Home » pintu jiwa

Sebuah Ruang

15 May 2008 38 views 12 Comments

Suatu ketika, sebuah titik telah berubah menjadi garis. Di sisi lain, garis-garis tersebut saling bersilangan kemudian membentuk ruang.

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Ide tentang ruang untuk hidup, telah menjadi pembenaran berjuta bangsa guna menguasai bangsa lain. Tak peduli ribuan pelor, literan minyak dan peluh, lembaran dolar, serta beberapa nyawa yang telah melayang.

Demi beberapa meter persegi yang lebih luas, beberapa depa tanah yang lebih subur, beberapa jengkal ladang kaya minyak dan entah apa lagi…

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Dimensi tubuh kita tidaklah terlalu luas, namun justru karena otak kecil kita, segenggam hati kita dan seonggok jantung kita yang tentu juga kecil, mulai muncul masalah.

Rentetan keinginan dan kebutuhan yang dihasilkan dari sensasi mata, desiran kulit, dan getaran gendang telinga. Terhubung melalui syaraf halus dengan otak yang mulai bekerja, merembet pula ke jantung yang perlahan mulai berdegup dan mengendap-endap menjadi ketetapan hati.

Keinginan yang menjelma menjadi ular dengan bisa dan bahaya laten. Memaksa kita untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi ruang. Padahal bukankah dimensi tubuh kita tidak terlalu luas?

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Membicarakan hati, bukankah kecil? Hitam tidak terlalu enak dan sumber penyakit? Jangan tergesa-gesa dengan fakta ini, semua ini terjadi ketika hati telah mati.

Dalam perjalanannya hati mengalami cerita selayaknya tubuh, ada muda dewasa dan tua. Selayaknya hari, ada pagi, siang dan malam. Kemudaan hati menyebabkan ia diisi dengan sejuta harapan. Seperti anak-anak, semua keinginan dan harapan harus terpenuhi. Saat itu, keinginan kita masih sangat sederhana, serta akan sangat banyak orang yang akan membantu kita, bukankah saat itu semua orang sayang kepada kita? Hati, waktu itu seperti taman yang tidak luas namun indah.

Seiring bertambahnya usia kita, keinginan akan semakin bertambah pula. Saat bersamaan, kita akan mulai mengenal kegagalan, harapan yang tak kunjung menjadi nyata dan keinginan yang tidak terkabul. Ada pula saat ketika hati mulai menyediakan ruang spesial untuk sesuatu bernama cinta. Saat itu hati telah menjadi ruang-ruang dengan isi masing-masing ruang yang berbeda. Ada ruang untuk kegagalan, harapan, keinginan dan cinta.

Bila hati telah menjadi tua, banyak yang bisa terjadi. Bergantung kepada masing-masing individu. Si tua ini, adalah hasil dari perjalanan di masa lalu. Bisa saja menjelma menjadi ruang dendam yang diisi dengan senjata pemusnah masal atau tiang gantungan. Namun tak jarang, ada pula yang berubah menjadi ruang penuh maaf, berisi bilik pengakuan dosa, dan ruang kosong sangat luas untuk membuang semua resah, gagal dan benci.

Akhirnya, berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

-sedikit banyak terinspirasi Leo Tolstoy-

Sebuah repost dari sini

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

RSS feed | Trackback URI

12 Comments »

Comment by edy
2008-05-15 10:08:03

pertamax!!
maap nyampah dulu :oops:

 
Comment by ulan
2008-05-15 17:33:40

curang!!!!
katanya mau ngundang, sekarang aku dateng sendiri
mbaca nya ntar dulu!!
pokok nya mau ngomel dulu!!!
*baru baca*

 
Comment by chiw
2008-05-15 20:20:36

aku ketigax dulu aja…

*ndak peduli yang punya rumah bakal marah*

 
Comment by owner ID Mutung
2008-05-15 22:21:56

wah… ada yang baru rupanya…

*disapu yang punya rumah*

 
Comment by Siwi saja
2008-05-15 23:53:47

ehem ehem… mumpung masih sepi…

:mrgreen:

 
Comment by Siwi saja
2008-05-16 00:06:30

ehem ehemmm… mana selamatannya yaaa???

*ndak nyangka saya bisa hetrik bow*

ah,sudah cukup untuk hari ini…

maafin aku ya sayang Goop… :mrgreen:

 
Comment by alex®
2008-05-16 00:21:01

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Sebanyak keinginanmu untuk memiliki ruang itu, anakku… :mrgreen:

*digebuk karena niru iklan* :lol:

 
Comment by alex®
2008-05-16 00:22:04

Oh? Ini blog baru? :shock:

Yaoloh… saya tersesat kesini karena jeng siwi ini… :lol:

 
Comment by alex®
2008-05-16 00:23:00

*ikutan ciwi ngasi gravatar lain* :mrgreen:

 
Comment by alex®
2008-05-16 00:23:47

Muncul nggak ya itu avatar lain? :roll:

Eh? Muncul! :shock:

:lol: :lol:

Ya sudah ah…. udah tetralogi komen ini namanya :D

 
Comment by tukangkopi
2008-05-16 07:23:54

hati kita,
kita sendiri yang jaga
sedih atau suka,
kita sendiri yang pilih dan sematkan
hati sendiri kita yang jaga
mana boleh kita berikan pada dia dia yang cuma ingin merobek-robeknya

 
Comment by mezzalena
2008-05-17 10:24:38

“Suatu ketika, sebuah titik telah berubah menjadi garis.”
Mana bisa paman, nanti dimarahi sama dosen geometriku yang judes. Sebuah titik jadi garis nyalahin teorema tuh … untuk membuat sebuah garis setidak-tidaknya harus punya 2 buah titik.
*haha … sekedar numpang istirahat di rumah baru setelah mid semester geometri. Pucing, kipas-kipas, nyaman :lol: :lol: *

Goop:::
beuh maapkeun, mungkin saya yang kurang belajar…
tapi biarlah tetap seperti itu, terima kasih untuk koreksinya :P

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post