melintas batas
Archive for May, 2008
saya adalah
May 30th
Presiden
“Kemarin saya menaikkan BBM setelah mendengar pertimbangan menteri-menteri, yang panjang kali lebar, kali tinggi, yang sebenarnya tidak begitu saya pahami.â€
Polisi
“Duh!! Pekerjaan saya bertambah. Razia sepeda motor tidak bisa lagi saya lakukan. Perangkat kerja saya bertambah, helm, perisai dan pentungan. Saya baku pukul dengan mahasiswa. Oya, saya harus berhati-hati bila pulang kerja, karena bisa saja saya dikeroyok oleh kerumunan.â€
Mahasiswa
“Agenda hari ini demonstrasi, kemaren juga demonstrasi dan sempat baku pukul dengan polisi. Rencana minggu depan adalah mogok makan, persiapan aksi teatrikal dan penyusunan exit strategy. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti. Errrr!!… sudahlah, saya sedang bingung memfotocopy catatan, karena besok ujian akhir semester. Oya, dan tentu saya belum belajar.â€
Nenek penumpang angkutan
“Copot, eh copot, copot!! Saya dipaksa turun dari angkutan. Mana saya susah berjalan, osteoporosis dan monopouse menghalangi gerak. Sekali itu, tumben saya bisa berjalan cepat. Aih, hitung-hitung olah raga. Meski saya khawatir, sungguh!â€
Bloger kurang kerjaan
“Saya sibuk mencatat dan ehm … bingung!! Siapa anda, kawan? Apakah salah satu di antara sosok-sosok ini?â€
Ternyata, seru juga yak!™
Halaman Belakang
May 23rd
Sebagai bagian dari bangun rumah, halaman belakang biasanya ada. Beragam fungsi serta peran yang dimainkannya. Halaman belakang, menjelma menjadi taman-taman indah nan artistik, penuh sentuhan nilai seni pada rumah yang mewah. Tak jarang, kolam renang dengan air kebiruan menjadi pelengkapnya. Di lain pihak, halaman belakang adalah tempat menimbun perkakas yang tidak penting dari suatu rumah sederhana yang kelebihan perabot.
Tempat bercengkerama keluarga, menyatukan pendapat, berbagi cerita dan cinta. Wahana menikmati secangkir teh, susu atau kopi panas di pagi hari sambil membaca koran. Di sore hari, halaman belakang bisa menjadi tempat pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Kursi malas dengan busa empuk, meja-meja bundar bercita rasa seni, tumpukan koran dan buku, beberapa toples cemilan, dan tidak lupa senyum manis istri di sore yang cerah akan lengkap dinikmati di halaman belakang.
Kandang ayam yang reot, ayam yang berkotek cemas khawatir pakannya kurang. Tumpukan kardus bekas wadah televisi dan tape. Susunan kardus yang berantakan menempel di dinding. Telek ayam dengan bau yang tak sedap. Seringkali sampah plastic dan organik yang terserak, karena tak ada tempat sampah dan kemalasan mengumpulkannya, serta anggapan akan menjadi pupuk. Lengkap sudah, halaman belakang sebuah rumah di kampung.
Sekarang ini, tidak semua rumah memiliki halaman belakang. Tinggal di perumahan, rumah yang ada saling berhadapan dan memunggungi. Halaman belakang yang semestinya ada, menjadi rumah orang lain. Halaman depan yang luas, menjadi gang atau jalan kecil. Tinggal di lingkungan kumuh, makin parah karena tiada lagi punggung dan muka rumah. Rumah yang ada seperti terserak begitu saja, muka bertemu muka, muka bertemu punggung, atau punggung bertemu punggung mudah sekali ditemukan.
Lega tidaklah mudah ditemukan. Halaman sebagai salah satu prasyarat untuk mencapainya telah tiada. Berganti jalanan atau gang, pun muka dan punggung rumah orang lain. Sesak; terhimpit dijejalkan seperti kaos kaki tua, di almari yang sudah penuh. Paksaan terjadi, dan pemberontakan biasanya akan mengikuti. Pemberontakan yang muncul dari diri sendiri, perasaan tertekan sampai dengan stress. Iri dan dengki melihat keberhasilan orang lain atau tetangga.
