Quis Custodiet Ipsos Custodes*

“Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?”

National Security Agency (NSA) memiliki hak istimewa untuk memeriksa e-mail dari seluruh dunia. Hak ini, mendapat reaksi dari aktivis yang merasa privacy-nya terancam. E-mail adalah satu hal yang sangat pribadi dan tidak semestinya pihak lain mengetahui e-mail tersebut, meskipun barangkali isinya adalah sekedar berkata “hallo!” atau hal remeh temeh lainnya.

NSA beralasan, hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas keamanan. Modus operandi terorisme kian berkembang, dan pemanfaatan internet secara maksimal adalah salah satunya. Penggunaan perangkat lunak dan keras yang dimiliki oleh NSA, memungkinkan e-mail dan produk internet yang lain dapat diperiksa. Hasilnya, sebuah ancaman pengeboman dapat diketahui lebih dini, serta memungkinkan dilakukannya tindakan pencegahan yang perlu.

Bagaimana konflik kepentingan di tubuh NSA sendiri, trik menyelendupkan sebuah file untuk mengelabui sistem keamanan yang canggih. Sampai dengan kisah cinta tanpa lilin, dapat anda temukan di novel Dan Brown, berjudul “Digital Fortress”.

Ide yang menarik adalah, siapakah yang kemudian akan mengawasi NSA? Sang pengawas semestinya juga perlu diawasi. Bukankah seringkali kekuasaan yang berlebihan dapat membuat lupa? Sepertinya banyak bukti yang mendukung, pernyataan ini.

Mari berandai-andai sejenak. Perlukah seorang pengawas, pada mereka yang sudah sadar? Bukankah kemudian semua terkendali, berjalan pada rel-nya dan tidak perlu diawasi. Pengandaian yang berlebihan, agaknya. Bila kereta tidak masalah, maka rel yang mendapat giliran masalah. Haha!

Mengawasi pengawas, seperti rangkaian mata rantai yang berputar. Barangkali bila tidak salah, istilah kerennya adalah proses monitoring dan evaluasi, atau audit. Pengawas akan datang secara berkala, dalam jadwal yang pasti, itu yang biasa terjadi. Akibatnya, laporan dapat disusun terlebih dahulu, bukti-bukti dapat disiapkan, entah benar atau salah. Bagaimana bila pengawas datang tiba-tiba? Panik, berdebar, mengeluarkan keringat dingin, mungkin adalah reaksi yang wajar.

Seandainya semua berjalan dengan benar, kedatangan pengawas tentu akan disambut dengan tenang. Seperti kawan lama yang bersilaturahim, dan menanyakan kabar. Dijawab dengan antusias, tanpa menyembunyikan maksud, kepentingan dan rahasia di belakang.

Sistem yang ada, seringkali memberikan peluang. Jeda untuk menyusun alibi, seperti pembunuh profesional yang pandai menghilangkan jejak. Sayangnya, detektif yang bekerja juga bagian dari sistem. Adalah jamak kemudian, bila di antara pengawas dan pihak yang diawasi terjadi main mata. Tahu sama tahu.

Kesadaran menjadi langka, lupa sering terjadi, atau pura-pura lupa sebenarnya? Siapa yang akan mengawasi pengawas? Nurani, moralitas dan nilai-nilai, bisakah menjadi jawaban? Bagaimana bila hal ini juga dilupakan?

Perjuangan manusia melawan kekuasaan, adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Quote dari Milan Kundera, dalam novel The Book of Laughter and Forgetting, dan biasa juga dikutip Goenawan Muhammad, sepertinya tak akan pernah lekang. Melupakan lupa, justru hal yang sukar dilakukan. Tapi, barangkali kita masih bisa berharap. Stephen Covey menuliskan, bahwa naluri dasar manusia tidak akan pernah padam. Saat seorang pencopet sadar, bahwa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nuraninya. Ketika pendosa mengerti, bahwa tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Harapan masih ada, sobat. Bila mantan copet menjadi kiai, seorang preman menjadi pendakwah, dan lain-lain. Meski mungkin di seberang sana, mantan kiai justru menjadi tukang copet, atau polisi menjadi bandar narkoba. Ah, anggap saja sebuah keseimbangan. Hehe!

*) Satir Juvenile, pada buku “Digital Fortress”

[adsenseyu1]