Membincangkan Cantik

Paman, dia cantik ya?

Siapa? Gita Gutawa? Iya…

Menurut Paman, apa yang bikin dia cantik?

Kalo menurut kamu, apa?

Semua, Paman… semuanya…

Emang kamu tahu bagaimana cantik itu?

Engga… mana saya tahu, Paman…

Lah! Ngga tahu kok bisa bilang cantik?

Uhmmm… tidak bisakah cantik gitu aja, terus titik?

Yaa bisa aja sih… tapi kan biasanya ditanyakan apa yang membuat dia “terlihat” cantik

Ah, bagi saya dia sempurna, itu saja

Huahahahaha…

_______________________________________________

Barangkali, cantik memang tidak untuk dideskripsikan, cukup dinikmati saja, bukan?

asal gambar

Rindu Juli

Adalah kerinduan buluh pada rumpun bambu*

Menjadi seruling siulannya adalah sebuah ode

Adalah kerinduan konsonan pada deretan vokal**

Menjadi kata rangkaiannya adalah kalimat syukur

Adalah kerinduan Juli pada rinai hujan

Menjadi debu keringnya adalah kuncup bunga

___________________________________________

*) Rumi (Akulah Angin, Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi; Annemarie Schimmel)

**) Biru Elang Bara

asal gambar

Klaten, 080708

Membincangkan Kematian

Yogyakarta, Sabtu 19 Juli 2008 pukul 07.30 WIB.

Pagi itu, bekas kosan saya yang lama, di Jogja sana disibukkan oleh meninggalnya Ibu kos. Ya, meninggal. Peristiwa sederhana lepasnya nyawa dari tubuh. Meninggalkan tubuh dalam ketakberdayaan, tak kuasa untuk sekedar memompa jantung, menghela nafas, mengedipkan mata. Entah, ke mana perginya nyawa. Apakah masuk di alam kubur? Mungkinkah di sisi Tuhan? Atau menyatu dengan semesta untuk kemudian menjadi pohon, menjadi serangga? Tak tahu saya jawabnya, silakan Anda kembali kepada kepercayaan Anda masing-masing.

Usianya masih bisa dibilang muda, baru 44 tahun. Tetapi maut, tidaklah pernah memandang usia. Maut bekerja tidak pandang bulu. Biarpun muda tak hirau tua, bila memang sudah tiba saatnya tak ada yang bisa menghindar atau menundanya barang sekedipan mata. Penyebab kematian sendiri, bisa beraneka ragam. Kasus Ibu kos saya itu, disinyalir karena terlalu capek bermain badminton dua malam berturut-turut. Tubuhnya yang tambun mungkin telah membuat lemah jantungya, membuatnya lelah dan berhenti berdegup.

Tak ada tangis dari saya, meskipun bisa dibilang saya sangat dekat dengan beliau, saat saya masih kos dulu. Tak jua ada air mata saat Kakek dan Nenek dahulu meninggal. Entahlah, apakah saya tak punya nurani? Ataukah saya menganggap kematian sebagai sebuah hal yang perlu agar kehidupan terus berjalan (Komik Budha)?

Tetapi, saat saya bertemu dengan putra dan putri beliau yang seumuran dengan adik-adik saya dan sudah menganggap mereka seperti adik. Saat menatap mereka satu demi satu, melihat ke matanya yang sembab. Ada perasaan sedih luar biasa, seperti sebuah kehilangan, sebentuk kekhawatiran. Pertanyaan, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan mereka yang terus berjalan, tanpa Ibu di sisinya? Tak ada yang bisa saya lakukan, hanya berdiam diri di sana, menyalami satu demi satu dengan lidah yang kelu.

Kematian, selalu sebuah garis akhir untuk kehidupan seseorang. Di saat yang sama, kematian menandai sebuah awal untuk kehidupan-kehidupan yang lain.

Kehidupan adalah perjalanan pulang. Laksana pulangnya seruling ke rumpun bambu, seperti tertera dalam sajak-sajak Rumi. Kematian adalah pintu, sebelum kita memasuki rumah-rumah keabadian. Sudahkah oleh-oleh disiapkan? Sudahkah cerita dirangkai saat ini untuk dibagi kelak di sana?

Budha menyepi dan tenggelam dalam perenungan yang agung. Budha ingin lepas dari penderitaan manusia dari sakit, dari kematian. Sampai akhirnya Budha menemukan pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Gede Prama menuliskan “Apa yang ditakuti manusia sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingnya”.

Saya tidak tahu, bagaimana persisnya rasa kematian itu. Benarkah seperti daun jatuh dari ranting, melayang-layang kemudian jatuh di tanah. Menjadi humus, dihisap akar, menjadi rumput, dimakan kambing dan seterusnya, sehingga menjadi sebuah siklus?

