Sisa Juni

Juni hampir berakhir
Kemarau baru saja dimasuki
Hujan belum lama pergi
Tapi kerinduan, bagai duri

Mampir di kaki, enggan pergi
Harapkan hujan di kala pagi
Rumput basah tanah mewangi
Embun pagi hanya ditemui

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Keringkah hati?

Maaf, toleran hanya ilusi
Pada jiwa-jiwa yang mati
Suara-suara demonstrasi
Menyisakan seorang mati

Bila nurani tumpul dikebiri
Menebar janji di satu provinsi
Benarkah akan ditepati?
Harap-harap cemas dalam hati

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Keringkah hati?

Jiwa-jiwa lelah, tubuh mati
Gentayangan menghantui
Tanyakan janji, tanyakan janji
Dagelan lagi-lagi ditemui

Lawakan yang sudah basi
Diputar lagi, lagi dan lagi
Ke manakah kesadaran diri
Jangan dulu mati, berseri mari

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Janganlah hati!

[adsenseyu1]

Saat Bulan Separo

Ada hikmah di balik listrik mati

Kebiasaan menikmati berbagai perangkat yang sangat tergantung listrik, menjadikan saya alpa pada beberapa hal. Nyaman sekali bila listrik tersedia dan semua perangkat yang terhubung pada listrik bisa bekerja maksimal. Saat yang sama, saya lupa bahwa banyak hal lain, gratis yang tidak membutuhkan listrik.

Kapan terakhir Anda menikmati sinar lembut rembulan? Pernahkah mengamati, bagaimana pergerakan rembulan? Sekedar mengingatkan –bila tidak salah- diawali bulan mati, bulan sabit, bulan separo dan purnama. Purnama adalah puncak, sebelum kemudian bergerak kembali menjadi bulan separo, bulan sabit dan diakhiri bulan mati.

Melingkar penuh, seperti purnama

Di sudut desa, pada sebuah perempatan. Biasanya sebuah lampu yang menempel di tiang listrik, akan menyala terang di sana. Saat listrik tidak menyala, perempatan akan gelap. Sinar rembulan yang jatuh menimpa pohon pisang, menimbulkan bayangan.

Dedaunan pisang bergerak ditiup angin. Seperti tangan-tangan yang menggapai cahaya. Gerakannya lembut, syahdu, berirama. Indah namun menyembunyikan misteri. Dalam gelap, bayangan akan menjelma menjadi tubuh-tubuh tanpa nyawa, menyeramkan!

Umbra dan penumbra terbentuk di bumi. Berkas cahaya menelusup di antara dedaunan dan dinding-dinding rumah. Telusurilah, dan temukan rembulan sebagai sumber cahaya tersenyum-senyum. Cantik, malu-malu dan sesekali bersembunyi di balik awan.

Anggun, malu-malu seperti pipi gadis yang merona

Masuklah ke dalam rumah! Ada lilin, apinya bergerak dihembus angin. Cahaya kembali bermain-main. Bayangan terbentuk dari perabot, jatuh di dinding. Sepertinya tubuh-tubuh tanpa nyawa kembali bangkit. Mengggapai-gapai laksana arwah penasaran yang sudah bergentayangan selama ribuan tahun.

Suara yang ada adalah keheningan. Pada jeda yang pasti, hanya detak jarum jam yang terdengar. Tetap, ajeg seperti metronom penjaga nada. Jangan heran bila kemudian terbawa pada suasana. Perenungan mendalam, menelusup di relung-relung kesadaran, kenangan, harapan. Namun, bisa juga menjadi irama yang meninabobokan, mengantar pada lelap pasca lelah tubuh.

Bayangan, harapan, bergentayangan menelusuri dinding. Sebagai jeda, selain cahaya lampu. Istirah dari cahaya televisi, redup layar monitor. Saya kira, mati listrik menawarkan variasi.

Seperti kesedihan, di antara kebahagiaan. Saat sedih, begitu berarti kebahagiaan. Bak sakit di tengah-tengah sehat. Tatkala sakit, begitu nikmat sehat.

Kehilangan hanyalah milik mereka yang “merasa” memiliki

Kebahagiaan, sehat bukanlah milik kita. Kesedihan, sakit adalah karunia. Bentuk cinta, pengingat bahwa tak ada yang abadi. Tak ada jaminan, tak ada milik kita.