Kehidupan harus terus berjalan, ada atau tiada halaman belakang. Penyeimbang bagi halaman depan dan tempat buang penat, hanyalah pelengkap yang kini telah hilang. Berpusaran dari pintu depan, dalam rumah yang pengap, kemudian keluar lagi melalui pintu depan. Tidaklah aneh kemudian bila tidak lengkap, mirip seperti makanan yang masuk dan dimuntahkan.
Aha, pintu! Seiring hilangnya halaman belakang, pintu butulan* pun tiada kini. Hanyalah pintu depan, atau garasi yang tersedia. Jalan keluar lain itu, hilang! Wajar bila masalah demi masalah, seperti tamu yang datang dan lupa pamit malah tinggal. Jalan keluar itu, tidak menemukan muaranya di halaman belakang. Mirip bom waktu yang dipendam, suatu saat, entah kapan akan meledak.
*) adalah istilah untuk pintu belakang dalam bahasa jawa
Warisan Kemerdekaan
May 20th
“Paman, ceritakanlah tentang kemerdekaan!â€
“Apa yang ingin kau ketahui?â€
“Semuanya Paman, semuanya.â€
Dahaga keingintahuan ponakan saya yang pintar, ataukah usil sebenarnya? Tidak pernah mudah saya jawab. Ada saja pertanyaan lanjutan, dan keraguan yang muncul setiap mendapatkan jawaban baru. Malas, dan rasa penasaran yang sama, membuat saya mengajaknya kepada mBah Darmo, konon beliau ini pejuang pada masa kemerdekaan dahulu.
Tiada yang istimewa dari orang tua itu, keriput telah menjadi hiasan muka; tangan dan sekujur tubuhnya. Rambutnya yang putih keperakan, menjadi penanda jumlah umur yang telah dilewati. Gigi sudah tidak lengkap mendiami rongga mulutnya yang berjelaga nikotin. Lebih banyak melamun di beranda rumah, mengawasi cucunya bermain. Nampak putus asa, terengah-engah tertinggal laju jaman yang kian cepat dan tak bisa diikuti olehnya.
Matanya berkilat memancarkan semangat, saat ponakan saya mulai bertanya tentang kemerdekaan. Tak lama kemudian redup, seakan menanggung derita yang dalam. Binar yang bergelora dan berapi-api, bahkan dalam usia senja yang tak bisa ditutupinya. Kesedihan mendalam, seperti remaja putus cinta mengakhiri ceritanya.
***
Kampung kita, adalah tempat pertemuan pejuang dengan penjajah cucuku. Tidak akrab, bukan diawali dengan saling bersalaman dan bertukar senyuman. Kami berkumpul di rumah Pak Lurah, pada malam itu. Penjajah sudah merapat di selatan desa.
Sawah yang menguning sekarang ini, adalah saksi. Di sana kami mengendap-endap di antara pematang, parit dan rimbun ilalang. Beringsut, semakin mendekati perkemahan musuh. Jelas kami dengar, celoteh para penjaga dalam bahasa kita. Penghianat, selalu saja menjijikkan bahkan dalam gelap itu, kami dapat melihat seringai mencibir dari bibir mereka.
Darah mendidih, bambu runcing erat dalam genggaman. Bersijingkat pelan, di antara batang padi muda; gulma dan ilalang. Diam; waspada, kami berjalan. Di dalam sana, degup jantung tidak karuan. Begitu riuh, seperti akan menghancurkan rongga-rongga dada.
Teriakan membahana menjadi awal penyerbuan kami. Kecewa, kami kecewa! Mereka telah siap ternyata. Suasana sepi dan santai yang tersaji, adalah strategi mereka. Memerangkap kami, dalam pertempuran jarak dekat yang sudah dirancang sebelumnya. Korban berjatuhan dari kedua pihak, sawah di selatan desa tergenang darah. Darah perjuangan!