Mati, mengingatnya menjadi perlu. Agar detik demi detik kehidupan dihargai. Mengingat mati menjadikan kita sadar ada orang tua yang akan kehilangan. Ada istri yang akan bersedih dan berduka cita. Ada anak yang kehilangan pegangan. Ada sahabat yang bersedih, handai taulan yang kerepotan?

Di film seri Smallville semalam, Lex Luthor begitu takut ditinggalkan. Memang nyatanya orang-orang yang dekat dengan Lex pergi meninggalkannya satu demi satu. Di tengah kesendiriannya dia menciptakan seorang adik –Julian- hanya bermodalkan DNA. Julian, malah berhasil mencuri hati ayah Lex, hal yang selama ini tidak bisa dilakukan Lex. Kecemburuan yang memuncak menjadikannya gelap mata, dibunuhnya Julian tepat di hadapan Luthor Sr. Entah bagaimana memaknai peristiwa ini. Satu hal yang jelas, Luthor Sr begitu kehilangan Julian, senangkah Lex, bila ternyata ia kembali ditinggalkan?

Dalam 7 habit-nya, Stephen Covey menyinggung tentang kematian. Cobalah bayangkan saat-saat kematian kita. Di sebuah gereja, saat requiem dilakukan dan orang-orang yang kita kenal memberikan kesaksian kehidupan kita. Sebuah kesaksian seperti apa persisnya yang kita harapkan saat kita dikenang pada detik itu?

Dalam perjalan pulang ini, kita merangkai kata menjadi sebuah cerita. Bahagia ataukah duka yang menanti di sana masih berupa sebentuk tanya. Banyak rambu ditemui selama perjalanan, tak jarang tersesat untuk kemudian putar balik di jalur yang benar. Sebentuk pelajaran, menjadi catatan agar generasi yang akan datang bisa memetik hikmah dan makna.

Sebuah tulisan dari blog lama “Pernahkah Anda mendengar tentang mestia? Upacara pengorbanan, istri-istri Raja di Bali yang membakar diri, moksa bersama kekasihnya? Pun, budaya pagan di Eropa yang menyambut kematian sebagai sebuah perayaan? Mereka menghadapi kematian dengan senyuman.” Saya ingin memberikan link sumber cerita mestia dan budaya di Eropa itu, sayang kini telah menjadi mantan-bloger “kapan nge-blog lagi, Mas?”

Beranikah Anda mendeklarasikan kematian seperti Einstein melakukannya? Beliau berkata “Aku akan pergi jika aku menghendakinya. Merupakan suatu hal yang tak bermakna sama sekali jika aku memperpanjang kehidupan secara artifisial. Aku telah mengerjakan bagianku, dan sudah saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya secara elegan.”

Yogyakarta, Sabtu 19 Juli 2008 pukul 15.30 WIB.

Jenazah sudah dimasukkan di liang lahat, berpakaian kain kafan, berbantalkan tanah yang dibentuk kotak-kotak. Beberapa batangan bambu diletakkan di atas jenazah, sebelum tanah diuruk nantinya. Selepas urukan tanah dibentuk menjadi gundukan-gundukan kuburan, satu per satu pelayat meninggalkan kompleks makam.

“Paman, saya takut…” gumam ponakan saya

Tak ada jawaban dari saya, tak ada yang bisa saya lakukan. Saya masih belum berani untuk mendeklarasikan keberanian menghadapi maut. Tak juga begitu takut karena berharap akan pertemuan denganNya, karena akan pulang. Saya bimbang dalam tanya, tetapi masih cukup mampu untuk mengulurkan tangan menggandeng ponakan saya.

…senandung Megatruh di kejauhan, dan bunga-bunga kamboja berguguran…

asal gambar

[adsenseyu1]

Membincangkan Tata

Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap

Minggu sore itu, Bapak dan Ibu baru saja pulang dari penjahit di desa sebelah. Satu stel baju seragam SMA baru saja selesai dijahit. Di rumah Tata telah menunggu dengan antusias. Tanpa menunggu lama, segera dipakai baju seragam itu lengkap dengan dasi dan topi. Lucu sekali melihat di sore yang cerah itu ada anak yang begitu bersemangat memakai baju seragam. Sudah hari Minggu, sore pula. Sepatu baru yang dari kemarin hanya diletakkan di atas kardusnya, kini pindah ke kaki. Lengkap sudah seragam baru, topi baru, dasi baru, sabuk baru. Ah, gagah sekali adik saya itu.

Di antara kekanakannya yang menjengkelkan dan kebandelan remajanya yang mulai nampak. Saya teringat sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, mungkin saya juga sama bersemangatnya dengan Tata. Tidak peduli bahwa saat itu hari Minggu, sore hari, atau alasan dan pembenaran yang lain. Di lain pihak saya juga teringat bahwa saat itu saya mulai berkenalan dengan kenakalan khas remaja. Mencoba merokok, ikut tawuran, sesekali membolos dan jatuh cinta.

Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu

Saya merasa berbangga juga melihat Tata sudah berganti seragamnya dari kemarin putih biru menjadi putih abu-abu. Hari yang lalu dia terlihat culun dengan celana pendek dan sepatu kumal yang tak jarang berdebu, kini dia terlihat tampan dengan celana panjang dan sepatu baru. Ini bukan masalah penampilan tentu, tetapi rasa yang lain, ah apa ya? Mungkin tiada kata yang pas untuk menggambarkannya.

Saya jadi bertanya-tanya bagaimana “rasa” yang dirasakan oleh Bapak dan Ibu, lahirnya senyum-senyum, batinnya siapa tahu? Di antara bangga dan haru, mungkin terselip juga kekhawatiran. Bagaimana langkah adik saya itu? Akan benarkah dia melangkah, apakah sedikit tersesat seperti kakaknya yang pertama?

Saya jengkel saat tahu adik saya itu pada hari-hari pertama masih diantar ke sekolah. Mungkin saya teringat saat saya masuk SMA semua hal dilakukan sendiri. Harapan saya tentu dia juga melakukan sendiri semuanya. Tetapi kehendak dan perlakuan orang tua tentu tidak sama terhadap putra-putranya.

Duduk sini nak, dekat pada Bapak
Jangan kau ganggu ibumu

Saya selalu percaya, apa yang dikatakan dan dilakukan orang tua adalah baik. Pengalaman yang dilalui menjadi cermin dan pelajaran. Langkah yang beliau tempuh, tentu tidak sama dengan saya yang sukanya main tabrak. Barangkali beliau ini belajar dari tingkah polah saya dan adik yang satu lagi. Si bungsu ini, mungkin lebih mendapat pengawasan dan perhatian.

Sebenarnya agak kasihan juga karena bentuk pengawasan ini terkadang berupa bentakan dan hardikan. Sedikit cercaan dari kakak-kakaknya yang sok tahu pun sering dia terima. Selama ini, Tata telah berhasil melaluinya. Kini sebelah kakinya telah menginjak tempat yang berbeda, mencari jati dirinya. Entah perubahan macam apa yang akan terjadi. Saya harap semoga semuanya berjalan dengan baik dan arah yang benar.

Turunlah cepat dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Sepuluh tahun yang lalu tentu berbeda tantangan yang dihadapi dengan saat ini. Langkah saya dahulu, tentu tidak bisa lagi diterapkan untuk masa kini. Biarlah Tata belajar melangkah, mungkin sesekali terperosok dan kami akan berdiri di belakangnya mengulurkan tangan menariknya. Keluarga layaknya sebuah tim yang bahu membahu, saling mengingatkan dan bergandengan tangan.

Bapak sibuk dengan urusannya sendiri. Ibu sibuk di dapur dan mencuci. Kakak-kakaknya sok sibuk dengan perkaranya masing-masing. Pada akhirnya dia akan sendiri, mencoba-coba, belajar menyelesaikan masalah. Barangkali dengan itu, pengalaman akan datang menghampiri, menjadi bekal melalui jalan terjal yang menghadang. Semoga…

Semua quote : Iwan Fals “Nak”

dan tak lupa “Selamat Hari Anak”

[adsenseyu1]

Menabrak!!

Pengaturan lalu lintas yang berbeda pasca jam 8 malam di jalur utama kotaku, membuatku sedikit pusing. Jalan yang sedianya satu arah, saat itu menjadi dua arah.
Aku melaju dari arah yang tidak biasa. Kecepatan sedang-sedang saja, karena siapa tahu ada …

Pengaturan lalu lintas yang berbeda pasca jam 8 malam di jalur utama kotaku, membuatku sedikit pusing. Jalan yang sedianya satu arah, saat itu menjadi dua arah.

Aku melaju dari arah yang tidak biasa. Kecepatan sedang-sedang saja, karena siapa tahu ada yang melaju dengan cepat dari arah berlawanan dan tidak menyadari bahwa malam itu sudah berlaku dua arah.

Sampai di depan wilayah pertokoan, sebuah sepeda motor yang tidak lengkap onderdilnya termasuk lampu depan. Tak juga helm bertengger di atas kepala penunggangnya bermaksud untuk menyeberang jalan.

Dia memang telah berhati-hati dengan menengok pada jalur biasa kala siang. Sayang, dia tak sempat menengok dari arahku datang.

Ckiiiiiiitttttttt, Braaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!

Sukurlah masih sempat melakukan pengereman, meski tangan kiri terantuk bagian depan motornya. Motor tak ada yang lecet, dan perjalanan dilanjutkan kembali.

Hal yang selalu menjadi kebiasaan, sukar sekali mengubahnya. Tanyalah pada pengendara dudulz itu bila tak percaya

-salam-

[adsenseyu1]

Membincangkan Nada

Dengarkan!

Bisakah kau dengar, Lagu itu?

