melintas batas
Archive for June, 2008
saat mati lampu
Jun 5th
CPU mati, monitor mati
Internet mati, blogwalking mati
Semua mati
Ada kertas bisa ditulis
Modal rautan dan sebatang pensil
UPS berbunyi tit… tit… tit…
Berisik
Dulu, tak ada CPU, monitor
Dulu, UPS tak menghiasi kantor
Dulu, tak ada konslet teledor
Jadi?
Ya ngga papa
Anggap saja jeda, seperti koma
Layaknya spasi, saat dihela
Sedih dan Malu, sebuah e-mail ber-disclaimer dari saya
Jun 5th
:::DISCLAIMER:::
Apa yang akan anda baca berikut adalah curhat tidak mutu, sedih dan malu. Sangat tidak nyaman dibaca oleh anda yang menganggap memiliki kebenaran di ketiak anda, para pembela agama yang menganggap agamanya perlu dibela. Tidak disarankan dibaca oleh mereka yang berpikiran sempit, dan mendewa-dewakan dogma, dalil dan menafikkan pikiran yang telah dikaruniakan kepada anda. Bila anda adalah orang-orang ini, maka saya persilakan segera menutup email ini dan berganti membaca yang lain. Namun bila anda berkenan, mari menari bersama saya, dalam tarian kata-kata.
___________________________________________________________________________________
Dahulu sewaktu SMA, saya memiliki teman bernama Muhammad Izzuddin, Muhammad Syafruddin, Muhammad Sahal Saiful Haq, Nur Affiah Maizunati, Faizzatuzahro, dan lain-lain. Tanpa perlu saya tambahkan Habib, Syekh atau Kiai, tentu anda sudah dapat menduga siapa mereka-mereka ini.
Di saat bersamaan, saya juga memiliki teman bernama Albertus Mimas Banu Hisworo, Elizabeth Rosalia Anggraeni Yuniar, Gregorius, A.C Bayu Putra, Alluwisia Hediyanti (bener ra?), Leonardus Yogi. Pada nama-nama ini, tidak perlu juga saya tambahkan romo, pastur, frater dan lain-lain tentu anda juga sudah dapat menduga apa maksud saya.
Itu saja masih belum cukup, ada lagi Yoke Kurniawati, Hendro Baskoro, Wilson, Kurniawan Nugroho Widjaksono Pada nama-nama ini, tidak perlu saya tambahkan koko, cici, tacik atau apapun yang lain anda juga sudah dapat menduganya, bukan?
Nama saya sendiri Sridewanto Edi Pinuji, ada lagi Antuk Dwi Nugroho, Sentot Sugiarto Wibowo, Kusmadewi Eka Damayanti, Dian Jatmiko Adi, Joko Kurniawan. Tentu tanpa perlu saya tambahkan Kangmas atau Mbakyu anda juga sudah dapat melihat bahwa itu adalah nama-nama jawa.
Sebenarnya saya hanya ingin menunjukkan betapa beragamnya teman yang saya miliki saat SMA dulu. Apakah kemudian dengan beragam itu, saya menjadi tidak nyaman dengan mereka ini? Ternyata kok ya tidak, saya nyaman-nyaman saja berkawan dengan mereka. Eh, kalau anda merasa tidak nyaman berteman dengan saya, hehe itu bukan urusan saya, kawan.
Saya percaya, dahulu anda berteman dengan siapa saja. Tanpa mempertimbangkan ada atau tidak jenggot yang tumbuh di dagunya. Tanpa mengukur, apakah celananya ngatung kurang panjang atau tidak. Tanpa melihat, apakah di lehernya berkalungkan salib atau tidak. Anda memilih teman juga tanpa memperhitungkan lebar membuka matanya. Saya percaya itu, tetapi jika ternyata ada yang mempertimbangkan perbedaan-perbedaan itu. Wah saya kurang tahu, saya akan berprasangka baik, bahwa anda berteman tanpa prasangka, begitu saja.
Ah, sebagai contoh kecil. Saya satu kos di Jogja dengan Banu, selama hampir dua tahun. Benar memang kami berbeda dalam beberapa hal. Tapi apakah itu menjadi penghalang? Tolong dijawab bila beberapa hal berikut ini yang terjadi : Banu akan mengecilkan volume musik dari PC, bila saya menunaikan sholat atau mengaji. Saya akan menitip salam kepada gadis-gadis yang akan ditemuinya bila Banu ke gereja (logh?!) ah ya, maafkan saya masih saja usil.