Seandainya bisa, tentu berharap listrik tak pernah mati. Menyala terus, disibukkan selalu dengan layar monitor, debat dan gosip di televisi. Meski saat itu, barangkali kita lupa bahwa ada rembulan yang cantik di atas sana. Mungkin ketika itu, tak pernah kita dengar detak jarum jam.

Menikmati semua, merasakan, memaknai, bisakah?

[adsenseyu1]

Selokan Depan Rumah

Selokan mampat, air kotor berbau tak sedap, tidak heran bila di sana dijadikan sarang nyamuk. Akibat-akibat lanjutan seperti wabah deman berdarah, diare, serta penyakit berbahaya lain tak jarang akan mengikuti. Siapa yang bersalah bila sudah begini?

Warga perumahan atau sebuah lingkungan permukiman, seyogyanya memiliki kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan. Aliran air selokan yang lancar, menjadi salah satu bentuk penjagaan yang tidak mudah. Seperti membersihkan kotoran orang lain, tidak banyak yang akan rela hati melakukannya.

Sudah jamak dalam lingkungan perkotaan, saluran pembuangan air untuk limbah rumah tangga adalah selokan yang berada di depan rumah. Terbatasnya lahan yang dimiliki, tiadanya halaman belakang dan lahan kosong yang lain, menuntut selokan di depan rumah sebagai muara.

Masalah bertambah karena sampah. Terserak, dibuang begitu saja di jalanan. Langkah paling mudah adalah menyapunya dan membuang di selokan depan rumah. Ada barangkali tempat sampah disediakan, namun tak cukup tenaga untuk mengangkutnya. Selokan menjadi pilihan pertama dan utama, bila rasa malas sudah menjalar.

Hal semacam ini, tidak akan ditemukan di lingkungan perdesaan. Saluran pembuangan dibuat dengan metode yang sangat sederhana. Limbah rumah tangga dari kamar mandi atau tempat cuci, akan dialirkan pada sebuah lubang yang dibuat dengan cara menggali tanah. Tidak perlu terlalu dalam, secukupnya saja, karena toh air akan meresap ke dalam tanah. Apakah kemudian akan meracuni tanah dengan kandungan sabun yang ada di air limbah itu? Haduh, saya sendiri kurang tahu, mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk hal ini.

Bagaimana dengan sampah? Di lingkungan perdesaan, perlakuan yang sama dengan air limbah juga dilakukan terhadap sampah. Tanah digali secukupnya, kemudian sampah-sampah akan dimasukkan ke dalam lubang. Bagaimana bila sudah penuh? Tinggal diaduk lagi, sampah yang berada di bagian bawah sudah berubah bentuk menjadi kompos, dibawa ke ladang, ke sawah suburlah lahan pertanian. Ada proses konsumsi dan produksi yang terjadi berbarengan di sana.

Saya memang cenderung membanding-bandingkan dua buah kondisi geografis yang semestinya memang sudah berbeda ini. Bukanlah hal aneh, karena saya memang hidup di antara keduanya secara berganti-ganti. Dibesarkan di sebuah lingkungan perdesaan yang ramah dengan kicau burung, desau angin, goyangan daun dan tetesan embun. Menjadi kontras dengan apa yang harus dihadapi kini. Suara-suara masih juga terdengar, berupa bising knalpot, klakson, dan teriakan amarah di jalanan. Bau yang mampir di hidung, juga tidak biasa. Terkadang memang, ada ikan asin tetangga yang tercium, tetapi lebih sering bau selokan mampat yang hadir, mampir.

Gagap budaya, biasa akan terjadi pada manusia-manusia tanggung seperti saya. Desa sudah tidak, kota belum lagi. Di tengah-tengah, bimbang. Ada kompromi yang menjadi pilihan untuk kemudian dijadikan ketetapan hati. Barangkali, saya tidak sendiri. Buktinya banyak kok, salah satunya ya dari kondisi selokan depan rumah itu.

Mengubah budaya, tentu tidak mudah. Bila air di selokan depan rumah sudah tidak lancar, karena sampah misalnya, tentu ada masalah di sana. Apakah sampah yang berada di depan rumah kita, adalah perbuatan kita? Penyangkalan, ditindaklanjuti kemudian dengan keengganan. Enggan untuk membersihkan, melakukan pembiaran dan menganggap itu adalah kewajaran.

