Perjalanan sehari-hari, didukung oleh sepeda motor nan kencang, tapi sayangnya saya bawa dengan kecepatan seperti nenek-nenek. Pendek kata, kecepatan rata-rata yang cenderung rendah saya pilih. Tidak sedikit memang sahabat yang mencibir, gaya mengendarai sepeda motor saya.

Pertimbangan keamanan, di mana jalanan tak ubahnya medan pertempuran menjadikan berkendara harus ekstra hati-hati. Barangkali kehati-hatian, menjadi keharusan dan niat yang ditanamkan terus menerus. Tetapi jalanan, bukan hanya kita. Banyak sekali pengendara lain, pengguna jalan lain yang tidak sama watak dan kepribadiannya. Kita sudah berhati-hati, tapi orang lain mungkin tidak.

Berkendara bagaimanapun menjadi tidak aman. Teori dan praktek harus dikuasai penuh, diterapkan dengan segenap kesadaran. Ups, sepertinya saya mengambil jatah Baginda bila saya menuliskan tentang berkendara ini.

Alasan lain sehingga saya cenderung pelan naik sepeda motor adalah, banyak sekali hal-hal yang bisa saya perhatikan sambil berkendara. Barangkali ini tidak aman, tapi kecepatan pelan memungkinkan untuk mengambil berbagai keputusan yang “aman”. Mahasiswi yang baru pulang kuliah, karyawati bank yang mengenakan rok, atau anak SMU yang sembarangan menyeberang. Ah, indah sekali jalanan, meski beberapa catatan, tentu menyertainya. Tidak macet, polusi tidak banyak, cuaca tidak terlalu panas dan hal-hal nyaman yang lain.

Musuh berkendara sepeda motor adalah hujan. Sibuk sekali bila hujan turun saat asik berkendara. Mulai dari harus menepi untuk mengenakan jas hujan. Penggunaan jas hujan itu sendiri yang merepotkan dan membatasi gerak. Tak kalah repot, bila menghadapi jalanan yang licin dan perlu ekstra hati-hati.

Membayangkan berada dalam mobil, dengan AC menyala. Sound system canggih yang mengeluarkan suara empuk, dari radio atau penyanyi idola sungguh menyenangkan. Titik-titik air yang jatuh di kaca depan, disapu wiper dengan gerakan konstan, menjadi pemandangan tersendiri. Kaca jendela samping, yang berkabut, menggunakan tangan mengusapnya dan terlihat pemandangan baur bertirai hujan sungguh indah.

Bila kesempatan tidak sering itu datang, maka saya akan sangat menikmatinya. Duduk diam, melihat pemandangan di luar mobil yang hiruk pikuk. Menikmati kering dan dingin AC, alunan melodi lembut dari tape mobil benar-benar melenakan. Saya seperti hidup dalam dunia tersendiri, yang asing dari kejadian dan kondisi di luar. Merasa aman, terlindungi, kadang juga hening.

Di luar, seorang gadis sibuk memegang payung. Satu tangan yang lain berulang kali membetulkan rok yang berkibar tertiup angin nakal. Dua sejoli berboncengan, berpelukan erat terlindung oleh ponco yang tidak bisa menahan air hujan jatuh di celana. Begitu mesra, dan tidak peduli pada basah. Nenek tua, ragu-ragu menyeberang, dan anak jalanan basah kuyup.

Saya tertawa, benar-benar jumawa. Kaca tipis dan di dalam mobil telah merubah saya menjadi orang lain. Seseorang yang tertawa, saat orang lain mungkin menggerutu karena dingin, basah. Beginikah rasanya menjadi berkuasa? Menikmati sedikit kesenangan dan lupa? Lupa bila sebentar lagi saya harus turun, dan kembali ke habitat asal. Kehujanan, basah dan kedinginan.

Apakah sekali waktu jumawa itu perlu? Sekedar menjaga keseimbangan, agar hidup tidak monoton dan berwarna. Saat kemudian, saya harus berkendara naik sepeda motor dengan jas hujan, dingin dan basah. Mengapa saya ingin? Ataukah iri pada mereka yang bermobil? Apakah ini wajar, sobat?

Bila sebentar saja, saya berpindah moda transportasi. Ah, parah sekali akibatnya. Menjadi orang lain yang mungkin bukan saya. Berharap-harap atau iri pada kesempatan yang hanya sebentar itu. Menggerutu saat kenikmatan itu hilang dan kembali ke habitat asal. Tidak bersyukur, atau lebih parah ingkar akan nikmat? Bahkan jumawa, sombong pada sesuatu yang bukan milik saya, dan sebentar lagi hilang, lepas.

Benarkah perasaan nikmat bermobil itu? Tidakkah mereka khawatir pada macet, genangan air dan mesin mendadak mati kemasukan air?

Barangkali saya ini manusia tanggung. Iri kepada mereka yang bermobil, tanpa benar-benar mengerti kekhawatiran mereka. Bukankah mereka sibuk mengabarkan kepada orang rumah, atau selingkuhan posisi di mana persisnya mereka berada saat ini? Harap-harap cemas, di mobil yang terjebak dan susah keluar dari macet yang basah. Gelisah teringat keterlambatan yang mungkin terjadi, pada sebuah janji bisnis maha penting.

Saya lupa, di antara nikmat itu pasti ada senyum kecut, khawatir, sedih dan gelisah. Menjiwai semua itu, berkenalan dengan nikmat dan susahnya sekaligus, belum sempat saya lakukan. Secuil kenikmatan, bila itu benar-benar nikmat, telah menggoda untuk menjadi jumawa. Lupa diri, sungguh permainan kecil yang berbahaya.

Jas hujan saya pakai, mulai berkibar ketika pelan saya jalankan sepeda motor. Tetes-tetes air jatuh di helm, ponco dan sepatu. Selapis tipis air di atas jalan tersibak saat ban sepeda motor membelahnya, menjadi semacam pisau yang mengiris lapisan brownies menjadi persegi. Serombongan siswi SMU menjerit, saat saya melintas genangan dan air terpercik di seragamnya. Berhenti sebentar, membiarkan anak jalanan menuntun nenek tua yang akan menyeberang.

Gadis yang mengenakan rok dan berpayung itu tersenyum, pelan kemudian saya hampiri. Keruh di wajahnya tersapu hujan, meninggalkan rona di pipi. Menutup payung dengan anggun, pelan menelusup di balik ponco. Meletakkan pantatnya di jok belakang, dengan sedikit hentakan pada shockbreaker. Sebelah lengannya kembali membetulkan rok, yang sebelah lagi melingkar erat di pinggang. Sepeda motor berjalan, deru mesin, rintik hujan dan desau angin menjadi melodi, saat mulut saya berdendang dalam gigil.

Apalah hujan? Apalah basah?