Home » loteng baca

Quis Custodiet Ipsos Custodes*

12 June 2008 66 views 30 Comments

“Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?”

National Security Agency (NSA) memiliki hak istimewa untuk memeriksa e-mail dari seluruh dunia. Hak ini, mendapat reaksi dari aktivis yang merasa privacy-nya terancam. E-mail adalah satu hal yang sangat pribadi dan tidak semestinya pihak lain mengetahui e-mail tersebut, meskipun barangkali isinya adalah sekedar berkata “hallo!” atau hal remeh temeh lainnya.

NSA beralasan, hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas keamanan. Modus operandi terorisme kian berkembang, dan pemanfaatan internet secara maksimal adalah salah satunya. Penggunaan perangkat lunak dan keras yang dimiliki oleh NSA, memungkinkan e-mail dan produk internet yang lain dapat diperiksa. Hasilnya, sebuah ancaman pengeboman dapat diketahui lebih dini, serta memungkinkan dilakukannya tindakan pencegahan yang perlu.

Bagaimana konflik kepentingan di tubuh NSA sendiri, trik menyelendupkan sebuah file untuk mengelabui sistem keamanan yang canggih. Sampai dengan kisah cinta tanpa lilin, dapat anda temukan di novel Dan Brown, berjudul “Digital Fortress”.

Ide yang menarik adalah, siapakah yang kemudian akan mengawasi NSA? Sang pengawas semestinya juga perlu diawasi. Bukankah seringkali kekuasaan yang berlebihan dapat membuat lupa? Sepertinya banyak bukti yang mendukung, pernyataan ini.

Mari berandai-andai sejenak. Perlukah seorang pengawas, pada mereka yang sudah sadar? Bukankah kemudian semua terkendali, berjalan pada rel-nya dan tidak perlu diawasi. Pengandaian yang berlebihan, agaknya. Bila kereta tidak masalah, maka rel yang mendapat giliran masalah. Haha!

Mengawasi pengawas, seperti rangkaian mata rantai yang berputar. Barangkali bila tidak salah, istilah kerennya adalah proses monitoring dan evaluasi, atau audit. Pengawas akan datang secara berkala, dalam jadwal yang pasti, itu yang biasa terjadi. Akibatnya, laporan dapat disusun terlebih dahulu, bukti-bukti dapat disiapkan, entah benar atau salah. Bagaimana bila pengawas datang tiba-tiba? Panik, berdebar, mengeluarkan keringat dingin, mungkin adalah reaksi yang wajar.

Seandainya semua berjalan dengan benar, kedatangan pengawas tentu akan disambut dengan tenang. Seperti kawan lama yang bersilaturahim, dan menanyakan kabar. Dijawab dengan antusias, tanpa menyembunyikan maksud, kepentingan dan rahasia di belakang.

Sistem yang ada, seringkali memberikan peluang. Jeda untuk menyusun alibi, seperti pembunuh profesional yang pandai menghilangkan jejak. Sayangnya, detektif yang bekerja juga bagian dari sistem. Adalah jamak kemudian, bila di antara pengawas dan pihak yang diawasi terjadi main mata. Tahu sama tahu.

Kesadaran menjadi langka, lupa sering terjadi, atau pura-pura lupa sebenarnya? Siapa yang akan mengawasi pengawas? Nurani, moralitas dan nilai-nilai, bisakah menjadi jawaban? Bagaimana bila hal ini juga dilupakan?

Perjuangan manusia melawan kekuasaan, adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Quote dari Milan Kundera, dalam novel The Book of Laughter and Forgetting, dan biasa juga dikutip Goenawan Muhammad, sepertinya tak akan pernah lekang. Melupakan lupa, justru hal yang sukar dilakukan. Tapi, barangkali kita masih bisa berharap. Stephen Covey menuliskan, bahwa naluri dasar manusia tidak akan pernah padam. Saat seorang pencopet sadar, bahwa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nuraninya. Ketika pendosa mengerti, bahwa tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Harapan masih ada, sobat. Bila mantan copet menjadi kiai, seorang preman menjadi pendakwah, dan lain-lain. Meski mungkin di seberang sana, mantan kiai justru menjadi tukang copet, atau polisi menjadi bandar narkoba. Ah, anggap saja sebuah keseimbangan. Hehe!

*) Satir Juvenile, pada buku “Digital Fortress”

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

RSS feed | Trackback URI

30 Comments »

Comment by suprie
2008-06-12 18:27:01

memang si pengawas perlu diawasi… itu kalo si pengawas mau loh diawasi, kan dia di atas angin, biasanya orang yang di atas mau ngeliatin mlulu , tapi gak mau di liatin :D

Comment by goop
2008-06-12 19:11:52

hahaha, benar mas bro :P
semestinya ada timbal balik yak :mrgreen:
yah, artinya saling mengawasi

 
 
Comment by ade
2008-06-12 19:44:39

barusan liat mantan kaporli Rusdiharjo divonis 2 tahun
pengawas yg tak terawasi :(

Comment by goop
2008-06-12 19:56:51

terawasi kan, bro? sekarang ini :D
pan, udah dihukum ;)

 
 
Comment by theloebizz
2008-06-12 20:31:36

mengawasi boleh sbg alat pengingat tp jgn terlalu berlebihan atau ekstrem krn hasil akhirnya jg ga bagus :)

Comment by goop
2008-06-12 20:50:56

iya benar juga, barangkali malah akan mengekang yak :D

 
 
Comment by Nazieb
2008-06-13 01:40:51

Ahahaha.. penggemar Dan Brown juga kah?