Nah, apa kemudian yang bisa dilakukan? Sebenarnya saya tidak begitu pintar dalam membuat tips dan trik. Tetapi sepanjang pengetahuan saya, bila orang kota sudah demikian egois untuk tidak melirik depan rumah sendiri, dan tentu selokan di depan rumah orang lain. Yah, dimanfaatkan saja kondisi ini. Melakukan pembersihan di depan rumah masing-masing, barangkali bisa menjadi solusi mudah. Tiap rumah bertanggung jawab atas kebersihan selokan yang melintasi depan rumahnya. Reaksi berantai bukankah akan terjadi kemudian?

“Terus Paman, bagaimana yang berada di ujung dan menjadi muara dari semua selokan ini? Mungkin, beban sampah pada daerah ini yang paling besar.”

Eh iya ya, bagaimana bila ini terjadi?

Suatu hari saya bermimpi. Anak-anak di perkotaan yang sudah tergusur, tidak memiliki ruang-ruang publik yang mencukupi. Bermain sepak bola di gang-gang sempit, bersaing dengan penjaja makanan keliling, sepeda motor dan pejalan kaki. Memiliki tempat bermain lain, sebuah selokan yang bersih, air mengalir lancar, dan perahu-perahu kecil dari sisa kulit jeruk bali bisa mengarungi jeram-jeram buatan di selokan. Mereka tertawa, berlarian menurutkan selokan dan menjaga perahunya masing-masing, membalapkan perahu kemudian bertengkar menentukan siapa yang curang. Apakah hanya akan menjadi mimpi?

“Errr… paman, bukankah air di selokan itu limbah rumah tangga, ada pipis di sana, ada sabun?”

Glek?!

Sekedar contoh lain dari pada menanggapi pertanyaan ponakan yang usil itu, lihatlah kondisi di sebuah MCK untuk umum. Jangan yang milik swasta dan ada petugas kebersihannya di sana, serta kita harus membayar saat menggunakannya. Bagaimana kondisinya? Apa iya, kebersihan saja harus membayar?

Ehmm kok menjadi banyak tanda tanya, tolongin saya menjawab yak!,

[adsenseyu1]

Quis Custodiet Ipsos Custodes*

“Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?”

National Security Agency (NSA) memiliki hak istimewa untuk memeriksa e-mail dari seluruh dunia. Hak ini, mendapat reaksi dari aktivis yang merasa privacy-nya terancam. E-mail adalah satu hal yang sangat pribadi dan tidak semestinya pihak lain mengetahui e-mail tersebut, meskipun barangkali isinya adalah sekedar berkata “hallo!” atau hal remeh temeh lainnya.

NSA beralasan, hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas keamanan. Modus operandi terorisme kian berkembang, dan pemanfaatan internet secara maksimal adalah salah satunya. Penggunaan perangkat lunak dan keras yang dimiliki oleh NSA, memungkinkan e-mail dan produk internet yang lain dapat diperiksa. Hasilnya, sebuah ancaman pengeboman dapat diketahui lebih dini, serta memungkinkan dilakukannya tindakan pencegahan yang perlu.

Bagaimana konflik kepentingan di tubuh NSA sendiri, trik menyelendupkan sebuah file untuk mengelabui sistem keamanan yang canggih. Sampai dengan kisah cinta tanpa lilin, dapat anda temukan di novel Dan Brown, berjudul “Digital Fortress”.

Ide yang menarik adalah, siapakah yang kemudian akan mengawasi NSA? Sang pengawas semestinya juga perlu diawasi. Bukankah seringkali kekuasaan yang berlebihan dapat membuat lupa? Sepertinya banyak bukti yang mendukung, pernyataan ini.

Mari berandai-andai sejenak. Perlukah seorang pengawas, pada mereka yang sudah sadar? Bukankah kemudian semua terkendali, berjalan pada rel-nya dan tidak perlu diawasi. Pengandaian yang berlebihan, agaknya. Bila kereta tidak masalah, maka rel yang mendapat giliran masalah. Haha!