Pemimpin kami, anak sulung Pak Lurah telah terluka pahanya. Segera memberikan aba-aba mundur, sambil membakar ilalang dan rumah-rumah di kampung kita. Aksi bumi hangus, kami menyebutnya. Bukit, lereng bukit di utara itu kau lihat? Di sana kami bersembunyi, sesekali masih melakukan gerilya. Memotong jalur logistik musuh, merampas makanan untuk wanita dan anak-anak kami.
Kami tidak mengetahui, apakah itu kemerdekaan sebenarnya. Bagi kami, bisa mengolah sawah dengan bebas, tanpa terbebani pajak. Bagi kami, bisa bercengkerama dengan orang tua, anak dan cucu tanpa khawatir, adalah kemerdekaan. Mahal harga yang harus kami bayar, harta; nyawa; waktu luang menjadi penebusnya. Demi sebuah udara yang bebas; air yang jernih, telah menganak sungai darah yang tertumpah.
Sayang, kemerdekaan itu belum tercapai hingga kini. Lihatlah! Di beranda ini aku melihat dunia. Udara bebas kuhirup, membawa kabar duka lara dari tempat-tempat yang jauh. Duka mereka yang terpinggirkan di rumah sendiri. Lara mereka yang teraniaya oleh saudara sendiri. Di beranda ini, semua itu kulihat.
Perjuangan tidak pernah berakhir. Padi menguning, bulir-bulirnya yang padat; penuh. Punggung kami yang menghitam, dan melengkung aneh kebanyakan mencangkul. Masih kurang, untuk menebus minyak tanah dan minyak goreng. Makanan yang ada, hanya ikan asin, nasi aking dan sambal. Meski sederhana, peluh tak henti mengalir untuk menebusnya.
Kami tak pernah menuntut, memberi dan memberi itu yang kami bisa. Penderitaan kami, adalah harga yang pantas. Demi anak dan cucu yang bisa tertawa bahagia; demi kesempatan yang akan terbuka lebar. Sudah menjadi kewajiban kami menderita, kami percaya, bila di balik itu kejayaan membayang. Negara ini sungguh besar dan kaya. Tak berkurang kekayaannya, bahkan bila perutnya diaduk, hasilnya dimasukkan kantong sendiri. Korupsi takkan mengurangi kekayaannya. Pengkhianatan perjuangan, sudah ada semenjak dahulu kala. Bukan masalah yang besar bila kami dipinggirkan, dipandang sebelah mata dan dimasukkan panti jompo.
Hari-hari kami, sudah tidak berbeda lagi. Pengulangan demi pengulangan sejarah selalu terjadi. Mereka yang hari ini jumawa, mungkin besok akan menderita. Mawas diri, melihat dunia hanya dua sisi mata uang yang berganti-ganti kita dapatkan. Tiada lagi yang menjadi kejutan, semua adalah kewajaran. Aji mumpung ada dan mendapatkan kesempatan, masih ampuh diterapkan. Tersenyumlah, lihatlah semua itu! Petiklah pelajaran, menjadi pengalaman.
Aku tidak pernah bosan menjadi saksi. Kesedihan; dipinggirkan; ditinggalkan sudah biasa kudapatkan. Tersenyum yang semestinya mudah, menjadi susah. Bukan; bukan karena aku tidak bisa tersenyum. Aku hanya malu tersenyum, karena gigi yang tanggal, kempot di pipi menjadi bahan tertawaan. Seperti apa yang kau tahan-tahan dari tadi itu kan cu? Kenapa tidak kau lanjutkan menjadi tawa? Dan marilah kita tertawa bersama-sama.
***
“Paman, apakah kita sudah merdeka?â€
“Paman?!â€
Saya bukannya tidak mendengar panggilan ponakan saya, juga pertanyaannya. Saya masih tertawa, teringat gigi yang tanggal, dan kempot di pipi. Ah, jahatnya saya …