Aku bisa mendengar di mana-mana

Di dalam angin, di udara, dalam cahaya

Ada di sekeliling kita

Kamu hanya perlu membuka diri

Kamu hanya perlu mendengarkan *)

Sudahkah Anda mendengarkan? Sudahkah Anda mendengar lagu itu? Sudahkah?

Udara memberat, ruangan menyempit, gelap dan kegelapan meliputi. Background yang hitam, ruangan dengan cahaya terbatas dan hanya menyorot pada beberapa bagian tertentu. Terkadang mengarah pada para pemain di tengah. Tak jarang menyentuh di sudut. Jarang sekali semua lampu menyala bersamaan.

Festival gamelan di Taman Budaya Yogyakarta, malam itu menjadi pengingat, terutama untuk saya sendiri. Ada noktah-noktah nada yang tersebar, bebas di sekitar kita. Tidak perlu terpaku pada kaidah-kaidah slendro atau pelog. Dengarkanlah, diamlah dan biarkan himpunan nada-nada itu memasuki telinga kita, menggetarkan gendang pendengaran di dalam sana. Membawa kita pada sebuah wilayah tanpa nama, melayang-layang entah di mana.

Tak perlu protes bila Anda masih saja tidak mengerti dengan apa yang dimainkan. Tak jua bosan, mungkin saja terjadi dan silakan saja itu terjadi. Musik tanpa pola -atau sebenarnya berpola- yang tidak begitu nyaman didengar. Menghentak, mengetuk kesadaran. Berpusing, melingkar-lingkar menjadi satu dengan semesta udara. Perlahan menjadi ketukan teratur, melenakan.

Mendengarkan suara gamelan malam itu, bukan hanya mendengar suara logam beradu dengan palu dari kayu. Barangkali bunyinya, nadanya adalah pengetuk jiwa-jiwa. Musik adalah jembatan bumi dan surga. **) Maka biarkanlah, ikutilah setiap ketukan nada, melayanglah atau terbang sekalian pada keindahan nada, dan sebagian dari surga mungkin sudah kita rasakan.

Ada bunyi pada gemericik air sungai, pada air minum yang memasuki gelas. Ada bunyi pada gesekan daun yang digerakkan angin. Ada bunyi pada cahaya matahari yang membangunkan kodok tidur. Ada bunyi yang mengusik pucuk-pucuk ilalang. Semua berbunyi, tak mudah membedakan satu dengan yang lain. Tetapi, kenapa pula harus dibedakan?

Bukankah saat gitar berpadu dengan bass, dengan drum, dengan piano malah menjadi suatu komposisi nada? Bila suara sebuah gitar saja sudah demikian memukau, bagaimana jadinya bila berpadu dengan alat musik yang lain? Sebuah orkestra mengalun kemudian. Tetapi orkestra alam tentu saja berbeda. Kita dapat merekamnya, tetapi bisakah kita membuatnya? Menciptakan nada-nada yang mirip dengan komposisi alam bermain musik? Musik alam, adalah ode, madah agung, zikir kepada Semesta.

Saya kira, symphoni alam adalah sebuah pertemuan. Pertemuan nada-nada dari angin dan dedaunan, rerumputan, lenguhan kerbau, sekedar kotek ayam? Cobalah membunyikan sebuah nada “do” jangan berhenti, teruslah bunyikan sebuah nada itu. Bukankah Anda bisa membuat variasi dari sebuah nada saja dengan memainkan tinggi rendahnya nada? Eh, ada pertemuan dari nada dengan pita suara Anda sehingga sebuah nada bisa terdengar merdu.

Kira-kira, apakah yang mempertemukan Yusuf dengan Zulaikha? Laila dengan Majnun? Romeo dengan Juliet? Kurt Cobain dengan Coutney Love?

Saya tidak sedang membicarakan cinta. Tetapi, bukan tidak mungkin nada-nada cinta telah mempertemukan mereka ini. Menggetarkan relung-relung jiwa, dawai-dawai hati dan membentuk sebuah komposisi nada. Bila Semesta mengijinkan, apa yang tidak mungkin kemudian?

Semesta juga yang telah membuat unclegoop menunggu. Dia menunggu, mendengarkan semesta nada. Apakah tidak mencari? Bukankah mendengarkan itu juga sebentuk pencarian? Saat mendengarkan, mungkin dia juga mengeluarkan sebentuk bunyi. Di antara nada-nada itu, barangkali ada sebuah nada yang berbeda. Nada yang dibunyikan oleh auntygoop yang juga dalam penantiannya, yang juga mendengarkan. Bila Semesta mengijinkan, apa yang tidak mungkin kemudian? ***)

Kemudian keduanya bahagia selamanya, halah!

Musik itu ada di sekitar kita

Hanya perlu kita dengarkan saja.

