Selokan Depan Rumah

Share in top social networks, email, translate, and more!

Selokan mampat, air kotor berbau tak sedap, tidak heran bila di sana dijadikan sarang nyamuk. Akibat-akibat lanjutan seperti wabah deman berdarah, diare, serta penyakit berbahaya lain tak jarang akan mengikuti. Siapa yang bersalah bila sudah begini?

Warga perumahan atau sebuah lingkungan permukiman, seyogyanya memiliki kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan. Aliran air selokan yang lancar, menjadi salah satu bentuk penjagaan yang tidak mudah. Seperti membersihkan kotoran orang lain, tidak banyak yang akan rela hati melakukannya.

Sudah jamak dalam lingkungan perkotaan, saluran pembuangan air untuk limbah rumah tangga adalah selokan yang berada di depan rumah. Terbatasnya lahan yang dimiliki, tiadanya halaman belakang dan lahan kosong yang lain, menuntut selokan di depan rumah sebagai muara.

Masalah bertambah karena sampah. Terserak, dibuang begitu saja di jalanan. Langkah paling mudah adalah menyapunya dan membuang di selokan depan rumah. Ada barangkali tempat sampah disediakan, namun tak cukup tenaga untuk mengangkutnya. Selokan menjadi pilihan pertama dan utama, bila rasa malas sudah menjalar.

Hal semacam ini, tidak akan ditemukan di lingkungan perdesaan. Saluran pembuangan dibuat dengan metode yang sangat sederhana. Limbah rumah tangga dari kamar mandi atau tempat cuci, akan dialirkan pada sebuah lubang yang dibuat dengan cara menggali tanah. Tidak perlu terlalu dalam, secukupnya saja, karena toh air akan meresap ke dalam tanah. Apakah kemudian akan meracuni tanah dengan kandungan sabun yang ada di air limbah itu? Haduh, saya sendiri kurang tahu, mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk hal ini.

Bagaimana dengan sampah? Di lingkungan perdesaan, perlakuan yang sama dengan air limbah juga dilakukan terhadap sampah. Tanah digali secukupnya, kemudian sampah-sampah akan dimasukkan ke dalam lubang. Bagaimana bila sudah penuh? Tinggal diaduk lagi, sampah yang berada di bagian bawah sudah berubah bentuk menjadi kompos, dibawa ke ladang, ke sawah suburlah lahan pertanian. Ada proses konsumsi dan produksi yang terjadi berbarengan di sana.

Saya memang cenderung membanding-bandingkan dua buah kondisi geografis yang semestinya memang sudah berbeda ini. Bukanlah hal aneh, karena saya memang hidup di antara keduanya secara berganti-ganti. Dibesarkan di sebuah lingkungan perdesaan yang ramah dengan kicau burung, desau angin, goyangan daun dan tetesan embun. Menjadi kontras dengan apa yang harus dihadapi kini. Suara-suara masih juga terdengar, berupa bising knalpot, klakson, dan teriakan amarah di jalanan. Bau yang mampir di hidung, juga tidak biasa. Terkadang memang, ada ikan asin tetangga yang tercium, tetapi lebih sering bau selokan mampat yang hadir, mampir.

Gagap budaya, biasa akan terjadi pada manusia-manusia tanggung seperti saya. Desa sudah tidak, kota belum lagi. Di tengah-tengah, bimbang. Ada kompromi yang menjadi pilihan untuk kemudian dijadikan ketetapan hati. Barangkali, saya tidak sendiri. Buktinya banyak kok, salah satunya ya dari kondisi selokan depan rumah itu.

Mengubah budaya, tentu tidak mudah. Bila air di selokan depan rumah sudah tidak lancar, karena sampah misalnya, tentu ada masalah di sana. Apakah sampah yang berada di depan rumah kita, adalah perbuatan kita? Penyangkalan, ditindaklanjuti kemudian dengan keengganan. Enggan untuk membersihkan, melakukan pembiaran dan menganggap itu adalah kewajaran.

Nah, apa kemudian yang bisa dilakukan? Sebenarnya saya tidak begitu pintar dalam membuat tips dan trik. Tetapi sepanjang pengetahuan saya, bila orang kota sudah demikian egois untuk tidak melirik depan rumah sendiri, dan tentu selokan di depan rumah orang lain. Yah, dimanfaatkan saja kondisi ini. Melakukan pembersihan di depan rumah masing-masing, barangkali bisa menjadi solusi mudah. Tiap rumah bertanggung jawab atas kebersihan selokan yang melintasi depan rumahnya. Reaksi berantai bukankah akan terjadi kemudian?