Dalam ranah pribadi, agama misalnya, saya akan menghormati beliau. Tapi dalam keseharian, saya akan bergandengan tangan dengannya. Saling meminjam uang, bergantian memakai komputer karena tegangan listrik yang terbatas, tukar menukar rokok dan lain-lain.
Pada akhirnya, saya melihat Indonesia mini di SMA kita, kawan. Ada heterogenitas di sana, sebuah keberagaman, yang lain di luar saya. Tetapi meski berbeda, kita satu SMA. Jadi teringat sebuah semboyan berikut ini : Bhinneka Tunggal Ika. Semoga anda tidak lupa.
Dalam kehidupan saya memilih kemudian, sebuah agama karena pertimbangan satu dan lain hal. Apakah agama saya paling benar? Sejujurnya saya kurang tahu, karena saya hanya memeluk sebuah agama dari lahir sampai sekarang ini. Satu lagi, bukankah kebenaran itu relatif? Siapa yang memiliki kebenaran mutlak?
Saya akan mengucapkan bahwa agama saya paling benar bila saya sudah pernah memeluk dan merasakan semua agama. Saya bisa membandingkan satu dengan yang lain secara obyektif karena menggunakan parameter-parameter yang sama. Kemudian kenapa saya memilih islam? Ah, yang satu itu biarkan hanya saya saja yang tahu apa alasannya.
Di SMA kita, di Indonesia anda tidak pernah sendirian kawan, meskipun anda “merasa” paling besar. Di SMA kita, di Indonesia anda tidak perlu merasa terkucil, meski “mungkin” anda kecil. Selalu ada “liyan” –yang lain- dalam perjalanan hidup ini.
Apakah anda merasa bahwa karena anda besar, kemudian berhak mengebiri hak-hak yang kecil? (aduh, maaf saya lupa apa antonim tirani minoritas?). Yah, dan apakah anda akan menjadi tirani minoritas, kecil, eksklusif, mencil?
Pluralisme, heteregon, mau tidak mau, suka tidak suka terjadi juga. Selama anda di SMA kita, selama anda di Indonesia, ini yang akan kita temukan. Kecuali, kecuali kalau anda akan mendirikan negara sendiri bernawa Kowait mungkin, hidup bersama para Habib, syekh. Bernama Vatikon, Chine, atau yang lain, mungkin?
Tetapi selama anda di SMA kita, selama anda di Indonesia, jangan harap kawan. Negeri ini didirikan bersama oleh Soekarno dan Hatta, dengan meminta nyawa dari Sitorus, Joko, Acong dan lain-lain. Kita mengenal persatuan Indonesia, kita mengenal kemanusiaan yang adil dan beradab, kita juga mengenal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sekarang kita tinggal mengisinya dengan sepenuh hati. Tetapi, kita malah mencari musuh sendiri, di antara bangsa sendiri. Di mana itu ketuhanan yang maha esa? Diselundupkan ke mana itu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan? Busyed, apakah juga ikut-ikutan dikorupsi?
Saya sedih karena saat saya, bersama dengan anda dan menjadi kita, menjadi kami. Saya merasa kuat, jumawa. Kita berani karena banyak, apakah karena benar? Benar menurut siapa? Menurut kita? –ndhasmu!-
Saya melihat orang lain salah, halal darahnya, berhak nyawanya, kafir. Sejak kapan kita menggantikan posisi Tuhan, menentukan benar dan salah, halal dan haram, mencabut nyawa?
Ayolah kawan, bukankah kita hanya membutuhkan sebuah ruang saja? Sebuah ruang tidak lebih lebar dari meja makan, saat kita telah tiada? Bukankan kita akan menjadi bangkai, dimakan belatung?
Siapa yang memberikan hak kepada anda untuk menjadi hakim menentukan ini benar dan itu salah? Bila kita keluar dari “ruang” kita, maka akan ada “ruang” orang lain. Mungkin akan bersinggungan, tak jarang berbenturan. Apakah anda sudah lupa tentang tenggang rasa? Tepo seliro?
Yah, ngga papa sih, kalau anda lupa, karena saya juga. Saya tahu bahwa kita menggunakan jawa hanya sebagai tempat lahir dan almari bangkai kita. Saya faham, kita lebih mempelajari syair padang pasir, atau manuskrip barat ketimbang, sebuah “Serat Kalathido, Babad Tanah Jawi, Wedhatama, Jongko Joyoboyo “. Budaya kita kawan, sebentar lagi akan mati seperti senandung megatruh, sebuah tembang dalam macapat yang ngelangut, perlambang pisahnya nyawa. Ups, maaf malah membelokkan permasalahan.