Mengawasi pengawas, seperti rangkaian mata rantai yang berputar. Barangkali bila tidak salah, istilah kerennya adalah proses monitoring dan evaluasi, atau audit. Pengawas akan datang secara berkala, dalam jadwal yang pasti, itu yang biasa terjadi. Akibatnya, laporan dapat disusun terlebih dahulu, bukti-bukti dapat disiapkan, entah benar atau salah. Bagaimana bila pengawas datang tiba-tiba? Panik, berdebar, mengeluarkan keringat dingin, mungkin adalah reaksi yang wajar.

Seandainya semua berjalan dengan benar, kedatangan pengawas tentu akan disambut dengan tenang. Seperti kawan lama yang bersilaturahim, dan menanyakan kabar. Dijawab dengan antusias, tanpa menyembunyikan maksud, kepentingan dan rahasia di belakang.

Sistem yang ada, seringkali memberikan peluang. Jeda untuk menyusun alibi, seperti pembunuh profesional yang pandai menghilangkan jejak. Sayangnya, detektif yang bekerja juga bagian dari sistem. Adalah jamak kemudian, bila di antara pengawas dan pihak yang diawasi terjadi main mata. Tahu sama tahu.

Kesadaran menjadi langka, lupa sering terjadi, atau pura-pura lupa sebenarnya? Siapa yang akan mengawasi pengawas? Nurani, moralitas dan nilai-nilai, bisakah menjadi jawaban? Bagaimana bila hal ini juga dilupakan?

Perjuangan manusia melawan kekuasaan, adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Quote dari Milan Kundera, dalam novel The Book of Laughter and Forgetting, dan biasa juga dikutip Goenawan Muhammad, sepertinya tak akan pernah lekang. Melupakan lupa, justru hal yang sukar dilakukan. Tapi, barangkali kita masih bisa berharap. Stephen Covey menuliskan, bahwa naluri dasar manusia tidak akan pernah padam. Saat seorang pencopet sadar, bahwa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nuraninya. Ketika pendosa mengerti, bahwa tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Harapan masih ada, sobat. Bila mantan copet menjadi kiai, seorang preman menjadi pendakwah, dan lain-lain. Meski mungkin di seberang sana, mantan kiai justru menjadi tukang copet, atau polisi menjadi bandar narkoba. Ah, anggap saja sebuah keseimbangan. Hehe!

*) Satir Juvenile, pada buku “Digital Fortress”

[adsenseyu1]

Ornamen Wanita

Menunggu

Pukul 18.15 sebuah sms baru saja terkirim “lima belas menit lagi, aku akan tiba sayang!”. Semua telah siap, bersama dengan sepeda motor kesayangan, mulai dijalankan aksi malam ini.

Pagar rumahmu telah terbuka separo, tidak perlu susah payah untuk membukanya. Rerumputan bergoyang pelan, seperti menyambutku. Jangkrik bernyanyi riang di balik semak, seakan mendengungkan nyanyian selamat datang. Ah! Sebuah rembang petang yang sempurna.

Di teras rumahmu, bangku-bangku yang biasa kita duduki di sabtu malam, tertata rapi. Tak ada perubahan berarti, hanya beberapa kuntum bunga yang ada di atas meja sepertinya baru saja diganti. Pintu dari kayu Mahagoni yang gagah itu menunggu kuketuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kuketuk pelan. Aku tahu, di antara derik jangkrik kamu masih bisa mendengar sentuhan pelan itu di daun pintu.

Aku menunggu.

Di dalam sana, tentu kau sedang bingung, aku tahu itu. Rambut yang masih setengah basah, tentu sedang kau keringkan. Sembari menyisir tiap helai, beragam rencana di kepalamu. Haruskah kau membiarkannya tergerai lepas, perlukah disanggul? Jepit di bagian atas, atau mengenakan bandana? Bermacam rencana, berkelebat di rongga kepalamu. Belum juga menentukan pilihan.

Debar, menemani penantianku.

Leher jenjangmu, tiba-tiba saja ikut merepotkan. Beragam pilihan dapat kau ambil. Seuntai kalung hadiah ulang tahun dariku dapat ikut mempercantiknya. Syal, sepertinya pilihan yang tepat untuk menangkal angin jahat yang akan membelai lehermu. Aduh! Bagaimana dengan warnanya? Tentu tidak elok bila tidak selaras dengan baju yang akan kau pakai.

Nada nadi, menjadi melodi kawan sepi.