“Terus Paman, bagaimana yang berada di ujung dan menjadi muara dari semua selokan ini? Mungkin, beban sampah pada daerah ini yang paling besar.”

Eh iya ya, bagaimana bila ini terjadi?

Suatu hari saya bermimpi. Anak-anak di perkotaan yang sudah tergusur, tidak memiliki ruang-ruang publik yang mencukupi. Bermain sepak bola di gang-gang sempit, bersaing dengan penjaja makanan keliling, sepeda motor dan pejalan kaki. Memiliki tempat bermain lain, sebuah selokan yang bersih, air mengalir lancar, dan perahu-perahu kecil dari sisa kulit jeruk bali bisa mengarungi jeram-jeram buatan di selokan. Mereka tertawa, berlarian menurutkan selokan dan menjaga perahunya masing-masing, membalapkan perahu kemudian bertengkar menentukan siapa yang curang. Apakah hanya akan menjadi mimpi?

“Errr… paman, bukankah air di selokan itu limbah rumah tangga, ada pipis di sana, ada sabun?”

Glek?!

Sekedar contoh lain dari pada menanggapi pertanyaan ponakan yang usil itu, lihatlah kondisi di sebuah MCK untuk umum. Jangan yang milik swasta dan ada petugas kebersihannya di sana, serta kita harus membayar saat menggunakannya. Bagaimana kondisinya? Apa iya, kebersihan saja harus membayar?

Ehmm kok menjadi banyak tanda tanya, tolongin saya menjawab yak!,

[adsenseyu1]

42 thoughts on “Selokan Depan Rumah”

  1. apa ini brarti jablay berikutnya adalah acara bersih2?

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    kekeke, saya mah kurang tahu kalau itu mbak :D
    coba kita tanyakeun kepada rumput yang bergoyang -halah-
    :lol:

    [Jawab?]

  2. “Terus Paman, bagaimana yang berada di ujung dan menjadi muara dari semua selokan ini? Mungkin, beban sampah pada daerah ini yang paling besar.”

    Iya paman… Rumahku berada di ujung. Jadi muara selokan. Trus kalo banjir paling duluan air masuk rumah. Paling menderita dari semua tetangga :cry: . Tapi kalo musim panas gini Air PAM cuma ngalir di ujung saja, sementara tetangga kekurangan air kita tidak. Yah … Mulai dari diri sendiri ajah, buang sampah pada tempatnya dan itu tidak di selokan depan rumah.

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    hehe, kalau di tempatmu malah terjadi keseimbangan begitu yak :D
    yupe, semoga semua sadar untuk membuang sampah pada tempatnya :mrgreen:

    [Jawab?]

  3. sbnrnya kalo di lingkungan kita rajin kerja bakti, got-nya gk sempet mampet maybe ya jeng :(

    “kesadarannnya” itu yang susah

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    iya jeung, kita sadar tapi tidak juga “sadar” :mrgreen:

    [Jawab?]

  4. ho oh ya kita emang enggak dibudayakan untuk bersih ya..

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    sebenarnya dibudayakan kok mbak :D
    bahkan sedari SD, saya sudah tahu kalau kebersihan sebagian dari iman, tapi…
    yahhh gitu dehhh :oops:

    [Jawab?]

  5. Merubah budaya, tentu tidak mudah.

    maap, paman… merubah ato mengubah?

    btw, skarang perumahan di jakarta dah banyak yg nyediain ruang publik kok
    jadi ga smua lahan dijadikan rumah tinggal ato tempat usaha

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    wah, senang mendengar di jakarta sudah seperti itu, semoga daerah yang lain juga mengikuti :D
    tumben inih mengikuti jakarta, asal bukan banjir dan semrawutnya saja, kali yak :lol:

    [Jawab?]

  6. Desa dan kota memang sengaja dibentuk untuk tujuan yang berbeda, Paman. Dimana kota diperuntukkan bagi mereka yang lebih suka bekerja daripada bersosialisasi secara langsung (misal dengan tetangga). Karena itulah, tercipta kota yang megah dan mewah untuk memuaskan nafsu bekerja para urban-urban itu.

    Sementara desa adalah bagi mereka yang ingin hidup damai, ndak kesusu-susu, serta menikmati kehidupan bertetangga dan bersosial. Makanya itu, jarang ada bangunan megah dan mewah di desa, sebab bagi para rural, yang penting itu cukup.