Saya juga merasa malu, karena agama –dalam bahasa jawa krama inggil : ageman artinya pakaian- yang saya pakai compang-camping. Sobek di sini dan di sana. Berlubang di sana-sini. Bukan karena siapa-siapa, karena tangan-tangan kita sendiri. Sebelum saya benar-benar melepasnya dan memilih telanjang sekalian, bantulah saya menjahitnya kawan. Dengan penuh kasih, dengan penuh sayang seperti yang diajarkan oleh Baginda yang mulia.
Terlepas dari segala macam konspirasi di balik itu, entah pengalihan isu BBM entah apa lagi. Demikianlah sedih dan malu saya. Sekian.
Ps :
-
Maaf untuk semua nama yang disebutkan, hanyalah sebagai contoh.
-
Terpengaruh oleh beberapa tulisan Goenawan Muhammad tentang pluralisme, yup saya pendukung pluralisme, ada yang mempermasalahkannya?
-
Teringat pancasila yang diinjak-injak dengan kekerasan justru saat seharusnya diperingati.
-
Oya, ayolah kawan, saya tahu anda di sana hanya berdiam diri, suarakan apa yang ingin anda suarakan, jangan takut bersuara.
-
Terima kasih untuk yang tetap membaca sampai dengan kalimat ini, untuk moderator semoga ini tidak melanggar netiket dari milist ini, dan untuk nama-nama lain yang akan saya sebut dalam hati.
Sendiri
Jun 3rd
Setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Bangun tidur, tidak ada siapapun yang ditemukan saat membuka mata. Hal biasa yang dilakukan di kamar mandi, juga tak ada yang menemani. Jok belakang sepeda motor yang lega lebih sering kosong, sehingga batas kecepatan dapat dicapai dengan mudah.
Kesendirian menjadi sahabat karib, menemani ke manapun kaki melangkah. Pada akhirnya, justru nyaman dengan itu semua. Terganggu bila banyak orang, bising dan ramai ditemui. Merasakan kesendirian, seperti menikmati teh hangat, dicecap pelan, dirasakan dengan penuh kenikmatan.
Pada teh hangat, tidak ada kejutan berarti yang ditemui, sedikit pahitnya adalah kewajaran. Bila gula terlalu banyak dibubuhkan, menjadi terlalu manis, maka tinggal ditambahkan air. Tak jarang, beberapa jenis teh memberikan keharuman yang berbeda. Sedikit kejutan memang, tapi tak lama.
Segelas teh kemudian begitu personal. Saya memiliki takaran gula sendiri, kadar panas air sendiri, jenis atau mungkin merk teh sendiri. Bila itu tidak terpenuhi, kemudian saya akan kecewa, kurang nyaman dan serasa ada yang kurang.
Egois
Ah ya, benar sekali! Saya menjadi begitu egois dan terobsesi dengan kesendirian. Alih-alih berjamaah ke masjid, saya malah akan lebih nyaman di rumah. Entahlah, barangkali beberapa saat lagi akan berdiri agama dengan saya sebagai nabinya.
Saya merasa merdeka bila sendirian. Tak ada batasan, bebas terbang seperti burung di angkasa. Mengepakkan sayap yang terentang di antara gemawan. Menelusup di balik mega-mega. Mencumbui pucuk-pucuk rembulan dan ketiak matahari.
Sayang, dunia ini tidak pernah saya miliki sendiri. Tidak pernah menjadi sebenarnya egois dan merdeka seutuhnya. Seperti camar yang kaget dengan hadirnya rajawali, mengecil, mendadak merasa tidak berarti. Awan-awan harus dibagi, mega-mega dipecah. Rembulan pun sembunyi-sembunyi dilihat, dan hangat mentari hanya sedikit bisa dirasakan.
Orang lain selalu ada, lengkap dengan kemerdekaan mereka sendiri. Menjadi saling bersinggungan, tak jarang berbenturan. Mungkin akan tiba suatu masa saat benturan-benturan itu bersatu padu, menjadi ledakan dahsyat. Lubang hitam terbentuk, dengan sejuta kali gaya gravitasi.
Alangkah indah bila camar terbang beriringan dengan rajawali. Saling membimbing, berkelok di antara awan. Menunjukkan jalan bila rajawali lupa, dan camar sok tahu. Menuju ke batas, saat matahari mulai terbenam dan bulan berganti memainkan perannya.
Saat besar tak selalu benar, ketika kecil tak selalu salah. Bilakah?