Argh, baju! Hampir seluruh isi almari kau aduk. Di antara jas panjang, silk organdi, atau terusan belum juga kau putuskan. Sederet tipe kerah, juga menunggu kau pilah-pilah. Cutting kerah terbuka, kerah model a-morf, v-neck, helter neck ataukah sabrina? Fuhh! Kenapa desainer wanita begitu kreatif membuat model baru setiap hari?

Lagi-lagi warna, kau tentu akan berpikir warna baju apa yang kupakai. Seingatku, selama ini kita berjalan bersama, busanamu tidak pernah tidak sesuai dengan warna bajuku. Itu saja baru satu pertimbangan. Belum kau padukan dengan syal, celana, sepatu dan tasmu. Wuah! Pasti kau akan menggigit-gigit bibirmu, tanda sedang berpikir.

Desah dihela lambat-lambat.

Hey! Aku tahu kau jarang berdandan. Tube-tube warna-warni di dekat cermin itu, toh kau timang-timang juga. Foundation perlahan kau sapukan, diikuti dengan bedak. Tanganmu seperti menari, menorehkan lipgloss pada bibirmu. Menggambarkan mascara di kelopak matamu dengan komposisi warna serasi. Blush ikut berperan mengawani shading, tapi tetap saja lesung pipitmu begitu menarik kurasa. Kau bimbang nantinya, perlukah liquid lipstick, lip liner dan eye liner?

Goyangan rumput dan nyanyian jangkrik menggodaku.

Lha?! Bagaimana dengan kakimu? Relakah betismu dibelai cahaya lampu merkuri yang usil, mengabarkan indahnya? Basic, hipster ataukah stocking yang beruntung kali ini?

Telapak mungilmu, apa yang akan membungkusnya? Sandal biasa yang membuat buku-buku jarimu menyembul cantik. Stilleto yang membuatmu susah berjalan, ataukah wadge yang akan membebani langkahmu?

Lampu teras, ditiup angin malam.

Saat itu, berkas cahaya lain mengganggu; menambah terangnya. Itulah berkas cahaya dari lampu di ruang tamu, menjadi penanda kau telah membuka pintu. Diiringi senyum, dan pertanyaan “cantikkah aku malam ini?”

Lidahku kelu, sayang! Ke mana perginya umpatan yang kusiapkan karena penat menunggu tadi? Aku lupa dengan semua rambut basah, segala baju dan pernak-perniknya. Kamu telah berdiri di depanku, menjadi satu paket. Paket yang cantik, seperti senja yang tak lelah kupandang.

__________________________________________________________

Hanya bait pertama dari “Wondeful Tonight” bait selanjutnya, ada yang tertarik?

it’s late in the evening; she’s wondering what clothes to wear.
She puts on her make-up and brushes her long blonde hair.
And then she asks me, “Do I look all right?”
And I say, “Yes, you look wonderful tonight.”

We go to a party and everyone turns to see
This beautiful lady that’s walking around with me.
And then she asks me, “Do you feel all right?”
And I say, “Yes, I feel wonderful tonight.”

I feel wonderful because I see
The love light in your eyes.
And the wonder of it all
Is that you just don’t realize how much I love you.

It’s time to go home now and I’ve got an aching head,
So I give her the car keys and she helps me to bed.
And then I tell her, as I turn out the light,
I say, “My darling, you were wonderful tonight.
Oh my darling, you were wonderful tonight.”

Terima Kasih untuk mbak Ulan, atas semua istilah pakaian dan hal-hal aneh yang lain, penyangga itu apa mbak kemaren 😳

[adsenseyu1]

saat mati lampu

CPU mati, monitor mati

Internet mati, blogwalking mati

Semua mati

Ada kertas bisa ditulis
Modal rautan dan sebatang pensil
UPS berbunyi tit… tit… tit…
Berisik

Dulu, tak ada CPU, monitor

Dulu, UPS tak menghiasi kantor

Dulu, tak ada konslet teledor

Jadi?
Ya ngga papa
Anggap saja jeda, seperti koma
Layaknya spasi, saat dihela

 

Sedih dan Malu, sebuah e-mail ber-disclaimer dari saya

:::DISCLAIMER:::

Apa yang akan anda baca berikut adalah curhat tidak mutu, sedih dan malu. Sangat tidak nyaman dibaca oleh anda yang menganggap memiliki kebenaran di ketiak anda, para pembela agama yang menganggap agamanya perlu dibela. Tidak disarankan dibaca oleh mereka yang berpikiran sempit, dan mendewa-dewakan dogma, dalil dan menafikkan pikiran yang telah dikaruniakan kepada anda. Bila anda adalah orang-orang ini, maka saya persilakan segera menutup email ini dan berganti membaca yang lain. Namun bila anda berkenan, mari menari bersama saya, dalam tarian kata-kata.

