“Paman, ceritakanlah tentang kemerdekaan!â€
“Apa yang ingin kau ketahui?â€
“Semuanya Paman, semuanya.â€
Dahaga keingintahuan ponakan saya yang pintar, ataukah usil sebenarnya? Tidak pernah mudah saya jawab. Ada saja pertanyaan lanjutan, dan keraguan yang muncul setiap mendapatkan jawaban baru. Malas, dan rasa penasaran yang sama, membuat saya mengajaknya kepada mBah Darmo, konon beliau ini pejuang pada masa kemerdekaan dahulu.
Tiada yang istimewa dari orang tua itu, keriput telah menjadi hiasan muka; tangan dan sekujur tubuhnya. Rambutnya yang putih keperakan, menjadi penanda jumlah umur yang telah dilewati. Gigi sudah tidak lengkap mendiami rongga mulutnya yang berjelaga nikotin. Lebih banyak melamun di beranda rumah, mengawasi cucunya bermain. Nampak putus asa, terengah-engah tertinggal laju jaman yang kian cepat dan tak bisa diikuti olehnya.
Matanya berkilat memancarkan semangat, saat ponakan saya mulai bertanya tentang kemerdekaan. Tak lama kemudian redup, seakan menanggung derita yang dalam. Binar yang bergelora dan berapi-api, bahkan dalam usia senja yang tak bisa ditutupinya. Kesedihan mendalam, seperti remaja putus cinta mengakhiri ceritanya.
***
Kampung kita, adalah tempat pertemuan pejuang dengan penjajah cucuku. Tidak akrab, bukan diawali dengan saling bersalaman dan bertukar senyuman. Kami berkumpul di rumah Pak Lurah, pada malam itu. Penjajah sudah merapat di selatan desa.
Sawah yang menguning sekarang ini, adalah saksi. Di sana kami mengendap-endap di antara pematang, parit dan rimbun ilalang. Beringsut, semakin mendekati perkemahan musuh. Jelas kami dengar, celoteh para penjaga dalam bahasa kita. Penghianat, selalu saja menjijikkan bahkan dalam gelap itu, kami dapat melihat seringai mencibir dari bibir mereka.
Darah mendidih, bambu runcing erat dalam genggaman. Bersijingkat pelan, di antara batang padi muda; gulma dan ilalang. Diam; waspada, kami berjalan. Di dalam sana, degup jantung tidak karuan. Begitu riuh, seperti akan menghancurkan rongga-rongga dada.
Teriakan membahana menjadi awal penyerbuan kami. Kecewa, kami kecewa! Mereka telah siap ternyata. Suasana sepi dan santai yang tersaji, adalah strategi mereka. Memerangkap kami, dalam pertempuran jarak dekat yang sudah dirancang sebelumnya. Korban berjatuhan dari kedua pihak, sawah di selatan desa tergenang darah. Darah perjuangan!
Pemimpin kami, anak sulung Pak Lurah telah terluka pahanya. Segera memberikan aba-aba mundur, sambil membakar ilalang dan rumah-rumah di kampung kita. Aksi bumi hangus, kami menyebutnya. Bukit, lereng bukit di utara itu kau lihat? Di sana kami bersembunyi, sesekali masih melakukan gerilya. Memotong jalur logistik musuh, merampas makanan untuk wanita dan anak-anak kami.
Kami tidak mengetahui, apakah itu kemerdekaan sebenarnya. Bagi kami, bisa mengolah sawah dengan bebas, tanpa terbebani pajak. Bagi kami, bisa bercengkerama dengan orang tua, anak dan cucu tanpa khawatir, adalah kemerdekaan. Mahal harga yang harus kami bayar, harta; nyawa; waktu luang menjadi penebusnya. Demi sebuah udara yang bebas; air yang jernih, telah menganak sungai darah yang tertumpah.
Sayang, kemerdekaan itu belum tercapai hingga kini. Lihatlah! Di beranda ini aku melihat dunia. Udara bebas kuhirup, membawa kabar duka lara dari tempat-tempat yang jauh. Duka mereka yang terpinggirkan di rumah sendiri. Lara mereka yang teraniaya oleh saudara sendiri. Di beranda ini, semua itu kulihat.
Perjuangan tidak pernah berakhir. Padi menguning, bulir-bulirnya yang padat; penuh. Punggung kami yang menghitam, dan melengkung aneh kebanyakan mencangkul. Masih kurang, untuk menebus minyak tanah dan minyak goreng. Makanan yang ada, hanya ikan asin, nasi aking dan sambal. Meski sederhana, peluh tak henti mengalir untuk menebusnya.
Kami tak pernah menuntut, memberi dan memberi itu yang kami bisa. Penderitaan kami, adalah harga yang pantas. Demi anak dan cucu yang bisa tertawa bahagia; demi kesempatan yang akan terbuka lebar. Sudah menjadi kewajiban kami menderita, kami percaya, bila di balik itu kejayaan membayang. Negara ini sungguh besar dan kaya. Tak berkurang kekayaannya, bahkan bila perutnya diaduk, hasilnya dimasukkan kantong sendiri. Korupsi takkan mengurangi kekayaannya. Pengkhianatan perjuangan, sudah ada semenjak dahulu kala. Bukan masalah yang besar bila kami dipinggirkan, dipandang sebelah mata dan dimasukkan panti jompo.
Hari-hari kami, sudah tidak berbeda lagi. Pengulangan demi pengulangan sejarah selalu terjadi. Mereka yang hari ini jumawa, mungkin besok akan menderita. Mawas diri, melihat dunia hanya dua sisi mata uang yang berganti-ganti kita dapatkan. Tiada lagi yang menjadi kejutan, semua adalah kewajaran. Aji mumpung ada dan mendapatkan kesempatan, masih ampuh diterapkan. Tersenyumlah, lihatlah semua itu! Petiklah pelajaran, menjadi pengalaman.
Aku tidak pernah bosan menjadi saksi. Kesedihan; dipinggirkan; ditinggalkan sudah biasa kudapatkan. Tersenyum yang semestinya mudah, menjadi susah. Bukan; bukan karena aku tidak bisa tersenyum. Aku hanya malu tersenyum, karena gigi yang tanggal, kempot di pipi menjadi bahan tertawaan. Seperti apa yang kau tahan-tahan dari tadi itu kan cu? Kenapa tidak kau lanjutkan menjadi tawa? Dan marilah kita tertawa bersama-sama.
***
“Paman, apakah kita sudah merdeka?â€
“Paman?!â€
Saya bukannya tidak mendengar panggilan ponakan saya, juga pertanyaannya. Saya masih tertawa, teringat gigi yang tanggal, dan kempot di pipi. Ah, jahatnya saya …