*) : August Rush

**) : Forbidden Kingdom

***) : Semoga bisa menjadi jawaban untuk sebuah pertanyaan dari seorang sahabat.

Ps1 : Silakan melihat film “August Rush”, juga “Once” untuk belajar dari nada-nada

Ps2 : Tidak semua musik enak didengar, ini soal selera sepertinya, tidak masalah, bukan?

Ps3 : Bagaimana bila sebuah nada berakhir? Benarkah hanya tinggal diam, hening dan sunyi?

Ps4 : Kok masih baca Ps? Kapan koment-nya? hahaha

Urusan cinta ini kok makin tidak mudah

“Aku baru sadar, ternyata mencintai itu, begitu… begitu… sulit! Sementara membenci seseorang, begitu mudah! Saat melihat langsung ke mata duplikatku yang jahat itu, aku baru sadar, ternyata perubahan menjadi monster bukan hal yang sukar.”

“Apa yang perlu kau tahu adalah, apapun yang akan keluar dari dirimu saat ini, aku akan berada di sini.”

Kira-kira begitulah percakapan di antara Clark Kent dan Chloe di penghujung film Smallville (9/7/8). Kesadaran Clark Kent akan potensi dirinya untuk menjadi monster, dari pada menjadi pembela kebenaran saya kira patut diacungi jempol. Dia yang notabene adalah seorang superhero, memiliki kekuatan yang bisa diisi ulang dengan gampang menggunakan sinar matahari, serta lebih perkasa dari manusia manapun, sadar betul apa akibatnya bila dia berubah menjadi monster.

Kira-kira, bila dia benar menjadi monster apakah ada yang sanggup untuk menghentikannya? Ya, mungkin bila orang itu semacam Lex Luthor yang memiliki cadangan kryptonite di gudang pabriknya. Tetapi bagaimana bila Clark begitu berniat menjadi monster dan melakukan langkah antisipasi dengan menyembunyikan batangan-batangan kryptonite?

Kita mesti bersyukur akhirnya, bahwa Clark masih memiliki cinta. Sedikit naif barangkali, tetapi memang demikianlah senyatanya. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang menyayanginya dengan sepenuh hati di sebuah peternakan. Tumbuh kembang bersama teman-teman yang meskipun tidak “aneh” namun tidak kalah dalam memberikan perhatian, membuat Clark menjadi peduli. Peduli pada sekitar, perhatian kepada teman dan keluarga. Cinta dalam hatinya dipupuk, tumbuh subur dan menguncup, mekar kemudian mewangi, mengharumkan lingkungan sekitarnya. Cinta ini pula yang telah menjaganya dari keinginan menjadi monster.

Di lain pihak, saya juga bersimpati kepada Lex Luthor. Tidak segan-segan dia berubah menjadi monster demi memenangkan sebuah hati. Apa yang tidak dilakukannya untuk memenangkan hati seorang Lana? Penelitian yang bernilai miliaran dollar, sampai dengan berpura-pura bahwa Lana telah hamil. Hampir semua hal telah dilakukan, tetapi apakah telah dimenangkan hati Lana, bila kenyataannya Lana masih saja belum berpaling dari Clark?

Apa yang kurang dari Lana kemudian? Dia begitu mencintai Clark, tidak perlu dipertanyakan, walaupun mungkin dalam hubungan di antara mereka berdua banyak onak dan duri. Proses adaptasi saya kira membutuhkan waktu yang tidak sedikit, kesabaran, pengorbanan dan kompromi. Hasil akhir memang tidak pernah di tangan kita, bila kemudian Lana menikah dengan Lex, sampai kemudian Lana “berlagak” meninggal demi melindungi orang yang paling dicintainya, barangkali menjadi bukti paling sahih betapa rumit masalah cinta ini.

Tetapi sabar dulu, sobat! Di sisi lain masih ada cinta yang sederhana, atau mungkin lebih tepat bila cinta tersebut bisa menyederhanakan sesuatu, terbukti dari pernyataan berikut ini:

“Bila kau mencintai seseorang, kau tak peduli semegah apa pernikahanmu. Kau bahkan akan rela menikah di beranda dan hanya tukang susu yang menjadi tamunya.”

Sebuah quote dari film “MOLLY” film yang diputar tepat sebelum “Smallville” di malam yang sama. Bukankah sebuah cinta telah menyederhanakan resepsi yang semestinya megah, mewah dan tidak jarang bahkan sampai dibela-belain berhutang?

“Tetapi dalam quote kedua, cinta sudah terjalin, Paman!”

“Ah iya, benar juga pernyataan kau itu.”

“Paman sendiri bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Maksudnya, cinta Paman sendiri bagaimana?

Saya manyun, dan maukah menemani saya manyun, sobat?

