Saat Bulan Separo
Ada hikmah di balik listrik mati
Kebiasaan menikmati berbagai perangkat yang sangat tergantung listrik, menjadikan saya alpa pada beberapa hal. Nyaman sekali bila listrik tersedia dan semua perangkat yang terhubung pada listrik bisa bekerja maksimal. Saat yang sama, saya lupa bahwa banyak hal lain, gratis yang tidak membutuhkan listrik.
Kapan terakhir Anda menikmati sinar lembut rembulan? Pernahkah mengamati, bagaimana pergerakan rembulan? Sekedar mengingatkan –bila tidak salah- diawali bulan mati, bulan sabit, bulan separo dan purnama. Purnama adalah puncak, sebelum kemudian bergerak kembali menjadi bulan separo, bulan sabit dan diakhiri bulan mati.
Melingkar penuh, seperti purnama
Di sudut desa, pada sebuah perempatan. Biasanya sebuah lampu yang menempel di tiang listrik, akan menyala terang di sana. Saat listrik tidak menyala, perempatan akan gelap. Sinar rembulan yang jatuh menimpa pohon pisang, menimbulkan bayangan.
Dedaunan pisang bergerak ditiup angin. Seperti tangan-tangan yang menggapai cahaya. Gerakannya lembut, syahdu, berirama. Indah namun menyembunyikan misteri. Dalam gelap, bayangan akan menjelma menjadi tubuh-tubuh tanpa nyawa, menyeramkan!
Umbra dan penumbra terbentuk di bumi. Berkas cahaya menelusup di antara dedaunan dan dinding-dinding rumah. Telusurilah, dan temukan rembulan sebagai sumber cahaya tersenyum-senyum. Cantik, malu-malu dan sesekali bersembunyi di balik awan.
Anggun, malu-malu seperti pipi gadis yang merona
Masuklah ke dalam rumah! Ada lilin, apinya bergerak dihembus angin. Cahaya kembali bermain-main. Bayangan terbentuk dari perabot, jatuh di dinding. Sepertinya tubuh-tubuh tanpa nyawa kembali bangkit. Mengggapai-gapai laksana arwah penasaran yang sudah bergentayangan selama ribuan tahun.
Suara yang ada adalah keheningan. Pada jeda yang pasti, hanya detak jarum jam yang terdengar. Tetap, ajeg seperti metronom penjaga nada. Jangan heran bila kemudian terbawa pada suasana. Perenungan mendalam, menelusup di relung-relung kesadaran, kenangan, harapan. Namun, bisa juga menjadi irama yang meninabobokan, mengantar pada lelap pasca lelah tubuh.
Bayangan, harapan, bergentayangan menelusuri dinding. Sebagai jeda, selain cahaya lampu. Istirah dari cahaya televisi, redup layar monitor. Saya kira, mati listrik menawarkan variasi.
Seperti kesedihan, di antara kebahagiaan. Saat sedih, begitu berarti kebahagiaan. Bak sakit di tengah-tengah sehat. Tatkala sakit, begitu nikmat sehat.
Kehilangan hanyalah milik mereka yang “merasa” memiliki
Kebahagiaan, sehat bukanlah milik kita. Kesedihan, sakit adalah karunia. Bentuk cinta, pengingat bahwa tak ada yang abadi. Tak ada jaminan, tak ada milik kita.
Seandainya bisa, tentu berharap listrik tak pernah mati. Menyala terus, disibukkan selalu dengan layar monitor, debat dan gosip di televisi. Meski saat itu, barangkali kita lupa bahwa ada rembulan yang cantik di atas sana. Mungkin ketika itu, tak pernah kita dengar detak jarum jam.
Menikmati semua, merasakan, memaknai, bisakah?










sering kok nikmati sinar rembulan
kan pulangnya tengah malem
ah itu mah cuma selintas lalu,
kan sibuk naikin vitri?
oooo jadi ini to status onlen beberapa hari ini..
@om Edy.. ndugem ya ommmmmm…
status apa sih, mbak?
yang pelan-pelan itu ya?
_______________________
ohm edy, bukan dugem, tapi ngojeg, hakhakhak
*ngumpet*
Jah….jadi inget gmn Om Edy jadi ojeknyah mbak Ira gyakakakakkakakkakak
*jgn dianggep guyon ya Om (lho??)
hihi, iya… gimana ya klo seperti itu
saya selalu menikmati keheningan malam. tapi kalau mati lampunya tujuh jam kayak malam kemaren, itu mah sudah keterlaluan
iya mbak barangkali kalau kelamaan ya keterlauan hihi
tapi apa aja yang didapat selain sebal, pada malam itu?
saya gak bisa ngapa-ngapain…..
mau diapa-apain?
*ditendang*
cahaya bulan matahari dan lampu memang dapat menerangkan,

tapi cahaya hanya berpendar jika diri membiarkanya begitu.
begitulah yang saya pikir,
wogh!! iya kang, bener banget

