Apakah Anda masih memiliki seorang kakek, sobat? Seorang kakek yang pasti lebih tua dari Anda, mengajarkan bagaimana hidup dilaluinya, dijalani dan dinikmati olehnya? Seorang kakek, memiliki cara yang berbeda untuk mengajarkan kehidupan pada tiap cucunya.

Barangkali kakek Anda adalah seorang yang galak, mungkin juga beliau ini sangat penyayang. Keriput di kulitnya, uban di sebagian atau seluruh rambutnya, menjadi penanda tahun-tahun yang telah dilewati. Bukan hanya kesenangan saja yang mewarnai, tentu kesedihan akan ikut memberikan bentuk, pola dan tekstur pada kanvas hidupnya. Menjadi sebuah lukisan yang lengkap, tetapi entahlah, apakah kita para cucu akan bisa memasuki dan menyatu dengan lukisan itu? Atau sekedar menjadi pemirsa, saksi, penikmat mungkin juga penghujat dari lukisan itu?

Di sebuah kota di Amerika sana, perang saudara antara kaum patriot dengan kaum loyalis baru saja akan dimulai. Warga gamang, bingung dan sibuk menentukan pilihannya, ke mana harus menaruh dukungan dan harapan. Sebuah keluarga kecil, harus menentukan langkah apa yang bisa diambil untuk menjaga keutuhan keluarga tersebut. Akhirnya, sang ayah harus tetap berjuang, sementara ibu dan anak-anaknya dititipkan di rumah kakek yang tinggal di desa.

Di rumah kakek inilah, Felicity seorang gadis, sekaligus anak tertua dari keluarga kecil itu diajarkan berbagai hal oleh kakeknya. Termasuk bagaimana semestinya menjalani kehidupan, adalah bab yang tidak lupa diajarkan. Beberapa kutipan yang mungkin menarik, di antaranya :

Kata-kata yang keluar saat marah, tidak berasal dari hati

Seorang yang sudah tua, seringkali tidak sabar melihat bagaimana kita bertingkah laku, karena mungkin tingkah laku kita sudah tidak sesuai dengan jaman beliau-beliau ini. Selain itu, banyak irama kehidupan yang sudah tidak sama frekuensinya dengan apa yang terjadi pada masa beliau. Itu saja belum cukup, mungkin juga hal-hal lain masih banyak yang bisa menyebabkan beliau naik pitam. Kesabaran orang muda benar-benar diuji saat menghadapi orang tua yang seperti itu. Perlakuan yang tidak nyaman dari orang tua, kemarahan mungkin, bahkan umpatan, adalah ujian bagi kesabaran.

Di lain pihak, kesabaran orang tua juga diuji oleh tingkah polah bocah. Utamanya bila yang dihadapi adalah seorang anak kecil yang belum benar-benar paham akan dirinya sendiri. Tindakan seperti mengompol, mencakar, menendang tidak jarang diterima oleh kakek dan nenek, bukan? Bocah-bocah yang lebih besar, akan memberikan umpatan, teriakan mungkin, serta tindakan lain yang kurang menyenangkan bila keinginannya tidak terpenuhi. Keinginan yang sepele sebenarnya, namun barangkali sudah bisa membuat kakek dan nenek mengelus dada.

Kemarahan, baik yang dilakukan oleh orang tua, pun kebandelan seorang balita, adalah warna-warni lain. Tidak sebenarnya marah, mungkin hanya upaya pengalih perhatian saja, atau perwujudan lain dari bentuk-bentuk kasih sayang? Saya kurang mengerti mana di antara hal-hal itu yang sebenarnya terjadi. Namun saya cenderung untuk sepakat dengan kutipan dari film itu. Ketika marah, bukan kata-kata jernih yang keluar dari hati.

Sikap dan tindakan untuk mengatasi amarah itu kemudian yang menjadi penting. Apakah kita akan ikut-ikutan marah, kemudian menjadi letupan-letupan kecil, yang kemungkinan bisa menjadi ledakan besar? Ataukah akan diam saja, menerima kemarahan sebagai sebuah kewajaran di samping senyum, duka cita yang berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan kejadian-kejadian? Saran saya, tunggulah sebentar, sobat. Tunggulah, ketika amarah berubah menjadi tawa penuh canda, ungkapan sayang dan rasa terima kasih. Saya jadi teringat saat seorang sahabat menuliskan :

jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata

asal gambar