___________________________________________________________________________________

Dahulu sewaktu SMA, saya memiliki teman bernama Muhammad Izzuddin, Muhammad Syafruddin, Muhammad Sahal Saiful Haq, Nur Affiah Maizunati, Faizzatuzahro, dan lain-lain. Tanpa perlu saya tambahkan Habib, Syekh atau Kiai, tentu anda sudah dapat menduga siapa mereka-mereka ini.

Di saat bersamaan, saya juga memiliki teman bernama Albertus Mimas Banu Hisworo, Elizabeth Rosalia Anggraeni Yuniar, Gregorius, A.C Bayu Putra, Alluwisia Hediyanti (bener ra?), Leonardus Yogi. Pada nama-nama ini, tidak perlu juga saya tambahkan romo, pastur, frater dan lain-lain tentu anda juga sudah dapat menduga apa maksud saya.

Itu saja masih belum cukup, ada lagi Yoke Kurniawati, Hendro Baskoro, Wilson, Kurniawan Nugroho Widjaksono Pada nama-nama ini, tidak perlu saya tambahkan koko, cici, tacik atau apapun yang lain anda juga sudah dapat menduganya, bukan?

Nama saya sendiri Sridewanto Edi Pinuji, ada lagi Antuk Dwi Nugroho, Sentot Sugiarto Wibowo, Kusmadewi Eka Damayanti, Dian Jatmiko Adi, Joko Kurniawan. Tentu tanpa perlu saya tambahkan Kangmas atau Mbakyu anda juga sudah dapat melihat bahwa itu adalah nama-nama jawa.

Sebenarnya saya hanya ingin menunjukkan betapa beragamnya teman yang saya miliki saat SMA dulu. Apakah kemudian dengan beragam itu, saya menjadi tidak nyaman dengan mereka ini? Ternyata kok ya tidak, saya nyaman-nyaman saja berkawan dengan mereka. Eh, kalau anda merasa tidak nyaman berteman dengan saya, hehe itu bukan urusan saya, kawan.

Saya percaya, dahulu anda berteman dengan siapa saja. Tanpa mempertimbangkan ada atau tidak jenggot yang tumbuh di dagunya. Tanpa mengukur, apakah celananya ngatung kurang panjang atau tidak. Tanpa melihat, apakah di lehernya berkalungkan salib atau tidak. Anda memilih teman juga tanpa memperhitungkan lebar membuka matanya. Saya percaya itu, tetapi jika ternyata ada yang mempertimbangkan perbedaan-perbedaan itu. Wah saya kurang tahu, saya akan berprasangka baik, bahwa anda berteman tanpa prasangka, begitu saja.

Ah, sebagai contoh kecil. Saya satu kos di Jogja dengan Banu, selama hampir dua tahun. Benar memang kami berbeda dalam beberapa hal. Tapi apakah itu menjadi penghalang? Tolong dijawab bila beberapa hal berikut ini yang terjadi : Banu akan mengecilkan volume musik dari PC, bila saya menunaikan sholat atau mengaji. Saya akan menitip salam kepada gadis-gadis yang akan ditemuinya bila Banu ke gereja (logh?!) ah ya, maafkan saya masih saja usil.

Dalam ranah pribadi, agama misalnya, saya akan menghormati beliau. Tapi dalam keseharian, saya akan bergandengan tangan dengannya. Saling meminjam uang, bergantian memakai komputer karena tegangan listrik yang terbatas, tukar menukar rokok dan lain-lain.

Pada akhirnya, saya melihat Indonesia mini di SMA kita, kawan. Ada heterogenitas di sana, sebuah keberagaman, yang lain di luar saya. Tetapi meski berbeda, kita satu SMA. Jadi teringat sebuah semboyan berikut ini : Bhinneka Tunggal Ika. Semoga anda tidak lupa.

