Sisa Juni

Juni hampir berakhir
Kemarau baru saja dimasuki
Hujan belum lama pergi
Tapi kerinduan, bagai duri

Mampir di kaki, enggan pergi
Harapkan hujan di kala pagi
Rumput basah tanah mewangi
Embun pagi hanya ditemui

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Keringkah hati?

Maaf, toleran hanya ilusi
Pada jiwa-jiwa yang mati
Suara-suara demonstrasi
Menyisakan seorang mati

Bila nurani tumpul dikebiri
Menebar janji di satu provinsi
Benarkah akan ditepati?
Harap-harap cemas dalam hati

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Keringkah hati?

Jiwa-jiwa lelah, tubuh mati
Gentayangan menghantui
Tanyakan janji, tanyakan janji
Dagelan lagi-lagi ditemui

Lawakan yang sudah basi
Diputar lagi, lagi dan lagi
Ke manakah kesadaran diri
Jangan dulu mati, berseri mari

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Janganlah hati!

[adsenseyu1]

Saat Bulan Separo

Ada hikmah di balik listrik mati

Kebiasaan menikmati berbagai perangkat yang sangat tergantung listrik, menjadikan saya alpa pada beberapa hal. Nyaman sekali bila listrik tersedia dan semua perangkat yang terhubung pada listrik bisa bekerja maksimal. Saat yang sama, saya lupa bahwa banyak hal lain, gratis yang tidak membutuhkan listrik.

Kapan terakhir Anda menikmati sinar lembut rembulan? Pernahkah mengamati, bagaimana pergerakan rembulan? Sekedar mengingatkan –bila tidak salah- diawali bulan mati, bulan sabit, bulan separo dan purnama. Purnama adalah puncak, sebelum kemudian bergerak kembali menjadi bulan separo, bulan sabit dan diakhiri bulan mati.

Melingkar penuh, seperti purnama

Di sudut desa, pada sebuah perempatan. Biasanya sebuah lampu yang menempel di tiang listrik, akan menyala terang di sana. Saat listrik tidak menyala, perempatan akan gelap. Sinar rembulan yang jatuh menimpa pohon pisang, menimbulkan bayangan.

Dedaunan pisang bergerak ditiup angin. Seperti tangan-tangan yang menggapai cahaya. Gerakannya lembut, syahdu, berirama. Indah namun menyembunyikan misteri. Dalam gelap, bayangan akan menjelma menjadi tubuh-tubuh tanpa nyawa, menyeramkan!

Umbra dan penumbra terbentuk di bumi. Berkas cahaya menelusup di antara dedaunan dan dinding-dinding rumah. Telusurilah, dan temukan rembulan sebagai sumber cahaya tersenyum-senyum. Cantik, malu-malu dan sesekali bersembunyi di balik awan.

Anggun, malu-malu seperti pipi gadis yang merona

Masuklah ke dalam rumah! Ada lilin, apinya bergerak dihembus angin. Cahaya kembali bermain-main. Bayangan terbentuk dari perabot, jatuh di dinding. Sepertinya tubuh-tubuh tanpa nyawa kembali bangkit. Mengggapai-gapai laksana arwah penasaran yang sudah bergentayangan selama ribuan tahun.

Suara yang ada adalah keheningan. Pada jeda yang pasti, hanya detak jarum jam yang terdengar. Tetap, ajeg seperti metronom penjaga nada. Jangan heran bila kemudian terbawa pada suasana. Perenungan mendalam, menelusup di relung-relung kesadaran, kenangan, harapan. Namun, bisa juga menjadi irama yang meninabobokan, mengantar pada lelap pasca lelah tubuh.

Bayangan, harapan, bergentayangan menelusuri dinding. Sebagai jeda, selain cahaya lampu. Istirah dari cahaya televisi, redup layar monitor. Saya kira, mati listrik menawarkan variasi.

Seperti kesedihan, di antara kebahagiaan. Saat sedih, begitu berarti kebahagiaan. Bak sakit di tengah-tengah sehat. Tatkala sakit, begitu nikmat sehat.

Kehilangan hanyalah milik mereka yang “merasa” memiliki

Kebahagiaan, sehat bukanlah milik kita. Kesedihan, sakit adalah karunia. Bentuk cinta, pengingat bahwa tak ada yang abadi. Tak ada jaminan, tak ada milik kita.

Seandainya bisa, tentu berharap listrik tak pernah mati. Menyala terus, disibukkan selalu dengan layar monitor, debat dan gosip di televisi. Meski saat itu, barangkali kita lupa bahwa ada rembulan yang cantik di atas sana. Mungkin ketika itu, tak pernah kita dengar detak jarum jam.

Menikmati semua, merasakan, memaknai, bisakah?

[adsenseyu1]

Selokan Depan Rumah

Selokan mampat, air kotor berbau tak sedap, tidak heran bila di sana dijadikan sarang nyamuk. Akibat-akibat lanjutan seperti wabah deman berdarah, diare, serta penyakit berbahaya lain tak jarang akan mengikuti. Siapa yang bersalah bila sudah begini?

Warga perumahan atau sebuah lingkungan permukiman, seyogyanya memiliki kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan. Aliran air selokan yang lancar, menjadi salah satu bentuk penjagaan yang tidak mudah. Seperti membersihkan kotoran orang lain, tidak banyak yang akan rela hati melakukannya.

