pantai……
dan ALUNAN SERANGGA di tengah malam…….
masmoemet berkata...
jgn cm nunggu paman … jemput bola …
Max Breaker berkata...
wah hati Om digadaikan seharga berapa kepada auntygoop? kekekekekek
ya, tapi kalu musiknya terlampau keras saya mah tutup kuping Om, hehehehe
moerz berkata...
unclegoop memandang dirinya ke dalam cermin…
di cermin itu ia melihat di belakang dirinya seorang lelaki tampan menatap punggungnya..
moerz mengangguk pelan memastikan..
ya, ini saat bagi dirinya, seorang goop, untuk membuktikan kejantanannya..
goop berkata...
Betul sekali, Mas
permasalahannya hanyalah, apakah kita bisa mendengarkan?
goop berkata...
yupe…
seperti main bola ya, mas
gocek kiri dan kanan, haduh! moemetz tenan
goop berkata...
seharga autygoop dong
artinya tidak terhingga, tak ada satuan yang pas
-halah, lebay!-
goop berkata...
Wogh… manstabs!
tengkyu, Sir!
*cium tangan, mohon ijin*
senimanpeta berkata...
Matur nuwun sudah mampir di blog senimanpeta.
mantan-blogger berkata...
saya selalu merasakan ironi tiap mendengar gamelan: perasaan menyenangkan dan menjengkelkan datang sekaligus. menyenangkan, karena nada buah tangan para nayaga itu selalu saja berhasil membawa saya pada ruang yang terasa begitu damai dan tenang. menjengkelkan, krn tak ada sebenarnya kedamaian dan ketenangan, sebab dunia di luaran tak pernah sedamai dan setenang itu. kedamaian dan ketenangan, barangkali, hanya ada di dunia gamelan. saya jadi mengerti, kenapa dulu Kartini selalu dan terus selalu lari kembali ke dunia gamelan tiap kali merasakan kepahitan dan kegagalan.
panda berkata...
lagu-lagu itu, seperti hujan, merayap dari tempat-tempat yang jauh, masuk ke kamarku, memukul imajinasiku. suara gamelan itu adalah………! Hehe
goop berkata...
sama-sama mas
goop berkata...
Saya kira, boleh saja kan Mas sejenak kita berpaling, mencari kedamaian dan ketenangan? seperti sebuah ekstase para pecinta, kemabukan para peminum dan lainnya? sejenak lari, kabur untuk kemudian kembali lagi menghadapi kekalutan, chaos dan tintrim
goop berkata...
hihi, adalah apa, Bang?
meninggalkan sekedar deretan titik nih, Abang
Jumawa berkata...
kok malah kayak takut patah hati ya
aziz berkata...
uncle, blog saya baru!!! kalo mo komen, kesini aja….. jangan yang lama…..
dEEt berkata...
hhmm..
backsound yg pas bwt postingan ini lagu-a mbak Rossa: Nada-Nada Cinta..
*mulai nyanyi*
goop berkata...
Takut patah hati?
hmmm… kok bisa ya?
goop berkata...
siyap!!
goop berkata...
heh… ada backsound-nya juga ya dt?
dengerin dt nyanyi ah
neng fey berkata...
lebih suka august rush dari pada once, nonton the chorus paman, keren euy…!!!
goop berkata...
the chorus? oke akan saya masukkan ke dalam list
terima kasih, Neng