Dalam kehidupan saya memilih kemudian, sebuah agama karena pertimbangan satu dan lain hal. Apakah agama saya paling benar? Sejujurnya saya kurang tahu, karena saya hanya memeluk sebuah agama dari lahir sampai sekarang ini. Satu lagi, bukankah kebenaran itu relatif? Siapa yang memiliki kebenaran mutlak?

Saya akan mengucapkan bahwa agama saya paling benar bila saya sudah pernah memeluk dan merasakan semua agama. Saya bisa membandingkan satu dengan yang lain secara obyektif karena menggunakan parameter-parameter yang sama. Kemudian kenapa saya memilih islam? Ah, yang satu itu biarkan hanya saya saja yang tahu apa alasannya.

Di SMA kita, di Indonesia anda tidak pernah sendirian kawan, meskipun anda “merasa” paling besar. Di SMA kita, di Indonesia anda tidak perlu merasa terkucil, meski “mungkin” anda kecil. Selalu ada “liyan” –yang lain- dalam perjalanan hidup ini.

Apakah anda merasa bahwa karena anda besar, kemudian berhak mengebiri hak-hak yang kecil? (aduh, maaf saya lupa apa antonim tirani minoritas?). Yah, dan apakah anda akan menjadi tirani minoritas, kecil, eksklusif, mencil?

Pluralisme, heteregon, mau tidak mau, suka tidak suka terjadi juga. Selama anda di SMA kita, selama anda di Indonesia, ini yang akan kita temukan. Kecuali, kecuali kalau anda akan mendirikan negara sendiri bernawa Kowait mungkin, hidup bersama para Habib, syekh. Bernama Vatikon, Chine, atau yang lain, mungkin?

Tetapi selama anda di SMA kita, selama anda di Indonesia, jangan harap kawan. Negeri ini didirikan bersama oleh Soekarno dan Hatta, dengan meminta nyawa dari Sitorus, Joko, Acong dan lain-lain. Kita mengenal persatuan Indonesia, kita mengenal kemanusiaan yang adil dan beradab, kita juga mengenal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sekarang kita tinggal mengisinya dengan sepenuh hati. Tetapi, kita malah mencari musuh sendiri, di antara bangsa sendiri. Di mana itu ketuhanan yang maha esa? Diselundupkan ke mana itu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan? Busyed, apakah juga ikut-ikutan dikorupsi?

Saya sedih karena saat saya, bersama dengan anda dan menjadi kita, menjadi kami. Saya merasa kuat, jumawa. Kita berani karena banyak, apakah karena benar? Benar menurut siapa? Menurut kita? –ndhasmu!-

Saya melihat orang lain salah, halal darahnya, berhak nyawanya, kafir. Sejak kapan kita menggantikan posisi Tuhan, menentukan benar dan salah, halal dan haram, mencabut nyawa?

Ayolah kawan, bukankah kita hanya membutuhkan sebuah ruang saja? Sebuah ruang tidak lebih lebar dari meja makan, saat kita telah tiada? Bukankan kita akan menjadi bangkai, dimakan belatung?

Siapa yang memberikan hak kepada anda untuk menjadi hakim menentukan ini benar dan itu salah? Bila kita keluar dari “ruang” kita, maka akan ada “ruang” orang lain. Mungkin akan bersinggungan, tak jarang berbenturan. Apakah anda sudah lupa tentang tenggang rasa? Tepo seliro?

Yah, ngga papa sih, kalau anda lupa, karena saya juga. Saya tahu bahwa kita menggunakan jawa hanya sebagai tempat lahir dan almari bangkai kita. Saya faham, kita lebih mempelajari syair padang pasir, atau manuskrip barat ketimbang, sebuah “Serat Kalathido, Babad Tanah Jawi, Wedhatama, Jongko Joyoboyo “. Budaya kita kawan, sebentar lagi akan mati seperti senandung megatruh, sebuah tembang dalam macapat yang ngelangut, perlambang pisahnya nyawa. Ups, maaf malah membelokkan permasalahan.