Sudah jamak dalam lingkungan perkotaan, saluran pembuangan air untuk limbah rumah tangga adalah selokan yang berada di depan rumah. Terbatasnya lahan yang dimiliki, tiadanya halaman belakang dan lahan kosong yang lain, menuntut selokan di depan rumah sebagai muara.

Masalah bertambah karena sampah. Terserak, dibuang begitu saja di jalanan. Langkah paling mudah adalah menyapunya dan membuang di selokan depan rumah. Ada barangkali tempat sampah disediakan, namun tak cukup tenaga untuk mengangkutnya. Selokan menjadi pilihan pertama dan utama, bila rasa malas sudah menjalar.

Hal semacam ini, tidak akan ditemukan di lingkungan perdesaan. Saluran pembuangan dibuat dengan metode yang sangat sederhana. Limbah rumah tangga dari kamar mandi atau tempat cuci, akan dialirkan pada sebuah lubang yang dibuat dengan cara menggali tanah. Tidak perlu terlalu dalam, secukupnya saja, karena toh air akan meresap ke dalam tanah. Apakah kemudian akan meracuni tanah dengan kandungan sabun yang ada di air limbah itu? Haduh, saya sendiri kurang tahu, mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk hal ini.

Bagaimana dengan sampah? Di lingkungan perdesaan, perlakuan yang sama dengan air limbah juga dilakukan terhadap sampah. Tanah digali secukupnya, kemudian sampah-sampah akan dimasukkan ke dalam lubang. Bagaimana bila sudah penuh? Tinggal diaduk lagi, sampah yang berada di bagian bawah sudah berubah bentuk menjadi kompos, dibawa ke ladang, ke sawah suburlah lahan pertanian. Ada proses konsumsi dan produksi yang terjadi berbarengan di sana.

Saya memang cenderung membanding-bandingkan dua buah kondisi geografis yang semestinya memang sudah berbeda ini. Bukanlah hal aneh, karena saya memang hidup di antara keduanya secara berganti-ganti. Dibesarkan di sebuah lingkungan perdesaan yang ramah dengan kicau burung, desau angin, goyangan daun dan tetesan embun. Menjadi kontras dengan apa yang harus dihadapi kini. Suara-suara masih juga terdengar, berupa bising knalpot, klakson, dan teriakan amarah di jalanan. Bau yang mampir di hidung, juga tidak biasa. Terkadang memang, ada ikan asin tetangga yang tercium, tetapi lebih sering bau selokan mampat yang hadir, mampir.

Gagap budaya, biasa akan terjadi pada manusia-manusia tanggung seperti saya. Desa sudah tidak, kota belum lagi. Di tengah-tengah, bimbang. Ada kompromi yang menjadi pilihan untuk kemudian dijadikan ketetapan hati. Barangkali, saya tidak sendiri. Buktinya banyak kok, salah satunya ya dari kondisi selokan depan rumah itu.

Mengubah budaya, tentu tidak mudah. Bila air di selokan depan rumah sudah tidak lancar, karena sampah misalnya, tentu ada masalah di sana. Apakah sampah yang berada di depan rumah kita, adalah perbuatan kita? Penyangkalan, ditindaklanjuti kemudian dengan keengganan. Enggan untuk membersihkan, melakukan pembiaran dan menganggap itu adalah kewajaran.

Nah, apa kemudian yang bisa dilakukan? Sebenarnya saya tidak begitu pintar dalam membuat tips dan trik. Tetapi sepanjang pengetahuan saya, bila orang kota sudah demikian egois untuk tidak melirik depan rumah sendiri, dan tentu selokan di depan rumah orang lain. Yah, dimanfaatkan saja kondisi ini. Melakukan pembersihan di depan rumah masing-masing, barangkali bisa menjadi solusi mudah. Tiap rumah bertanggung jawab atas kebersihan selokan yang melintasi depan rumahnya. Reaksi berantai bukankah akan terjadi kemudian?

“Terus Paman, bagaimana yang berada di ujung dan menjadi muara dari semua selokan ini? Mungkin, beban sampah pada daerah ini yang paling besar.”

Eh iya ya, bagaimana bila ini terjadi?

Suatu hari saya bermimpi. Anak-anak di perkotaan yang sudah tergusur, tidak memiliki ruang-ruang publik yang mencukupi. Bermain sepak bola di gang-gang sempit, bersaing dengan penjaja makanan keliling, sepeda motor dan pejalan kaki. Memiliki tempat bermain lain, sebuah selokan yang bersih, air mengalir lancar, dan perahu-perahu kecil dari sisa kulit jeruk bali bisa mengarungi jeram-jeram buatan di selokan. Mereka tertawa, berlarian menurutkan selokan dan menjaga perahunya masing-masing, membalapkan perahu kemudian bertengkar menentukan siapa yang curang. Apakah hanya akan menjadi mimpi?

“Errr… paman, bukankah air di selokan itu limbah rumah tangga, ada pipis di sana, ada sabun?”

Glek?!

Sekedar contoh lain dari pada menanggapi pertanyaan ponakan yang usil itu, lihatlah kondisi di sebuah MCK untuk umum. Jangan yang milik swasta dan ada petugas kebersihannya di sana, serta kita harus membayar saat menggunakannya. Bagaimana kondisinya? Apa iya, kebersihan saja harus membayar?

Ehmm kok menjadi banyak tanda tanya, tolongin saya menjawab yak!,

[adsenseyu1]