Yaaa.. sesama pengawas dilarang saling mengawasi.. :P

Comment by goop
2008-06-13 09:32:00

hihi, ntar malah lirik-lirikan ya zieb :D

 
 
Comment by edy
2008-06-13 08:11:26

wah nama teman-temannya paman unik
mirip nama orang luar negri!

Comment by goop
2008-06-13 09:33:06

emang bro :cool:
saya juga punya teman edy murphy :lol:
hubungannya dengan kau apa tuch? kakak yak? :oops:

 
 
Comment by ulan
2008-06-13 08:19:40

jadi om goop sedang nyindir siapa nih?? eh aku salah fokus ya??

Comment by goop
2008-06-13 09:33:57

ngga salah fokus ko mbak, pengawas ujian mungkin, pengawas lalu lintas mungkin, siapa saja :P

 
 
Comment by alle
2008-06-13 09:32:29

mariii,. awasi pengawas ujian,.. jangan sampai kebebasan nyontek kita terganggu :mrgreen:

Comment by goop
2008-06-13 09:34:49

terus yang ngerjain ujiannya siapa? kalau kita mengawasi pengawas ujian :mrgreen:

 
 
Comment by Alex
2008-06-13 16:19:26

yup..setuju mas Goop, pengawas harus diawasi ?? jadi disini ada saling mengawasi, saling mengingatkan.
NSA…..badan PBB ato apaan sich mas ??

Comment by goop
2008-06-13 16:37:02

NSA itu kalau di sini barangkali bisa disamakan dengan intel, eh tapi kalau di sana lebih tinggi dari CIA…
*gitu gak ya?* :roll:

 
 
Comment by GiE
2008-06-14 00:26:03

Pengawas juga manusia, lambat laun pasti akan melakukan kesalahan baik disengaja atau pun tidak.

Jadi memang sebaiknya pengawas itu harus diawasi juga ya, paman…

Comment by goop
2008-06-16 10:09:15

sebaiknya sih begitu, nah pertanyaannya kan siapa yang akan melakukan ini gie :D

 
 
Comment by itikkecil
2008-06-16 09:29:42

dalam kasus kpk, itu juga yang dipermasalahkan orang. siapa yang akan mengawasi mereka?

Comment by goop
2008-06-16 12:06:03

iya mbak, pertanyaan itu menjadi relevan jika ditanyakan saat ini :D

 
 
Comment by erander
2008-06-16 11:57:52

Masalahnya makin menjadi² jika kita menderita Amenesia sehingga semakin ga ingat. Kalo ga ingat, pasti kita lupa hahaha :)

Btw .. saya jadi pengen tanya .. kalo KPK itu siapa ya yang mengawasinya ?

Comment by goop
2008-06-16 12:17:28

waduh, susah juga Bang kalau sampai kena amnesia :D
coba aja dijedotin ke tembok! 8)
kok kejam yak?! :lol:
Bang, sebenarnya saya juga sedang menunggu jawaban, siapakah yang mengawasi KPK itu :mrgreen:

 
 
Comment by AngelNdutz
2008-06-16 15:23:49

yg menjengkelkan klo pas ujin ituh loh,,pengawas pada killer abes padahal pengawas ituh juga kedapatan ngasih bocoran soal ke siswanyah, nah lho??

Comment by goop
2008-06-16 17:50:23

itu kan gayanya mbak :D
biar nda’ dicurigai bgitu logh :P

 
 
Comment by Kurt
2008-06-16 17:37:50

hmm.. pesan moral yang santun.
Yang aneh, ketika sang maling sadar dengan malingnya kok masih dilakukan juga yah. Intinya proses penyadaran diri itu lebih efektif meski berlaku lama ya kang.

Comment by goop
2008-06-16 17:52:07

barangkali karena ada keterbatasan ekonomi dan lain-lain pak, sehingga tidak ada jalan lain. Harapannya sih penyadaran diri bisa berlangsung “tidak” terlalu lama :D

 
 
Comment by detnot
2008-06-18 09:00:13

kok saya melewatkan postingan yg ini ya :(

*bab 1-2 in progress jeng

Comment by goop
2008-06-18 09:56:17

wakaka, selamat membaca yak! tunggulah setiap kejutannya :D

 
 
Comment by ulan
2008-06-18 16:11:48

nggak nyindir aku kan om?? awas lho kalo nyindir aku

Comment by goop
2008-06-18 17:44:55

ngga kok mbak ulan, kalau *melirik* mbak ulan iya :D
kyaaaa… :oops:
OOT dewe, saya :|

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post