Halaman Belakang
Sebagai bagian dari bangun rumah, halaman belakang biasanya ada. Beragam fungsi serta peran yang dimainkannya. Halaman belakang, menjelma menjadi taman-taman indah nan artistik, penuh sentuhan nilai seni pada rumah yang mewah. Tak jarang, kolam renang dengan air kebiruan menjadi pelengkapnya. Di lain pihak, halaman belakang adalah tempat menimbun perkakas yang tidak penting dari suatu rumah sederhana yang kelebihan perabot.
Tempat bercengkerama keluarga, menyatukan pendapat, berbagi cerita dan cinta. Wahana menikmati secangkir teh, susu atau kopi panas di pagi hari sambil membaca koran. Di sore hari, halaman belakang bisa menjadi tempat pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Kursi malas dengan busa empuk, meja-meja bundar bercita rasa seni, tumpukan koran dan buku, beberapa toples cemilan, dan tidak lupa senyum manis istri di sore yang cerah akan lengkap dinikmati di halaman belakang.
Kandang ayam yang reot, ayam yang berkotek cemas khawatir pakannya kurang. Tumpukan kardus bekas wadah televisi dan tape. Susunan kardus yang berantakan menempel di dinding. Telek ayam dengan bau yang tak sedap. Seringkali sampah plastic dan organik yang terserak, karena tak ada tempat sampah dan kemalasan mengumpulkannya, serta anggapan akan menjadi pupuk. Lengkap sudah, halaman belakang sebuah rumah di kampung.
Sekarang ini, tidak semua rumah memiliki halaman belakang. Tinggal di perumahan, rumah yang ada saling berhadapan dan memunggungi. Halaman belakang yang semestinya ada, menjadi rumah orang lain. Halaman depan yang luas, menjadi gang atau jalan kecil. Tinggal di lingkungan kumuh, makin parah karena tiada lagi punggung dan muka rumah. Rumah yang ada seperti terserak begitu saja, muka bertemu muka, muka bertemu punggung, atau punggung bertemu punggung mudah sekali ditemukan.
Lega tidaklah mudah ditemukan. Halaman sebagai salah satu prasyarat untuk mencapainya telah tiada. Berganti jalanan atau gang, pun muka dan punggung rumah orang lain. Sesak; terhimpit dijejalkan seperti kaos kaki tua, di almari yang sudah penuh. Paksaan terjadi, dan pemberontakan biasanya akan mengikuti. Pemberontakan yang muncul dari diri sendiri, perasaan tertekan sampai dengan stress. Iri dan dengki melihat keberhasilan orang lain atau tetangga.
Kehidupan harus terus berjalan, ada atau tiada halaman belakang. Penyeimbang bagi halaman depan dan tempat buang penat, hanyalah pelengkap yang kini telah hilang. Berpusaran dari pintu depan, dalam rumah yang pengap, kemudian keluar lagi melalui pintu depan. Tidaklah aneh kemudian bila tidak lengkap, mirip seperti makanan yang masuk dan dimuntahkan.
Aha, pintu! Seiring hilangnya halaman belakang, pintu butulan* pun tiada kini. Hanyalah pintu depan, atau garasi yang tersedia. Jalan keluar lain itu, hilang! Wajar bila masalah demi masalah, seperti tamu yang datang dan lupa pamit malah tinggal. Jalan keluar itu, tidak menemukan muaranya di halaman belakang. Mirip bom waktu yang dipendam, suatu saat, entah kapan akan meledak.
*) adalah istilah untuk pintu belakang dalam bahasa jawa










ketidak seimbangan memang bisa membuat moemet’z ya paman ?
sayangnya banyak yang mencari keseimbangan itu ke mall paman…
rumah baru njenengan ini ada halaman belakang nya nggak om??, aku mau keluar dari butulan aja..
wah anda kawruhnya kawruh kalang ya Paman
salam sejahtera baru sekarang bisa mampir ke blog yang lheb ini
rumah saya juga ga ada pintu belakangnya
*nemenin ulan lewat butulan*
pintu belakang hanya milik mereka yang berlebih paman! yang serba kekurangan sulit untuk punya pintu belakang, jadi hanya yang berlebih yang bisa lepas dari stress.. sementara yang kekurangan, lebih lama di dunia hanya memperpanjang dan memelihara stress berkepanjangn…
padahal enak ya paman kl punya halaman belakang; kl maen bulutangkis ga ada gangguan motor/mobil lewat
butulan? bru tahu ada istilah itu paman
esensi dari sebuah rumah buat saya terletak pada… kamar tidur saya!!! wekeke… betewe, bisa bikin situd dot kom berarti dah diangkat jadi pegawai tetap UN nih?
goop:::
hihihi, doakeun saja bro
Saya punya pintu belakang tapi gak punya halaman belakang, maklum tepat dibelakang rumah ada kebunnya Pak Jendral. Tapi lumayanlah buat sekedar menghilangkan jenuh sesekali saya buka juga pintu itu memandangi ilalang yang makin liar dan tinggi.
Paman di halaman belakangnya luas nggak?
Paman Goop komen saya gak masuk siiih, hilang teruss.
tes….tes…tes
tesssss……tesssssss
Paman Goop. komen saya gak bisa nyangkut nih kenapa yaaa?
goop:::
bukannya kelihatan pak?
di akismet pun tak ada kok
Halaman belakang kalau di kampung saya dinamai dengan lurung paman.
*Wew … keduluan nih …. masih jadi draft, paman dah publish.*
di sana waktu melipat
di sini waktu membuka
selamat buat ruang baru ini. moga tetap renyah, menafaskan segala rasa, merasakan segala nafas. tapi bung, jangan terlalu banyak menghunus kata. nanti terlalu banyak korban jiwa. hehe….! tabik!
halaman belakang rumah maksudnya ??
goop:::
yupe bro, bener banget
ada pohon mangga, jambu air, mahkota dewa, kolam ikan, bunga2an di halaman belakang rumah saya, alhamdulilah
was here … walking … nice blog
saiia juga baru denger butulan,, betulan ada tu??
goop:::
setidaknya di daerah saya ada mbak, entah kalau daerah lain
aha. memang susah menemukan rumah dengan halaman di bagian belakang. apalagi di pusat kota seperti jakarta ini. sudah lama pula saya tinggal di sebuah kos. membaca postingan uncle tt halaman belakang, saya jadi rindu berleyeh2 di kursi malas favorit saya di halaman belakang rumah saya. ah…
sekarang belom punya halaman belakang, punyanya halaman samping..tapi klo punya rumah sendiri, pasti saya kasih halam belakang, where i can do my ngopi2..hehehe
butulan? itu istilah jawa? hehe…malah baru tahu
ah sekalinya masang pintu belakang, malah buat jalan masuk maling