    *filsafat ngarang..

    Baidewai, “kebersihan sebagian dari iman” itu hadis-nya lemah alias dhaif lho Paman.. Jadi ya ndak bisa jadi alasan..

    *pembenaran..

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    woke, saya setuju sama nazieb…
    senang dengan pembenaran dan filsafat ngarangnya soale :lol:

    [Jawab?]

  7. Pernah denger Lippo Karawaci? :D
    Hehe promosi rumah sendiri.

    Mungkin memang benar sangat susah merubah sebuah kebiasaan yang sudah menjadi budaya. Karena itu, jaman sekarang pengembang lebih banyak berkonsentrasi menerapkan sebuah hunian ideal di sub-urb atau kota satelit seperti Lippo Karawaci ini.
    Kita masih bisa mendapatkan kemajuan kota, akses mudah dari pusat Jakarta, namun semuanya serba rapi, tertata dan terjaga.
    Makanya main-mainlah ke tempatku paman hehe…

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    Woke, karena tawaran yang begitu menggiurkan, tentu saja saya tidak bisa menolak. Kapan-kapan dengan senang hati, mampir. :mrgreen:
    Ah ya, boleh nginep ngga nih :oops:
    ___________________________________
    [...]semuanya serba rapi, tertata dan terjaga[...]
    Nah, point yang ini non, sudah jamak terjadi atau masih langka? Bukankah hanya segelintir orang saja yang bisa menikmatinya?

    [Jawab?]

  8. bagaimana kl bgini paman, tak prlu menunggu ptugas kebersihan untuk membersihkannya, dimulai saja dr kita, dgn tak mbuang sampah smbarangan, membersihkan selokan sndiri krena bgimanapun bersih itu kita sndiri yang memulai. apa mau ikut program operasi semut yg diadakan di proyekku paman? di jumat pagi, kita smua jalan bramai2 sambil memunguti dan membersihkan sampah yang ada di sepanjang jalan menuju lokasi proyek. hasilnya? dua jempol ;)

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    wuah, boleh juga itu, git.
    sederhana dan murah yak! :D
    kok ngga ngasih tahu dari kemaren, sih? :|

    [Jawab?]

  9. beruntung kontrakan saya ngga ada selokan didepannya :mrgreen:
    baca postingan paman yang ini, saya jadi inget saat tinggal di sunter dulu, didepan kost saya ada selokan gede sekali bernama kali Sunter.
    Andai saja airnya sejernih kali di desa pasti menyenangkan sekali nongkrong sore-sore disana..
    *apa mungkin ya?*

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    yah, mungkin saja mas…
    sekarang ini kan semua serba mungkin :mrgreen:
    dengan catatan, setelah semua sadar menjaga selokan besar itu barangkali :P

    [Jawab?]

  10. kesadaran biasanya dateng kalo ada konsumsi nya.
    plus uang saku……….!

    “pake uang saku sekalian aja cr tukang kebersihan”

    he2

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    yahh… membayar lagi dong :(

    [Jawab?]

  11. Gak nyangka, akhirnya bikin rumah sorangan :-)
    Sekalian pasang Ad Sense trus bisa nambah duit buat kopdar sama yang lain :-D
    Ah, kok gak nyambung sama isi artikelnya ;-)

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    iya ini mas, hehe…
    saya ngga ngerti, gimana sih adsense2 itu?

    [Jawab?]

  12. Apa iya, kebersihan saja harus membayar?

    ya harus donk paman,
    khan jadi nafkah pasukan kuning ^^

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    wahahaha, bener, bro!
    tapi kalau seandainya kita bisa ikut membantu menjaga kebersihan, bukankah akan lebih membantu pekerjaan beliau-beliau ini?

    [Jawab?]

  13. kalo gak bayar, sapa yang mo bersihin….

    lha saya, selokan ndiri aja males bersihin, gimana orang laen, gak dibayar pula….

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    iya ya, bener juga itu bro…
    kalau kata orang jawa : ono rego ono rupo :D

    [Jawab?]

  14. Mungkin karena tekanan hidup di kota besar sudah terlalu berat, membuat jadi males mikir untuk yang lainnya sehingga jadi masa bodo dan membuang sembarangan. Wong yang lainnya juga melakukan itu koq.

    :(

    [Jawab?]

    goop menjawab:

    kebiasaan yang menjadi budaya ya, Bang?
    sayang memang, pembenaran juga karena dilakukan secara kolektif, ugh :(

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>