kerelaan kita menerima semua itu, pembiaran dan menikmatinya, luruh tanpa penolakan
kasarnya mungkin, seperti kerbau dicocok hidungnya
ah, makasih yak, menambahkan yang saya lupa
rembulaaaaaaaaaaan,,bersinar lagiiiii
*koq nyanyi seh*
lagune sopo tu kuwi?
kok aku ngga tahu yak, jendral ini ngacooo hahaha
kalo bulan bisa ngomong,,
“kenapa aku dipotong separo??”
hihihi
wuih iya, ada lagu doel sumbang yak, itu?
makasih, nona
Menikmati semua, merasakan, memaknai, bisakah?
jawabnya: kamu bisaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!
wakakakakakakakka
amieeennnnn
BULAN yang lalu tagihan LISTRIK = 600ribu.
BULAN kemaren tagihan LISTRIK = 600ribu juga.
BULAN ini tagihan LISTRIK = pasti 600ribu lagi.
GHUBRAKS !
.::he509x™::.
hebat kang, kok iso tetep gitu yak, harganya…
keren… keren…
Bintang-bintang tetap setia di atas sana..
Meski kita lupa pada mereka..
Agar ketika gelap kembali membuat kita meraba-raba..
Kita jadi tahu, ada setitik cahaya jauh di sana..
Yes, those damned electric lamps always kill the stars..
*saya lebih suka bintang baidewai
*toss* bro…
dalam gelap, justru menjadi awas, eh?
Hwaaa……Kanda….msh inget juga’ sama Bintang :*
wuah ini dia, pasangan serasi hihihi
dulu…waktu saya masih di denpasar, saya juga merasakan hidup semalaman tanpa lampu. bener2 romantis. yg bisa saya lakukan cuma smsan sama cewek2 yang saya gebetin waktu esema, kakakaka
wooo gitu kok ngaku insap to mas dab? hakhakhak
siyal! kurang “setahun sekali”-nya
[...]dulu…waktu saya masih di denpasar, saya juga merasakan setahun sekali, hidup semalaman tanpa lampu. bener2 romantis. yg bisa saya lakukan cuma smsan sama cewek2 yang saya gebetin waktu esema, kakakaka[...]
maksudnya begitu yak?
“Kehilangan hanyalah milik mereka yang “merasa” memiliki”
bahkan tanpa memiliki pun saya juga merasa kehilangan…
beuh, asli dab iki dalem banged, maksude piye yak?
ah jeng akhir postingan itu loh
dalem banget…………
kok ya saya gak pernah kepikiran spt itu
adanya cuma mingsuh2 aja kalo listrik mati
tenang mas bro, saya yang kepikiran, makanya saya sharing hehehe
kalau perlu nanti pas arisan bikin sesi khusus, menyiasati mati lampu, hihi
hikmah yang laen…nyamuk sliwar sliwer di atas kepala tanpa mampu saya nabok dengan tepat… X(
wuah, ya pake obat nyamuk atuh…
ato apa gitu, kan ngga tergantung listrik
merasa kehilangan nih………., emangnya saya punya apa…?

Ketika PLN menggilirkan pemadaman, maka saya juga terpaksa menggilirkan jadwal kencan dengan pacar demikian kata seorang pemuda kepada saya.
Pemuda itu siapa, Pak?
Kehilangan hanyalah milik mereka yang “merasa” memiliki
pertanyaannya :
Apakah mas Goop merasa memiliki pacar….?
wakz? saya belum memiliki eh jadi saya tidak pernah memiliki dong, ya?
barangkali cuma dipinjami sahaja, ya Pak?
saya masih sering kok menikmati rembulan. memang akhir-akhir ini lagi bulan penuh. indah yaaaa….
kyaaaa….

-hayah-
Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan disini
Satu
Setuju banget dengan quote diatas. Jadi kalo tidak ingin merasa kehilangan .. maka lebih baik tidak memiliki *halah*
Dua
Untuk masyarakat Balikpapan - khususnya, listrik padam sudah menjadi sahabat. Disini sudah terbiasa mendapat giliran sesuai jadwal dan diluar jadwal. Jadi, sudah siap menerima apa adanya
Ketiga
Judulnya mengingatkan saya pada karya sastra saya yang pertama waktu saya masih kelas 5 SD. “Ketika bulan tinggal separuh” begitu judulnya.
Terima kasih Bang, untuk dua point pertama
Point ke tiga, wah Abang ni hebat nian, kelas 5 sudah membuat judul tulisan yang keren. Sementara saya, saat itu bila membuat tulisan judulnya selalu saja “Berlibur di Rumah Nenek” hihihi
Jika berada dibawah cahaya rembulan, entah kenapa kita jadi punya pikiran yang romantis ya….
Ada gunanya juga listrik mati, supaya kita menikmati keindahan alam apa adanya.
betul bu, barangkali selama ini kita silau, menjadi hijab dari keindahan, hehe
iki opo?
ini ceritanya “mumpung” ya
mumpung lagi ngga ada listrik , menikmati bulan . .hihihi. lebih enak lagi sambil minum teh dan berpuisi
*jadul banget
nah itu dia bro, mati listrik ini, semacam katalis
iki opo meneh, hahaha
udah 2 minggu ini listrik di komplek sy mati…..indah menikmati cahaya rembulan malam dan merdunya suara genset…..hehe
menikmatinya ya mas bro