Rahasia Kenikmatan Kerupuk

Makan nasi goreng senikmat apapun, masih kurang lengkap bila tiada kerupuk yang menemani. Kerupuk bukanlah makanan utama, tak juga bervitamin. Bahkan mungkin menimbulkan batuk karena kandungan minyak di dalamnya. Fakta yang demikian jelas tentang kandungan kerupuk dan efek negatifnya, tak juga menyurutkan langkah tukang makan, semisal saya untuk terus memakan kerupuk.

Kerupuk selalu dicari ketika soto terhidang di meja makan. Kerupuk diincar, dilirik-lirik saat menikmati mie goreng, atau mie godok. Pendek kata, apapun makanannya kerupuk teman menyantapnya. Biar makanan selezat apapun, bila tiada kerupuk terhidang rasanya ada yang kurang, hampa dan tidak lengkap.

Sayang, tidak semua kerupuk nikmat. Kerupuk yang terhidang ini harus dalam kondisi keras alias tidak melempem. Kerupuk yang keras, tak jarang menimbulkan bunyi saat dimakan benar-benar bernilai mahal. Bukan mahal harganya, sobat. Tetapi mahal kenikmatan yang ditawarkannya.

Guna menjaga kekerasan kerupuk, dibuatlah sebuah wadah yang istimewa. Di tempat saya, wadah kerupuk ini terbuat dari bahan yang sejenis dengan material dasar kaleng roti. Desain yang sedemikian hebatnya, membuat udara tak mungkin masuk dan mencederai rasa nikmat kerupuk. Udara yang tidak berganti di dalam kaleng kerupuk, adalah syarat agar kerupuk tetap keras dan tidak melempem.

Di salah satu sisinya, kaleng kerupuk memiliki kaca tembus pandang. Dari sini, kita bisa melihat bagaimana bentuk, warna dan penampilan dari kerupuk yang ada di dalam sana. Saya kira, ini salah satu bentuk bagaimana menawarkan kerupuk itu, semacam beriklan melalui penampilan langsung dari kerupuk.

Tak jarang, di sisi atas dari kaca tembus pandang ini, dituliskan siapa yang memproduksi kerupuk istimewa ini. Hanyalah nama, tengara untuk kaleng kerupuk itu sendiri, agar tidak tertukar dengan produsen kerupuk yang lain. Tetapi, bila ditelusur lebih jauh, rasa-rasanya nama ini juga menjadi salah satu cara beriklan juga. Tanpa sadar, kita akan menandai sebuah merk kerupuk bila dirasa lebih nikmat dari merk lain, kemudian bila di suatu warung kita bertemu dengan beberapa kaleng kerupuk yang merk-nya beragam, tentu kita akan memilih merk-merk yang sudah kita kenal.

Hebat bukan, peran dari sebuah kaleng kerupuk? Fungsinya tidak saja kepada kerupuk yang dijaga kekerasannya, tetapi juga kepada pelanggan rumah makan agar kian nikmat dalam menikmati hidangan. Sebuah kaleng kerupuk menyimpan rahasia, bukan sembarang rahasia, karena rahasia yang disimpan adalah rahasia kerupuk. Kenikmatan beberapa buah kerupuk yang akan menjaga pengunjung tetap setia pada sebuah rumah makan, kenikmatan yang akan menambah rasa nikmat pada makanan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Lebih jauh, kaleng kerupuk menyimpan sebuah rahasia kenikmatan.

Peran yang sama, meski pada obyek yang berbeda, dapat juga kita temukan pada sebuah termos, magic jar, magic comp dan peralatan rumah tangga yang lain, (maaf ngga hapal).

Bagaimana dengan manusia, sobat? Apakah yang dirahasiakan oleh seonggok tubuh manusia? Kenikmatan macam apa yang bisa ditawarkan?

Seorang wanita, kenikmatan yang ada apakah hanya sebatas selaput dara? Setahu saya, tidak hanya itu. Rasa keibuan yang dimiliki, sifatnya yang lebih peka sekaligus perasa. Tentu saja, sebagai mitra pria dalam menjalani hari demi hari. Kepolosan, jujur dan nakalnya anak kecil, sepertinya adalah rahasia dari masa kanak-kanak. Kebijaksanaan orang tua, ajaran dan wejangannya juga terawangan yang awas sebagai hasil dari memakan asam dan garam pengalaman, barangkali sebuah kenikmatan cawan-cawan yang ditawarkan dari perjalanan usia.

Potensi kenikmatan, akhirnya ada pada setiap diri. Bagaimana cara mengungkapkannya kemudian yang menjadi masalah. Apakah tersembunyi dalam sebuah kaleng yang tertutup rapat? Apakah ada media tembus pandang yang dari sana kita dapat melihatnya, tapi tiada kuasa untuk menyentuh dan menikmatinya? Ataukah terhidang begitu saja, di atas meja makan dan tinggal kita santap?

Bagaimana dengan Tuhan, ya?