Saya juga merasa malu, karena agama –dalam bahasa jawa krama inggil : ageman artinya pakaianyang saya pakai compang-camping. Sobek di sini dan di sana. Berlubang di sana-sini. Bukan karena siapa-siapa, karena tangan-tangan kita sendiri. Sebelum saya benar-benar melepasnya dan memilih telanjang sekalian, bantulah saya menjahitnya kawan. Dengan penuh kasih, dengan penuh sayang seperti yang diajarkan oleh Baginda yang mulia.

Terlepas dari segala macam konspirasi di balik itu, entah pengalihan isu BBM entah apa lagi. Demikianlah sedih dan malu saya. Sekian.

Ps :

  • Maaf untuk semua nama yang disebutkan, hanyalah sebagai contoh.
  • Terpengaruh oleh beberapa tulisan Goenawan Muhammad tentang pluralisme, yup saya pendukung pluralisme, ada yang mempermasalahkannya?
  • Teringat pancasila yang diinjak-injak dengan kekerasan justru saat seharusnya diperingati.
  • Oya, ayolah kawan, saya tahu anda di sana hanya berdiam diri, suarakan apa yang ingin anda suarakan, jangan takut bersuara.
  • Terima kasih untuk yang tetap membaca sampai dengan kalimat ini, untuk moderator semoga ini tidak melanggar netiket dari milist ini, dan untuk nama-nama lain yang akan saya sebut dalam hati.

[adsenseyu1]

Sendiri

Setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Bangun tidur, tidak ada siapapun yang ditemukan saat membuka mata. Hal biasa yang dilakukan di kamar mandi, juga tak ada yang menemani. Jok belakang sepeda motor yang lega lebih sering kosong, sehingga batas kecepatan dapat dicapai dengan mudah.

Kesendirian menjadi sahabat karib, menemani ke manapun kaki melangkah. Pada akhirnya, justru nyaman dengan itu semua. Terganggu bila banyak orang, bising dan ramai ditemui. Merasakan kesendirian, seperti menikmati teh hangat, dicecap pelan, dirasakan dengan penuh kenikmatan.

Pada teh hangat, tidak ada kejutan berarti yang ditemui, sedikit pahitnya adalah kewajaran. Bila gula terlalu banyak dibubuhkan, menjadi terlalu manis, maka tinggal ditambahkan air. Tak jarang, beberapa jenis teh memberikan keharuman yang berbeda. Sedikit kejutan memang, tapi tak lama.

Segelas teh kemudian begitu personal. Saya memiliki takaran gula sendiri, kadar panas air sendiri, jenis atau mungkin merk teh sendiri. Bila itu tidak terpenuhi, kemudian saya akan kecewa, kurang nyaman dan serasa ada yang kurang.

Egois

Ah ya, benar sekali! Saya menjadi begitu egois dan terobsesi dengan kesendirian. Alih-alih berjamaah ke masjid, saya malah akan lebih nyaman di rumah. Entahlah, barangkali beberapa saat lagi akan berdiri agama dengan saya sebagai nabinya.

Saya merasa merdeka bila sendirian. Tak ada batasan, bebas terbang seperti burung di angkasa. Mengepakkan sayap yang terentang di antara gemawan. Menelusup di balik mega-mega. Mencumbui pucuk-pucuk rembulan dan ketiak matahari.

Sayang, dunia ini tidak pernah saya miliki sendiri. Tidak pernah menjadi sebenarnya egois dan merdeka seutuhnya. Seperti camar yang kaget dengan hadirnya rajawali, mengecil, mendadak merasa tidak berarti. Awan-awan harus dibagi, mega-mega dipecah. Rembulan pun sembunyi-sembunyi dilihat, dan hangat mentari hanya sedikit bisa dirasakan.

Orang lain selalu ada, lengkap dengan kemerdekaan mereka sendiri. Menjadi saling bersinggungan, tak jarang berbenturan. Mungkin akan tiba suatu masa saat benturan-benturan itu bersatu padu, menjadi ledakan dahsyat. Lubang hitam terbentuk, dengan sejuta kali gaya gravitasi.

Alangkah indah bila camar terbang beriringan dengan rajawali. Saling membimbing, berkelok di antara awan. Menunjukkan jalan bila rajawali lupa, dan camar sok tahu. Menuju ke batas, saat matahari mulai terbenam dan bulan berganti memainkan perannya.

Saat besar tak selalu benar, ketika kecil tak selalu salah. Bilakah?