[adsenseyu1]

Felicity : an american girl adventure (Bagian II)

Apakah, sekarang ini Anda sedang terikat dengan sebuah kontrak, sobat? Bisa kontrak apa saja, mungkin kontrak kerja, bisa juga sebuah kontrak cinta yang melembaga dalam pernikahan, atau kontrak hidup? Sebuah kontrak yang sudah jelas kapan akan berakhir, mungkin juga tidak jelas kapan akan menemui garis finish.

Kakek yang mengajarkan bagaimana melakukan manajemen marah, berkata :

Jangan mengejar sesuatu saat kau lari dari sesuatu

Sejujurnya saya kurang mengerti bagaimana esensi dari perkataan itu. DI film ini, diceritakan bagaimana seorang pegawai magang yang masih terikat kontrak melarikan diri, karena ingin bergabung dengan pasukan loyalis. Dia ingin mendarmabaktikan hidupnya untuk perjuangan, bukan hanya menjadi seorang pegawai magang.

Sebuah kontrak, menurut kakek Felicity, adalah janji yang telah diberikan. Nilainya tidak lebih rendah dari darma bakti untuk perjuangan. Walaupun bentuknya secara kasat mata terlihat lebih rendah “hanya” sebagai pegawai magang, namun janji adalah janji, dan harus ditepati. Akhirnya Ben, sang pegawai magang memegang janjinya kepada bosnya yaitu ayah Felicity. Tindakan Ben ini, selaras dengan pesan jangan mengejar sesuatu saat kau lari dari sesuatu. Ben memutuskan untuk menyelesaikan kontraknya terlebih dahulu, barulah kemudian akan berjuang untuk keyakinannya.

Saat yang sama, mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam film berjudul “9,5”. Waktu itu, gempa besar baru saja terjadi, gempa yang mengakibatkan sebuah kota hilang. Adegan menampilkan seorang ayah dan anak gadisnyanya yang sedang tersesat mencari jalan pulang. Mereka berdua harus memutar, bukan melewati jalan yang sebenarnya karena jembatan yang menghubungkan runtuh. Mobil yang ditumpangi, ditelan medan pasir hisap yang tiba-tiba terbentuk pasca gempa. Ayah dan anak ini, terpaksa berjalan menempuh jarak yang tidak diketahui, serta di lain pihak masih ada ancaman gempa susulan. Kira-kira beginilah percakapan di antara keduanya.

“Ayah, bagaimana kita akan menemukan jalan pulang dan bertemu dengan Ibu? Sementara kita tidak tahu di mana saat ini kita berada, lagipula aku sudah demikian capek, Ayah!.”

“Kau lihat belokan itu, Nak? Kita hanya perlu menuju ke sana, kemudian kita akan menentukan langkah selanjutnya setelah sampai di belokan itu.”

“Tapi, bagaimana dengan Ibu, Yah? Apakah Ibu baik-baik saja? Bagaimana bila terjadi sesuatu dengannya? Bagaimana bila kita tidak akan pernah bisa pulang? Bagaimana bila tak ada seorangpun yang akan kita temui dan mungkin bisa memberikan tumpangan?”

“Kita tak mungkin memikirkan semua itu secara bersamaan, Nak. Fokuslah pada belokan itu, bila kita bisa mencapainya, maka jawaban akan tersaji satu demi satu kemudian. Begitu juga, bagaimana cara Ayah dalam bekerja, begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, namun akhirnya tetap harus diselesaikan satu per satu.”

Saya kurang tahu, apakah Anda bisa multitasking? Mengerjakan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan, seperti sebuah mesin komputer? Beberapa orang yang kebetulan cewek, mengaku dirinya bisa multitasking. Wah, saya sangat kagum dibuatnya. Saya sendiri, bisa sangat fokus ketika sedang disibukkan dengan satu hal yang menyenangkan, atau saat mendekati deadline. Tak jarang saya tidak menengok saat ada panggilan dari orang lain, bukannya menjadi tuli. Tidak seperti itu, karena panggilan itu tetap saja terdengar, hanya sayang meninggalkan hal yang begitu mengasyikkan untuk sekedar menengok.

Fokus pada sesuatu dan mengesampingkan hal lain. Saya kira, kerja sebuah lensa kamera bisa menjadi contoh yang mewakili. Kita akan mengatur lensa, dengan memutarnya atau melakukan zooming sampai dengan sebuah obyek terlihat jelas. Bila lensa telah fokus, maka obyek yang menjadi incaran akan terekam dengan baik. Selanjutnya, bila niat kita sudah fokus, sudah bulat, apa kira-kira yang akan terjadi pada obyek yang ingin kita tangkap, kita capai?

Sebenarnya saya khawatir hanya menuliskan teori-teori tanpa diwujudkan dalam praktek. Mencoba menerjemahkan pesan kakek Felicity, mencoba mengambil intisari dari perkataan seorang ayah di film “9,5” tanpa menjadikannya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa saat yang lalu, saat menjalin hubungan dengan seseorang, ternyata saya tidak fokus padanya. Seorang yang lain hadir, lengkap dengan pesonanya. Lensa saya kabur, bingung menangkap obyek yang mana. Akhirnya hanyalah gambar buram yang tersaji. Sepertinya ini curhat colongan, hehe. Tetapi biarlah, mungkin dengan itu kita bisa belajar bersama. Akhirnya, fokusss yuuukkkk!!!

asal gambar

[adsenseyu1]

Felicity : an american girl adventure (Bagian I)

Apakah Anda masih memiliki seorang kakek, sobat? Seorang kakek yang pasti lebih tua dari Anda, mengajarkan bagaimana hidup dilaluinya, dijalani dan dinikmati olehnya? Seorang kakek, memiliki cara yang berbeda untuk mengajarkan kehidupan pada tiap cucunya.

Barangkali kakek Anda adalah seorang yang galak, mungkin juga beliau ini sangat penyayang. Keriput di kulitnya, uban di sebagian atau seluruh rambutnya, menjadi penanda tahun-tahun yang telah dilewati. Bukan hanya kesenangan saja yang mewarnai, tentu kesedihan akan ikut memberikan bentuk, pola dan tekstur pada kanvas hidupnya. Menjadi sebuah lukisan yang lengkap, tetapi entahlah, apakah kita para cucu akan bisa memasuki dan menyatu dengan lukisan itu? Atau sekedar menjadi pemirsa, saksi, penikmat mungkin juga penghujat dari lukisan itu?

Di sebuah kota di Amerika sana, perang saudara antara kaum patriot dengan kaum loyalis baru saja akan dimulai. Warga gamang, bingung dan sibuk menentukan pilihannya, ke mana harus menaruh dukungan dan harapan. Sebuah keluarga kecil, harus menentukan langkah apa yang bisa diambil untuk menjaga keutuhan keluarga tersebut. Akhirnya, sang ayah harus tetap berjuang, sementara ibu dan anak-anaknya dititipkan di rumah kakek yang tinggal di desa.

Di rumah kakek inilah, Felicity seorang gadis, sekaligus anak tertua dari keluarga kecil itu diajarkan berbagai hal oleh kakeknya. Termasuk bagaimana semestinya menjalani kehidupan, adalah bab yang tidak lupa diajarkan. Beberapa kutipan yang mungkin menarik, di antaranya :

Kata-kata yang keluar saat marah, tidak berasal dari hati

Seorang yang sudah tua, seringkali tidak sabar melihat bagaimana kita bertingkah laku, karena mungkin tingkah laku kita sudah tidak sesuai dengan jaman beliau-beliau ini. Selain itu, banyak irama kehidupan yang sudah tidak sama frekuensinya dengan apa yang terjadi pada masa beliau. Itu saja belum cukup, mungkin juga hal-hal lain masih banyak yang bisa menyebabkan beliau naik pitam. Kesabaran orang muda benar-benar diuji saat menghadapi orang tua yang seperti itu. Perlakuan yang tidak nyaman dari orang tua, kemarahan mungkin, bahkan umpatan, adalah ujian bagi kesabaran.

Di lain pihak, kesabaran orang tua juga diuji oleh tingkah polah bocah. Utamanya bila yang dihadapi adalah seorang anak kecil yang belum benar-benar paham akan dirinya sendiri. Tindakan seperti mengompol, mencakar, menendang tidak jarang diterima oleh kakek dan nenek, bukan? Bocah-bocah yang lebih besar, akan memberikan umpatan, teriakan mungkin, serta tindakan lain yang kurang menyenangkan bila keinginannya tidak terpenuhi. Keinginan yang sepele sebenarnya, namun barangkali sudah bisa membuat kakek dan nenek mengelus dada.

Kemarahan, baik yang dilakukan oleh orang tua, pun kebandelan seorang balita, adalah warna-warni lain. Tidak sebenarnya marah, mungkin hanya upaya pengalih perhatian saja, atau perwujudan lain dari bentuk-bentuk kasih sayang? Saya kurang mengerti mana di antara hal-hal itu yang sebenarnya terjadi. Namun saya cenderung untuk sepakat dengan kutipan dari film itu. Ketika marah, bukan kata-kata jernih yang keluar dari hati.

Sikap dan tindakan untuk mengatasi amarah itu kemudian yang menjadi penting. Apakah kita akan ikut-ikutan marah, kemudian menjadi letupan-letupan kecil, yang kemungkinan bisa menjadi ledakan besar? Ataukah akan diam saja, menerima kemarahan sebagai sebuah kewajaran di samping senyum, duka cita yang berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan kejadian-kejadian? Saran saya, tunggulah sebentar, sobat. Tunggulah, ketika amarah berubah menjadi tawa penuh canda, ungkapan sayang dan rasa terima kasih. Saya jadi teringat saat seorang sahabat menuliskan :

jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata

asal gambar

[adsenseyu1]